Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Perasaan Datang Silih Berganti



"Kamu ingin aku menghentikannya Delia?" Delia menggeleng dengan airmata yang terus mengalir, segala rasa berkecamuk dibenak Delia, rasa senang karena Abian datang menolongnya, namun rasa takut dan malu karena hal ini kembali terjadi padanya.


Dan Delia tak tahu saja, jika airmatanya adalah luka hati Abian, tanpa terasa membuatnya kembali menarik tangan Daniel.


Aggkkhhh


"Abiaann sakit." rintih Daniel tertahan, dia merasakan sakit yang teramat, entah, setelah ini apa tanganya bisa digunakan lagi atau tidak?


"Katakan sekali lagi istriku, kamu ingin aku menghentikannya?" Abian tersenyum miring dan sekali lagi memelintir tangan Daniel, dan itu begitu terasa sangat sakit buat Daniel, yang memang belum pernah merasakan kekerasan selama hidupnya, kecuali tamparan dari sang papa belakangan ini.


Delia semakin menangis, memang Daniel telah berbuat tak senonoh padanya, dia bukanlah seorang psikopat yang bisa melihat orang lain dalam kesakitan, melihat cicak terjepit sapu lidi didalam video saja dia tak tega, apalagi ini, melihat kekerasan didepan matanya sendiri, secara live, sisi kemanusiaannya pastilah muncul.


"Jika kamu meminta aku membunuhnya, aku akan membunuhnya sekarang." Ucap Abian dengan nafas yang memburu.


"Kita serahkan saja pada pihak yang berwajib Bi, jangan kotori tanganmu untuk orang seperti dia." Delia mengangkat kepalanya, suaranya terdengar serak dengan wajah yang sudah sangat basah, dia takut Daniel mati ditangan Abian.


"Aku sudah melakukannya, baby." Jawab Abian menyeringai.


"A-abian, a-ampuni aku, jangan sampai bawa aku ke kantor polisi Abian, jangan sampai orang tuaku tahu?" pinta Daniel dengan suara terbata.


"Mereka sudah tahu. Lagi pula jika aku tidak datang, apa kamu akan melepaskan istriku? Aku dengar sejak tadi dia memohon agar kamu melepaskanya."


"Aku hanya menggertaknya saja, aggghhh, sakit Abian, aku hanya ingin mengajak Delia membahas tentang Denisa. Kalau saja dia tidak menolak ajakan ku tadi, aku tidak akan melakukan itu." Daniel membela diri "Delia ampuni aku, aku janji tidak akan mengganggu kamu lagi Delia, " Daniel memohon seperti anak kecil yang habis melakukan kesalahan kecil karena kenakalannya, seakan kesalahannya saat ini hanya kesalahan kecil yang bisa langsung dimaafkan.


Hahaha Abian tertawa menyeringai "Menganpuni mu? Aku rasa hukum yang pantas untukmu bukan penjara atau hukum mati, aku begitu ingin melihat kamu disuntik kebiri, lalu akan kupotong tangan dan kakimu untuk makanan ibu tiri buaya," geram Abian "Kamu beralasan membahas Denisa sampai membawanya ke kamar? Dan mau membuat istriku hamil? Jangan terlalu banyak membuat drama kebohongan Daniel. Bersiaplah kamu segera didepak dari perusahaan, membuat rekayasa jadwal istriku, dan melakukan penyuapan, kamu pikir semua aman tanpa diketahui? Ingat Daniel, serapat-rapatnya bangkai yang disembunyikan pasti akan ketahuan juga."


Tak lama datang lima orang bertubuh tegap dengan pakaian serba hitamnya, orang-orang yang Abian minta pada papanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, Abian menceritakan jika Daniel merekayasa jadwal Delia selama ini, dan Abian menduga, jika Daniel sedang merencanakan sesuatu. Dan benar dugaan Abian.


