
Yang menunggu kepulangan Delia sabar ya, sedikit berproses soalnya, hehehe
Jangan lupa like komenya selalu ya, dan yang punya tiket vote nya, boleh disumbangkan buat mereka 🤭😂😂😍🥰
Sudah dua bulan sejak kepergian Delia, Abian semakin terlihat kacau, ia hanya terbang saat dia mau, lebih sering mengurung diri dikamarnya, atau datang ke clothing linenya, jarang ia ikut bergabung jika sedang ada kakak-kakaknya yang datang. Pencariannya mencari keberadaan Delia tak membuahkan hasil, tapi Abian tak patah semangat, dia masih berusaha mencari Delia, bahkan Abian sering mendatangi kediaman mama Delia, hanya sekedar mengecek keberadaan Delia, namun tetap sama, keluarga Delia bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda jika mereka mengetahui kepergian anak dan kakak mereka.
Dalam waktu dua bulan ini, satu bulan terakhir Delia tetap mengirim uang, walau hanya setengah dari bulan-bulan biasanya, tentu saja info itu Abian dapatkan dari adik Delia, Dania.
Berarti Delia sudah bekerja, tapi dimana dan apa?, Abian tak tahu, dia akan mencari lagi keberadaan Delia.
"Mama makin prihatin sama keadaan Abian, dia sekarang terlihat kurus, seperti nggak keurus, ya ampun. Mama harus apa sekarang?" rintih Amanda pada Arumi dan Arini. Dia meletakkan lagi nampan berisi makanan yang dia bawa dari kamar Abian, makanan itu hanya berkurang sedikit.
"Delia belum ada kabar juga Ma?" tanya Arumi. Amanda menggeleng. "Kasihan, bisa makin beku nanti lem Abian kalau nggak disalurkan, apalagi ini udah berapa bulan, pasti makin mengeras."
"Lem apa Ma yang keras?" Tanya Arsyi yang datang tiba-tiba dari taman belakang.
"Eh bukan apa-apa sayang," Arumi membelai kepala anaknya "Almira mana? ajak Almira yuk ke kamar Om Bian. Kalian pasti kangen kan sama Om Bian?"
"Almira lagi liat ikan sama Granfa, Arsyi nggak suka. Bosen. Yuk Ma kita liat Om Bian, nggak usah ajak Almira."
"Hus nggak boleh gitu, sana panggil Almira, bilang kita mau liat Om Bian."
Dengan mulut yang dimonyongkan Arsyi menurut, dia berjalan menuju taman belakang, untuk memanggil sepupunya. Tak lama balita berusia enam tahun itu datang menggandeng sepupunya sambil berlari, bukannya menghampiri sang mama, tapi kedua bocah itu langsung berlari menaiki tangga menuju kamar Abian.
"Om Biiaaannn."
"Om Biiaaann."
TOK TOK TOK
"Om Biaaannn, buka donk, ayo berenang, kota udah lama nggak berenang."
Didalam Abian yang mendengar teriakan-teriakan keponakanya mencoba menutup telinganya menggunakan bantal, dua benar-benar sedang tak bersemangat untuk menjahili keponakanya itu, namun sekuat apa Abian mengabaikan mereka, tetap usaha mereka lebih gigih dari padanya. Semangat anak kecil lebih besar dibandingkan orang dewasa, apalagi jika mereka sudah ada maunya.
Mau tak mau Abian membuka bantal yang menutupi telinganya, dia beranjak, dan membuka pintu kamarnya.
"Yeayyyy Om Bian bangunnnn." Mereka bukannya memeluk pamanya, tapi mereka malah berlari menuju kasur Abian, dan melompat dengan senangnya. Abian menggaruk kepalanya frustasi.
"Eh jangan loncat-loncat, nanti tempat tidur Om jebol."
"Makanya ayo kita berenang, udah lama kita nggak main sama Om Bian." Rengek Arsyi dan Almira khas anak kecil.
"Om ngantuk, ajak emak bapak kalian."
"Nggak mau, udah sering, papa nggak jago berenang kayak om Bian," ucap Arsyi masih sambil loncat-loncat bersama Almira, bahkan mereka berhadapan sambil berpegang tangan tertawa diatas penderitaan Abian.
"Hah, papa kamu jago berenang diatas mama aja."
"Bian," tegur Arini yang datang membawa nampan berisi segelas susu dan seporsi roti. "Sarapan dulu, jangan jadi anak durhaka dengan biarin mama sedih karena kegalauan kamu." Arini meletakkan nampan itu dinakas.
"Kakak bisa bilang gitu karena nggak pernah ngerasain yang Bian rasain." Tak ayal Abian meminum susu yang dibawa Arini, dan menggigit roti.
"Mau Om," tanpa menunggu izin, Almira langsung menggigit roti yang ada ditangan Abian.
"Lahir duluan kita, kamu kira kita brojol langsung tua dan menikah terus punya anak?, hem, jangan sok paling ngerasain masa muda paling sempurna, tapi emang kita nggak ngerasain ditinggal kayak kamu, yang kamu rasain sekarang, pasti kena karma, kayaknya dulu kamu nggak suka Delia, makanya dapat hukuman." Tebak Arumi asal.
Abian tak menyahut, dia tetap diam, dalam hatinya membenarkan ucapan Arumi. Akhirnya hari ini Abian habiskan dengan menemani para keponakanya bermain, dan berenang.
