Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Menyelesaikan Masalah.



Abian begitu takut jika Delia mengetahui keinginan Attaya yang ingin dikunjungi, sampai-sampai wanita itu menggunakan pengacara. Tiada angin tiada hujan, mereka melakukan hal ini lewat media, benar-benar dilauar dugaan, Attaya ingin membuat keributan padanya. Apalagi yang diinginkan wanita itu? Abian begitu marah pada Attaya, bukan hanya takut pada Delia, tapi Abian juga takut, jika keluarga Delia mendengar berita ini. Sangat tak baik untuk pernikahan mereka yang baru seumur togek.


Sungguh dia sangat menyesal, bagaimana bisa dulu dia pernah begitu mencintai wanita ular berbisa itu?. Untung saja dulu sang mama tidak memberi restu pada mereka, dan dia dipertemukan dengan Delia.


Abian harus mengakui, jika mamanya adalah pahlawannya.


Setelah menjemput Denisa dari terminal, Abian meminta izin pada Delia untuk keluar.


"Del, aku keluar sebentar ya, ada sedikit urusan, kamu siapkan saja semua keperluan yang ingin kita bawa besok. Bawa seperlunya saja," ucap Abian "dan oh iya, ini tadi mama nitip sesuatu buat kamu," Abian memberikan sebuah paper bag bertuliskan merek sebuah toko, yang Delia tidak tahu nama toko itu. "Kata mama ini wajib dibawa besok."


Delia melihat paper bag itu dan mengernyit.


"Ini apa Bi? Kapan kamu bawanya? Tadi aku nggak liat kamu bawa ini pas keluar dari rumah mama." Tanyanya, namun tangannya mengambil paper bag itu.


Abian tersenyum, dan mendekat pada Delia yang sudah berdiri didepan kamar mandi, istrinya itu bersiap untuk mandi. Abian menarik pinggang Delia membuat tubuh mereka saling menempel, dan Abian menekan punggung Delia untuk menghapus jarak keduanya.


Tubuh Delia seketika menegang, apalagi Abian menempelkan hidungnya di hidung bangir milik Delia, menggesekkan hidungnya disana, hembusan hangat nafas Abian begitu terasa menerpa wajahnya, Delia selalu suka wangi nafas Abian, tak ada bau rokok, sebab memang laki-laki itu tidak merokok.


"Aku nggak tahu isinya apa? Yang pasti ini kado dari mama," bisik Abian tepat di depan wajah Delia.


Abian yang tadinya berniat ingin segera pergi, sepertinya harus menunda niatnya itu, sebab kini dia malah mendaratkan bibirnya pada bibir sang istri. Ciuman itu terus berlanjut, saat lumatann Abian yang menggerakkan bibirnya dibalas Delia, lalu Abian mengangkat tubuh kecil istrinya, digendongnya seperti anak koala, untuk membawanya ke kamar mandi, Delia sontak menjatuhkan paper bag itu didepan pintu kamar melupakan rasa penasaran yang ingin tahu isi paper bag itu, mengalungkan tangannya dileher Abian.


Abian mendorong pintu kamar mandi menggunakan punggungnya, lalu mendudukkan Delia di atas cabinet wastafel, Abian terus menelusupkan lidahnya mengabsen rongga mulut sang istri, rasa sambal kecap bawang masih terasa disana.


Tangan Abian sudah berada ditepi baju Delia, langsung mengangkatnya keatas, meloloskan kain itu dari leher Delia, dan melemparnya asal, lalu melanjutkan kembali aktivitas bibirnya. Hal itu juga dilakukan Delia, dia melepaskan kaos yang dikenakan suaminya, hingga memperlihatkan tubuh atletis Abian, tangan Delia kini sudah tak malu menyusuri setiap jengkal tubuh bagian depan Abian yang begitu ia kagumi, mulai dari atas, dada, hingga turun ke perut berbentuk kotak-kotak yang meski tak begitu terlihat jelas, namun Delia menyukainya.


"Tangan kamu masukin dong sayang, sapa dia," bisik Abian ditelinga Delia.


Delia menurut, memasukkan tangannya kedalam kain yang menutupi bagian bawah tubuh Abian, tangan Delia sedikit kesusahan karena Abian masih memakai sabuknya, walau Abian sudah memaksakan untuk menahan nafas, agar perutnya mengecil mempermudah tangan Delia untuk masuk.


