
"Apa Ren, kamu jangan bercanda ya, cerai bukan kata-kata yang bisa dipakai buat main-main loh Ren, apalagi kamu laki-laki."
"Benar Capt, mana mungkin aku mengada-ada" jawab Rendy lesu, "bahkan sekarang Voni sudah dibawa pulang sama orang tuanya."
"Kalian ribut? Atau kamu selingkuh?" Tebak Abian langsung.
"Ihh amit-amit Capt," Rendy mengetuk-ngetukkan jemarinya dimeja, "bukan selingkuh atau ribut."
"Terus masalahnya apa?" Abian tak sabaran ingin tahu, bahkan sekarang dia lupa bertemu papanya, sepertinya masalah rumah tangga Rendy lebih menarik untuk diketahuinya, "kalian baru saja punya anak, apa nggak kasihan?"
"Semenjak Voni nggak kerja, keuangan kami keteteran, tahu sendiri Capt, kami baru ambil rumah, satu mobil buat stay dirumah, tabungan aku habis buat beliin sawah mertua, buat bayar bulanan gaji aku nggak ketutup, pampers, su, @;su, belum yang lain-lain, gaji pembantu juga," ujar Rendy merincikan pengeluarannya, "aku sudah minta Voni daftar pramugari lagi biar bisa bantu keuangan, tapi orang tua Voni ngelarang karena menurut mereka, kerja istri itu cukup dirumah, urus anak dan rumah, buat apa punya suami kalau nggak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga, lebih baik anaknya ikut mereka saja, katanya begitu, aku tersinggung sekali Capt mertua ku bicara seperti itu. Aku emosi, jadi aku talak satu saja,"
Abian tertawa dalam hati, dia mati-matian meminta Delia untuk tidak bekerja, tapi diluar sana, ada pasangan yang ingin istrinya bekerja untuk menutupi biaya hidup mereka.
Abian melipat bibirnya "Orang tua kamu kan kaya Ren, kenapa nggak minta bantuan mereka?" Abian memberi solusi.
"Mereka nggak mau bantu, menurut mereka orang tua Voni terlalu matre."
"Tapi kalian masih saling mencintai kan?" Abian memajukan duduknya meletakkan kedua tangannya diatas meja.
"Kalau aku masih cinta Capt sama Voni, akutuh maunya nikah cukup sekali seumur hidup, tapi aku nggak tahu Voni masih cinta apa nggak? hanya dia yang tahu."
Abian mengangguk "Jika diantara kalian masih saling cinta, besar kemungkinan peluang untuk kembali lagi masih ada Ren, coba kamu tanya sama Voni tentang perasaanya, yang menjalani rumah tangga itukan kalian berdua, bukan orang tua kalian, berjuang lagi Ren, buktikan pada orang tua kalian kalau kalian mampu melewati badai rumah tangga ini, dan pantas bersama-sama. Kasihan anak kalau orang tuanya harus berpisah, apalagi anak kalian sedang lucu-lucunya, soal keuangan ya itu kalian yang atur sendiri, apa Voni tetap kerja atau nggak." Abian memberi masukan, seolah dia guru dalam rumah tangga temannya ini.
"Gitu ya Capt! Susah Capt kalau orang tua ikut campur permasalahan rumah tangga, aku masih cinta sama Voni, tapi aku jadi benci sama orang tuanya." Aku Rendy jujur membuat Abian terkekeh, ada saja rupa masalah rumah tangga pikirnya.
Bamun Abian dibuat kaget dengan getar gawainya, nama papa memenuhi layar ponselnya, Abian baru teringat jika papanya sedang menunggu untuk mengurus masalah Daniel.
Abian berdiri "Ren kayaknya aku harus cabut sekarang, papa nungguin."
Rendy terlihat lemas, dia masih ingin bercerita banyak pada Abian, sebab pada Abianlah tempat ternyamanya bercerita. Dia ikut berdiri, bertos ala laki-laki sebagai perpisahan.
"Doakan rumah tangga saya baik-baik aja Capt, dan cepat selesai."
"Iya Ren, aku tinggal dulu ya, jangan lupa hubungi Voni, ajak dia kembali kalau dia masih cinta, kamu yang berusaha keras."
"Capt, bolehkan kalau saya minta Delia buat rayu Voni? Biar mau kembali lagi."
Abian menggaruk tengkuknya, Delia juga sedang menghadapi banyak masalah, "ya, nanti aku coba tanya." Abian segera pergi untuk menemui papanya namun langkahnya terhenti saat Rendy kembali memanggilnya.
"Capt, saya doakan Captain cepat dikasih momongan, dan rumah tangga Captain langgeng dunia akhirat, makasih waktu dan masukanya Capt."
