
Walau masih terasa sedikit lemas, Abian sudah melakukan kegiatan pilotnya seperti biasa, dan sebelum berangkat, dia harus adu debat dengan sang istri yang belum memperbolehkanya terbang, khawatir dengan keadaannya. Setelah dua hari tidak pulang, kini Abian sudah mendarat di bandara Soeta.
Memasang kaca mata hitamnya, Abian berjalan gagah melewati para pengunjung dan penumpang bandara, dia ada temu janji dengan papa untuk membahas masalah Daniel, dan papa sudah menunggunya dicafetaria bandara.
"Daniel minta agar Delia mau membawa Denisa untuk menjenguknya Abian, bagaimana, apa kamu mengizinkan?"
Abian mengeraskan rahangnya mendengar Daniel yang meminta bertemu Denisa, "pasti itu hanya akal-akalanya saja biar bertemu Delia Pa."
Papa melepaskan kaca mata tuanya, memijit pangkal hidung, meletakkan kedua tangan diatas meja "Daniel bilang, jika dia sering mendengar suara anak kecil memanggilnya papa, mungkin itu anaknya yang ingin bertemu."
"Abian akan tanyakan pada Delia, apa dia mengizinkan, tapi tidak dengan Delia yang menemani Denisa."
"Bagus Abian, setidaknya kita sudah menyampaikan keinginan Daniel, dia dituntut dua tahun, atas tindakan yang dilakukannya pada Delia, dan penyalahgunaan obat terlarang."
"Terlalu sebentar, kenapa tidak seumur hidup saja, dia tidak tahu dampak spiskis korban atas tindakannya, Delia selalu menyalahkan dirinya sendiri."
"Kamu terus hibur Delia, jika kamu sedang tidak pulang seperti ini, kamu bawa saja kerumah, mama pasti senang jika Delia dirumah, mama jadi ada teman ngobrolnya. Jangan biarkan dia sering sendiri, takutnya dia suka terpikirkan dengan kejadian yang sudah-sudah."
"Iya Pa, nanti Abian tanyakan pada Delia, dia mau atau tidak."
"Ini kamu mau langsung pulang atau kemana?"
"Pulang lah Pa, kangen sama yang dirumah."
Papa mengangguk, "Ingat Bian, jangan pernah sekali-kali kamu bermain api diluar jika sedang tidak pulang. Papa sendiri yang akan membantaimu jika itu terjadi."
Abian tergelak "Siap laksanakan pak komandan, duh Pa, yang dirumah ngancemnnya mau potong milik Abian, sekarang Papa lebih sadis, kalo mama kayaknya entah apa lagi yang akan dilakuin, Bian serasa dikelilingi orang-orang psiko, mikir seratus kali Pa buat yang begitu-begituan."
"Papa pegang ucapan kamu, logisnya Bi, terkadang laki-laki jika sudah diujung hasrat, jauh dari istri, suka nggak mikir lagi, yang penting terpenuhi dulu kebutuhannya, nggak mandang lawanya cantik atau tidak. Jadi jangan permalukan Papa, jaga iman, banyak diluar sana yang menyesali perbuatannya sendiri, kehilangan berlian karena batu koral, belajarlah dari kesalahan pak Danuarta, ini Papa bicara sesama lelaki loh. Pak Danuarta mulai terbuka, jadi bukan dia dulu yang menggoda, tapi justru wanitanya yang menggoda lebih dulu, gencar, sampai menghalalkan segala cara, dan akhirnya dia tergoda, hingga terjerumus kadalam lubang kesesatan." Ucap Papa.
"Yang Papa takutkan dari rumah tangga anak-anak Papa bukan apa-apa Abian, bukan ekonomi, atau yang lainnya, yang Papa takutkan adanya kehadiran orang ketiga, karena rasa sakitnya tak terhingga."
Abian jadi merinding setiap mendengar petuah papanya "Semoga Abian dijauhkan dari hal demikian Pa, doakan saja rumah tangga Abian, kak Arumi dan Arini baik-baik, langgeng hingga maut memisahkan,"
* * *
Delia baru saja melakukan panggilan video dengan mama dan Denisa, Delia berkaca-kaca, ada perasaan tak rela melihat anak Denisa bak foto copyan Daniel versi wanita. Delia hendak merebahkan tubuhnya, dia merasa lelah, matanya terasa berat, inginnya selalu tiduran.
Abian mengabari jika dia akan pulang besok, maka dari itu dia akan bersantai sejenak untuk hari ini, walau sebenarnya dia tak sabar menunggu hari esok, selain menunggu kepulangan suaminya, Delia juga tak sabar ingin melakukan tes pada alat yang dibelinya secara online, sebab dia baru teringat, jika hampir sebulan ini dia tidak kedatangan tamu bulannya.
Spontan tangan Delia mengusap perut ratanya, dia tersenyum sendiri, jika benar didalam sudah ada buah hati cintanya dan Abian, dia yakin, Abian akan sangat senang.
"Hah, semoga ya Bi, apa yang kamu nanti-nantikan benar-benar sudah ada disini," Delia bermonolog.
"Ahhhh" Delia jadi senang sendiri sampai pipinya memanas, Delia meraba wajahnya girang, membayangkan perutnya yang akan membesar, dan dia akan merasakan pergerakan bayi yang ada didalam perutnya.
