Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Pengakuan Papa Abian.



Daniel bangun dipagi hari setelah semalam mabuk berat, dia mengernyitkan mata saat wajahnya terkena terpaan sinar matahari, dia menghalau sinar itu dengan sikunya. Daniel mendesis, karena kepalanya masih terasa pusing akibat hangeover yang dialaminya semalam.


Daniel menyadari jika dia tidak berada diapartemenya, namun berada di kamar hotel bar. Pasti laki-laki barista itu yang membawanya. Setelah membersihkan diri, ingatan Daniel mengingat perdebatan antara seorang perempuan yang dia tak tahu siapa, namun suara itu tak asing baginya, sepertinya wanita semalam ingin memanfaatkan keadaannya yang tak berdaya.


Daniel segera menghubungi nomor barista itu.


"Halo, apa yang terjadi semalam?, apa ada yang mau mencelakai ku?" tanyanya langsung setelah dari seberang sana mengangkat panggilanya.


"...."


"Apa?, Attay mencoba mencampurkan serbuk perangsang di minumanku?"


"...."


"Sialan, berarti dia mencari mangsa."


Setelah itu Daniel kembali menghubungi seseorang, dia ingin Attaya tahu siapa dia sebenarnya, mencoba untuk mencelakai dan menjebaknya, Attaya salah sasaran.


"Lihat saja, aku dari kemarin ragu melaporkan mu, karena tak mendapat izin dari keluarga Delia, sekarang, kamu tanggung akibatnya karena berani bermain-main denganku." geram Daniel sambil meremas ponselnya. "Kita hitung dari sekarang, tiga puluh menit lagi kamu akan tahu, dengan siapa kamu bermain-main."


* * *


"Kamu libur lagi Abian?" tanya papa Abian, mereka sedang sarapan pagi.


"Iya Pa, Abian ngantuk, kurang tidur." jawab Abian seraya menyendok nasi goreng dan menyuapkan kedalam mulutnya


Papa Abian mendesah, dia lama-lama kasihan dengan nasib putra semata wayangnya ini. Diamatinya wajah Abian, kantung mata yang mulai terlihat menghitam, pipi yang terlihat semakin tirus, dan jambang yang mulai ramai tumbuh sekitar rahangnya, Abian terlihat lebih tua dari umurnya, baru jalan tiga bulan saja Abian sudah sekacau ini, apalagi jika harus menunggu kontrak Delia habis, bisa-bisa Delia tak mengenali anaknya, dan Delia akan ilfeel pada Abian nanti.


"Habis sarapan kita ngegym yuk, perut Papa sudah keliatan buncit, nanti mama kamu nggak kuat kalau Papa lama-lama diatasnya."


Abian mengangkat kepala mendengar ucapan papanya, lalu melirik sang mama.


Sang mama mendelik pada papanya "Papa kalau ngomong suka nggak dijaga."


"Kamu kelihatan jelek sekali sekarang, seharusnya kamu bisa menjaga badan kamu buat Delia, kalau Delia pulang lihat kamu begini, nanti Delia bisa berpindah ke lain hati." Tanpa papa Abian sadari, jika dia keceplosan akan ucapannya dan mengetahui keberadaan Delia, dan itu disadari oleh Abian dan Amanda.


"Maksud Papa?, jadi Papa tahu dimana Delia selama ini berada?" tanya Abian dan Amanda bersamaan.


Papa Abian yang sedang menyuapkan nasi goreng ke mulutnya, sontak menggigit sendok, dan membuat sendo itu menggantung di mulutnya, dia menatap Abian dan istrinya yang juga sedang menatapnya dengan tatapan tajam, meminta penjelasan.


Dan disini mereka sekarang, berada diruang keluarga, duduk disofa, Papa Abian duduk di sofa single, sedang Abian dan mamanya duduk di sofa di sebelah kananya. Mereka meminta penjelasan kepada papa Abian papa tentang keberadaan Delia, papa Abian terlihat seperti seorang terdakwa yang sedang disidang.


Amanda dan Abian menatapnya tajam, dengan kedua tangannya berada diatas perut.


"Ehem," papa Abian berdehem untuk menghilangkan kegugupanya. "Jadi gini," dia menggaruk pelipisnya "Papa nggak tahu keputusan yang Papa ambil ini benar atau tidak, cuma, keputusan yang Papa ambil saat itu, spontan keluar begitu saja, karena, papa rasa Delia memiliki sebuah keinginan, namun dia tidak tahu harus membaginya pada siapa. Dan malam itu, Papa memposisikan diri Papa sebagai ayah Delia. Setelah Delia dari sini, Papa mengajak Delia berbincang sedikit mengenai kelanjutan hubungan kalian, dan Delia mengakui jika dia sayang sama kamu Abian."


Papa Abian menatap Abian "Kamu tahu apa yang membuat dia mengulur pernikahan kalian?"