Karena merasa, tanpa diperintahkan, tangan Delia begitu cekatan membuka sabuk yang melingkar dipinggang Abian, lalu membuka kancing celana suaminya. Tangan Delia kini begitu lihai bermain dibawah sana.


"Baru dua hari, kamu udah makin pintar Delia," ucap Abian dengan nafas sedikit terengahh dan debaran jantung kencang luar biasa, karena merasa permainan Delia benar-benar membuatnya terbuai.


Dan terjadilah pergulatan panas itu didalam kamar mandi yang menimbulkan suara-suara erangan dan ******* dari keduanya yang saling bersahutan.


"Lama nggak keluarnya Bi?" Tanya Delia sambil memasukkan kaos kedalam kepala Abian. Abian menunduk agar mempermudah istrinya memakaikan pakaiannya.


Delia benar-benar memanjakanya, jika seorang istri hanya menyiapkan pakaian yang akan dikenakan suaminya, berbeda dengan Delia. Delia melakukan semuanya, mulai memakaikan baju, celana, menyisir, hingga menyemprotkan parfum saja Delia yang melakukannya.


"Cuma sebentar, paling lama satu jam. Aku bawa kunci cadangan, kamu tidur aja ya? Kamu kelihatan lelah, dari pagi kesana kemari, belum lagi harus melayani aku," kekeh Abian yang rambutnya sedang disisir oleh Delia dengan model kebelakang.


Delia tak menyahut apa yang dikatakan Abian, sebab dia sedang memperhatikan tatanan rambutnya pada rambut Abian.


"Kamu nggak denger aku?" Rengkuh Abian pinggang Delia.


Delia yang sejak tadi memperhatikan rambut Abian, kini menurunkan pandanganya, menatap wajah Abian yang sangat tampan dengan model sisiranya.


"Aku dengar Bi, aku nggak capek," Delia berdecak "Kamu kok ganteng sih Bi disisir begini?" Delia mengerucutkan bibirnya, "Aku permisi acak-acak rambut kamu ya?" Tanpa menunggu jawaban suaminya, Delia mengusak rambut Abian, membuat rambut yang tadinya rapi, kini jadi berantakan. Bukan menjadi lega, Delia kini malah menghela nafas, membuat Abian mengerutkan keningnya heran.


"Kenapa sih Del?" Tanya Abian, tanganya masih dipinggang Delia, menahan tubuh Delia agar tidak jauh dan terus menempel pada tubuhnya.


"Diacak-acak kamu makin ganteng." Jawab Delia sedikit kesal, memang pada kenyataannya, dengan tampilan rambutnya yang berantakan, membuat Abian terlihat semakin cool, dan tampan.


Abian menahan tawa, ternyata Delia mulai posesif padanya, membuat hati Abian menghangat dan begitu dibuat senang oleh Delia.


"Coba ganti sesuai keinginan kamu, biar kamu tenang saat aku keluar sendiri."


"Kamu lagi nggak buru-buru memangnya?"


"Buat kamu, batal keluarpun aku nggak masalah."


"Gombal," cebik Delia "jangan, takut ini penting." Akhirnya Delia merapikan rambut Abian menggunakan jarinya, modek potongan rambut seorang pilot yang selalu pendek dan rapi membuat Delia tak kesusahan merapikan rambut Abian.


"Selesai, eh tapi tunggu Bi." Delia berlari menuju walk in closet mini mereka, membuka laci lemari Abian. Mengambil sesuatu yang bisa menutupi wajah tampan suaminya.


Abian dengan sabar menunggu Delia keluar, dia penasaran, apa yang akan dilakukan Delia padanya, dan ternyata Delia mengambil topi hitam yang sering digunakanya dulu.


"Kamu pake ini ya Bi, biar cewek-cewek nggak pada lirik kamu." Delia memasangkan topi dikepala Abian.


Abian menerima itu dengan senang hati "Gimana? Udah tenang?" Tanya Abian memastikan.


"Aku berlebihan ya?"


"Nggak sayang, kamu nggak berlebihan, aku malah suka. Tapi kamu harus tau satu hal, aku tidak akan macam-macam diluar, kamu percaya sama aku, aku bukan mengumbar janji, tapi aku akan membuktikannya, dan itu butuh waktu, cuma waktu yang bisa menjawabnya." Abian menunduk, mensejajarkan wajahnya pada wajah Delia, mengusap lembut pipi istrinya. "Kamu percayakan sama aku?"