* * *
Walau hubungannya dengan Delia terselubung dengan pertemanan, dan bukan hubungan sebagai sepasang kekasih, namun perasaan Daniel pada Delia begitu tulus. Delia telah menguasai seluruh isi hatinya.
Attaya yang sedang ditempat yang sama dengan Daniel, menghampiri Daniel yang sudah begitu mabuk.
"Hai Daniel, kamu terlihat sangat kacau. Ada apa?, apa ada yang aku bantu Dan?" Attaya mengusap rambut Daniel yang sedang menelungkupkan wajahnya dimeja bar.
Daniel menyingkirkan tangan Attaya kasar. "Jangan ganggu aku, jangan sentuh-sentuh aku, yang boleh menyentuh ku hanya Delia," racaunya tanpa mengangkat kepalanya.
"Delia-Delia-Delia. Semua Delia, apa-apa Delia, apa kelebihan gadis itu, dia hanya pramugari biasa, paling juga dia kabur sama simpananya, atau atasanya. Kalian semua laki-laki bodoh dan naive, terlalu percaya sama wanita yang sok polos," ucap Attaya, tapi tangannya memasukkan serbuk kedalam gelas minuman Daniel. Tanpa sepengetahuan Daniel, karena laki-laki itu sudah mabuk berat.
"Sorry girl, buang minuman itu kalau masih mau hidup, bar ini memiliki cctv, Daniel pelanggan eksklusif disini, keamanan dia tanggung jawab kami. Kalau Daniel sampai tau yang kamu lakuin, bisa habis riwayat kamu." Tegur penjaga Bar, teman Daniel, saat dia tahu yang Attaya lakukan.
"Siapa lo?, jangan ikut campur, lo disini cuma penjaga bar, kerja aja yang bener, nggak usah ikut campur dengan urusan orang." Attaya menyimpan sisa serbuk kedalam dadanya.
"Kurang jelas yang aku bilang?," penjaga bar itu menaikkan satu alisnya "Daniel pelanggan eksklusif, dia jadi tanggung jawab kami, kalau mau karir lo lancar, mending pergi, jangan ganggu Daniel, dan bawa minuman itu dari sini."
"Dasar penjaga bar rese, dia sudah biasa kan tidur sama cewek?, aku nggak bakal ngapa-ngapain dia, cuma mau antar dia pulang." Attaya coba membawa Daniel pergi, dan membantunya berdiri.
"Aku sudah peringatkan, jangan sentuh Daniel. Apalagi membawanya pergi dari dari sini, jangan keras kepala, Daniel tanggung jawab kami." Laki-laki itu keluar dari tempatnya, dia memutar meja, mencegah Attaya yang ingin membawa Daniel.
"Kami saling kenal, kemarin dia nganterin aku ke apartemen, jadi sekarang aku mau membalas kebaikan dia, lo," tunjuk Attaya, "jangan ikut campur."
"Ada apa ini?" tanya manager bar.
"Wanita ini mau membawa Daniel, tapi Daniel tadi sudah berpesan untuk menjaganya."
"Sudah dengar kan nona?, jika pelanggan sudah mempercayakan dia pada kami, berarti sekarang dia tanggung jawab kami, jika anda masih bersikukuh mau membawanya, jangan salahkan kami, jika kami memakai cara kekerasan." Jelas manajer bar tegas, dia memang sudah mengenal Daniel, jadi dia juga tahu apa yang dia lakukan.
Attaya berdecak kesal, dia melepaskan lengan Daniel yang tadi sudah dipegangnya, dan pergi meninggalkan Daniel dan kedua laki-laki pegawai bar itu.
"Dasar bar kampungan, nggak ngerti usaha orang, ini bar apa warung kopi sih, susah banget mau ngelakuin cara kotor." Dengus Attaya kesal, padahal dia sudah bertekad berpindah hati dari Abian, setelah mengetahui siapa Daniel sebenarnya, dan dia cukup terkesan saat Daniel membawanya pergi malam ini, tanpa menyentuhnya.
* * *
Singapore.
Delia baru saja mendarat di bandara Changi, dia berjalan menuju parkiran yang akan mengantarkanya menuju apartemen tempat tinggalnya sementara.
Delia membuka gawainya, dia menitikkan air mata saat melihat foto Abian yang sedang bermain bersama keponakanya. Delia mengusap wajah Abian sudah bisa tertawa lagi.
"Maaf Bi, maafkan aku. Semoga kita bisa bertemu ditakdir yang sama. Tunggu aku Bi, hanya sebentar, jaga hati kamu buat aku, karena aku juga menjaga hati ku buat kamu."
.
.
.
.
Just info, kalau ada yang mau melamar jadi pramugari di Singapore, pendidikanya minimal diploma atau sarjana, Garuda diutamakan D3. Kalau ada yang mau melamar, kantor Singapore Airlines ada yang dijakarta. Open reqriutment pada bulan-bulan tertentu, Januari, Maret, Juli. Kalau nggak lulus diumumkan hari itu juga, tapi untuk final interview dipanggil di bulan Agustus secara serempak, dan kalau lolos menunggu beberapa bulan. Bisa 3-6 bulan, biasanya diumumin di bulan November, dan dikasih tiket ke Singapore.
Semoga bermanfaat, cros check kalau ada yang salah, othor hanya manusia biasa.