"Karena dia masih ragu." Jawab Abian cepat.


"Benar, kamu benar, Delia masih ragu, tapi bukan ragu kepada kamu, dia ragu pada keputusanya sendiri nanti. Makanya, malam itu dia mencurahkan segala isi hatinya pada Papa. Dia sangat mencintai kamu, sampai-sampai dia tidak bisa menolak secara gamblang lamaran kamu dan Mama." Papa Abian melihat istrinya dan Abian bergantian. "Dia takut kehilangan kamu, jika dia menolak mu nanti, dia tidak yakin jika dia menolak kamu, dia bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari kamu. Dia juga sudah merasa sangat nyaman dengan keluarga kita, dia merasa diterima, dan disayang disini. Tapi ada keluarganya yang harus dia bahagiakan terlebih dahulu, ada mama dan adik-adiknya."


"Dia tahu, jika menikah denganmu, kamu bisa memberinya banyak uang, tapi satu yang tidak bisa kamu berikan padanya, waktu untuk dia membahagiakan keluarganya, dan masa remajanya. Wanita setelah menikah diberikan dua pilihan, tetap menjadi wanita karier, atau menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Dua-duanya tugas yang mulia, tapi pilihan yang berat. Waktunya juga habis dia berikan kepada suaminya, bukan lagi orang tuanya."


"Delia juga lahir dari rahim seorang ibu Abian, sama seperti kamu, sebelum dia mengabdikan hidupnya untuk suaminya kelak, dia ingin mengabdikan hidupnya pada orang tuanya dahulu, beri dia kesempatan untuk mengeksplor dunianya. Papa setuju juga dengan pendapat Delia, pemikiran yang realistis, sebab, setelah menikah dia tak akan penasaran lagi dengan dunia luar, istilahnya itu, dia sudah puas dengan masa mudanya. Beri waktu dia setidaknya satu tahun. Setelah satu tahun dia masih tak ada kepastian, maka tinggalkan dia, banyak wanita yang memutuskan menikah muda, tapi setelah mereka menikah justru mereka merasa belum puas, dan memilih bersenang-senang dengan temannya lagi, lupa akan tanggungjawabnya sebagai seorang istri, walau tidak semuanya. Maka kamu harus bersabar, dan tahan diri, jika kamu memang pantas untuk dia, maka tunggulah sampai Delia siap."


"Apa Mama termasuk memberi beban pada Delia Pa?" setelah mendengar cerita suaminya, Amanda merasa bersalah, karena telah meminta Delia untuk menjadi istri Abian.


"Tidak, Mama tidak salah, cuma mungkin memang Delia butuh seseorang untuk diajaknya berdiskusi dan dimintai pendapat, Delia termasuk anak yang sedikit tertutup, kecuali pada almarhum ayahnya, sebenarnya Delia merasa sangat kehilangan setelah kepergian ayahnya, walau dia tidak menunjukkan itu, yang Papa lihat, Delia brgitu dekat dengan ayahnya, sosok cinta pertama seorang anak perempuan, tidak mudah Abian untuk Delia, kehilangan sosok yang begitu berharga itu berat, hanya saja Delia menutupi semua, tak ingin membebani mamanya, dia harus terlihat kuat didepan mama dan adiknya, karena dia merasa, sebelum ayahnya pergi, dia sudah dijadikan tulang punggung keluarga. Ayah Delia menjadikan Delia sosok yang mandiri, makanya, Delia kesulitan menemukan orang yang bisa dipercaya untuknya berbagi selain ayahnya, maka malam itu Papa memberikan dia solusi, dengan membuat suatu perjanjian. Dia berjanji untuk kamu pada Papa, dan Papa berjanji untuk menjaga kamu demi dia. Ingat Abian, janji seorang perempuan kepada ayahnya itu kuat, dua pasti menepatinya, kamu juga harus seperti itu."


Papa Abian berdiri menghampiri Abian yang sedang menghapus sudut matanya, menepuk pundak Abian "Sudah lama Papa ingin membicarakan ini, tapi Papa lihat dulu seberapa jauh kamu mampu bertahan dan berusaha, ternyata kamu memang anak laki-laki yang bisa Papa banggakan, jadilah laki-laki sejati yang mencintai wanitanya tanpa banyak menuntut, selama menunggu Delia, berusahalah menjadi laki-laki yang pantas untuknya, jangan hanya jadi laki-laki yang bisa membuat cerita dongeng untuk wanita." Pesan papa Abian.


"Dimana Delia sekarang Pa, kasih tau pada Abian,"


Abian yang menunduk sontak mengangkat kepalanya "Papa tahu Daniel-"


"Iya, walau Delia tidak menceritakan itu, Papa tahu dia lelah menghadapi kalian berdua, dia tak mau pusing dengan masalah percintaan dulu, fokusnya pada karier, dan kamu sekarang juga harus fokus pada karier kamu Abian, buat clothing line kamu semakin sukses, dan tetap jadilah pilot profesional seperti yang kamu impikan."


