
"Apa Attaya ada mengancam kamu?" Daniel bertanya saat mereka sudah didalam mobil.
"Nggak, dia memang suka begitu. Padahal kita tidak saling mengenal."
"Bilang padaku jika dia melakukan sesuatu yang menyakiti kamu. Aku mengenal dia."
Daniel yakin, jika sesuatu terjadi antara Delia dan Attaya, bukan hanya sekedar masalah Abian saja, tapi ada masalah lain, namun dia tahu, Delia tak akan menceritakan padanya dia akan mencari tahu sendiri.
Mobil Daniel memasuki lobby parkir, tanpa sengaja lampu mobilnya menyorot pada lelaki yang baru akan masuk kedalam mobilnya, dan laki-laki itu adalah Abian.
Abian yaang sudah menyentuh handle pintu mobil, seketika menghentikan tangannya saat menyadari ada mobil yang masuk. Dia melihat mobil itu, dan dia tahu jika itu mobil Daniel, Abian mengernyit, apa Delia keluar bersama Daniel juga?.
"Del-Delia, Captain Abian."
Cecilia memutar tubuhnya kebelakang, mencolek paha Delia, membangunkan Delia yang tertidur dibangku penumpang belakang. Tak menyangka, jika Abian akan pulang secepat ini. Beruntung tadi Delia kekeh mau duduk dibelakang, bukan disamping Daniel.
Memang tak banyak yang tahu, jika Abian anak salah satu pemegang saham di maskapai mereka. Hanya beberapa gelintir orang saja yang tahu, seperti Dewi dan Daniel.
"Hah! Abian?"
Delia tak kalah terkejut, dia menegakkan tubuhnya, dan tak menyangka, jika Abian akan pulang secepat ini, paling tidak, Abian bisa sampai rumah jam enam sore, jika melakukan empat kali landing, dan itupun jika tidak mengalami delay.
Tapi ini bukan hal aneh buat Daniel, Abian bisa mengatur jam terbangnya dengan bantuan papanya, namun dia tidak menyangka, Abian yang biasanya memiliki keprofesional tinggi, bisa menanggalkan segala image baiknya yang ia tahu tak pernah menggunakan nama papanya, untuk masalah pribadinya.
"Biar aku jelaskan pada Abian." Daniel melepaskan seatbeltnya bersiap turun.
"Aku ikut, Del, aku bertanggungjawab atas kamu hari ini, Captain Abian memberi amanat padaku."
Delia mengangguk, akhirnya mereka keluar bersamaan, menghampiri Abian yang kini menyandarkan tubuhnya di badan mobil sambil melipat tangannya di dada. Wajah Abian terlihat dingin dan menakutkan.
"Capt, maaf saya ajak Delia nonton keluar, dan tak sengaja bertemu Pak Daniel," dusta Cecilia.
"Hmmm," Abian hanya menjawab dengan gumaman, membuat Cecilia menciut, aura Abian begitu menakutkan, dan tatapannya tak lepas dari Delia.
"Delia hanya butuh udara segar, dia_"
"Kalian seperti orang yang habis kepergok selingkuh, tak perlu takut jika memang kalian tidak melakukannya." Potong Abian ucapan Daniel, tatapannya tak lepas dari Delia. "Pulanglah jika urusan kalian sudah selesai," usirnya.
Daniel mendengus, Abian bersikap sok cool, dengan menatap Delia seperti itu, dia sengaja mengangkat tanganya, mengacak pucuk kepala Delia.
"Aku pulang, ingat jika ada yang menyakiti mu, bilang sama aku."
Abian yang melihat itu sontak terbakar, dia segera menepis tangan Daniel yang berani menyentuh miliknya.
"Singkirkan tanganmu breng sek, jangan bersikap menjadi sok laki-laki baik di depan Delia. Kamu itu hanyalah laki-laki hidung belang yang sedang mencari mangsa seperti Delia."
"Abian kami hanya berteman," sangkal Delia yang tak suka Abian berkata seperti itu pada Daniel, dan hal itu membuat Abian menjadi semakin kecewa pada Delia, dia membela laki-laki lain didepannya dan orang lain.
Cecilia yang melihat itu langsung menutup mulutnya, dia benar-benar merasa bersalah pada Delia, padahal niat dia awalnya agar dia bisa dekat dengan Daniel, tapi dia tak tak menyangka jika hal ini akan terjadi. Namun dia tak berani berkata apa-apa.
Daniel tak menghiraukan Abian sama sekali, dia masih tersenyum manis pada Delia sebelum meninggalkan Delia dan Abian untuk masuk ke mobilnya.
"Kamu tak mau aku antar pulang Cecilia?, tenang, aku akan mengantar kamu sampai rumah dengan utuh," sengaja Daniel mengatakan itu agar Abian semakin geram padanya.
"Ba-baik Pak, maaf Capt, saya permisi, saya benar-benar minta maaf karena sudah tidak amanah." Cecilia sedikit membungkukkan tubuhnya tanda hormat. "Aku pulang ya Del, sorry," ujarnya sambil menggigit bibirnya takut.
Seperginya Daniel dan Cecilia, Abian segera berjalan menuju lift tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Delia, sedang Delia yang merasa bersalah, mengikuti langkah Abian dari belakang.
"Abian, aku minta maaf." Lirihnya, dengan menempelkan wajahnya dipunggung Abian yang lebar.
