Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Tidak Peka



Apes, itulah yang saat ini dirasakan Abian dan Rendy, gara-gara kekonyolan yang dibuat Rendy, mereka harus terdampar di luar kamar hotel tempat mereka menginap. Sudah lebih dari lima belas menit mereka berada di depan pintu kamar, duduk menyender di daun pintu, mengetuk, meminta agar istri mereka membukakan pintu.


Abian menoleh kearah Rendy "Ren, batu kamu tadi benar-benar sakti nggak sih? Bisa buat tembus pintu nggak?"


Rendy nampak berpikir atas pertanyaan Abian, dia menyelonjorkan kaki, merogoh batu miliknya yang ia letakkan disaku celananya. "Bentar Capt," ujarnya. Dia kemudian berdiri, kembali memasukkan batu itu kedalam saku celananya. "Gimana Capt?" Tanyanya, Rendy mengangkat kedua tangannya, memutar-mutar pergelangan tangan, lalu menangkupkan kedua tangannya didepan dada, mulutnya komat-kamit membaca mantra.


"Yang kelihatan jadi hilang, yang hilang tak akan ditemukan"


"Yang benci jadi sayang, yang sayang makin sayang"


"Yang tidak punya jadi punya uang."


"Yang good looking jadi good rekening."


Abian mengerutkan kening, sangat serius mendengarkan mantra yang Rendy ucapkan.


"Yang marah jadi sabar"


"Yang kuat makin kuat."


Abian menggeleng "Hah udah-udah. Mantra kamu nggak jelas. Bingung saya sama kamu Ren, bagaimana bisa Airlanngga Airlines bisa menerima Co-pilot kayak kamu? Aneh." Abian berdiri, menepuk pantattnya. Ia kembali melihat pintu yang masih tertutup itu.


"Ahh Captain ganggu aja, kan jadi nggak berkhasiat Capt mantranya."


"Musyrik kamu tuh pakai begitu-begituan." Abian menghela nafas, kembali mengetuk pintu "Del, aku haus loh. Kamu tega nanti aku dehidrasi?"


Delia didalam mendengar apa teriakan suaminya, tapi dia tak tetap mengabaikan itu, belum mau membukakan pintu, Delia kembali membaca novel yang dia bawa dengan duduk menyandar di headboard ranjang.


Rendy tersenyum licik, ide cemerlang muncul dikepalanya "Ini yang suka orang bilang, orang ganteng itu suka kurang cerdas, pakai cara licik Capt." Rendy menunjuk pelipisnya.


"CAPT, SWISS KAN TERKENAL GUNUNG SALJU ABADINYA, KITA NGGAK BAKAL DEHIDRASI. JADI KITA NGGAK BUTUH GUNUNG LOKAL LAGI. GUNUNG DISINI SEPERTINYA LEBIH MENGGIURKAN." Teriak Rendy agar didengar oleh dua wanita didalam sana.


"Sssstttt Ren." Abian menempelkan jari telunjuknya di mulut. "Nanti mereka tambah marah, bakal lebih lama kita disini."


Delia dan Voni mengernyit, mendengar apa yang diucapkan Rendy. Lalu ada pesan masuk di ponsel Delia.


"Del, gimana?, dibukain sekarang nggak?" Pesan dari Voni.


Delia segera mengambil ponselnya yang tergeletak di kasur, membalas pesan Voni "Kita tunggu lima belas menit lagi, kita kasih hukuman buat mereka, kita lihat, seberapa lama bisa bertahan." Send Voni.


"Apa kita nggak kelewatan? Tapi anakku nggak bisa lama-lama jauh dari ayahnya."


"Biasa ditinggal terbang lama juga. Ajak anakmu bekerja sana, memberi hukuman pada ayahnya. Bisa-bisanya ada niatan mau ngintip bule. Emang punya kita kurang mulus apa coba? Tuh, kamu dengar nggak tadi? Rendy bilang apa? Gunung disini abadi, nggak kayak gunung lokal, yang suka tandus."


Karena pintu kamar tak kunjung dibuka. Rendy kembali berulah


"Suitttt suittt" Rendy menyiul bule wanita yang lewat depan mereka. "Waww Capt, bodynya aduhai."


"Rendy, pelankan suara kamu, kamu mau terus berdiri disini?"


"Salut, pourquoi êtes-vous deposito?" (Hei, kenapa kalian diluar?) tanya wanita bule itu ramah.


"Mampus, dia ngomong apa Capt?" Tanya Rendy yang tak mengerti bahasa Perancis.


