
Abian dan Delia baru saja selesai dari dokter kulit, keduanya berjalan bergandengan melewati koridor rumah sakit, Abian tak merasa malu saat kini dia menenteng tas tangan Delia berwarna pink.
Dari jauh Abian membaca sebuah tulisan papan label nama seorang dokter, yang diakhir namanya terdapat gelar S.pog.
Abian tersenyum kecil, dan langsung menunduk melihat pada perut Delia.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Delia yang menyadari Abian melihat kearah bawah tubuhnya.
"Didalam sini sudah ada Abian juniorr belum ya Del?, secara aku sudah menanam benih beberapa kali dari kemarin," ujarnya sambil mengusap perut Delia. "Aku yakin jika keperkasaanku tidak kalah dari Rendy."
Delia mengulum senyum atas perkataan Abian, tiba-tiba darahnya berdesir mengingat pergulatan panas mereka yang membuatnya terus mengeluarkan suara erotis yang memalukan.
"Semoga sudah ada sebagian jiwa kamu yang tumbuh disini," jawab Delia mengarahkan tangan Abian diperutnya, membuat Abian senang. Saat melewati ruang dokter obigyn, mata Abian tak henti menatap pada ruangan itu.
"Nanti, kalau dia sudah ada, kita akan sering keruang itu. Dan kamu harus janji sama aku, sesibuk apapun jadwal kita nanti, kamu harus bersama ku mengecek perkembangan anak kita."
"Iya, kamu ayahnya, kamu yang harus selalu nemenin aku buat check dia setiap bulannya."
Abian menarik pinggang istrinya untuk mendekat padanya, dia mencium pucuk kepala Delia, dalam hatinya banyak mengucap rasa syukur karena telah dipersatukan bersama wanita yang begitu ia cintai, Abian berharap, tak ada cobaan berarti dalam rumah tangga mereka kedepanya, dan tak akan ada satu orangpun yang mampu merusak keutuhan pernikahan mereka.
* * *
"Kak, aku boleh ke Jakarta nggak?, aku lagi libur semester. Pengen nginep ditempat Kakak, Kakak masih libur kan?" Denisa menelepon Delia, saat ini Delia sedang diperjalanan kerumah orang tua Abian, membawa masakan yang ia masak tadi, cah kangkung, dan ikan goreng, beserta sambal kecap.
Delia melirik Abian yang sedang menyetir, lalu menutup ponselnya, bertanya dulu pada suaminya "Bi, Denisa mau ke Jakarta, nginep ditempat kita boleh?"
Abian melihat Delia sekilas "Ya nggak papa Del, tapi besok kita ..." Abian menjeda ucapannya, sebenarnya dia mau memberi surprise pada Delia besok, tapi karena Denisa mau datang dia terpaksa memberi tahu ini, Abian melipat bibirnya. "Kita besok mau ke Switzerland, kita akan bulan madu kesana."
"Apa Bi?, Switzerland?" Delia terkejut.
"Iya, sebenarnya ini surprise, kado dari kak Arumi dan Arini, tapi karena Denisa mau datang, ya kamu kasih tahu dia dulu, dia berani tidak sendirian dirumah?"
Delia kembali menempelkan ponselnya ditelinga "Denisa, besok Kakak dan kak Abian mau bulan madu, kamu nggak papa sendiri dirumah?, eh kamu naik apa?"
"Nggak papa Kak, aku sama Dania, nggak mungkin kan sendiri, naik travel yang biasa Kakak naiki. Mama nggak kasih izin kalau cuma sendiri, kita juga paling cuma seminggu di Jakarta, kita juga kan belum pernah ke Jakarta," rengek Denisa dari seberang sana.
"Yaudah, kalian hati-hati, nanti kalau sudah sampai kabari, langsung naik taksi saja, Kakak kirim alamat rumah Kakak biar tidak nyasar."
"Makasih Kak, kita nggak ganggu Kak Delia dan Kak Abian 'kan?"
"Sebenarnya ganggu, kalau bisa ditunda dulu, tunda saja ya?" pinta Delia.
"Ish, kita udah di travel tau Kak," Denisa dari seberang sana nyengir, menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga. Sengaja dia mengabari kakaknya saat sudah berada di travel, karena Denisa yakin, Delia pasti tidak mengizinkan dia datang.
"Astaga." Delia memijit pelipisnya, dan Abian menoleh pada Delia yang terkejut, bertanya lewat kedua alisnya yang terangkat. "Yasudah kalian hati-hati, jangan bertanya pada siapapun, langsung naik taksi kalau sudah turun dari travel."
"Iya Kak." Sungut Denisa.
"Pasti kak Delia marah kan?" ujar Dania saat panggilan sudah berakhir. "Kakak sih ngebet banget mau ke Jakarta, pasti bukan karena liburan, pasti karena mau lihat kak Daniel."
"Enggak, besok kak Delia dan kak Abian mau berbulan madu, jadi kita tidak mengganggu acara mereka," ucap Denisa sambil memasukkan ponselnya kedalam ransel. "Aku kasihan sama kak Daniel, dia nggak pernah balas pesan aku, kak Daniel pasti lagi sakit," lanjutnya sangat percaya diri jika memang Daniel sedang terpuruk. Dan dia ingin datang menghibur Daniel.
"Iya, tapi Kakak nggak kasihan sama mama, kita tuh nggak pernah ninggalin mama sendiri tau Kak."
"Tenang aja sih, dirumah masih ramai keluarga, jadi mama nggak kesepian, udah ahh, Kakak mau tidur, jangan ganggu Kakak ya." Denisa memasang earphone ditelinganya, dan mulai memejamkan mata.
