
"Kak Daniel?" Denisa terkejut karena Daniel menyeret tangannya keluar aula gedung pernikahan Delia, dan membawanya menuju parkir, tanpa melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Denisa, Daniel membuka pintu mobilnya, meminta Denisa masuk.
"Masuk!" Perintah Daniel tegas dengan gerakan kepalanya.
Tubuh Denisa gemetar, semenjak kejadian malam itu, ia dan Daniel memang belum berkomunikasi sama sekali ataupun bertemu. Sedang Denisa sendiri tidak berani menghubungi Daniel lagi, karena dia takut. Denisa terus menunduk, tak berani menatap wajah Daniel yang terlihat ingin menelanya hidup-hidup. Tak ingin membuat masalah lagi, Denisa menurut, dia pun masuk kedalam mobil Daniel.
"Jelaskan sama aku Denisa, apa yang terjadi malam itu?" Tanya Daniel langsung tanpa basa-basi saat dia sudah duduk dibelakang kemudi.
Denisa masih menunduk, dia bingung harus mengatakan kejadian malam itu dari awal.
"Ayo jawab Denisa! Apa yang terjadi malam itu!" Tanya Daniel sedikit meninggikan suaranya, karena Denisa masih terus diam.
Sekuat tenaga Denisa mengumpulkan keberanian untuk menatap Daniel, dia mengangkat kepalanya, memberanikan diri melihat Daniel yang sedang menatapnya dengan sorot mata tajam melebihi elang.
"Ti-tidak ada, tidak terjadi apa-apa Kak, Kakak mabuk, Denisa ninggalin Kakak dikamar hotel sendirian, maaf karena tidak menunggu sampai Kakak sadar."
"Aku tanya sekali lagi Denisa, APA YANG TERJADI MALAM ITU?" Teriak Daniel karena dia tahu Denisa berbohong, membuat Denisa menutup kedua telinganya takut.
Denisa menggeleng kuat. Tidak, dia tidak akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Semua ini akan dia simpan rapat, cukup hanya dia saja yang tahu
"Tidak terjadi apa-apa Kak, Kakak percaya sama Denisa. Malam itu tidak terjadi apa-apa. Kita nggak ngelakuin apa-apa."Jawab Denisa masih menutup telinganya, dengan mata terpejam kuat.
Bugghhh
Daniel memukul stir mobilnya kuat, membuat Denisa terlonjak kaget, hampir saja jantungnya copot saking kagetnya.
"KAMU TAHU DENISA? Selama ini aku mencoba untuk menjadi lelaki baik-baik, namun semua hancur karena kamu, kamu menghancurkan hidup yang perlahan aku tata dengan baik, DENISA."
Degh
Denisa merasa tertampar atas apa ucapan Daniel yang mengatakan jika dia menghancurkan hidupnya, yang seharusnya hal itu diucapkan oleh perempuan yang mengalami pelecehan, ini sebalinya, yang mengatakan hal demikian malah laki-lakinya. Seburuk itukah dia dimata Daniel? Denisa merasa menjadi wanita murahan dimata laki-laki tampan yang begitu menggilai kakaknya.
Dadah Daniel sampai naik turun menahan amarah, bagaimana bisa gadis polos seperti Denisa dengan mudahnya menyerahkan mahkota yang seharusnya dia jaga sampai waktunya tiba.
"Sebelum mengenal kakak kamu, aku memang brengsek Denisa, tapi setelah aku mengenal dia, mati-matian aku menahan yang selama ini menjadi kebiasaan burukku, tapi kamu malah menghancurkanya dalam semalam," Daniel menatap Denisa yang kini menatapnya dengan wajah ketakutan. " Kenapa kamu memanfaatkan aku disaat aku mabuk Denisa, kenapa, HAH? Bagaimana kalau Delia tahu, kamu hamil anakku? Dia pasti akan menilai aku adalah laki-laki buruk. Padahal selama ini sebisa mungkin aku menunjukkan bahwa aku pria yang baik, yang pantas untuk dia cintai, bukan Abian yang sering menyakitinya." Lanjutnya.
Denisa begitu terluka mendengar ucapan Daniel, sejak awal mereka bertemu, laki-laki itu tak henti-hentinya memuji sang kakak.
