
Sudah puluhan kali Abian menghubungi nomor Delia, namun sayang, nomor itu sudah tak aktif lagi.
Abian tidak bisa tinggal diam, dia tak mau Delia pergi. Tidak boleh, Delia tak boleh pergi darinya, Delia hanya miliknya seorang, tak boleh ada yang memiliki Delia, selain dia, termasuk itu Daniel.
Abian melajukan motornya dengan kecepatan tinggi menuju bandara, dia meminta security check mencegah kepergian Delia, jika Delia belum check-in, lalu dia meminta API sistem (Advance passanger information) mencari informasi, kemana tujuan Delia pergi, kapan dan dengan siapa.
Lalu tujuan Abian selanjutnya adalah Daniel, laki-laki itu menjadi tersangka utama perginya.
Bruakkkk
Abian menendang pintu ruangan Daniel, dia tak perduli, sedang apa laki-laki itu , sebab diruangan Daniel saat itu sedang ada dua orang, satu perempuan dan satu laki-laki nampak sedang berdiskusi dengannya.
"Abian!!." Daniel berdiri dari keterkejutanya "Kalian boleh pergi, kita sambung lagi nanti." Kedua orang tadi mengangguk dan meninggalkan Daniel dan Abian.
"Ada apalagi ini?" tanya Daniel yang memang tak tahu permasalahannya.
BUGGHHH
Satu pukulan mendarat dirahang Daniel.
"Bajingannn dimana kamu sembunyiin Delia?" Abian menarik kerah kemeja Daniel.
"Apaan sih?, Delia apa, kemana dia?" tanya Daniel bingung yang memang tak tahu apa-apa.
Bugghhh
Lagi Abian memukul Daniel tanpa menunggu penjelasan dari laki-laki yang seumuran dengannya itu.
"Jangan pura-pura nggak tahu, kamu pikir aku nggak tahu, jika selama ini kamu diam-diam juga mengatur jadwalnya, agar tak lagi bisa terbang denganku, dan kamu bisa ambil kesempatan buat dekati dia, antar jemput dia, dasar licik."
BUGGHHH
Kini ganti Daniel yang memukul Abian "Brengsekk, aku memang nggak tahu apa-apa kampret."
Saling serang dan pukul itu terus terjadi hingga keduanya sama-sama terluka di bagian bibir, dan lebam di kedua pipi masing-masing, sampai ayah Daniel masuk bersama seorang security melerai keduanya.
"Apa yang kalian berdua lakukan?, berantem kayak anak SMA, memalukan," marah ayah Daniel "Cepat keluar, bereskan urusan kalian diluar, jangan buat kekacauan di kantor. Untung hari ini tak ada kunjungan dari DISHUB, kalau sampai mereka melihat hal konyol ini, perusahaan kita bisa kena saksi." Tatapnya tajam pada kedua laki-laki yang bersitegang ini satu persatu.
Abian dan Daniel saling lirik, Daniel yang merasa Abian harus menjelaskan duduk permasalahannya, mengajaknya keluar, tapi mereka sempat ke klinik bandara terlebih dahulu, untuk mengobati luka mereka.
"Kenapa lo tiba-tiba nyerang nggak jelas?, apa masalahnya?" Daniel meringis sebab luka di sudut bibirnya ikut tertarik saat berbicara.
"Delia pergi, pasti kamu tahu kemana dia?, pasti kamu sembunyiin Delia."
"Pergi?, kemana?, jangan bohong Abian."
"Jangan pura-pura tak tahu Dan, semua pasti ada campur tangan mu, selama ini kamu ikut campur urusan jadwal Delia, juga, dasar nggak fair." Abian melempar kapas bekas membersihkan lukanya di tempat sampah. "Kalau mau bersaing, bersainglah yang sehat."
Daniel diam, untuk ini dia mengaku salah. "Sorry, untuk itu memang aku akui, aku salah, tapi jika katamu Delia pergi, aku benar-benar tak tahu." Aku Daniel jujur.
"Terus kemana dia?"
"Mungkinkah waktu itu ada katamu-katamu yang menyakiti dia?, kamu memarahinya karena dia keluar bersama ku mengatakan hal-hal yang menyakitinya?"
Kini giliran Abian yang terdiam, dia berpikir, mungkin memang ada kata-katanya yang menyakiti Delia.
"Aku harus pergi sekarang." Abian turun dari brankar klinik, menyambar kunci motornya.
"Mau kemana? aku ikut jika cari Delia." Daniel ikut turun dan mengikuti langkah Abian.
"Kamu bosan hidup Dan?, cari perempuan lain, banyak dibawah Delia." Tetap Delia wanita terbaik versinya, enggan menyanjung wanita lain.
"Terserah apa katamu, aku tetap ikut."
"Tidak usah Dan, kamu cari ke bandara-bandara, kamu pasti banyak koneksi. Cari kemana Delia pergi, cegah dia kalau hendak keluar negeri ataupun ke luar kota."
"Aku bisa meminta bantuan temanku lewat telepon."
Abian mengehela nafas "Oke, aku nggak bawa mobil, kamu yang nyetir, satu jam harus sampai Subang. Bagaimana sanggup."
Dan benar saja, Daniel membuktikan pada Abian jika dia bisa membawa mobil satu jam ke Subang, bisa dibayangkan?. Dari bandara Soeta ke Subang ditempuh dalam satu jam, jangan ditiru, ini hanya dicerita novel, jika kita mau mencobanya, berarti siap-siap, jika tidak berakhir dirumah sakit, kita bisa berakhir dikuburan.