* * *
"Nanti Denisa dan Dania dijemput supir mama saja, lagian kunci rumah kita bawa semua kan?, biar nanti mang Mul jemput sekalian bawakan kuncinya."
Mereka kini sudah memasuki pekarangan rumah megah orang tua Abian.
Delia mendesah, sebenarnya dia tak enak pada Abian atas kedatangan Denisa, karena mereka masih pengantin baru, Delia takut Abian tak nyaman dengan kedatangan kedua adiknya.
"Mereka ngerepotin kamu ya Bi? maaf ya?"
Abian sudah mematikan mesin mobilnya, memegang tangan Delia "Hei, nggak merepotkan sama sekali sayang, dia adik kamu, yang artinya sekarang jadi adik aku juga, santai saja ya."
Abian mengubah posisi duduknya menghadap Delia, merapikan anak rambut didahi istrinya, kemudian dia perlahan mendekatkan wajahnya, mencium bibir istrinya yang selalu terasa manis, Delia mulai memjamkan mata, ikut menikmati setiap sapuan bibir Abian diatas bibirnya.
"Nanti sambung dikamar aku ya, aku pengen lagi, kita belum pernah mencoba di kamar aku."
"Kita nikah baru dua hari Bi, gimana mau coba dikamar kamu."
"Sebenarnya aku kemarin mau coba dikamar kamu, tapi keluarga kamu ramai, aku nggak berani, dan kamu masih ada tamu." Abian mengusap lembut pipi Delia menggunakan ibu jarinya.
Delia menjauhkan wajahnya, merapikan pakaiannya yang sedikit kusu, juga merapikan kemeja Abian.
"Kita masuk Bi, nggak enak kelamaan disini."
Saat memasuki rumah orang tua Abian, mereka langsung disambut oleh teriakan-teriakan keponakan Abian, Arsyi dan Almira. Kedua bocah itu langsung bergelayut di lengan kiri kanan Abian.
"Yeyy Om Bian datang, kita main petak umpet yuk Om?" Rengek keduanya, padahal Abian baru saja datang, langsung diajak main.
Delia tersenyum, terkadang dia tak percaya, Abian yang terlihat garang dan jutek saat dibandara, ternyata sangat dekat dengan keponakanya. Delia mengambil rantang berisi masakanya yang dibawa Abian, lalu membawa kedapur.
"Ihh, nggak mau ah, kalau main petak umpet suka ada yang ikut main, Om takut." Abian pura-pura bergidik takut.
"Emang siapa Om yang ikut?" Arsyi dan Almira penasaran.
Abian merangkul kedua bocah itu, lalu berbisik "Setan." Abian berlari dan langsung dikejar-kejar oleh keponakanya, mengitari sofa yang kini duduki oleh papa dan kakak-kakak iparnya yang juga sedang berkunjung.
"Kamu bawa apa Del?" Arumi menghampiri Delia, melihat apa yang dibawa adik iparnya.
"Tadi masak ikan, Abian minta makan bareng disini, kebetulan masaknya banyak Kak."
"Kebetulan donk ya, ih pas banget deh Del, kita emang belum pada makan."
"Emang kalian tuh kalau datang cuma mau numpang makan." Saut Abian dari jauh tanpa rikuh pada kedua kakak iparnya, seolah bercandaan seperti ini sudah biasa bagi mereka, kini Abian duduk disofa, mengajak Arsyi dan Almira menonton gadged.
Amanda ikut menghampiri Delia, dan melihat apa yang Delia bawa. "Kelihatannya enak sayang." Amanda memanggil semua anggota keluarganya untuk makan bersama.
* * *
Setelah selesai makan, mereka semua berkumpul di ruang keluarga, seraya menyalakan televisi.
"Kalian besok jadi kan berangkat bulan madu?" tanya Arini pada Abian dan Delia.
"Jadi donk, masa nggak jadi. Iyakan sayang?" Abian merangkul bahu Delia, menyandarkan kepala Delia dibahunya, membuat Delia menahan malu.
"Terima kasih, kak Arumi, kak Arini kadonya." Ujar Delia.
"Sama-sama Delia, hanya itu yang bisa kami beri pada kalian berdua."
"Semoga pulang bawa cucu buat Mama ya sayang?" Sambung Amanda.
"Doakan saja Ma. Oh ya Ma, nanti ada adik Delia, Denisa dan Dania. Mereka sedang berlibur disini, Abian titip mereka ya?"
"Apa mereka sudah datang? kenapa tidak diajak kesini?" tanya Amanda.
"Masih dijalan arah kesini, nanti kalau sudah sampai terminal, baru dijemput," jawab Delia
"Suruh tinggal disini saja, biar buat teman mama."
"Mereka kesini buat liburan, bukan buat temani mama," Abian yang menjawab.
Obrolan ringan siang menjelang sore itu harus terhenti saat Denisa mengabari jika mereka sudah dekat terminal. Delia dan Abian segera berpamitan untuk menjemput Denisa.
Saat diperjalanan, Abian dihubungi oleh Arumi, jika mereka baru saja melihat berita di televisi, jika pengacara Attaya berbicara didepan media, ingin Attaya dijenguk oleh Abian dan Delia. Abian menoleh pada Delia yang sedang melihat ponsel, dia segera mematikan sambungan telepon dari Arumi.
"Del, kamu sedang lihat apa?"
"Sedang lihat pesan dari Denisa."
"Telepon saja nanti, sekarang kamu letakkan ponselnya, pijit lengan aku, sepertinya pegal sayang." Abian coba mengalihkan, agar Delia tidak melihat portal berita online, dia tak ingin acara bulan madu mereka besok gagal karena berita ini.