Abian menggangguk kecil dan tersenyum samar, menaminkan dalam hati doa Rendy, iya, dia mau rumah tangganya bersama Delia langgeng sampai ajal yang menjemput, dia tak sanggup jika harus hidup tanpa istrinya.
* * *
"Kamu sudah sampai mana?"
"Masih dijalan Pa, macet." kilahnya.
"Kamu putar balik kekantor pusat, kita ketemu dikantor bertemu para jajaran Direksi, nanti papa ceritakan masalahnya, saat ini masalah jadi merembet kemana-mana, Papa akan mengadakan rapat umum pemegang saham, ini harus disegerakan Abian."
"Baik Pa." Panggilan mereka terputus, Abian memasukkan ponselnya kedalam tas, Abian sangat penasaran, mengapa Daniel bisa nyasar ke RSKO.
Sesuai yang papanya katakan, Abian kini menuju kantor pusat, jantung Abian berdetak cepat, dia benar-benar deg-degan, penasaran, ada masalah apa ini.
Taksi yang Abian naiki berhenti bersamaan dengan mobil papanya yang juga baru tiba.
"Ada apa Pa?" Mereka jalan beriringan menuju ruang papanya.
"Daniel ternyata mengkonsumsi obat terlarang setelah menikahi Denisa, dia frustasi, karena dia masih begitu mencintai Delia, tapi terpaksa menikahi adiknya karena kecelakaan itu, dan saat yang bersamaan. Dari pengakuan Daniel saat diperiksa, dia hanya butuh teman untuk bercerita, tapi saat yang bersamaan, saat dia butuh teman berbagi, dia baru mengetahui jika papanya memiliki anak dari istri lain dan usianya sama dengannya. Mamanya yang stress akibat permasalahan itu melampiaskan kekesalanya pada Daniel, dan memarahi Daniel." Jelas papa saat sudah berada diruanganya.
"Pak Danuarta akan memindah alih warisnya pada saudara tiri Daniel, karena Daniel bercerai, sekarang saudara tiri Daniel sudah memiliki anak laki-laki. Jadi Papa akan mengambil alih semua perusahaan, dan akan mengembalikan saham milik pak Danuarta, ada pengusaha besar yang akan menanam modal, Mahardika corp, sekarang diambil alih generasi ketiganya, Marsha Mahardika. papa saat sudah berada diruanganya. "Kita tunggu kedatangan miss Marsha, dia sedang dalam perjalanan kesini."
Abian mengangguk, dia sempat terenyuh mendengar kisah Daniel, pantas Daniel begitu takut, ketika keburukanya semakin diketahui ayahnya, tapi Abian tidak membenarkan apa yang Daniel lakukan.
"Abian ingin kasus Daniel tetap berjalan Pa, dia harus mendapatkan hukuman atas perbuatannya."
"Iya, Papa setuju, tidak seharusnya Daniel bertindak yang bisa mengguncang sikologis Delia, menjadikan Delia pelampiasannya, serta tindakan penyuapan tidak dibenarkan. Papa tidak pernah tahu Pak Danuarta memiliki wanita lain, kita tetap mengikuti peraturan, Pak Danuarta lupa, jika sejak perusahaan saat pertama dibuat, siapapun yang diketahui memiliki istri lebih dari satu, akan dikeluarkan, tak terkecuali penanam modal itu sendiri." Tegas Papa.
Abian mengangguk, dia jadi teringat istrinya. Abian mengambil gadgetnya untuk menghubungi Delia.
"Sayang, kamu sedang apa?" Tanya Abian saat panggilan ketiga Delia baru mengangkatnya, jantungnya berdegup menunggu suara istrinya, Abian sudah rindu.
"Aku lagi masak kesukaan kamu, kamu pulang cepat kan?" Abian mengembangkan senyumnya, dia jadi tak sabar ingin cepat pulang.
"Memang kamu nggak kecapean? Aku janji pulang cepat dan makan dirumah, aku rindu masakan kamu."
Abian tidak tahu saja jika perkataannya membuat wajah Delia merona "Aku tunggu kamu ya Bi," jawab Delia sambil menggigit jarinya.
"Iya, maksih ya sayang sudah mau repot-repot masakin buat aku." Panggilan mereka terputus, Abian jadi senyum-senyum sendiri, hubungannya dengan Delia smakin membaik.
"Hem yang sudah baikan, sampai lupa ada papa disini."
Abian terkekeh, "Kita pulang cepat kan Pa?"
"Papa tidak janji anak muda, miss Marsha terkenal teliti dan sempurna mengecek perusahaan yang akan diajaknya bekerja sama, dan selalu mengajak makan bersama sebagai penutup untuk mempererat hubungan kita."
Abian melemah, semoga wanita bernama Marsha itu tidak seprfect dan seseram yang papanya ceritakan.