
Semua ibu-ibu terdiam saat Abian datang. Abian menatap satu-persatu wajah wanita itu.
"Ada apa?" Zidan mengulang pertanyaannya.
"Tidak ada apa-apa? Kami hanya ngobrol biasa." Delia tak ingin memperpanjang. Tak lama namanya dipanggil, dan giliran dia yang diperiksa.
Sepanjang perjalanan Delia memilih diam, dia meneliti tubuhnya, walau Abian tidak mempermasalahkan bentuk tubuhnya yang bertambah subur, namun Delia sedikit membenarkan ucapan ibu-ibu tadi.
"Aku nggak suka loh kita diem-dieman begini, aku ada salah?" Delia menggeleng, dan tetap bungkam. Abian menautkan jemari mereka, mengecupnya mesra. "Kita makan dulu yuk, aku lapar, belum sempat makan."
Delia kembali diam, hanya menjawab lewat senyuman. Abian memakirkan mobilitas dirumah makan padang.
"Kita makan disini mau kan? Aku teringat pertama kali kita abis ehem-ehem, kamu minta nasi padang dua bungkus, eh nggak taunya emang jadinya dua, walau prosesnya agak panjang." Kekeh Abian.
Abian msih ingat, berarti emang dia sayang aku. Kenapa aku jadi kepikiran omongan orang sih?
Akhirnya Delia dapat tersenyum ceria lagi. Dia keluar setelah Abian membukakan pintu dan menyambut tangannya. Mereka berjalan bergandengan menuju pintu masuk rumah makan padang yang terlihat ramai itu.
"Kalau rame kata orang enak." Delia memberi tanggapan.
"Emang enak, tapi nggak seenak punya kamu." Delia mencibir mengerti maksud ucapan suaminya.
"Benerkan cuma punya aku yang enak? Nggak ada yang lain?"
"Iya dong sayang. Nanti malam mau ya?" bisik Abian sambil tersenyum nakal, dan mendapat cubitan kecil dari istrinya.
Setelah memesan, mereka duduk disalah satu tempat yang nyaman, dirumah makan padang itu terdapat kolam ikan yang berada dibawah tempat duduk mereka.
"Tempatnya enak ya Bi, nyaman, kayak suasana pedesaan."
"Aku nggak salahkan ajak kamu kesini?" Delia kembali hanya mengangguk.
Setelah makan mereka bukan langsung pulang, melainkan jalan-jalan terlebih dahulu, Abian sangat senang memanjakan istrinya. Dan setelah itu, mereka kerumah Arumi, sudah lama mereka tak melihat putri kakak sulung Abian itu.
"Ihhh senengnya, ada tamu kehormatan." Arumi menyambut kedatangan mereka dengan sukacita. Delia ingin menggendong anak Arumi dalam gendongan Arumi, namun Arumi melarang.
"Jangan bawa yang berat-berat, perut kamu nanti sakit."
"Nggak papa Kak."
"Sayang, no." Abian menggeleng, ikut melarang. "Lucu." Abian yang mengambil alih menggendong anak Arumi.
Arumi dan Delia mengobrol didapur seraya menyiapkan camilan untuk mereka.
"Udah berapa bulan?"
"Masuk tujuh bulan."
"Udah tau cewek apa cowoknya?"
"Abian nggak mau tahu dulu, biar surprise katanya."
"Sok surprise, nanti biar nggak salah beli perabotnya, kalau udah ketahuan cewek apa cowok."
"Iya juga ya, tapi. Kalau cewek berarti, belanjanya serba pink ya Kak, kalau cowok bisa serba cowok."
"Betul, lagian suami kakak udah rencanain beli tempat tidur sana mau renovasiin kamar buat anak kalian, jadi biar nggak salah warna nanti."
"Wanita hamil itu nggak sama sayang, ada yang bentuk tubuhnya stabil, ada yang kurusan, ada yang melar. Jangan minder sama bentuk tubuh. Yang penting kita dan bayinya sehat. Kakak lihat kamu enjoy-enjoy aja awal hamil, nggak ada mabok, muntah, itu anugerah, ada wanita hamil, badanya masih bagus, tapi bayi didalamnya kurang gizi. Kenapa, ada yang menilai bentuk badan kamu?" Delia mengangguk.