Delia mengangguk "Aku senang, ada adik-adik kamu, jadi aku tenang ninggalin kamu dirumah." Sambung Abian lagi. "Aku turun duluan ya, aku tunggu dibawah, liat kamu lama-lama, nanti aku nggak jadi keluar." Kerlingkan Abian sebelah matanya.


"Iya Kak," jawab Denisa.


"Memangnya kenapa kalau Kak Delia tau Kak? Bukanya sebaiknya kak Delia tahu dari awal?" Tanya Dania, sibungsu yang terkadang berpikir bijak.


"Mereka dulu pernah ribut, jadi Kakak mau keluar menyelesaikan masalah ini. Kakak belum tahu apa maksud Attaya meminta kami untuk menemuinya."


"Yasudah, tapi pulang nanti, Kakak langsung beri tahu Kak Delia, jangan sampai kak Delia tahu lebih dulu dari orang lain." Pesan Dania.


Abian mengangguk lalu mengusak rambut Dania, dia begitu menyayangi adik Delia yang satu ini, Abian merasa sangat klop dengan Dania.


Hingga tak lama terdengar suara langkah Delia yang turun menapaki satu persatu anak tangga, membuat ketiganya menoleh.


"Kalian kenapa liatin aku begitu?" Tanya Delia curiga dengan tatapan ketiganya.


"Nggak ada apa-apa sayang. Yuk antar aku kedepan." Abian merangkul pundak Delia.


Memang bukan tanpa alasan Abian menyelesaikan masalah ini sendiri, dia mendatangi pengacara Attaya, meminta untuk mengklarifikasi berita ini. Karena Abian tak ingin terlibat pada media sedikitpun, itu akan mencoreng nama baik keluarganya.


"Apa alasan kalian mengeluarkan pernyataan ini di media? kenapa tidak katakan langsung padaku?" Ucap Abian pada pengacara Attaya saat dia udah sampai dikantor advokat itu.


"Saya tidak tahu apa yang ingin dikatakan klien saya pada anda dan istri anda," ucap pengacara itu santai, "saya hanya menyampaikan apa yang diutarakan klien kami, dan benar dugaan klien kami, jika semua ini dilakukan melalui media, anda pasti akan cepat meresponya."


Abian menggebrak meja tak terima, dia tersulut atas jawaban pengacara Attaya.


"APA MAKSUD MU TIDAK MERESPON?" Abian sangat marah "Apa kamu tahu permasalahan kami? Anda hanya luar yang tak tahu sama sekali permasalahan orang, jika memang anda seorang pengacara yang hebat, seharusnya anda tidak menuruti permintaan klien anda tanpa tahu permasalahannya. Jangan hanya mentang-mentang dibayar mahal, tapi anda cuap-cuap tanpa tahu duduk permasalahannya. Tidak ada alasan untuk ku menemuinya. Hubungan kami sudah lama berakhir. Ingat jika berita ini tidak segera ditutup, aku pastikan anda akan segera menyusul klien anda disana. Dan kantor ini," Abian mengetuk meja pengacara dengan tangannya yang dikepalkan "akan aku pastikan tutup saat ini juga, aku beri waktu kalian paling lama dua jam." Abian merapikan topi yang tadi dikenakan Delia, lalu memasang kaca mata hitamnya sebelum meninggalkan kantor pengacara itu.


* * *


Delia baru saja mematikan sambungan telepon pada mamanya, yang menanyakan tentang kedua adiknya itu, dan meminta maaf pada Delia, karena kedua adiknya malah merepotkan dia yang baru menikmati momen pengantin barunya.


"Mama kayak sama siapa saja sih Ma," ucap Delia pada mamanya.


"Tapi kamu sekarang tinggal sama suami kamu Delia, Mama takut merepotkan Abian, Mama titip kedua adik mu ya 'nak?"


"Abian tidak masalah jika Denisa dana Dania disini Ma, ohya Ma, besok kami akan pergi honeymoon ke Switzerland , doakan perjalanan kami lancar ya Ma."


"Oh ya sayang? Selamat bersenang-senang ya Delia, semoga cepat dapat momongan nak, jadi istri yang baik, buat suami mu selalu bergantung padamu. Manjakan dia melebihi anak bayi, puaskan lambung dan ranjangnya, agar dia tak terpincut pelakor." Pesan mana Delia.