Kini mereka telah sampai dirumah Mama Delia.
"Assalamualaikum." Abian mengetuk pintu rumah Delia.
"Waalaikumsalam," ujar suara lembut itu menjawab salam Abian, Denisa keluar dari dapur.
"Kak Abian," Dania muncul dari belakang Denisa. "Kok nggak sama kak Delia, kak Delia nggak libur ya?, sayang banget, padahal mau nunjukin baju yang dibeliin kak Delia dari Belanda cocok banget sama Dania." cerocos Dania.
"Dania." Tegur Denisa pada adiknya yang kurang sopan menyambut tamu. "Biar Kak Abian duduk dulu, kamu panggilin mama di bangsal, bilang ada Kak Bian."
Abian dan Daniel yang mendengar ucapan Dania menyimpulkan bahwa, keluarganya bahkan tak tahu Delia kemana, dan Delia tidak pulang kesini.
Setelah dua jam berada dirumah orang tua Delia, dan mengobrol dengan Mama Delia, Abian kembali lagi ke Jakarta, Abian tak mengatakan apa-apa pada mama Delia, dia mengatakan datang kesini hanya kebetulan lewat, dia tak mau mama Delia khawatir, jika tau Delia pergi.
"Delia tak ada keluar atau pergi ke luar negeri Abian, tak ada juga riwayat Delia keluar kota, teman-teman ku juga sudah mengecek stasiun, terminal dan pelabuhan, mereka tak menemukan identitas penumpang atas nama Delia Anggraini."
Abian menyugar rambutnya, kemana lagi dia harus mencari Delia, Abian tak sanggup jika harus berjauhan dengan Delia, bagaimana dia menghadapi hari-harinya, jika tak ada Delia.
"Delia, maafkan aku, aku tak bisa hidup tanpa kamu, jangan pergi Delia, jangan pergi." Monolog Abian dalam hatinya.
Seperti tak ada lelahnya, Abian dan Daniel langsung menuju apartemen Cecilia, disana juga Cecilia tak ada, sebab gadis itu ada penerbangan kelima kota, dan tidak pulang.
Kini tujuan terakhir Abian, apartemen Voni. Abian sangat berharap, jika Delia ada disana.
"Ngapain Captain malam-malam kesini?" Pertanyaan menyebalkan itu keluar dari mulut Rendy, yang malam itu ada di apartemenya Voni. "Huh udah akur sama saingan ceritanya," ucapnya lagi, saat melihat Daniel ikut serta bersama Abian.
Dia bahkan tak mempersilahkan seniornya untuk masuk terlebih dahulu, malah menahanya diambang pintu.
"Voni ada?" tanya Abian to the point, tak ingin menanggapi ucapan Rendy.
"Ada perlu apa nanyain Voni?" Rendy masih tidak bisa membaca raut Abian yang mulai kesal padanya.
"Ren, kali ini aku serius, apa Voni ada?, aku mau bicara dengannya."
"Lima menit, bagaimana deal?"
"Ren Delia hilang, apa Delia ada disini?" Kini Daniel yang berbicara dan langsung mengatakan tujuan mereka.
"Hah!! yang bener? kok bisa?, siapa yang nyulik? wah minta dikasih pelajaran."
"Yank, siapa?" Voni keluar dengan handuk menggulung rambutnya. "Captain Abian, Pak Daniel!" Voni membelalakkan matanya terkejut "ayo silahkan masuk dulu, yank kenapa Captain Abian nggak disuruh masuk dulu sih?" omel Voni pada Rendy yang kini sudah berganti status menjadi kekasihnya.
Abian menyipitkan matanya mendengar panggilan Voni, "Hem, ternyata sudah jadian." Abian mendorong bahu Rendy, dia dan Daniel menerobos masuk.
"Apa kamu tahu kabar Delia kemana Von?" tanya Abian pada Voni yang meletakkan minuman kaleng dimeja.
"Terakhir saya bertemu Delia, saat Delia akan terbang ke Amsterdam bersama mba Dewi, setelah itu kami tak ada bertukar kabar lagi Capt," Voni duduk disebelah Rendy, berseberangan dengan Abian dan Daniel.
Rendy menyombongkan statusnya kini pada Abian, dia merangkul pundak Voni untuk menyandar di pundaknya "Apa sih yank, malu ih," tepis Voni tangan Rendy.
"Kira-kira kamu tau, siapa saja yang dekat dengan Delia?" Voni menggeleng.
"Voni membatasi pergaulanya, hanya aku dan Cecilia saja yang dekat dengannya. Kira-kira kemana ya Capt, Delia? aku jadi khawatir."
"Bagaimana kalau kita tanyakan saja pada orang pintar?" usul Rendy "Aku punya kenalan orang pintar disini." Dia melihat Abian, Daniel dan Voni satu-satu.
"Siapa?" tanya Daniel.
"Sini-sini." Rendy meminta ketiga orang itu mendekat kearahnya. Dan ketiganya mendekat, kepala mereka bertemu di tengah meja.
"Dia dukun hebat, pertpaanya sudah bertahun-tahun, dia bisa menemukan orang hanya lewat kuku jarinya."
Sontak Abian, Daniel dan Voni menoyor kepala Rendy.