Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Pertengkaran Dua Saudara



Plaaaakkk


Pipi Denisa memerah meninggalkan bekas telapak tangan Delia disana, wajah gadis itupun sampai harus menoleh akibat tamparan yang terlalu kuat itu. Mama dan Dania sampai terkejut, karena tak menyangka Delia akan melakukan itu. Karena Delia begitu marah dengan apa yang telah dilakukan adiknya itu, menurut Delia itu begitu memalukan, dan Denisa tidak memikirkan akibatnya.


"Tampar Kak, tampar aku yang kuat," Denisa yang tadinya duduk bersama mama berdiri dengan wajah bersimbah air mata, "aku memang salah, Kakak nggak tahu, aku ngelakuin itu semua karena Kakak," ucapnya seraya menunjuk dadanya, "Kakak sudah membuat kak Daniel hancur, aku cuma kasihan sama kak Daniel yang udah banyak berkorban untuk keluarga kita, dia yang sudah memenjarakan wanita yang menabrak ayah demi keluarga kita, walau dia nggak mau kakak tahu. Kak Daniel juga yang bantu kekurangan uang sekolah aku, karena Kakak cuma kirim separuh dari uang biasanya waktu Kakak kabur ke Singapore, emang waktu Kakak kabur ada yang marah sama Kakak? Kakak juga bohongkan? Tapi nggak ada yang marah, nggak pernah ada yang marah sama Kakak. Aku cuma meringankan beban kak Daniel, berterima kasih dengan semua yang dia berikan." Denisa meluapkan semua isi hatinya.


Mama, Delia dan Dania dibuat terkejut dengan pengakuan Denisa, sampai Delia harus mengeluarkan kata-kata kasar pada adiknya.


"Berterima kasih dengan jual diri, IYA?" Teriak Delia, karena kesal dengan alasan Denisa.


Plakkkk


Kini tangan Denisa yang mendarat di pipi Delia, menjalarkan rasa panas dipipi Delia, seperti apa yang dirasakan Denisa tadi. Delia geleng kepala, ini tak seperti Denisa yang dia kenal, atau memang ini sifat asli adiknya yang baru dia ketahui.


Baik Delia dan Denisa sama-sama bicara dengan suara tinggi, seperti tidak menjaga perasaan mama yang ada disana.


"Aku nggak jual diri Kak, jaga bicara Kakak. Aku juga punya hati yang bisa merasakan sakit."


"Sakit kamu bilang? Punya hati? Terus! Kamu pikir dengan apa yang kamu lakuin itu benar, meringankan beban Daniel, IYA?" delia geleng kepala "yang ada kamu dianggap murahan dan beban untuk dia, dan yang kamu lakuin justru membuat banyak masalah, membuat malu keluarga kita, kamu mikir nggak sih? Apa yang kamu lakuin itu membuat Mama sama ayah terluka?"


"Iya, aku tahu Kak, Kakak pasti banggakan begitu digilai banyak laki-laki kaya, aku juga bisa mempertanggung jawabkan apa yang aku perbuat, jika saja kak Daniel nggak maksa buat nikah, aku bisa menutupi semua ini tanpa kalian tahu dan harus menanggung malu."


Mendengar setiap kata yang diucapkan Denisa membuat dada mama semakin sesak, kenapa anaknya bisa seperti ini?


"Kamu sadar nggak sih Denisa sama yang kamu ucapin? Terus kalau kamu hamil kamu bakal gugurin bayi kamu gitu? Apa setelah itu kamu nggak bakal ketahuan? Kamu sekarat setelah kuret, apa itu tidak membuat masalah lebih besar? Yang sudah pasti butuh biaya besar juga, mikir sampai situ nggak? Kamu pikir hidup semudah dan semanis kisah novel, dapat suami tampan, mapan, hidup bahagia? Astaga Denisa, ini sifat kamu yang asli atau apa sih?" Delia memijit keningnya, dia mulai pusing dengan cara pikir Denisa, rasa-rasanya dia ingin membunuh adiknya.


"Sudah berdebatnya?" Ujar mama setelah sejak tadi hanya diam mendengarkan pertengkaran kedua anaknya, suara lirih mama membuat Delia dan Denisa melihat pada mama yang kini sudah sesenggukan, keduanya saling pandang dengan rasa bersalah.


"Mama mengumpulkan kalian bukan buat berdebat, bukan buat saling menyakiti, tapi buat mencari solusi terbaik, kita berunding sama-sama," ucap mama masih terus menangis "Denisa, apa permintaan maaf dan penyesalan kamu ke Mama tadi cuma permintaan maaf dimulut? Cepat sekali kamu berubah, lupa sama yang kamu ucapkan tadi?Mendengar setiap yang kamu katakan rasanya Mama sangat sakit, mama sudah gagal menjadi ibu Denisa, sebagai orang tua Mama gagal mendidik kamu," isak mama terluka, "dan kamu Delia, sejak kapan kamu kasar seperti ini? Kamu harusnya bisa lebih bijaksana, kamu anak tertua yang harus bisa jadi perisai untuk kedua adik kamu, suatu saat kamu juga jadi ibu nak, apa jika nanti anak kamu melakukan kesalahan kamu akan memukulnya? Kasar sekali kata-kata kamu."