Tanpa Denisa sadari jika apa yang dikatakanya membenarkan bahwa malam itu, mereka melakukan hal lebih, yang ditakutkan Daniel.
Daniel tersenyum menyeringai "Aku seperti laki-laki murahan, setelah bisa memuaskan wanita yang haus akan yang namanya penasaran, aku ditinggalkan begitu saja."
"Percayalah Kak, malam itu tidak terjadi apa-apa." Lirih Denisa menunduk, pandanganya mulai memburam, perlahan embun yang sejak tadi ditahanya mulai berjatuhan, membasahi tanganya yang saling bertautan dipangkuanya.
Daniel melihat itu, dia menjadi kasihan pada adik wanita yang begitu kokoh bertahta dihatinya.
"Aku sudah melihat rekaman cctv tempat itu Denisa, kamu pikir aku tidak menyelidiki semua ini? Aku akan bertanggungjawab?" Ucap Daniel tanpa melihat Denisa.
Denisa yang sedang menunduk itu sontak mendongakkan kepalanya. Menghapus air matanya kasar "Kakak tidak akan mempertanggung jawabkan apa-apa Kak, tidak ada yang perlu dipertanggung jawabkan. Kita tidak melakukan apa-apa."
"Sayangnya aku akan tetap menikahimu."
"Atas dasar apa Kakak menikahiku? Kakak tidak cinta sama aku."
"Atas dasar tanggung jawab," jawab Daniel tegas "enam bulan, hanya sampai enam bulan Denisa. Kamu hamil atau tidak, setelah enam bulan kita akan berpisah. Tapi aku tidak tahu, selama enam bulan itu aku akan memiliki rasa atau tidak. Setidaknya aku tidak menjadi laki-laki bajingann yang lepas dari tanggung jawab, dan kamu juga bisa mendapatkan laki-laki lebih baik dariku setelah kita berpisah. Kamu akan tetap menjadi wanita terhormat dimata suami kamu, karena status kamu yang sudah berubah."
Hal itulah dipikirkan Daniel beberapa hari ini, dia akan tetap menjaga nama baik Denisa, agar gadis itu tidak kehilangan masa depannya. Sayang sekali jika apa yang selama ini Delia perjuangkan untuk adiknya, menjadi sia-sia.
"Nggak, aku nggak mau Kak, Kakak nggak cinta sama aku." Denisa membuka pintu mobil, dan berlari menuju aula gedung, hatinya terluka, Daniel menikahinya bukan karena cinta, tapi karena iba. Namun Daniel segera menyusul dan mencekal tangannya, membuat langkahnya terhenti.
"Aku tidak mau Delia mengetahui hal ini setelah kamu ketahuan hamil, Deniaa. Aku pasti mati ditangan Abian, tapi jika kamu tetap bersih keras dengan keputusan bodoh kamu, silahkan, silahkan kamu melihat aku digantung oleh kakak iparmu itu."
Seketika hati Denisa melemah, benar apa yang dikatakan Daniel, Abian pasti akan menggantung laki-laki ini jika tahu dia telah menodai kesucian adik iparnya. Walau sebenarnya itu kesalahan Denisa.
"Baik Kak, aku akan turuti apa kata Kakak, tapi bagaimana bilang sama mamanya, apa alasan Kakak menikahi aku?, Mama pasti tidak akan mengizinkan."
"Kamu takut?" tatap Daniel iris mata coklat Denisa "Apa waktu berdua dengan ku malam itu tidak takut?"
"Kak ..."
Daniel menggeleng "Aku tidak tahu apa yang dipikirkan kamu Denisa," Daniel mengehela nafas "Aku harap setelah kejadian ini kamu bisa berpikir lebih dewasa lagi. Jadikan hal ini pelajaran berharga untukmu, walau caramu salah, kedewasaan seseorang memang harus melewati jalan yang berbeda-beda."
Dibelakang mereka, Cecilia menutup mulutnya saat mendengar jika gadis yang dilihatnya beberapa hari lalu dibandara itu adalah adik Delia, dan kini gadis itu sedang hamil anak Daniel, Cecilia sengaja mengikuti Daniel dan Denisa saat melihat Daniel menarik tangan Denisa menuju parkiran. Dan inilah fakta yang dia ketahui, Daniel memang mengincar keturunan dari Delia, sampai-sampai Daniel membuat adik Delia berbadan dua terlebih dahulu.