Abian terkekeh "Dia bilang, kenapa kita diluar?"


"Wahhh, kita diajak bule ngamar ya Capt? Menang banyak nih kita." Teriak Rendy lagi. Membuat Abian memejamkan mata sejenak, Rendy bisa menambah masalah baru.


"Kamu bisa diem nggak Ren, kalau kamu nggak berisik, pasti nanti pintu bakal dibukain,"


"Biarin aja Capt, lagian orang kita hanya bercanda, mereka malah serius, awas nanti mereka cepat tua jika hidupnya terlalu serius terus. Dan kita awet muda, bisa cari yang lebih mudaan lagi."


Lagi-lagi Delia dan Voni didalam sana menajamkan pendengaran mereka. Mendengarkan obrolan para suami mereka.


"Del, mereka ngomong sama cewek." Pesan Voni kembali masuk di ponsel Delia.


"Iya, memang benar-benar mereka." Balas Delia.


"Avez-vous perdu la ćle de votre chambre?" (Apa kalian kehilangan kunci kamar?) tanya wanita **** yang memakai dress mini, tanpa lengan itu, dan menunjukkan belahan dadanya.


Abian dibuat tak fokus, dia menggelengkan kepala "Ne manquez pas, nous venons de terminer l'exercise merci pour votre attention." (Tidak nona, kami hanya habis berolahraga. Terima kasih perhatiannya." Tolak Abian, sungguh dia tak mau berlama-lama berbicara dengan wanita asing itu.


"D'accord, si vous aves besoin d'aide, ma chambre est ini." (Baiklah, jika kalian butuh bantuan, kamar saya disini) ucapnya seraya mengerlingkan mata pada Abian. Sebelum dia hilang dibalik pintu kamar yang berada tepat di depan kamar Abian.


"Captain selalu menang banyak." Cibir Rendy.


"Diam Ren, nanti Delia denger." Abian berbalik, melihat pintu kamarnya yang masih tertutup "Delia sayang, aku sakit perut kayaknya ada panggilan alam deh." Ucap Abian jujur, dia memegang perutnya yang sudah mulas.


Delia mengabaikan itu, dia benar-benar kesal, apalagi saat mendengar Abian yang berbicara pada wanita dengan bahasa yang tidak dimengertinya, Abian pintar, bisa saja ditipu oleh suaminya. Delia menghela nafas.


"DELIAAA, tolong aku sayang, perut ku benar-benar sakit. Kamu dengar aku ditegur pengunjung lain? Sayang aku tidak berbohong."


"Benar Del, lihat suamimu sudah terlihat seperti mayat hidup, mukanya pucat Del." Timpal Rendy, saat ini dia tidak bercanda, Abian sudah berkeringat dingin.


Delia berpikir sejenak. "Apa mereka tidak bercanda, awas saja jika mereka mengerjaiku, aku akan membalas lebih dari ini." Gerutu Delia, dia segera turun dari tempat tidur, lalu membuka pintu kamar.


Baru saja Delia membukakan pintu, Abian langsung berlari terbirit-birit lari masuk ke kamar mandi, menuntaskan yang seharusnya dia keluarkan dari dalam perutnya.


Delia menatap heran pada pintu yang ditutup keras, berarti suaminya tidak sedang membohonginya. Dia hendak menutup pintu, namun Rendy masih berdiri didepan pintu kamar mereka.


Rendy melongokkan kepala untuk melihat didalam "Wahhh kacau ya kalian, ngebiarin kita kayak pengemis diluar, padahal tadi aku mau ajakin Captain Abian ke tempat para cowok-cowok penari, yang banyak tante-tantenya itu."


"Kenapa tidak pakai batu ajaib itu aja? Aku yakin mama anda menyesal Capt, udah ngelahirin anak tipe anda, suka main gunung kawi, kenapa jin disana tidak mengambil anda sebagi tumbal aja sih?" Ucap Delia kesal " Awas saya mau menutup pintu." Tanpa menunggu Rendy pergi, Delia segera menutup pintu dengan keras. Sehingga Rendy mamundurkan kepalanya.


Voni juga membukakan pintu saat dirasa diluar sudah tidak terdengar suara gaduh. ingin mengintip keadaan luar. Namun baru saja sedikit dia membuka pintu, suaminya menerobos masuk.


"Von, aku lemas." Rendy masuk langsung merebahkan dirinya di kasur.