Delia menjadi takut dan bergidik atas ucapan terakhir mamanya, kini dia berpikir, apakah Abian akan mudah tergoda oleh wanita diluaran sana? Secara Abian termasuk laki-laki nyaris sempurna, profesi dan wajahnya begitu digilai oleh kaum hawa.


"Jika yang terakhir terjadi pada keluarga kami, aku akan memotong milik Abian saat dia tidur Ma, dan memberikannya pada anjing."


Terdengar suara tawa renyah mamanya diseberang sana, membuat Delia menghapus titik disudut matanya, Delia rindu sang mama.


"Lakukan jika itu terjadi sayang, walau negara tidak melindungi mu atas perbuatan mu, percayalah, banyak wanita yang mendukung dan melindungi mu, terutama Mama. Mama akan pasang badan untuk mu."


Kini Delia yang tertawa, sangat senang dengan apa yang dilakukannya sejak dulu, selalu didukung oleh kedua orang tuanya.


"Kalian rencana mau jalan-jalan kemana saja selama disini?" Tanya Delia pada kedua adiknya, saat panggilanya pada sang mama sudah berakhir.


"Ancol, taman mini, ragunan, taman eco park yang sekarang sedang viral," Dania menghitung menggunakan jemarinya "terus kemana lagi ya Kak?" Tanya Dania pada Denisa yang sejak tadi fokus pada ponselnya.


"Bandara." Jawab Denisa begitu saja, karena dia sedang membaca balasan pesan Daniel, membuat Delia dan Dania terkejut.


"Ngapain ke Bandara Denisa?" Tanya Delia lagi.


Denisa baru tersadar dari jawabannya tadi "Eh bukan Kak, maksudnya, perpustakaan nasional." Denisa menggigit bibirnya gugup, takut tujuannya ingin bertemu dengan Daniel ketahuan oleh Delia.


"Kakak sudah siapin supir untuk mengantar kalian, biar nggak nyasar."


"Jangan Kak!" Tolak Denisa cepat "Kami naik taksi aja, kata mama nggak boleh ngerepotin Kakak."


"Oke, tapi kalian harus tetap hati-hati, ingat jangan buat masalah yang membuat keluarga kita malu. Maaf kakak tidak bisa menemani kalian jalan-jalan."


"Iya Kak, nggak papa."Jawab Dania dan Denisa bersamaan.


Cinta memang datang tanpa pernah disadari, seseorang bisa melakukan hal apa saja untuk menarik simpati dari orang yang dia suka. Hal itu yang saat ini dirasakan oleh Denisa, entah sudah menyadari atau belum perasaannya? Namun saat ini gadis berusia sembilan belas tahun itu sedang ingin selalu dekat dan ingin tahu segala tentang Daniel, laki-laki dewasa berusia dua puluh delapan tahun yang pernah suka dengan kakaknya.


Awal kedekatanya dengan laki-laki itu ialah saat Daniel mencari tahu keberadaan kakaknya yang menghilang. Daniel sering memberinya uang jajan, menanyakan keadaan keluarganya. Laki-laki itu juga telah menjebloskan wanita yang telah menabrak lari ayahnya, hingga ayahnya kehilangan nyawa saat itu juga, Denisa mulai merasa simpati pada laki-laki itu, yang sangat tulus melakukan segalanya, tanpa diketahui oleh Delia.


Wanita mana yang tak tersentuh hatinya melihat laki-laki setulus Daniel? Walau itu bukan untuknya.


Maka dari itu, saat melihat Daniel bersedih ketika kakaknya menikah dengan laki-laki lain, ada rasa tak tega pada hati Denisa, Daniel terlalu baik untuk merasakan sakit hati. Saat beberapa panggilan dan pesanya tidak direspon oleh Daniel, ada rasa khawatir dalam diri Denisa.


Ide untuk mencari tahu tentang laki-laki itupun muncul begitu saja, sampai ia nekat pergi dengan memberikan banyak alasan kepada sang mama, ingin berlibur dirumah sang kakak yang baru menikah, dan secara kebetulan dia sedang berlibur semester. Sebenarnya mama Delia melarang keras keinginan Denisa, namun, tetap saja, hati seorang ibu tak pernah tega melihat anaknya menangis karena keinginannya tak dipenuhi, dan iapun menurut saat Denisa memintanya untuk tak memberi tahu kakaknya terlebih dahulu, jika dia ingin ketempat sang kakak.