Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Sebuah Kebimbangan.



Voni yang baru saja selesai memoleskan wajahnya dengan masker malam berwarna hitam yang seperti terbuat dari tanah lumpur sawah, langsung beranjak dari kursi meja riasnya, saat bel apartemenya berbunyi, dia pikir itu Delia yang pulang, dan lupa membawa kunci sendiri. Dengan masih menggunakan bandana karakter kelinci dengan warna putih, dan baju terusan putih motif bunga-bunga kecil, Voni membuka pintu.


"Astagfirullah, Astagfirullah, Astagfirullah," suara laki-laki terus bergumam seraya menundukkan kepalanya dengan telapak tangan menutup wajahnya rapat.


"Capt!!" panggil Voni coba memastikan jika yang datang malam itu Rendy.


Laki-laki itu refleks mamundurkan kakinya dua langkah untuk menghindar "Tolong, jangan makan saya mba kunti, saya belum berpengalaman, nyatanya saya belum laku hingga sekarang,"


Voni maju, menyentuh pundak Rendy "Capt, ini saya Voni," ujarnya.


Rendy menegakkan tubuhnya, membuka tangan yang menutupi wajahnya "Voni?" Rendy mengernyitkan dahi, lalu mengamati wajah yang masih ditutupi lumpur itu. Lalu Rendy menunduk, menyentuh kaki Voni.


Voni berjengit kaget mengangkat kakinya. "Apaan sih Capt?, saya ini manusia, bukan mba kunti," sungut Voni kesal.


"Abisnya kamu ngapain sih mukanya dipakein lumpur begini?" Rendy menunjuk wajah Voni.


"Ini masker, bukan lumpur, duh gagal deh perawatan malam ini," Voni meraba maskernya yang sudah agak mengering itu retak, bak lumpur di tengah sawah yang kering akibat kemarau panjang.


"Cuci muka kamu, aku serem liatnya,"


Voni menghentakkan kakinya, ia masuk diikuti Rendy dibelakangnya, yang langsung duduk di ruang tamu. Sambil menunggu Voni keluar dari kamar mandi, Rendy mengamati setiap sudut ruangan apartemen yang seluruhnya bercat putih.


Rendy memang sering antar jemput Delia sebelum dia tahu jika Delia berpacaran dengan Abian, namun dia tak pernah sampai masuk ke apartemen ini, karena Rendy masih merasa kurang pantas untuk masuk kamar apartemen yang berisi kaum paling kuat yang bernama perempuan. Ini memang apartemen milik Voni, sehingga figura yang terpasang dominan milik Voni semua, tak ada satupun foto Delia, eh tapi ada satu yang terletak di sisi kanan televisi yang menempel di tembok, foto selfie Delia dan Voni yang memakai seragam pramugari mereka. Nampak keduanya sedang tersenyum menunjukkan gigi putih mereka seperti iklan pasta gigi, sudut bibir Rendy terangkat, dia menyadari jika senyum Voni tak kalah manis dari senyum Delia.


"Jangan dipandangi terus, itu sudah jadi milik orang, Captain harus bisa move on," Voni muncul dengan wajahnya yang sudah bersih dan segar. Dia mengambil duduk di sofa single yang ada di sisi kiri sofa panjang yang di duduki Rendy.


"Captain Rendy ngapain malam-malam kesini?"


"Aku_ ck" Rendy ragu "aku mau minta maaf sial pagi itu," Rendy menatap Voni "udah berapa hari ini kamu diemin, rasanya kayak memikul dosa sebesar gunung salak,"


"Gunungnya di buang juga tinggal salaknya aja," sungut Voni memajukan bibirnya.


"Jangan_" Rendy melambaikan tangannya "Gunungnya jangan di buang, nanti nggak enak kalau nggak ada gunungnya," ucap Rendy spontan, mendengar kata gunung pikiran Rendy langsung berkelana, dan pandanganya langsung tertuju pada dada Voni, padahal dress yang dikenakan Voni tidak menerawang, memang dasarnya saja pikiran laki-laki itu jarang yang lurus.


"Hah" Voni tahu arah mata Rendy, dia langsung menyilangkan tangan di depan dadanya. "Mata Captain jangan jelalatan, dasar cowok dimana-mana sama aja, pikirannya pada kotor," sergah Voni.


Rendy yang tertangkap basah jadi kikuk dan malu, dia menggaruk tengkuk belakangnya. "Jadi, gimana kuda Voni, aku dimamafin nggak?"


"Nggak, mending Captain pulang, ini udah malem, aku mau tidur, mau istirahat," usirnya.


