
Abian menyadari jika ini bukan mimpi, sebab sekujur tubuhnya langsung merespon saat Delia memeluknya. Keduanya merasakan nyaman yang sama, Abian melepaskan pelukan mereka, menjarakkan tubuhnya agar bisa melihat wajah wanita yang telah menyiksanya setahun belakangan ini.
Abian menangkup wajah Delia dengan kedua tangannya. Menatap dalam mata sendu yang selalu membuatnya rindu. Delia kembali tersenyum saat Abian terus menatapnya tak percaya.
"Ini benar kamu Delia?"
"Bu-"
Ucapan Delia terhenti saat Abian langsung membungkam mulutnya, Delia terbelalak, padahal dia sudah tahu Abian pasti akan melakukan ini saat mereka bertemu, namun, tetap saja dia terkejut. Delia memejamkan matanya saat bibir Abian terus menghi sap lembut bibirnya. Namun tak lama Abian menghentikan ciumanya.
"Iya, ini kamu. Ini asli kamu Delia, aku tidak bermimpi atau berhalusinasi, rasanya masih sama seperti dulu, tidak berubah," ucap Abian menatap netra coklat Delia.
Delia sudah membuka mulutnya untuk memprotes ucapan Abian, namun Abian kembali menautkan bibir mereka tanpa aba-aba, memutus apa yang akan Delia ucapkan, lembut, sangat lembut Abian melakukannya, walau diselimuti rasa rindu, namun Abian ingin pertemuan mereka tetap akan menyisakan rasa manis, dan membuatnya terkesan. Delia ikut memejam dan membalas tautan bibir itu, mereka saling melepaskan rindu yang selama ini terpendam, melupakan kini mereka berada dimana, tangan Delia yang tadi berada di dada Abian, kini berubah mencengkram bagian depan tuxedo yang dikenakan laki-laki yang malam ini terlihat begitu gagah dan tampan itu.
Tangan Abian pun perlahan berpindah memasuki sela rambut bagian belakang Delia, dan menekan tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciumanya, hening, ditaman gedung yang sudah mulai sepi itu hanya terdengar suara ceca pan dari bibir keduanya. Lama mereka melakukannya, hingga Delia melepaskan tautan itu untuk meraup udara sebanyak mungkin dengan nafas yang terengah.
Namun Abian tak membiarkan Delia beristirahat terlalu lama, ia kembali menarik tubuh ramping Delia untuk menempel padanya, hingga tak ada cela sedikitpun untuk setan atau sejenisnya menyelinap, murni, yang Abian lakukan murni karena rasa sayangnya, bukan karena dorongan atau hasutan setan yang hanya penuh nafsu, walau .... tak ada bedanya sebenarnya. Dan kembali menabrakan bibirnya pada bibir Delia, memasukkan lidahnya kedalam mulut Delia untuk mengeksplor rongga mulut wanita yang telah membuatnya hampir gila ini.
Delia seolah terhipnotis dengan perlakuan manis Abian, dia menekan dadanya pada dada Abian hingga gundukan dadanya terlihat dan membusung, Delia kini telah berani, lama tak bertemu membuat Delia ingin Abian menyentuhnya lebih dalam.
Abian bukan tak merasakan itu, namun dia menahanya, sebab telah mendapat ancaman dari papanya, jika dia tak bisa menahan diri sampai waktu dia telah diperbolehkan, maka papanya kembali akan memisahkan mereka.
Bisa saja Abian menyelipkan tangannya masuk kedalam belahan dada Delia, karena Delia hanya mengenakan mini dress diatas lutut, bermodel kemben tanpa lengan itu, namun pikirannya masih cukup waras untuk melakukan itu diruang terbuka.
Abian melepaskan ciumanya, nafas keduanya terengah, dengan kening yang saling menempel. Diusapnya pipi Delia lembut, tangannya dibawah sana mengambil tangan Delia.
"Aku pasangin lagi ya, jangan dilepas sampai aku menggantinya ditempat dan cara yang layak."
Delia menunduk, melihat Abian menyempatkan cincin yang pernah diberikan padanya.
Dari kejauhan, disebalik pohon Daniel membuang muka melihat pemandangan yang begitu menyayat hatinya, padahal dia yang berniat awal menemui Delia, nyatanya dia terlambat, perlahan bulir bening terjun begitu saja dari sudut matanya. Padahal dia juga memiliki rasa yang tulus pada Delia, namun sepertinya dia tak diberi kesempatan sedikitpun untuk dekat pada wanita itu.
Walau tak ada yang tahu, jika Daniel telah memenjarakan Attaya tanpa sepengetahuan siapapun, demi rasa sayangnya pada Delia, Daniel kesal sebab Attaya tidak bertanggung jawab pada ayah Delia, dibalas Daniel dengan cara yang halus, dengan mencari kecacatan wanita itu, yang ternyata Attaya juga mengkonsumsi barang terlarang.
Namun pandangan Daniel seketika terhalang telapak tangan seseorang.
"Pak Daniel ikut aku yuk," ajak wanita itu dengan senyum cerianya.
* * *
"Kenapa pake baju ini?" tatap Abian Delia dari atas kebawah, lalu dia melepaskan jasnya untuk menutupi pundak Delia yang terekspos, hingga memperlihatkan tulang selangkanya, menarik perhatian Abian sejak tadi. "Jauh dari aku buat kamu miskin, jadi cuma mampu beli baju kurang bahan begini?" Abian menatap mata Delia dalam, membuat Delia mengulum senyum karena gemas.
