
Seminggu berlalu.
Acara pernikahan Denisa telah selesai dilaksanakan, acara pernikahan itu diadakan secara sederhana dirumah orang tua Denisa di Subang. Raut sedih tak bisa ditutupi dari wajah mama Delia, bagaimana tidak? Anak yang dia sayangi, yang beberapa waktu lalu meminta izin padanya untuk berlibur, ternyata telah melakukan kesalahan besar dalam hidupnya, membuat sang anak terlibat pernikahan sementara.
Raut sedih tak bisa ditutupi oleh mama Delia, bagaimana tidak? Anak yang dia sayangi, yang beberapa waktu lalu meminta izin padanya untuk berlibur, ternyata telah melakukan kesalahan besar dalam hidupnya, membuat sang anak terlibat pernikahan sementara. Sebagai orang tua pastinya hal itu menjadi beban tersendiri untuk mama, dia merasa gagal mendidik anaknya.
Andai dia tahu hal ini akan terjadi, mama tidak akan memberikan izin pada Denisa, andai waktu itu dia bisa lebih keras lagi melarang Denisa, pasti hal ini tidak akan terjadi, dan begitu banyak andai-andai lainnya yang tidak akan membuat dia semenyesal ini. Sebagai orang tua tua tunggal, dia benar-benar kecolongan.
Hal yang membuat mama semakin sedih, saat melihat wajah dan sikap mama Daniel seperti tidak menerima Denisa, itu membuat mama harus membandingkan orang tua Denisa yang begitu menerima dan menyayangi Delia, mama menjerit dalam hati, 'begitu malang nasib kamu Denisa.'
"Nak Daniel, Mama tahu kamu terpaksa menikahi Denisa, Mama tahu ini kesalahan anak Mama, maafkan dia, maafkan kelakuannya yang membuat nak Daniel kesusahan, maafkan Mama, ini semua karena Mama salah mendidiknya. Mama tahu kamu anak yang baik, selama enam bulan ini, Mama titipkan Denisa padamu, tolong jangan sakiti dia secara fisik maupun mental, walau kamu tidak mencintainya. Rumah Mama terbuka dua puluh empat jam, jadi kembalikan dia seperti sedia kala, tidak ada kekurangannya apapun."
Itulah pinta mama Delia sebelum Daniel membawa Denisa untuk pulang kerumahnya, sebab Denisa masih dalam libur kuliah, dan jika nanti kuliahnya kembali aktif lagi, maka Denisa kembali kerumah mamanya.
Daniel hanya mengangguk, dan menjawab iya, namun dalam hatinya berkata, dia akan memperlakukan Denisa dengan baik, tak ingin Delia menganggapnya sebagai laki-laki tak bertanggung jawab, lagi, Delia menjadi alasan Daniel memperlakukan Denisa dengan baik.
Setelah acara selesai, Delia kembali ke rumahnya bersama orang tua Abian yang ikut hadir dan menjadi saksi pernikahan Denisa, Abian tidak ikut serta sebab dia sudah mulai aktif kembali menjadi seorang pilot, dan langsung mendapat penerbangan internasional.
Tiga hari tak bertemu membuatnya sangat merindukan laki-laki yang selalu manja padanya. Besok Abian baru pulang, Delia mendesah, dia menjadi malas melakukan apa-apa, namun dia juga harus bersiap, sebab besok dia mulai melakukan pendaftaran ulang menjadi pramugari, dan akan mulai disibukkan dengan pendidikan ulang.
Delia melihat jam yang menggantung dikamarnya, waktu menunjukkan pukul tujuh malam, setelah mempersiapkan segala dokumen yang dia butuhkan besok, Delia masuk ke kamar mandi, satu persatu pakaiannya sudah dia tanggalkan, Delia memutar kran dan mengatur suhu air, tiga minggu menjadi seorang istri, dan sudah merasakan yang namanya nikmat dunia, membuat Delia begitu merindukan sentuhan-sentuhan halus Abian yang bisa membawanya terbang keangkasa, Delia memejam, mencoba mengingat-ingat setiap aktivitas panas mereka berdua saat berada dikamar mandi maupun diatas tempat tidur.
