
"Nyanyaiiii."
"Nyanyiiii."
"Nyanyaiiii."
Abian menggaruk tengkuknya bingung, ini acara dangdutan, dia tak pernah bernyanyi sama sekali, apalagi lagu dangdut.
"Kamu banyak penggemar Bi." bisik Delia "nyanyi ya, aku juga mau denger suara kamu, pleasee," Delia mengerjap-ngerjapkan matanya gemas.
"Nggak mau, aku nggak bisa."
"Udah Bi, nyanyi aja, kasian loh yang pada nungguin." Amanda ikut mengompori.
"Tuh, Mama dukung juga."
Abian melihat Delia yang bergelayut dilenganya, wajah cantik itu begitu menggemaskan, rasanya Abian ingin menculik Delia sekarang juga, membaringkanya dikasur.
"Kamu bener pengen dengar aku nyanyi?"
Delia mengangguk "Heem, nyanyi ya Bi, buat kenang-kenangan kita."
"Tapi bayaranya mahal ya?" dikecupnya lembut kening istrinya.
"Iya, aku turuti semua yang kamu mau, piijit plus-plus pokoknya."
Akhirnya karena banyaknya sorakan dari para tamu serta dukungan dari Delia dan keluarganya, mau tidak mau Abian naik keatas panggung dengan ditemani Delia, untuk menyumbangkan suara emasnya.
"Kamu mau nyanyi lagu apa Bi?"
"Begadang."
"Hah?, nggak ada lagu yang kekinian?"
"Cuma itu lagu yang aku tahu."
Delia menyebutkan lagu yang akan Abian nyanyikan pada organis.
Hingga suara musik terdengar, dan berbekal mencontek lirik lewat layar ponselnya, Abian mulai bernyanyi.
Begadang jangan begadang
Kalau tiada artinya
Begadang boleh saja a a a a a kalau ada perlunya
Begadang jangan begadang
Kalau tiada artinya
Begadang boleh saja a a a a a kalau ada perlunya
Suara Abian yang pas-pasan membuat orang yang mendengarnya tertawa, jika bukan karena good looking, mungkin Abian sudah dilempari dengan tulang ayam sisa makanan para tamu, karena wajahnya yang tampan, jadi, para tamu terhibur saja, hingga membuat para tante-tante Delia ikut naik ke panggung dan menyawer Abian.
Abian yang awalnya tidak percaya diri, kini jadi semangat setelah mendapat banyak uang saweran, walau uang itu senilai lembaran uang dua ribuan dan lima ribuan tapi itu membuat Abian senang.
Acara semakin meriah tatkala papa Abian ikut naik ke panggung dan berjoget dengan seorang biduan, mama Abian tak marah, karena ia tahu ini hanya hiburan semata, dan mereka jarang menemui acara seperti ini di kota-kota besar dikalangan mereka.
Sayangnya, kebahagiaan Abian berbanding terbalik dengan yang Daniel rasakan saat ini. Dari kemarin dia belum pulang, Daniel memilih bermalam di viila yang tak jauh dari kediaman Delia. Kini, Daniel seorang diri, duduk didalam mobil, membiarkan hatinya terus merasakan perih dengan pemandangan yang dilihatnya dari jauh, kebahagiaan Delia dan Abian.
"Harusnya aku yang berada disana Delia, tapi kenapa aku begitu sulit menjangkau mu?"
Daniel, seorang laki-laki yang memiliki kedudukan diantara jajaran petinggi sebuah maskapai penerbangan, menangisi seorang pramugari, padahal bisa saja dia bermain nakal, dengan membayar para pramugari untuk dikencaninya. Namun dia tak bisa melakukan itu.
Air mata Daniel terus mengalir, membasahi pipinya, membuat matanya sembab, dan hidungnya memerah.
Tok
Tok
Tok
"Kak Daniel."
Daniel yang sedang menyandarkan kepalanya di setir mobil, sontak mengangkat kepalanya, dia segera menghapus air matanya, dan mengelap cairan kental dari hidungnya menggunakan tissu. Daniel tersentak, Denisa mengetahui keberadaannya. Daniel segera membuka kaca mobil.
"Denisa?"
"Kakak ngapain disini? ayo gabung sama yang lain." Ajak Denisa.
"Tidak usah Denisa, saya sudah mau pulang."
"Kakak nggak mau ucapin selamat dulu buat Kak Delia?"
"Tidak, nanti saja jika acara di Jakarta." Daniel menutup separuh kaca mobilnya. "Aku pulang dulu ya Denisa, jangan katakan pada Delia atau Abian jika aku disini."
Denisa mengangguk, dia menatap nanar kepergian mobil Daniel yang perlahan menjauh hingga tak terlihat.