"Pakai baju kayak gini kalau dikamar sama aku, tunjukkan badan bagus kamu hanya dihadapan ku," ucapnya sambil mengaitkan seluruh kancing jas itu hingga menutup tubuh Delia.
"Ini aku baru beli tahu, khusus buat ketemu kamu malam ini," jawab Delia mengerucutkan bibirnya.
"Kita pulang sekarang, aku nggak mau kamu tampil seksi seperti ini dilihat banyak orang."
"Udah malam, tamunya juga udah pada pulang, aku mau ketemu Voni dulu." Rajuk Delia.
"Dasar posesif," cebik Delia "Rendy juga sekarang udah milik Voni sepenuhnya," ujar Delia semakin memajukan bibirnya.
"DELIAAA" teriak Cecilia dan Voni bersamaan, mereka berlari kecil menghampiri Delia, hingga menubruk tubuh Abian, membuat Abian hampir oleng dan jatuh, beruntung dia bisa menyeimbangi beban tubuhnya.
"Aaaaaaa kangeeenn ,kamu makin cantik." mereka berpelukan dan menautkan kedua pipinya bergantian.
"Sama aku juga," Delia menatap Voni "Kenapa keluar?, yuk masuk, ibu hamil nggak boleh diluar malam-malam." Ketiganya masuk bersamaan, melupakan keberadaan Abian.
"Langsung tancap gas Capt, pasti tokcer dah, anu Captain pasti kental udah lama nggak disalurkan." Goda Rendy terkikik geli, jiwa setanya menghasuti, namun pelototan tajam Abian membuat bibir Rendy bungkam.
"Jadi kamu udah lama pulang? ih curang, kenapa nggak ngabarin kita?" ujar Cecilia, kini mereka mengobrol bersama di satu meja bulat.
"Aku cuma mau quality time sama keluarga, sebelum nanti beraktifitas lagi."
"Tuh Capt, berarti Captain nomor sekian, yang utama dihati Delia, itu keluarganya." bisik Rendy yang duduk bersebelahan dengan Abian, mencoba memanasi.
Abian bergeming, tak menghiraukan ucapan Rendy, pandanganya tak luput dari Delia, lama tak bertemu, membuat Abian tak ingin mepelas pandanganya sedetikpun. Jika hal itu terjadi, seolah jika dia berkedip, maka Delia akan hilang.
"Kamu sendiri?, gimana ceritanya sama Captain Rendy sampai seperti ini?" Kini pertanyaan Delia membuat semua pandangan terfokus pada Rendy dan Voni.
Voni dan Rendy saling pandang, mereka berbicara lewat pandangan, siapa yang akan menceritakanya.
"Oke, karena aku yang berbuat, maka aku yang akan menceritakanya." ucap Rendy sambil menegakkan duduknya.
"Jadi gini, waktu aku datang kerumah Voni, dan meminta Voni baik-baik, aku langsung ditolak mentah-mentah sama bapak, (laki-laki yang kini jadi mertuanya). Ternyata Voni sudah dijodohkan dengan laki-laki anak pak RT disana, karena kata bapak, nanti kalau Voni nikah sama dia, Voni nggak harus dibawa jauh-jauh. Tentu saja aku nggak menyerah begitu saja, setelah semua usaha yang aku lakukan, tapi tetap tidak disetujui, dan ibu dari anak-anak little Voni ku, juga nggak suka sama laki-laki itu, makanya kita ambil jalan tengah, terpaksa aku harus menyusuri lembah berbukit, serta semak belukar yang menyesatkan, sampai aku lupa arah pulang." Rendy menarik kepala Voni untuk bersandar di bahunya "Jadilah, kecamba little Voni ku meluluhkan hati Bapak." Rendy membusungkan dadanya ponga, sebagai penutup ceritanya. Sedang Voni menunduk malu.
Prok ...
Prok ...
Prok ...
Delia dan Cecilia bertepuk tangan, kagum dengan usaha Rendy, sambil menggeleng.
"Daebak Captain Rendy," lalu Cecilia mengacungkan dua jempolnya keatas.
"Terus kamu sekarang masih tugas Von?" tanya Delia lagi, dia tersentak saat tiba-tiba Abian mengambil tangannya, dan mengusap lembut dibawah meja, Delia kembali mengulum senyum, yang Abian lakukan, seakan mereka menjalin hubungan diam-diam.
"Masih, kandungan ku normal dan tidak beresiko, dan sudah mendapat surat fly to fly dari dokter aku, iyakan yank?" tanyanya pada Rendy, dan mendapat anggukan dari Rendy, "tapi sebelum delapan bulan, aku ambil cuti, biar nggak beresiko melahirkan diatas pesawat."
Setelah satu jam lebih mereka mengobrol, saling bertukar cerita, dan melepaskan kerinduan satu sama lain, akhirnya mereka berpisah pulang kerumah masing-masing.
"Kamu juga siap-siap ya, tidak lama lagi kita akan menyusul Rendy dan Voni, secepatnya Delia, kamu nggak boleh nolak aku lagi, satu tahun lebih aku nunggu kamu," ucap Abian saat mereka didalam mobil menuju rumahnya,.
Sebenarnya Abian ingin membawa Delia pulang ke rumah yang telah Abian siapkan untuk mereka nanti, namun ancaman papanya membuat Abian mengurungkan itu, dari pada harus kehilangan Delia lagi, lebih baik dia menahan keinginannya.
"Iya, aku mau." Jawab Delia cepat.