Abian membalikkan badanya, melepaskan pelukan Delia.
"Aku benar-benar kecewa sama kamu Delia, bisa-bisanya kamu membiarkan laki-laki lain masuk ke apartemen ini, ini milik pribadi kita, yang aku harap tak banyak orang yang tahu, demi menjaga privasi kamu. Dan aku meminta Cecilia kesini, agar kamu tidak larut dalam kesedihan."
"Maaf," hanya itu yang bisa keluar dari bibir Delia.
"Aku memeriksa cctv apartemen, kamu biarkan Daniel masuk tanpa ada aku, dan ini," Abian menunjukkan foto Daniel yang sedang menggenggam tangannya di ponselnya "Kamu kembali membiarkan Daniel menyentuh kamu, kamu itu milik aku Del, calon istri aku. Apa kamu benar-benar tak menghargai perasaan aku?"
Delia membelalakkan matanya, tak percaya, Attaya berani mengirimkan foto itu pada Abian.
"Kamu dapat dari mana foto itu Abian?" tanyanya memastikan, walau dia sudah tahu itu dari mana.
Abian lebih percaya pada Attaya dari pada dirinya, Delia menelan ludah kecewa.
"Kamu tak perlu tahu aku dapat dari mana, yang pasti aku sangat kecewa sama kamu." Abian menghembuskan nafas, membuang pandanganya pada Delia yang memelas, Abian menyugar rambutnya frustasi.
"Aku rasa kasus pelecehan yang terjadi kemarin juga karena kelalaian mu sendiri. Kamu bisa menolak saat aku mencium mu, menendang, bahkan menampar aku," Abian menunjuk pipinya "tapi kenapa pada orang lain tidak Delia?. Apa kamu membenci ku karena sifat ku dulu?, apa ... memang kamu semurahan ini?" Abian tak bisa mengontrol ucapannya, dia begitu emosi.
Degh.
Seketika Delia melemas mendengar ucapan Abian, sakit, hatinya tiba-tiba berdenyut bak ditikam pisau panas. Delia melipat bibirnya menahan sesak didada, agar air matanya tak tumpah, dia tahu dia salah. Tapi tak menyangka Abian akan mengucapkan itu padanya. Delia diam, tak akan membalas ucapan Abian yang begitu menyakitkan untuknya. Karena ... itu benar adanya.
"Bahkan tadi kamu membiarkan Daniel menyentuh mu, itu nyata didepan mata kepala ku sendiri. Pantas kamu selalu menolak jika aku ajak menikah, apa kamu masih ingin bebas berjalan dengan laki-laki lain?" tuding Abian.
Delia tetap diam, membiarkan Abian menumpahkan segala kekecewaannya.
"Aku bahkan tidak bisa mengendalikan diriku sendiri Delia, aku tak pernah tak bersikap seprofesional ini, aku hanya melakukan satu dua landing hari ini agar bisa cepat bertemu kamu, bisa menemani kamu, agar kamu tak sendirian, bisa meluangkanwaktuku untuk kamu. Tak pernah aku mengandalkan kekuasaan papa diperusahaan, sebisa mungkin aku bekerja layaknya pilot biasa, yang menurut untuk tidak pulang berhari-hari bahkan berminggu-minggu demi kerja yang baik. Meninggalkan keluarga tercinta."
"Dan aku tak mungkin menitipkan kamu pada mama, padahal bisa saja aku melakukan itu, tapi aku takut, Mama malah membuat kamu terdesak untuk menikah dengan ku. Aku ingin kamu menerima aku, karena memang kamu cinta, kamu butuh aku."
Delia tetap diam, dia memilih menunduk, terlintas ingatan, dulu Abian pernah menolak pemberian kopi buatanya, karena takut tertular sikap tidak profesionalnya dalam bekerja, dan kini Delia merasa, Abian telah tertular sikapnya, karena terlalu sering bergaul dengannya. Delia tersenyum miris.
"Kamu tahu Delia, aku menunggu kamu berjam-jam disini, sengaja aku tidak menghubungi kamu, ingin tahu sifat kamu jika tak ada aku," lagi, Abian tak sadar jika ucapannya membuat Delia sakit.
"Maaf," Delia tak bisa berkata apa-apa lagi, lidahnya keluh, untuk mengatakan jika setiap yang Abian katakan sangat menyakitinya. Dan mungkin benar yang Attaya katakan, jika Abian masih mencintai wanita itu, dan dia hanya dijadikan pelampiasan saja.
Delia berjalan menuju kamar, tanpa menoleh pada Abian. Dia mengunci pintu itu, tubuhnya merosot disebalik pintu, air matanya jatuh tak bisa terbendung lagi.
"Delia, buka," Abian mengetuk pintu dengan keras. "Jangan bersikap merasa tersakiti padahal kamu salah Delia, buka pintunya atau aku dobrak" teriak Abian dari luar.
Delia segera menghapus air matanya, dia menarik nafas sebelum membuka pintu. Menggantungkan kaosnya dileher, membiarkan penutup dadanya terlihat.
"Aku lagi dikamar mandi, aku gerah, mau langsung mandi," jawab Delia datar, dan itu membuat Abian terdiam sejenak.
Dia terpesona dengan tampilan Delia, lalu pandanganya terputus ketika Delia membanting pintu kamarnya.
BRAKKK
Suara pintu tertutup.
"Pulanglah Bi, aku mau istirahat."
Teriak Delia.