"Hayo, mulai jatuh cinta ya sama kak Daniel." Dania datang menepuk pundak Denisa.
"Ngagetin aja sih, Kakak cuma kasian sama kak Daniel, dia kelihatan sedih banget."
"Awalnya kasihan, nanti lama-lama jadi kasihan."
"Kamu tahu Dania?, kak Daniel yang sudah memenjarakan Attaya, model yang menabrak ayah, walau dengan dalih penggunaan obatan terlarang, tapi tujuan utama dia, hanya agar Attaya mendapat ganjaran atas perbuatannya. Cinta kak Daniel begitu tulus pada kak Delia, dia tak mau kak Delia tahu ini, walau cintanya bertepuk sebelah tangan. Akan susah menjangkau hati kak Daniel."
* * *
Keesokan harinya, keluarga Abian bersiap untuk pulang ke Jakarta, bersama Abian dan Delia yang juga ikut serta. Tangis haru mengiringi kepergian Delia.
Nenek Delia memeluk tubuh Delia erat saat masih berada dikamar. "Kamu sudah dewasa, sudah jadi istri, jadi istri yang baik. Sering-sering pulang jika libur, nenek suka rindu kamu, melihat kamu seperti melihat ayah kamu Delia." Wanita yang rambutnya sudah berubah warna putih semua itu tak bisa membendung kesedihanya, ia tak menyangka, Delia, cucu kesayanganya telah menjadi istri seorang pilot sukses seperti Abian. "Nenek tidak bisa memberi apa-apa, hanya ini yang bisa nenek berikan."
Tangan Nenek Delia yang sudah penuh keributan itu mengepalkan sebuah kertas yang digumpal ke telapak tangan Delia. Delia membuka gumpalan kertas itu, dilihatnya, sebuah kalung seberat enam gram. Delia mengharu.
"Nek, Delia tidak bisa menerimanya, pegang untuk nenek, buat nenek jajan." Delia menyerahkan kembali benda itu.
"Terima Delia, nenek tahu suami dan mertua kamu kaya, tapi nenek tetap berhak memberikan ini sama kamu. Nenek tersinggung jika kamu menolaknya."
Delia menghela nafas, wanita berusia delapan puluh tahun ini begitu sensitif, dia kadang suka mudah marah, dan mudah tersinggungan, Delia akhirnya menerima pemberian neneknya itu, dia kembali memeluk neneknya, "Makasih ya nek, nenek sehat terus, beli apapun yang nenek pengen makan, jika tak ada uang, minta sama mama." Delia cukup kagum pada neneknya, walau sudah memasuki usia renta, tapi neneknya begitu sehat.
Bergantian kini mamanya yang masuk kamar, wanita yang telah melahirkanya itu langsung memeluknya. "Jangan lupakan mama ya Delia, sering kasih kabar, semoga kamu segera diberi kepercayaan momongan, sekarang kamu sudah tak sendiri lagi, jadi istri yang baik. Jika Abian menyakiti mu, pulanglah kerumah mama, pintu rumah mama selalu terbuka dua puluh empat jam untuk kamu."
"Ma, doakan rumah tangga Delia baik-baik saja ya, jangan mikir terlalu jauh dan berlebihan."
Delia melepaskan pelukan mamanya "Semoga Abian tidak seperti itu ya Ma?" Mama Delia mengangguk dengan airmata yang tak henti mengalir. Dia juga melakukan hal yang sama, membekali Delia dengan sebuah kalung emas untuk anaknya. Orang tua selalu begitu, apapun yang ia miliki, semua untuk anaknya, walaupun anaknya terbilang mampu.
Lambaian tangan keluarga besar Delia mengiringi kepergian Delia bersama keluarga Abian, Delia terus melihat sang mama melalui kaca spion yang tak henti menghapus air matanya, membuat Delia ikut menitikkan air mata.
"Udah donk sedihnya, aku paling nggak bisa lihat kamu sedih, mereka pasti bahagia kalau liat kamu bahagia, dan sekarang, giliran aku yang membahagiakan kamu." Abian menarik kepala Delia untuk menyandar di bahunya, dia menunduk, menghapus air mata istrinya "Kamu tidur aja, perjalanan kita masih jauh, kita langsung pulang kerumah dulu ya, baru pergi berbulan madu. Kamu mau bulan madu dimana?" tanya Abian mengecup rambut Delia.
Delia dan Abian menggunakan
"Aku nggak tahu. Kamu masih pakai gelang itu Bi?" tanya Delia saat menyadari Abian masih memakai gelang pemberian darinya setahun lalu.
"Aku harus terus memakainya, walau jelek dan murah, tapi ini pemberian dari kamu satu-satunya." Abian membenarkan letak gelangnya.