Namun, bayangan itu seakan nyata, Delia seperti merasakan tangan kokoh itu melingkar dipinggangnya, Delia membuka matanya, dan ia dibuat terlonjak.
"Biiiii!"
Pekik Delia kegirangan, dia persis seperti anak kecil yang setahun tidak bertemu ibunya. Delia langsung mengalungkan tangannya dileher Abian, kemudian melingkarkan kedua kakinya dipinggang sang suami, membuat Abian sedikit terhuyung kebelakang karena terkejut.
"Kamu kangen sama aku, my baby girl?"
Delia mengangguk diceruk leher Abian "Kamu bilang pulangnya besok?"
"Bersiaplah atas kejutan-kejutan dari suami kamu, pilot paling tampan ini, my baby girl," bisik Abian sensual ditelinga Delia, membuat Delia seketika meremang, dia yang memang sejak tadi begitu mengharapkan disentuh oleh suaminya, langsung menerkam bibir Abian saat itu juga.
Tentu Abian menerima serangan itu dengan suka cita, ini yang dia inginkan, setiap pulang dari mencari nafkah, selelah apapun itu, jika disambut penuh sayang dari sang istri, semua lelah dan masalah hilang seketika, dan terganti oleh semangat yang penuh membara.
Tiga hari tak bertemu, tentu saja percintaan itu tidak cukup jika hanya dilakukan satu kali, mereka bahkan melakukannya berkali-kali hingga berpindah ke tempat tidur, waktu tiga hari yang terlewatkan seakan harus mereka bayar saat ini juga, terutama Abian. Jika saja hal itu tidak ditolak oleh pemilik landasan, pasti pesawat Abian akan melakukan landing dan take off sesuai tiga hari yang terlewatkan, bayangkan saja, jika sehari hal itu wajib dilakukan minimal dua kali, berarti mereka harus melakukan kelipatan dari itu. Amazing.
"Gimana acara pernikahannya, lancar?" Tanya Abian seraya memainkan rambut Delia, setelah mereka tiga kali melakukan ritual wajib mereka, mereka duduk menyandar dikepala ranjang, Abian memerangkap tubuh sang istri dilingkaran kakinya, seakan takut sang istri kabur atau direbut orang lain, tubuh keduanya masih sama-sama polos dan saling menempel.
"Lancar," Delia menjawab sambil memainkan tanganya didada Abian membentuk huruf-huruf abstrak.
Padahal dalam hati Abian berharap akan ada hujan badai, atau masalah lain, sehingga dia tak harus menjadi saudara ipar dengan laki-laki yang pernah menjadi sainganya itu.
"Apa laki-laki itu benar-benar mencintai Denisa?" Delia menjawabnya dengan anggukan. "Kamu tidak khawatir, jika dia akan menyakiti adik kamu? Atau cuma memainkan Denisa saja, aku tau riwayat dia, dia itu penjelajah wanita."
Delia mendongak untuk melihat wajah suaminya, dan tersenyum cantik "Kamu kenapa sih? Kayak nggak suka gitu?Tenang aja Bi, Dan-" ucapan Delia harus terputus karena Abian membungkam mulutnya.
"Jangan sebut nama laki-laki itu, bibir kamu tidak ada lebel halalnya untuk menyebut namanya, jika kamu melanggarnya, maka kamu akan mendapat hukuman sesuai pasal dan undang-undang yang berlaku."
Delia mengernyit, lalu menegakkan duduknya "Pasal apa? Undang-undang apa? sejak kapan dibuatnya?"
"Sejak kamu jadi istri aku," ucap Abian bangga.
"Aku sebutin intinya saja ya?" Abian menarik nafas.
"Kamu nggak boleh sedikitpun sebut nama suami Denisa didepan aku, nggak boleh dekat-dekat dia, nggak boleh pernah berkunjung kerumahnya walaupun itu alesan hanya untuk menjenguk Denisa, dan ini yang agak penting, kamu nggak boleh lagi kerja," pinta Abian, saat dia melihat berkas-berkas Delia yang sudah siap diatas meja rias.