"Kasih tau Delia dimana Pa, Abian janji tidak akan mengganggunya, Abian hanya ingin tahu Delia dimana, dan hanya ingin melihat Delia saja. Abian rindu Delia Pa."


Papa Abian mendesahh "Sabarlah, tunggu saja dia pulang,"


"Kenapa Delia tidak jujur saja pada Abian?"


"Memangnya kamu setuju dengan permintaanya?, Papa tahu pikiran kamu." Papa Abian meletakkan telunjuknya dikeningnya.


"Kapan Delia pulangnya Pa?"


"Kamu tunggu saja, jika kamu sayang, berarti kamu sabar menunggunya." Papa Abian berlalu masuk ke kamarnya, dia harus bersiap-siap bekerja.


"Mama harus sering menemui mama Delia Abian, kamu semangat sekarang nak, ada andil Papa perginya Delia, percaya padanya."


Abian mengangguk, jika Delia fokus untuk masa depan adik-adiknya, maka Abian akan fokus pada masa depan mereka nanti.


Tak lama Papa Abian keluar kamar membawa i-macnya "Abian, kamu sudah baca portal berita online?"


"Belum, kenapa Pa?"


"Ada berita, jika seorang model berinisial A terangtangkap sedang mengkonsumsi gan ja diapartemenya, Papa pikir itu, mantan kamu."


Abian melirik mamanya yang masih duduk disebelahnya "Mama tahu ini?"


"Soal itu bukan urusan Mama, itu urusan pribadi masing-masing, berarti dia sudah menannggung akibat perbuatannya sendiri, anggap saja dia bisa lolos dari kasus ayah Delia, tapi dia tak akan bisa lolos dari kesalahannya."


Abian menggeleng, dia hanya bertanya sedikit, tapi mamanya menjawab dengan jawaban yang sangat panjang.


* * *


Hari demi hari Abian terus bersemangat, dia bukan hanya fokus pada kemajuan usaha clothing linenya, dia juga kembali menjadi pilot profesional seperti sebelum-sebelumnya. Abian sedang membuat hunian istana untuk mereka berdua, jika Delia sudah berjanji pada ayahnya, Abian percaya, Delia pasti kembali untuknya. Walau demikian, diam-diam Abian tetap mencari keberadaan Delia, dia hanya ingin melihat wajah Delia, walau dari kejauhan.


Delia juga melakukan hal yang sama, dia makin bersemangat untuk menyelesaikan masa kontraknya, melihat kesetiaan Abian yang sering papa Abian berikan padanya. Walau rasa rindunya sudah tak terbendung lagi, Delia rindu manjanya Abian padanya, dan rindu segala sikap manis Abian, walau suka memaksa.


Amanda juga menunaikan keinginannya, setiap satu bulan sekali, mengunjungi rumah mama Delia bersama suaminya, dia ingin menjadi teman untuk mama Delia, dan memberi tahu dimana Delia sekarang. Amanda bahkan selalu menginap tiap berkunjung kesana, tentu saja yang mereka lakukan tanpa sepengetahuan Delia, semua ini akan menjadi kejutan untuk Delia.


Sedang Daniel, dia tetap mencari keberadaan Delia.


Hingga tanpa terasa, mereka telah melewati satu revolusi bumi mengitari matahari.


"Hai Capt," sapa Rendy, dia mengejar Abian, dan mensejajarkan langkahnya.


"Hai Ren," sambut Abian yang tanpa menoleh kearah Rendy, dia berjalan tegap dengan kaca hitamnya, Abian kembali bersikap dingin seperti dulu, menjaga hatinya untuk Delia.


"Gimana?, Delia sudah ada kabar?"


"Sudah," jawabnya, walau dia belum tahu pasti keberadaan Delia.


"Oh bagus, aku cuma mau kasih ini buat Captain." Rendy memberikan sebuah kartu undangan berfotokan dia dengan Voni.


Abian menerima undangan tersebut, dan langsung menghentikan langkahnya "Kamu mendahului ku Ren, bukannya katamu kamu tidak direstui orang tua Voni."


"Rendy gitu loh," Rendy menepuk dadanya sombong "Coba saja waktu itu Captain mau saya ajak ke gunung kawi, pasti Delia sudah ketemu, dan Captain sudah duduk di pelaminan."


"Apa hubungannya gunung kawi dengan pelaminan?" tanya Abian yang tak mengerti maksud Rendy.


"Ahh Captain payah, Captain harus datang jika ingin bertemu Delia, Voni mengundangnya." Ucap Rendy meninggalkan Abian yang terkejut dengan pernyataannya.