Delia mengerucutkan bibirnya "Yaudah, lepas aja gelangnya kalau jelek."
Abian tertawa "Bercanda sayang."
Serrrr
Darah Delia berdesir mendengar panggilan sayang dari Abian.
"Jadi, mau bulan madu dimana?"
Delia nampak berpikir "Aku belum kepikiran Bi."
"Yaudah, nanti kita pikirin mau bulan madu kemana?"
Setelah satu jam setengah mereka menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai dirumah dua lantai. Mobil mereka berpisah dengan mobil orang tua dan saudara Abian yang lain, sebab Abian langsung mengajak kerumah mereka. Yang pasti Abian membangun rumah itu tak jauh dari bandara.
"Ini rumah siapa Bi?" tanya Delia saat mereka sudah masuk dalam rumah itu.
"Rumah kamu."
"Rumah aku?"
"Ia, aku membuat rumah ini saat kamu pergi."
Delia melihat-lihat ruangan yang ada dilantai satu itu, didepan terdapat ruang tamu, yang langsung menghubungkan ruang keluarga yang disekat menggunakan ukiran Jepara. Lalu ada dapur dan satu kamar utama yang Abian peruntukkan sebagai kamar tamu. Dari pintu dapur langsung terhubung taman belakang yang terdapat kolam renang yang tak terlalu besar, berbentuk memanjang.
"Bagus Bi." Delia takjub dengan desain rumahnya.
"Kamu suka?" tanya Abian memeluk Delia dari belakang, membuat tubuh Delia meremang. Delia tak bisa lagi menjawab pertanyaan Abian, sebab Abian mulai mengecupi lehernya lembut, dan tangan Abian yang sudah masuk kedalam kemejanya, mengangkat penutup dada Delia keatas, dan kedua tangan Abian langsung menangkap kedua daging kenyal itu.
"Biiii" rintih Delia sambil memejam.
"Hemmm." Abian menjawab dengan gumaman, sebab dia sekarang sudah sibuk metemat kedua benda yang baru ditemuinya itu, Delia sampai menyandarkan kepalanya didada Abian, karena tubuhnya tak kuat menopang lagi, dia mulai menikmati permainan tangan Abian yang memainkan dua tombol miliknya dari belakang.
Delia merasakan bagai ada ribuan kupu-kupu beterbangan diperutnya saat kepala Abian menunduk, mengecup ujung tombol miliknya, lalu dengan rakus Abian memasukkan tombol berwarna pink itu kedalam mulutnya, bagai bayi yang kehausan, Abian mengu lumm kedua tombol itu secara bergantian.
"Ahhhh Biiiii," erang Delia, geli, nikmat, dan ahh entahlah semua berkumpul menjadi satu, Delia tak dapat lagi mengungkapkanya.
Masih posisi dibelakang Delia, Abian terus melakukan itu, sampai tangan Delia merem as rambut Abian. Dan hanya sekali angkat, Abian sudah menggendong tubuh Delia ala bridal style membawanya ke kamar mereka dengan Delia yang mengalungkan tangannya di leher Abian.
Seperti bak dikejar waktu, sambil menggendong Delia menaiki anak tangga, Abian menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya yang selalu terasa manis itu. Melu mat bibir itu dengan rakus, Abian harus berbangga karena kini Delia membalas ciumanya, hingga mereka bertukar saling.
Saat sudah didepan kamar, Abian mendorong pintu kamar itu menggunakan punggungnya tanpa melepaskan ciumanya. Kemudian Abian mendudukkan Delia di tepi ranjang, ciuman mereka terhenti, sebab keduanya masih butuh oksigen untuk melanjutkan kegiatan mereka.
"Tamu kamu sudah pergi kan?" tanya Abian didepan wajah Delia, deru nafasnya pun terasa hangat menerpa wajah Delia, membuat Delia menunduk karena malu. Abian mengangkat dagu istrinya "Udah bersih kan?" tanyanya lagi.
Delia mengangguk samar membuat Abian tersenyum senang. "Memang sudah rejeki ku," ucapnya senang, kembali ia mencium bibir istrinya.
Tangan Abian dengan cepat membuka satu persatu kancing kemeja Delia, dan Delia juga melakukan hal yang sama, dengan masih saling berciuman. Saat kemeja Delia sudah terbuka, dan Abian melemparnya kesembaramg tempat, mata Abian dibuat takjub dengan pemandangan didepanya, dia sampai menelan salivanya, membuat jakunya terlihat naik turun.
Perlahan Abian membaringkan tubuh Delia, tanpa melepaskan pandangannya pada tubuh indah molek istrinya yang putih mulus tanpa cela, Abian melepas kemeja dan kaos dalamnya terlebih dahulu, melemparnya asal, kemudahan membuka ikatan pinggangnya, melepaskan celana jeansnya, menyisakan ****** ******** saja.