"Jadi kamu nggak maafin aku little Voni?" tanya Rendy memelas "Kalo kamu nggak maafin aku, aku nggak mau pulang,"


"Terserah, kalo nggak mau pulang, aku panggil satpam buat usir Captain," Voni berdiri, dia membuka pintu untuk Rendy keluar.


"Yaudah, kalo gitu, panggil aja satpam, dan aku akan bilang, kalo aku suami kamu yang udah lama nggak pulang," jawab Rendy santai, dia bersedekap seraya menyilangkan kakinya.


Voni membuang nafas kasar "Mau Captain apa sih?"


"Cuma mau kamu maafin aja, simple kan?, pagi itu aku lagi marah banget sama Captain Abian, terus dia malah nambahin bikin aku kesel, dengan manggil kamu pagi-pagi. Jadi waktu itu aku refleks aja nyuruh kamu pulang, dan malam ini aku ngerasain baru dateng langsung diusir, nggak enak ternyata,"


"Iya, iya, aku maafin. Tapi Captain Rendy pulang sekarang, sudah malam, waktunya setan keluar, dan manusia harus istirahat, Captain mau ngumpul sama setan?" usir Voni lagi.


Rendy tersenyum, lalu bangkit dari duduknya "Oke, bener kan kamu maafin?" Rendy berhenti tepat di depan Voni yang masih memegang handle pintu.


"I-Iya," Voni gugup karena jarak Rendy dengannya begitu dekat.


"Makasih ya, little Voni ku," Rendy meniup poni rambut Voni, membuat Voni memejam, dan tanpa dia tahu, Rendy langsung mengecup pipi kirinya.


Voni terbelalak kaget, aliran darahnya seketika naik menjalar ke wajahnya, hingga pipi terasa memanas menimbulkan rona merah diwajahnya.


"Kayaknya Delia nggak pulang Von, kamu jangan nungguin dia, karena malam ini dia dan Captain Abian lagi ngumpul sama setan, makin malam, setan makin agresif," ucap Rendy sebelum berlalu dari apartemen Voni.


Voni yang masih syok dengan ciuman Rendy tak lagi merespon apa yang Rendy ucapkan, Voni masih berdiri kaku di tempatnya, tanganya terangkat, meraba pipi dimana bekas ciuman Rendy tadi.


Benar apa yang dikatakan Rendy, jika Abian dan Delia sedang berkumpul dengan setan. Dan semakin malam, setan semakin agresif, apalagi ini jamnya mereka berkeliaran.


Delia sadar ini salah, tapi dia tak memiliki kekuatan untuk mengehtikanya, dia justru malah menikmati setiap sentuhan Abian. Dia yang tadi berada dipangkuan Abian, kini perlahan badanya telah terbaring di sofa, dengan kepala berada di sandaran tangan sofa.


Abian sudah berada di atas tubuhnya, laki-laki itu menjeda ciumanya, pandangan mereka bertemu dengan nafas saling memburu, meraup oksigen yang terasa habis. Mata keduanya sudah sama-sama sendu, tangan Abian berpindah dipinggiran kaos Delia untuk dia buka, namun ternyata setan yang berada di dalam diri Delia masih memiliki iman, hingga dia menahan tangan Abian yang sudah ingin menanggalkan kaosnya.


"Kenapa?" tanya Abian dengan suara yang sudah parau, sorot matanya sudah berkabut nafsu.


"Ini nggak benar, Bian." Delia menelan ludahnya.


Abian mendesah kecewa "Terus yang benar menurut kamu seperti apa?"


Delia terdiam.


"Makanya aku mengajak mu untuk segera menikah Delia, aku sudah bilang, aku laki-laki dewasa yang normal, aku tak mungkin bisa menahan diri." Abian segera bangkit dari atas tubuh Delia, dia duduk di ujung kaki wanita yang begitu ia inginkan ini.


Delia menggigit bibirnya menangkap wajah kecewa Abian, Delia bingung, pernikahan bukanlah sebuah hal untuk main-main, apakah Abian mengajaknya menikah karena lelaki itu penasaran untuk menyentuhnya?, atau dia memang begitu mencintai dirinya. Kenapa dia tiba-tiba ragu?.


"Apalagi yang kamu ragukan Delia, orang tua kita sudah sama-sama merestui, aku juga sudah membuktikan keseriusan ku. Apa aku kurang pantas untuk kamu ,Delia?"