Voni menghampiri suaminya "Mandi dulu sana, jangan langsung tidur, kamu pasti bawa banyak jin dari luar." Voni menarik tangan Rendy, agar suaminya itu bangun. "Mana batu ajaib kamu itu? MANA?" Pinta Voni "Kamu itu zaman sudah moderen masih saja main percaya hal-hal begitu." Voni mengusap perutnya "Astaga nak, tolong jangan kamu ikuti kelakuan ayah kamu ya." Doa Voni sambil mengusap perutnya yang sudah terlihat menonjol itu.


"Dia nanti akan aku ajarkan menyari pesugihan sayang, biar cepat kaya tanpa kerja."


"Stop Ren, ya Tuhan_ nak kasihan sekali nasib kamu, punya ayah seperti ini. Rendy cepat bangun, bersihkan diri kamu dulu, nanti anak kita sawan."


"Kita mandi bareng ya?"


"Nggak." Tolak Voni.


"Tujuan kita kesini buat apa coba, kalau nggak mau mandi bareng yaudah, aku nggak mau mandi."


"Ren, disini dingin, aku bisa masuk angin."


Dikamar sebelah, Abian yang sudah menyelesaikan urusannya dikamar mandi, dia langsung membersihkan diri. Laki-laki itu keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk putih yang melilit pinggangnya. Dilihatnya Delia sudah tertidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Abian mendengus, bisa-bisanya Delia tidur lebih dulu tanpa rasa bersalah dan minta maaf.


Abian segera mengambil bajunya yang masih ada didalam koper. Dia sebenarnya kesusahan mencari pakaiannya, namun untuk membangunkan istrinya, dia merasa gengsi. Dikeluarkan semua pakaian mereka yang ada didalam koper, membuatnya berantakan. Setelah menemukan pakaian yang dia mau, Abian segera berdiri, memakai bajunya.


Abian naik ke tempat tidur, merebahkan diri, tidur merangkul membelakangi istrinya.


Delia yang pura-pura tidur, merasakan pergerakan tempat tidur mereka, dia menghitung waktu, menunggu Abian memeluknya dari belakang, lalu Abian akan suka dengan kejutan yang akan diberikanya, kalau dia memakai baju wajib, kado dari mama Amanda. Namun lama Delia menunggu.


Semenit


Dua menit


Lima menit


Hingga dua puluh menit, namun Abian tak juga memeluknya dan meminta maaf, Delia kesal, dia yang sudah merasakan kedinginan sebab baju yang dipakainya membuat semua pori-porinya terbuka.


Setelah meruntuhkan rasa gengsinya, akhirnya Delia membalikkan badanya, dilihatnya Abian yang tidur membelakakanginya. Delia jadi kesal sendiri, dia yang berencana akan ngambek, dan pura-pura jual mahal saat Abian nanti merayunya, kini malah ditinggal tidur.


Delia bangun, dengan membuat pergerakan besar, agar suaminya terganggu, namun sayang, Abian sepertinya tidak terusik sama sekali.


Delia dibuat bertambah kesal, saat melihat pakaian mereka berserakan, dia menggeram, menggertakkan giginya. Delia memasukkan pakaian itu lagi kedalam koper, dengan menimbulkan suara keras, agar suaminya itu bangun.


Namun tetap saja, Abian masih tetap tidur dengan nyenyakna. Akhirnya, Delia mengeluarkan senjata terakhir dari seorang wanita, dia menangis. Agar Abian bangun, dan benar, senjata itu memang ampuh, Abian menggeliat, memutar letak tidurnya, melihat Delia yang sudah sesenggukan duduk di tepi ranjang membelakakanginya.


"Del, kamu ada apa?" Abian terkesiap mendapati Delia menangis, dia segera bangun, lalu memegang pundak istrinya.


Delia tetap diam, tidak menjawab.


"Sayang, ada apa? Kenapa nangis?"


"Dasar tidak peka!." Delia menggoyangkan pundaknya, menepis tangan Abian.


"Tidak peka apa?"


"Aku kan belum tidur, kenapa nggak minta maaf? Malah asik tidur sendiri, nggak liat aku pakai baju apa?"


Aku minta maaf? Kan kamu yang salah.


"Iya, aku minta maaf." Akhirnya Abian meminta maaf, dia lalu memperhatikan baju yang dipakai Delia, sebuah baju tidur transparan yang memperlihatkan semua lekuk tubuh Delia "Kamu beli baju ini Del?"


"Ini kado dari mama."


Abian merekahkan senyumnya, "Makasih ya, udah mau pakai kado dari mama."