
"Bi, baru pulang?" mama Abian melipat majalah yang dibacanya, menengok ke belakang agar bisa melihat anaknya karena posisi duduknya membelakangi tangga.
Abian yang sudah memijakkan satu kaki di anak tangga sontak menghentikan langkahnya "Eh ada Mama sama Papa?, Bian nggak liat," Abian menghampiri kedua orang tuanya seraya mengendurkan dasinya, lalu menyalami punggung tangan mereka. Mengambil duduk di sofa single disana.
"Kita kayak makhluk astral kali ya Ma, nggak kelihatan," sindir Papa Abian sedikit melirik anaknya.
"Bener Pa, Bian bener-bener nggak liat, masa kalau tahu ada Mama sama Papa disini nggak disapa,"
"Kebiasaan anak jaman sekarang, kalau masuk rumah nggak main salam lagi, Mama dulu nggak salah jalur kan Ma waktu ngelahirin Abian, kok beda sama kedua kakaknya?"
"Hush Papa, Abian tuh dulu dilepehin, makanya jadinya begini," Amanda tertawa menutup mulutnya.
"Mama sama Papa kalo ngomong kenapa suka bener sih?, Abian makin curiga, kalo Bian bukan anak kandung disini."
"Sembrono kalo ngomong, Mama bawa kamu dalam perut selama sembilan bulan, kamu minum Asi Mama sampai dua tahun setengah, udah kelebihan dosis itu sebenarnya."
Abian menggaruk kepalanya, dia yang awalnya di bully oleh kedua orang tuanya, justru kini berbalik jadi dia yang disalahkan, padahal yang memulai obrolan absurt keduanya.
"Yaudah, iya Bian minta maaf, nanti kalau pulang Bian bakal salam dulu, Assalamualaikum Ma, Pa, Bian pulang. Udah kan?, selesai?, Bian ke kamar dulu kalo gitu, mau bersih-bersih," Abian beranjak dari duduknya menarik koper yang selalu ia bawa saat bertugas.
"Kayaknya dari pulang rumah Delia Mama kamu menghindar sama Mama, selesai mandir kamu cepat turun, Mama tunggu." Abian menghela nafasnya, mamanya terlalu peka jika dia menyembunyikan sesuatu.
* * *
Abian berkumpul bersama mama dan papanya di ruang keluarga, Abian duduk disebelah papanya, berseberangan dengan mamanya yang duduk sendiri, ibu negara itu selalu menjadi hakim ketua jika ada rapat dirumah, keputusannya adalah hal yang mutlak.
"Bian, semenjak dari rumah Delia, Mama nggak dapat kabar apa-apa ini?, Mama nungguin loh. Kakak-kakak kamu juga pada nungguin, mereka nanyain terus, kata kamu mau menikahi Delia satu bulan lagi. Ini kita mau mempersiapkan semuanya, Mama mau sewa gedung dan memilih gaun untuk Delia."
Abang terdiam, masih bingung harus memulai dari mana, Abian berdehem untuk mengurai kegugupanya sebelum memulai pembicaraan yang agak serius ini, "Ma, sebenarnya Abian belum membahas ini sama Delia, karena ada kejadian tak menyenangkan"
"Kejadian apa Bi?" tanya Amanda dan papa Abian bersamaan, keduanya mencondongkan tubuh kearah Abian.
Ditatap serius oleh kedua orang tuanya Abian semakin gugup, seumur hidupnya baru kali ini dia menghadapi masalah yang agak berat, dulu dengan Attaya dia tak setakut ini, padahal hubungannya sangat ditentang.
"Ayah Delia sudah meninggal enam bulan lalu Ma, Pa," Abian menatap mereka satu satu, sedang keduanya tetap diam menunggu penjelasan Abian selanjutnya "Tapi bukan perkara meninggalnya, yang jadi masalah, ayah Delia menjadi korban tabrak lari, dan itu pelakunya Attaya menggunakan mobil Bian."
"Astaga," Amanda syok mendengarnya "Terus?, bagaimana itu bisa terjadi, Bian?"
Abian menarik nafas terlebih dahulu, dia harus hati-hati menjelaskannya, kemudian Abian menceritakan saat Attaya menabrak ayah Delia, dan adik Delia yang mengenali mobilnya.
"Mama nggak bisa membayangkan perasaan mereka, tega sekali Attaya melakukan itu, Mama pikir Attaya hanya menduakan kamu saja waktu itu Bian, ternyata dia lebih bahaya dari yang mama tahu, terus apa keluarga Delia menuntut wanita itu, Bian?"
"Nggak Ma, justru keluarga Delia sudah mengiklaskan semuanya, mereka tidak menuntut apa-apa, walau sebenarnya sempat terjadi kesalah pahaman sama Abian, dan Delia menuduh Abian pelakunya. Tapi Bian udah menemukan semua buktinya, dari pengakuan Attaya langsung maupun dari lokasi kejadian."
Papa Abian menepuk pundak anaknya "Papa bangga sama kamu, gerak cepat, mau berusaha sendiri, tidak lagi melibatkan Mama dan Papa. Beginilah pejantan tangguh yang sebenarnya. Selama bersama Delia, Papa lihat kamu semakin dewasa dan banyak perubahan," papa Abian merangkul serta mengusap bahu Abian.