Delia menunduk, dia mulai penasaran dengan benda pusaka milik Abian, apakah sama dengan yang ada dibayanganya selama ini? Gagah dan perkasa.
"Kamu nggak sabaran mau lihat punya aku kan?" kekeh Abian, membuat wajah Delia merona karena malu. "Tenang, kamu bisa melihatnya sepuasnya setelah ini. Aku kasih gratis Delia."
Abian mulai merangkak naik, mengungkung tubuh Delia, ia menunduk, mencium bibir tipis itu, lalu berpindah ke dagu Delia, turun lagi, membasahi leher Delia yang selalu terasa wangi baginya. Bibir Abian terus turun menyusuri tubuh Delia tanpa ada yang terklewat sedikitpun, perjalanannya berhenti sejenak pada kedua gunung kembar yang memiliki tombol ajaib, karena membuat Abian ingin terus singgah disana.
Lama Abian bermain disana, membuat tubuh Delia melengking bak bujur sangkar, Delia bahkan menggeliat dengan tangan yang mulai menyisir rambut tebal suaminya, mengacak-ngaacak rambut Abian karena menikmati setiap perlakuan suaminya.
Abian berhenti sejenak, mendongak untuk melihat wajah seksi Delia yang sejak tadi sudah mengeluarkan suara erotis yang terdengar merdu melebihi suaranya saat bernyanyi dangdut tadi.
Abian tersenyum senang, saat melihat wajah Delia yang terus memejam menikmati semua permainanya, Abian kini melirik bagian bawah tubuh Delia yang selalu tertutup rapat itu, dibukanya kain tebal penutup itu, hingga menyisakan kain tipis berenda milik Delia, Abian dibuat tak sabar dengan yang satu ini, dengan jantung yang berdegup kencang, Abian memberanikan diri membukanya, tapi dia harus izin terlebih dahulu pada pemilik lahan.
"Aku boleh bukannya Delia?" Delia sangat ingin marah ketika Abian menanyakan itu, seharusnya dia tak harus bertanya, karena Delia juga tak mungkin melarangnya, ini sudah menjadi hak Abian, lagi pula, dia malu jika harus menjawab-
Iya.
"Kamu diam berarti iya, dan jika iya, berarti kamu jangan larang aku untuk memasukinya," ucap Abian lagi, membuat Delia merutuk dalam hati, karena Abian terlalu lama, sedang Delia sudah tak sabar ingin Abian menyentuhnya lebih. Delia mulai serakah.
Setelah Abian membuka penutup terakhir miliknya dan juga milik Delia, perlahan Abian mulai memasuki tubuh istrinya, susah, ternyata susah melakukannya, berulang kali Abian harus melakukan percobaan, hingga membuat Delia meringis sakit.
"Sakit Bi, tunda aja ya?" pinta Delia.
"Mana bisa Delia, aku bisa gilla jika ditunda, pelan-pelan ya, kita coba lagi, aku janji untuk lembut melakukannya."
Setelah beberapa kali mengulang, akhirnya Abian berhasil memasukkan pesawat tempur miliknya kedalam markas musuhnya, hingga dia merasakan mengoyak kulit tipis dibawah sana, dan merasakan cairan hangat merembes, Abian menunduk saat melihat sudut matanya Delia berair, ia menghapus air itu menggunakan bibirnya.
"Maaf ya jika sakit, tapi nanti enak kok." Ujar Abian menenangkan dan mendapat anggukan dari Delia.
Dirasa Delia sudah rileks dan sudah siap, Abian mulai memompa pinggulnya maju mundur, surga dunia ini begitu nikmat, hingga suara mereka bersahutan dikamar itu, wajah Abian mulai mengetat saat pesawat tempurnya akan mengeluarkan rudal miliknya dibawah sana. Dan tak lama Abian merasakan paha Delia mengejang, kemudian bergetar membuatnya juga ikut melakukan itu.
Mereka mengerangg bersamaan saat pelepasan pertama mereka, hingga peluh bercucuran di kening keduanya.
Abian merebahkan tubuhnya disamping Delia dengan deru nafas yang tidak teratur.
.
.
.
.
Aduh maafkan othor yang otaknya masih suci ini jika dirasa malam pertama mereka kurang Hoot, maklum masih kurang pengalaman 🙈🙈
Bab ini panjang banget, dua ribu kata lebih, othor cuma minta like, dan komenya ya, bila perlu votenya yang banyak. Wkwkwk maksa. Soalnya jika dipecah ini bisa jadi tiga bab 🤭🥰😍