Selama ini mereka memang tidak pernah menggunakan bodyguard atau apapun untuk pengawalan, karena keluarga Abian mereka merasa bukanlah orang-orang penting, dan keluarga mereka selama ini aman-aman saja, mereka bukanlah pengusaha hebat yang memiliki banyak usaha disana-sini, mereka hanya memiliki satu usaha yang terbilang baru berkembang, dan itupun dibangun dengan keluarga Danuarta, papa Daniel. Tapi kali ini, Abian membutuhkan itu untuk membawa Daniel, karena Abian tahu, jika Daniel selama ini suka mengandalkan kekuasaan, dia tak mau kecolongan lagi.


"Lepaskan aku," Daniel meronta saat dua orang sudah memegangi tangannya, dan akan membawanya keluar "Abian lepaskan aku, aku tidak melakukan apa-apa pada Delia, aku hanya menggertaknya."


"Ucapkan itu pada anak baru lahir dia pasti akan percaya Daniel," seringai Abian, Daniel begitu lucu, membuat pembelaan yang tak masuk akal, "diam atau aku akan menggunakan hukum negara setempat, biar kamu mati dinegara orang."


"Bawa dia menemui papa, pak Danuarta juga sudah menunggunya untuk menggantung anak semata wayangnya yang tak berguna." Perintah Abian.


Kelimanya mengangguk paham, dan membawa Daniel tanpa perlawanan.


"Delia tolong kasihani aku Delia, aku belum melakukan apa-apa padamu Delia, ingat katamu jika Denisa akan melahirkan, Denisa pasti membutuhkan aku Delia." suara Daniel tenggelam seiring menghilangnya dia dari balik pintu.


Kini tinggal Abian Delia didalam kamar itu. Delia masih diam ditempatnya, dia ingin berhambur memeluk Abian dan mengucapkan terima kasih, namun tubuhnya terasa kaku, Delia merasa sangat malu, menatap wajah Abian pun, Delia tak sanggup.


Abian memandang Delia dengan perasaan kecewa "Aku suamimu Delia, bukan laki-laki yang akan melecehkanmu, kenapa kamu takut? Apakah seperti ini respon mu setiap bertemu dengan ku?" ucap Abian namun begitu terasa menusuk dihati Delia, Delia mengangkat wajahnya ingin berhambur memeluk tubuh suaminya, namun saat bibirnya akan terbuka untuk meminta maaf, Abian memotong itu dan kembali berujar "bereskan barang-barangmu, kita pindah kamar." Suara Abian terdengar begitu dingin, tak ada senyum atau pelukan yang akan menenangkan hatinya.


Tanpa banyak tanya, Delia mengikuti langkah Abian, mereka memasuki lift menuju lantai atas, dimana Abian sudah memesan kamarnya sendiri saat tiba.


Didalam lift, keduanya dilanda kebisuan, tak ada obrolan apapun, baik dari Delia maupun Abian walau hanya pertanyaan basa-basi, Delia terus menunduk, siap menerima konsekuensinya, walau bibirnya sendiri gatal ingin menanyakan banyak hal tentang Abian yang bisa sampai disini, dan apa Abian sudah benar-benar sehat?


Pintu lift terbuka, Abian terus berjalan tanpa mengatakan apapun, langkahnya terhenti saat sampai disalah satu kamar, Abian menempelkan kartu aksesnya, segera masuk dan langsung menuju kamar mandi.


Kamar yang dipilih Abian adalah kamar dengan konsep Japanese modern, kamar yang menggunakan bahan otentik berkualitas. Jepang dengan segala kecanggihan teknologinya, pendingin ruangan itu seketika menyala dengan sendirinya, menyesuaikan suhu saat ini, tidak terlalu dingin, dan kemudian tercium wangi aroma terapi yang menyambut indra penciuman Delia saat memasuki kamar.


Saat Delia masih takjub dengan kamar yang mereka tempati saat ini, Abian muncul dengan handuk yang melilit pinggang, Abian tak ada menatapnya sana sekali, suaminya itu langsung menunduk, membuka travel bag miliknya, untuk mengambil pakaian, namun Delia memiliki inisiatif untuk mengambilkannya.