"Beri aku waktu," jawab Delia cepat, dia memiringkan tubuhnya agar tak melihat wajah Abian. "Kita harus saling mengenal dulu, biarkan aku menikmati waktu ku sejenak dan pekerjaan ku, sebelum aku memutuskan untuk berhenti bekerja atau tidak?, karena jika nanti kita sudah menikah, tak bisa dipungkiri kita pasti memiliki anak. Aku ingin anak kita, sepenuhnya aku yang mengurus, aku tak mau dia besar ditangan neneknya atau pengasuh," lirih Delia, dia memejamkan mata, ini keputusan berat untuknya.


Disisi lain dia juga ingin disentuh Abian, dia telah menyayangi laki-laki itu. Abian telah berhasil mencuri hatinya. Tapi untuk bertindak lebih, Delia masih takut, wajah ayah dan mamanya seketika terlintas.


"Maafkan aku, Abian," gumam Delia. Dia menelungkupkan wajahnya.


Abian merasakan jika Delia seperti menahan tangis, seketika dia merasa bersalah, dia seperti memaksakan kehendaknya, rasanya dia terlalu egois. Abian melihat Delia yang menyembunyikan wajahnya, hatinya berdenyut, dia telah membuat Delia terluka.


Dalam pernikahan wanita memang memiliki beban tersendiri, Delia pasti bingung, antara karier atau keluarga, itu sebuah keputusan yang berat, dua-duanya tugas yang mulia, apalagi mengingat, menjadi pramugari adalah cita-cita ayahnya. Delia pasti ingat dengan ayahnya. Walau sebenarnya bisa saja Delia keluar masuk, sesuai keinginan hatinya, semua bisa ia lakukan dengan bantuan ayahnya. Tapi Delia tak mungkin mau melakukan itu, dia pasti tak mau diistimewakan.


Abian menundukkan badanya, "Aku yang seharusnya minta maaf, Delia. Aku terlalu memaksakan kehendak," Abian merapikan rambut yang menutupi wajah kekasihnya. "Lihat aku ,Del," bisiknya.


Delia menurut, dia mengangkat wajahnya, Abian melihat mata Delia yang sudah memerah. Dibantunya Delia untuk duduk, dan menuntun Delia untuk duduk berhadapan dengannya.


Abian merapikan rambut Delia, menyelipkan kebelakang kedua telinganya, ia menanngkup wajah Delia.


"Nanti kamu kerumah ya, mama sudah menunggu kamu, kita beri tahu mama, jika kita butuh waktu," ditatapnya mata bermanik coklat itu. "Tapi kamu pisah ya sama Voni?, biar kita nggak nginep di hotel kayak gini, aku butuh waktu berduaan sama kamu, waktu kita bertemu pasti sangat sedikit."


"Aku beli apartemen sendiri?"


Abian mengangguk, "hitung-hitung buat investasi juga, kalau kita sudah menikah, nanti apartemenya bisa kita jual atau kita sewakan,"


Delia tersenyum setuju.


"Kita tidur yuk, sudah malam,"


Keduanya berjalan menuju tempat tidur.


"Ini di buka aja kalau mau tidur," Abian menarik turun tali braa Delia yang pengaitnya tadi sudah dia buka.


Tubuh Delia kembali menegang, perlakuan Abian membuat suhu tubuhnya kembali memanas, Delia menahan nafasnya, karena mereka duduk berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Sedang Abian sangat berkonsentrasi menarik tali itu dari tangan Delia, seperti orang yang menarik usus ayam agar tak merusak kantung empedu.


Saat tali itu sudah terlepas dari kedua tangan Delia, Abian kembali memasukkan tangannya dari dari kaos Delia untuk mengambil dalaman itu, tangan Abian sedikit menyentuh daging yang tadi direm matnya, membuat Delia menegakkan tubuhnya karena sedikit sentuhan itu.


"Kalau aku cobain sedikit boleh nggak?" tanya Abian.


"Hah?"


"Sedikit Del," pinta Abian memelas, Delia menggeleng. Membuat Abian mendesah kecewa lagi. "Yaudah, tapi aku tidur meluk kamu ya, usap-usap kepala aku lagi,"


Akhirnya Abian tertidur dengan wajahnya berada di dada Delia, dengan Delia terus mengusap rambutnya, degup jantung Delia kembali ia anggap sebagai dongeng penghantar tidur, Abian tak tahu saja, jika posisi seperti ini membuat Delia tak bisa memejam sama sekali, ada rasa ingin lebih dari ini, namun Delia menahanya.


Tidur berdua seperti ini saja sudah membuat Delia merasa sangat bersalah pada sang mama, apalagi sampai dia kelewat batas. Dia kembali memikirkan, apa dia cepat menikah saja?, tapi menunda memiliki momongan, atau bertahan seperti ini.