Mata Delia membola mendengar rentetan peraturan yang tak masuk akal yang dibuat Abian. "Bi," protes Delia "okelah kalau tentang Dan- eh, suami Denisa aku bisa, tapi untuk kembali menjadi pramugari itu aku nggak bisa. Itu cita-cita aku, bukan hanya cita-cita aku, itu juga cita-cita ayah. Itu amanah ayah, jadi aku nggak bisa melepasnya. Dulu kamu bilang loh buat biarin aku tetap kerja, kenapa sekarang tiba-tiba berubah pikiran begini?"
"Terus kalau kamu hamil, kamu bakal tetap kerja? Apa itu nggak bahaya buat kandungan kamu?"
"Ya kalau aku hamil lihat kedepannya Bi, kalau memang tidak memungkinkan aku pasti resign. Lihat, Voni aja fine-fine aja 'kan sampai sekarang?"
Abian mengambil tangan Delia, diciumnya telapak tangan itu mesra "Akutuh pengennya pas pulang kerja ada kamu kayak tadi, kamu menyambut aku pulang dengan senyum kamu, lihat pemandangan kayak tadi saja udah bikin rasa capek aku hilang, kalau aku pulang kerja nggak ada kamu rasanya pasti beda sayang, apalagi kalau kita tidak satu penerbangan, pasti kita lama nggak ketemu. Aku nggak mau banyak laki-laki liat wajah cantik kamu, apalagi sampai ada kejadian yang dulu, aku trauma."
Delia tersenyum lembut, mencoba mengalah, dan memberi pengertian pada Abian "Bi, izinin aku ya? Kalau soal jadwal, aku ngerti, nggak ketemu kamu tiga hari aja aku udah kangen banget, untuk masalah yang dulu, sebisa mungkin aku menghindarinya, dan sebisa mungkin aku tetap melayani kamu sebaik-baiknya selama aku kerja, izinin ya Bi, izin kamu adalah ridho aku." Delia tersenyum menampilkan wajah puppy eyesnya menggemaskan membuat Abian luluh, dan akhirnya mengangguk setuju.
"Tapi janji ya, kalau kamu hamil, kamu resign?"
"Iya, aku janji." Abian mengecup kening Delia.
"Aku lapar sayang."
Delia tertawa, dia baru menyadari sejak suaminya pulang dia bahkan belum memberikan amunisi apapun.
"Yaudah, lepasin dulu kakinya, aku mau mandi lagi, terus bikinin makan buat kamu."
"Kamu nggak capek?"
Delia menggeleng "Buat kamu aku nggak capek, aku buatan spagetthy mau?"
"Kamu udah bisa gombalin aku ya? Kalau makan kamu boleh?"
"Nggak, tadi udah banyak."
"Mandi bareng yuk, Del."
"Tadi udah, nanti malah lama." Delia bergegas masuk ke kamar mandi, sebelum menutup pintunya dia menggoda Abian terlebih dahulu dengan melenggok-lenggokkan tubuhnya, namun saat Abian sudah beranjak dan mendekat, Delia cepat-cepat menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
* * *
Dirumah Daniel, saat ini keluarganya sedang makan malam bersama, papa Daniel, mamanya, Daniel dan juga Denisa.
Suasana meja makan itu terasa mencekam bagi Denisa, mama Daniel tak ada tersenyum ataupun menyapanya sama sekali, wajah wanita itu malah terlihat sangat menyeramkan. Denisa merasakan mendapat mertua seperti yang ada dicerita-cerita novel ataupun sinetron, galak, garang dan menyeramkan. Tak ada tawaran makan seperti mama mertua kakaknya yang begitu baik dan ramah.
"Makan Ma, Pa, Kak Daniel." Tawar Delia sebelum menyuapkan makan kedalam mulutnya, kebiasaan mereka dirumah sebelum memulai makan.
"Kenapa harus pakai acara menawarkan? Ini rumah saya, kamu tidak usah pakai menawar-nawari segala," ketus mama Daniel.
"Ma, Denisa hanya menawarkan, mungkin itu kebiasaan keluarganya dirumah, itu bagus loh. Jaman sekarang sudah jarang keluarga yang menerapkan hal demikian."
"Hmmm," jawab mama Daniel berdehem, tak ingin berdebat lebih panjang.
Sedang Daniel hanya diam, dia membiarkan Denisa beradaptasi dengan sikap mamanya yang memang bersifat seperti itu terhadap orang yang baru dikenalnya.