"Biar aku ambilkan Bi," Delia bersimpuh, membuka travel bag Abian. Abian diam membiarkan Delia mengambilkan pakaiannya, diam-diam dia melirik wajah sembab sang istri, Abian tak tega sebenarnya, namun dia akan mendiami istrinya untuk sementara waktu, agar Delia menyadari kesalahannya.


"Aku akan menghadiri agenda tahunan menggantikan laki-laki yang bersamamu tadi," ucap Abian menyindir, dia berdiri, memberi tahu Delia agar Delia mengambilkan pakaian yang ia butuhkan.


"Iya," jawab Delia dengan suara bergetar menahan tangis, dia menyadari sikap dingin Abian padanya. Abian mengambil pakaiannya dari tangan Delia, kemudian kembali masuk ke kamar mandi untuk memakai pakaiannya.


"Aku tidak lama, nanti akan ada yang mengantarkan makanan, makanlah jangan menungguku, aku makan diluar." Ujar Abian sebelum pergi, andai saja keadaan sedang tidak seperti ini, Abian sudah pasti mengajak serta istrinya, memperkenalkan Delia pada kolega papanya, dan bertemu para petinggi Airlanngga Airlines, serta para menteri dan kedutaan Tokyo.


Abian tidak membiarkan Delia sendiri, diluar dia sudah meminta salah seorang untuk berjaga, dia tak ingin kecolongan lagi.


Abian kembali setelah tiga jam meninggalkan Delia, saat masuk kamar, Delia sudah tertidur, terdapat sisa airmata diujung mata istrinya, Abian menarik nafas, ia kemudian merendahkan tubuhnya, menghapus sisa air mata itu, tak sengaja Abian menangkap sebuah benda dibawah bantal istrinya, penasaran, perlahan dia mengambil benda itu.


Sebuah figura seorang laki-laki yang sedang tersenyum lebar bersama seorang anak kecil dalam gendonganya, gadis cantik itu tertawa hingga memperlihatkan dua gigi atasnya, Abian tercekat, darahnya berdesir melihat senyum laki-laki itu, senyum tulus yang mampu menenangkan hati seseorang.


Teringat Abian akan ucapan ayahnya tadi, "Tuhan itu menciptakan perasaan lengkap, ada sedih, bahagia, kehilangan, dan lain-lain, semua datang silih berganti. Jangan kamu hukum dia, jika boleh memilih, Delia tidak ingin ini terjadi padanya, apalagi ini sampai dua kali. Dia pasti ingin hidupnya lurus-lurus saja, yang semua isinya bahagia."


Dan Abian kembali teringat ucapan ayahnya saat Delia pergi "Delia termasuk anak yang sedikit tertutup, kecuali pada almarhum ayahnya, sebenarnya Delia merasa sangat kehilangan setelah kepergian ayahnya, walau dia tidak menunjukkan itu, yang Papa lihat, Delia begitu dekat dengan ayahnya, sosok cinta pertama seorang anak perempuan, tidak mudah Abian untuk Delia, kehilangan sosok yang begitu berharga itu berat, hanya saja Delia menutupi semua, tak ingin membebani mamanya, dia harus terlihat kuat didepan mama dan adiknya, karena dia merasa, sebelum ayahnya pergi, dia sudah dijadikan tulang punggung keluarga. Ayah Delia menjadikan Delia sosok yang mandiri, makanya, Delia kesulitan menemukan orang yang bisa dipercaya untuknya berbagi selain ayahnya."


"Sebagai suami, ridhoi setiap langkahnya, agar apa yang dia lakukan berjalan lancar, nyaman dan tenang, iklas, biar istrimu memilih yang terbaik, jika kita iklas, semua yang kita inginkan akan datang dengan sendirinya."


"Maafkan aku Delia, maaf menjadi suami yang tidak mengerti perasaan kamu."