Delia menggulir ponselnya, mencari susu terbaik untuk kehamilanya. Delia jadi kebingungan sendiri setelah membaca kandungan susu disetiap merek yang berbeda.
"Ahh, aku beli aja semua nanti, buat pagi, siang, sore, malam, dari merek yang berbeda-beda."
Delia seperti mendengar suara pagar yang dibuka, dia turun dari tempat tidur, berlari menuju jendela, mengintip siapa yang membuka pagar, Delia membelalakkan mata, Abian pulang.
"Abian," gumamnya
"Abian," pekik Delia berhambur memeluk suaminya yang membuka pintu. Abian merentangkan tangan menyambut pelukan sang istri.
"Hai, aku pikir kamu lagi tidur siang, kok nggak tidur? Hem?"
"Nggak biasa tidur siang." Delia mempererat pelukanya. "Katanya pulangnya besok?" Delia mendongak melihat wajah suaminya.
"Kan aku sudah bilang, aku akan terus kasih kejutan-kejutan untuk kamu." Abian menangkup wajah mungil Delia, menghadiahi banyak kecupan disetiap wajahnya, kening, pipi, hidung, kedua mata Delia, dan terakhir dibibir merah muda sang istri. Seperti orang yang kehausan, Abian melu mat lama bibir istrinya hingga membuat Delia sampai kehabisan nafas.
"Kamu mau bikin aku kehabisan nafas ya?" Dumel Delia mengusap bibirnya yang basah.
Abian tertawa "Kok dielap sih? Ini tuh dirapel dua hari yang lalu sayang," keduanya berjalan menaiki tangga. "Kamu bosan nggak dirumah?"
"Ini baru awal-awal Bi, nanti kalau sudah biasa juga nggak akan kerasa." Delia membuka dasi Abian saat sudah berada dikamar, kemudian melepaskan kancing seragam Abian.
"Andai kamu tahu Delia, aku melarang kamu ini itu, bukan berarti aku mengekangmu, tapi kamu sangat berarti bagiku."
Tangan Delia yang sedang membuka kancing baju Abian sontak terhenti, padahal tinggal tiga lagi, kini Delia menatap dalam mata Abian.
"Iya, aku tahu Bi, ini cara kamu mencintai ku, aku paham kamu mencintai dengan caramu sendiri," Delia berjinjit mengecup bibir Abian "terimakasih sudah mencintai ku Bi terima kasih sudah berjuang banyak untuk aku."
"Terima kasih juga sudah menerima cintaku Delia, menjadikan aku laki-laki pendamping hidup mu, maaf karena selama ini sudah membuat mu kesal."
Delia tersenyum "Selama dua hari diluar kota, kamu nggak mual-mual?"
"Nggak, karena aku nggak makan nasi, hanya makan bakso, terus ya, aku pesan rujak lewat online untuk diantar ke kamar, yang penting perut aku keisi iyakan?"
Delia mengangguk, dia mengulum senyum, "apa Abian ngidam ya?"
"Kamu senyum-senyum gitu, kenapa? Aneh ya aku sekarang?" Delia menggeleng. Abian teringat perkataan papanya, jika Daniel minta bertemu Denisa.
"Sayang." panggil Abian lembut, walau ia tak suka permintaan Daniel, namun dia tetap harus menyampaikan ini secara baik-baik.
"Hemm, kenapa?"
"Daniel, dia ingin bertemu Denisa dan anaknya, dia sering mendengar suara anak kecil memanggilnya papa, apa kamu akan menemukan Denisa pada kuda nil?"
Delia terdiam sejenak, lalu menarik nafas berat, "aku tidak akan mengizinkan Daniel menemui Denisa ataupun anaknya Bi, aku tahu aku jahat, tapi lebih baik Denisa tidak tahu menahu permasalahan ini, memang awalnya ini kesalahan Denisa, tapi aku tidak terima tindakan Daniel kemarin, aku ingin Denisa pergi jauh, hidup bahagia sama anaknya, tanpa memikirkan masa lalu lagi, biar Denisa fokus pada anak dan pendidikannya."
"Ini keputusan yang tepat sayang, aku dukung keputusan kamu." Abian menggenggam tangan Delia, diletakkannya didada "Sayang, apa akhir-akhir ini Voni ada menghubungi mu?"
"Tidak, ada apa?"
"Tidak apa-apa," Abian memilih tidak menceritakan pada Delia permasalahan rumah tangga Voni dan Rendy, "Oh ya, aku ada hadiah untukmu, besok kamu aku izinkan terbang untuk yang terakhir kali, banyak yang menanyakan kamu, terutama Dewi dan Captain Ridwan, mereka bilang akan memberikan bucket bunga perpisahan."
"Benar Bi?" Delia sontak kegirangan.
Abian mengangguk "Dan ada satu orang lagi yang ingin bertemu, kamu pasti sangat merindukannya."
Delia menyipitkan matanya "Siapa?"
"Rahasia sayang, kejutan, jadi karena aku sudah memberimu banyak hadiah, kamu juga harus memberiku hadiah, temani aku mandi." Kerling Abian matanya, kemudian Abian menunduk, mengangkat tubuh Delia membawanya ke kamar mandi.