Delia menggelang, dia dan Denisa merendahkan tubuh mereka, keduanya bersimpuh dikaki mama yang masih duduk ditepi ranjang bersama Dania yang sejak tadi setia duduk disamping mama, mengusap pundak mama menenangkan, dia sibungsu yang memiliki sifat si paling-paling harus berada dipihak netral. Mama menengadah, mentralkan perasaannya setelah melihat kedua anaknya bersitegang, yang sama-sama merasa benar dengan pendapat masing-masing.


"Melihat kejadian ini, Mama jadi takut meninggalkan kalian nak, Mama takut, Mama takut jika Mama sudah tidak ada kalian tidak bisa akur sesama saudara, kalian hanya bertiga, mama harap kalian bisa saling jaga," ucap mama dengan bibir bergetar seraya memegangi dadanya, membuat ketiga anaknya ikut merasakan sakit yang mama rasakan.


"Maafkan kami Ma, maaf karena sifat kami melukai hati mama." Delia berdiri memeluk tubuh mamanya. Baru kali ini Delia melihat mamanya menangis pilu, semua karena sikapnya yang terlalu keras terhadap Denisa, seharusnya dia bisa menjadi kakak yang bijak, membimbing adik-adiknya, mendengar suara pilu mamanya membuat Delia takut, dia takut kehilangan mama untuk selamanya. Hal itu juga ternyata dirasakan oleh Denisa dan Dania.


"Denisa juga minta maaf Ma." Denisa ikut memeluk mama, diikuti oleh Dania yang juga ikut memeluk dan meminta maaf pada mama. Lama mereka saling memeluk, sampai akhirnya mama melepaskan itu, ketiga anaknya harus saling meminta maaf, dan harus segera mengambil keputusan untuk pernikahan Denisa.


"Jadi bagaimana Denisa? Apa kamu mencintai Daniel?" Tanya Delia, dan Denisa mengangguk.


"Tapi kak Daniel tidak mencintai Denisa Kak, Denisa sadar kak Daniel begitu mencintai Kakak, aku pikir dengan apa yang aku lakukan waktu itu bisa merebut hati kak Daniel, ternyata salah, yang Denisa lakuin justru membuat kak Daniel marah dan benci sama Denisa. Dan kak Daniel menikahi Denisa hanya bentuk rasa tanggung jawabnya," Denisa menarik nafas, "enam bulan, kak Daniel minta waktu enam bulan, selama itu dia akan berusaha menerima Denisa, semua juga agar masa depan Denisa tidak hancur, dan Denisa_" Denisa terdiam sejenak, "bisa memperjelas status Denisa nantinya."


"Daniel benar Denisa, beruntung laki-laki itu Daniel, jika orang lain, sudahlah, kamu tahu sendiri," Delia mengendikkan bahunya dan dapat pelototan mata dari mama.


"Jika kamu sudah tahu, berarti kamu harus sudah siap atas resiko kedepannya, berusahalah agar Daniel membuka hatinya untukmu nak, manfaatkan waktu yang ada, sebenarnya Mama tidak setuju, tapi mau bagaimana lagi? Mama takut jika suatu saat kamu bertemu jodoh dan kalian saling suka, lalu dia tahu keadaan kamu tapi dia bisa menerima kamu apa adanya. Mama takut kamu akan dicampakkan," sambung mama, dia menghapus air matanya "Jadi bagaimana Delia, Dania, kalian setuju dengan pernikahan ini?"


Mau tak mau Delia elia dan Dania mengangguk, walau suatu saat Denisa dan Daniel tidak berjodoh, setidaknya Denisa bisa memperjelas statusnya.


Sementara Delia bersama keluarganya berunding, Amanda mengajak nenek serta keluarga Delia yang lain untuk berjalan-jalan mengelilingi ibu kota, sedangkan Daniel dan Abian disuruh menunggu Delia dan yang lainnya untuk menyusul.


Yang mereka tidak ketahui, jika keduanya tengah terjadi adu pukul, wajah keduanya pun sudah terlihat memar, semua berawal atas kecurigaan Abian yang merasa bahwa Daniel hanya memanfaatkan Denisa untuk balas dendam, karena Daniel gagal move on dari istrinya.


"Dasar baji ngan, lo manfaatin Denisa kan?"


Bugghhh, pukulan Abian mengenai perut Daniel membuat Daniel tersungkur kebelakang.


"Memang didunia ini cuma Denisa wanita yang tersisa, sampai kamu harus menikahi dia, dan membuat dia hamil hah?" Abian berspekulasi sendiri. Kemudian dia menarik kemeja Daniel, dia telah melayangkan tinjunya, namun ditahan oleh tangan Delia.


"Stop Bi, kamu apa-apaan sih?" Delia segera melepas cengkraman tangan Abian dari Daniel, dan memeluk tubuh Abian erat.


"Lo lihat Daniel? Lo lihat gue dipeluk Delia? Lo pasti pengenkan dipeluk begini? Jangan harap lo bisa ngerasain pelukan istri gue."


"Stop Bi, jangan kayak anak kecil, ayo pergi, muka kamu harus segera diobati."


Tapi bukannya menuruti kata-kata istrinya, Abian justru menarik tengkuk Delia, melu mat bibir istrinya mesra didepan Daniel.