"Dan disini Mama juga salut pada mamanya Delia, secara tidak langsung dia mengajarkan anak-anaknya tentang keikhlasan, hal ini susah untuk diterapkan dalam kehidupan. Jika itu terjadi sama Mama, Mama juga belum tentu bisa seiklas itu Pa, memang benar kata orang, sifat seorang anak kadang tercermin dari keluarganya, dan Mama rasanya sangat bersyukur, Abian cepat lepas dari Attaya, dan dipertemukan dengan Delia," Amanda menarik nafas, lega "Tapi seharusnya kamu melaporkan wanita itu Abian, biar ada efek jeranya, apalagi ini melibatkan kamu, karena mobil yang dia pakai mobil kamu"
"Abian ingin memberikan kesempatan kedua untuk Attaya memperbaiki diri Ma, karena Delia sendiri tidak memperpanjang masalah, tapi jika Attaya berulah lagi, Abian akan mengambil tindakan."
"Ma, ingat kata Mama barusan, sifat anak tercermin dari ajaran keluarganya dirumah," papa Abian mengingatkan ucapan istrinya.
"Tapi nggak berlaku untuk kasus ini Pa," Amanda membela diri, dan papa Abian memilih diam dan mengalah.
"Yasudah Ma, Abian mau jemput Delia dulu, hari ini Delia penerbangan malam," Abian bangkit dari duduknya.
"Nanti bawa Delia kesini Bian, kita harus segera membahas tentang pernikahan kalian, sekaligus membujuk Delia untuk memenjarakan Attaya."
"Iya Ma," teriak Abian sebelum dia menghilang dibalik pintu.
Papa Abian menatap heran istrinya "Mama hari ini cosplay jadi setan, kok ngajarin yang nggak bagus,"
"Jadi setan kalo bener nggak papa," Amanda berdiri ,dia akan masuk ke kamarnya, namun dia menghentikan langkahnya sejenak menatap suaminya yang masih duduk "Papa mau nggak, ngusir setan yang ada di dalam tubuh Mama?, kalo mau ayok sekarang, kita bunuh empat puluh setan," ajaknya.
Papa Abian masih terdiam, memikirkan ucapan istrinya, lalu dia tersenyum ceria saat menyadari maksud ajakan Amanda. "120 setan ya Ma," ucap kegirangan, berlari kecil menyusul Amanda ke kamar.
Ucapan Amanda benar, jika untuk urusan Attaya Abian lemah, nyatanya saat sudah dijalan dia mendapat telepon dari teman Attaya, yang mengabarkan jika Attaya masuk rumah sakit karena dianiaya seorang pramugari. Abian yang menebak jika itu Delia langsung memutar balik mobilnya, ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya.
"Bian," Attaya mengangkat setengah badanya untuk bangun.
Abian masuk ke ruangan Attaya dirawat dengan tatapan datar tak bersahabat, dilihatnya pipi Attaya lebam, dan pergelangan kaki yang diperban.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada Delia?" tebak Abian langsung.
"Bi, pramugari itu ternyata bar-bar, dia bukan wanita yang baik buat kamu Bi, liat, dia mukul aku sampai pipi aku begini, dan kaki aku terkilir gara-gara dia,"
"Dari laporannya, kejadian diapartemen Delia, berarti kamu yang mencari gara-gara, Delia nggak akan menyerang kamu, kalau bukan kamu yang mengganggunya lebih dulu,"
"Bi, aku kesana buat nemui temen aku, kamu taukan salah satu teman aku ada yang tinggal disana, kami nggak sengaja ketemu di lift, tiba-tiba cewek bar-bar itu nyerang aku," rengeknya manja.
"Kamu sudah tau kan, dia bar-bar, makanya jangan ganggu dia lagi, ingat Attaya, aku memberimu kesempatan untuk bertobat, jika kamu mengganggu Delia, maka aku nggak akan segan-segan buat jeblosin kamu ke penjara, seharusnya kamu mendapat lebih dari ini, karena ini tidak setimpal dengan apa yang kamu lakukan pada ayahnya," peringatkan Abian penuh ancaman,
"Itu udah takdir Bi, bukan aku pembunuhnya, aku kan bukan malaikat pencabut nyawa," Attaya masih membela diri.
"Dasar wanita nggak tau diri, setidaknya kamu meminta maaf pada Delia, bukan terus melakukan pembelaan diri, padahal kamu sangat bersalah," Abian tak bisa berlama-lama melihat Attaya, dia merasa muak jika terus berdebat dengan matan pacarnya itu, tanpa menanyakan keadaan Attaya, Abian pergi meninggalkan Attaya.
"Baik Bi, aku akan minta maaf, jika mau kamu seperti itu," Attaya menyeringai, entah apa yang dipikirkanya saat ini.
* * *
Delia mendarat dibandara tepat pukul sembilan malam, suasana bandara lumayan sepi, Delia berpisah dengan crew yang lainnya saat di parkiran penjemputan, saat Delia akan membuka pintu taksi, tangannya ditahan seseorang.
"Delia, pulang sama aku ya?"
"Kamu?"
"Ingat Delia, aku nggak suka penolakan," laki-laki itu mengerlingkan matanya, lalu mengambil alih koper Delia. "Delia pulang sama saya Pak," ucapnya pada supir taksi.