"Apalagi kamu ada dua didalam, udah pasti ngaruh ke badan, walaupun ada wanita hamil kembar tapi badannya masih bagus, ya itu rejeki dia. Kamu nggak usah pikirinlah. Nah nanti setelah lahiran, baru pelan-pelan usaha buat kecilin lagi. Tapi nggak boleh maksain ya. Wanita menyusui juga harus banyak makan, biar asinya lancar."
Arumi berjalan menuju kulkas, saat pintu kulkas terbuka, wangi dari aroma makanan menyeruak ke indra penciuman mereka, terutama Abian yang sedang mengajak kedua ponakanya bermain.
"Ini wangi bau apa ya? Kok bikin hidung gatal?" Abian mengusak hidungnya.
"Ini bau asian yang mama buat Om." Jawab Arsyi. Dan anak itu langsung membekap mulutnya karena merasa keceplosan.
Abian segera meletakkan anak kedua Arumi dilantai, bayi berusia delapan bulan itu langsung merangkak, dan mencoba berdiri melalui sofa yang diduduki Abian.
"Sayaaang, pulang yuk. Aku ada keperluan mendadak ini."
Arumi dan Delia langsung saling pandang mendengar teriakan Abian, lalu keduanya tertawa saat menyadari sesuatu "Kasian amat, dia masih pobia sama asinan?" Delia mengangguk sambil menahan tawa. "Aku kayak punya telepati ya, anak itu datang ada stok simpanan asinan dikulkas, tau aja kalau tuh anak mau datang." Terlintas diotak keduanya untuk mengerjai Abian.
"Sayaaang, kamu dengar nggak?" Teriak Abian lagi.
"Apasih teriak-teriak? Kayak dihutan aja, baru juga sampai udah ngajakin pulang aja, tenang waktu kalian masih banyak kok?" Arumi menggoda adiknya.
"Ada perlu Kak, Kakak aja yang pikirannya ngeres."
"Sapuhin donk adik tersayang, kamu imut deh Bi." Arumi menjawil pipi adiknya, kemudian duduk disamping Abian, dan Abian menatap awas kakaknya, kemudian memandangi mangkuk tertutup ditangan kakaknya.
"Kakak masak spesial loh Bi."
"Jangan yang aneh-aneh Kak, aku baru pulang kerja, dan besok ada jadwal keluar negeri. Lagian aku nggak percaya Kakak masak, yang ada makanan restoran atau warteg nggak laku kalau Kakak sampai masak." Abian memundurkan tubuhnya menjaga jarak, tahu betul akal bulus kakaknya.
"Sayang, please, aku lagi nggak mau dibercandain." Abian menatap memelas pada istrinya.
Ue ue ue
Dan suara anak Arumi menyelamatkan Abian dari kejahilan kakaknya.
"Baru kali ini aku punya ponakan yang pro, makasih ya bro. kita cs brother."
"Anak aku cewek Abian, bukan laki-laki." Sengit Arumi tak terima dengan panggilan Abian untuk anaknya.
"Cewek mah gitu, baru juga salah sedikit udah sensitif, eh apa jangan-jangan kamu mau dapat adik lagi Ars?" Abian menaik turunkan alisnya pada Arumi.
Arsyi yang sedang menyusun permainan leggonya pun langsung terbengong, cukup terkejut dengan ucapan Abian.
"Benar Ma? Kita mau punya dede lagi? Asyik ...." bocah itu kegirangan, kemudian dia memeluk Arumi.
"Kalau Arsyi punya adik lagi berarti Arsyi udah gede, bisa pegang uang banyak, beli mainan sendiri yang banyak ya Ma."
"Bi kamu bikin anak orang salah paham." Delia menggeleng atas sikap Abian.
"Tanggung jawab Abian." Arumi melempar bantal sofa kearah Abian, dan langsung ditangkis oleh Abian.
"Tuh kan, Kakak sensitif, beneran hamil lagi." Abian tertawa puas, sangat senang kali ini dia menang dari Arumi.
Sepulang dari rumah Arumi, Abian dikejutkan dengan kedatangan tamu tak diundang, yang sudah menunggu didepan pagar rumahnya.
"Abian?" Ujar suara wanita memanggil nama Abian. Keduanya menoleh dan betapa terkejutnya mereka, ternyata yang datang adalah orang yang sangat mereka tak sangka.