Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Firasat Abian



Selesai dari menemani papa lari pagi, Abian masuk kekamarnya. Sebelum mandi, Abian membuka ponselnya terlebih dahulu, walau masih marah, namun dia tetap menunggu pesan dari Delia. Dada Abian berdegup kencang saat melihat satu notifikasi pesan dari istrinya, mendiami Delia sehari semalam ternyata cukup menyiksa, meski marah, namun rasa rindu lebih besar. Abian ingin mengabaikan pesan itu, dan mempertahankan gensinya, namun rasa penasaran lebih tak bisa ia kalahkan.


Abian segera mengklik pesan itu, berharap ada kabar baik dari Delia jika hari ini istrinya itu akan pulang kerumah lebih cepat. Namun dia kembali dibuat kecewa saat membaca pesan itu, Delia terbang ke Tokyo, berarti dia kembali ditinggal lama, Abian meremas ponselnya kesal.


"Tadi perasaan mukanya udah segeran, kok sekarang lemes lagi sih?" Melihat Abian datang, Amanda mematikan panggilanya pada Arini menanyakan kabar Arumi.


"Nggak pa-pa," jawabnya singkat, "Delia terbang ke Tokyo, bikin kesal aja," ujarnya tak bisa menutupi yang dia rasakan.


Amanda menarik nafas panjang, dia tahu sebagai suami Abian pasti ingin Delia menemaninya disaat dia sedang sakit seperti ini, namun dia juga tak ingin ikut campur, biarlah urusan rumah tangga anaknya, mereka sendiri yang mengatasi, sebagai orang tua, dia sudah mencoba memberi pengertian untuk anaknya, agar Abian sedikit bersabar.


Papa yang baru keluar dari kamar ternyata mendengar ucapan Abian.


"Papa juga seharusnya ada agenda tahunan ke Tokyo, tapi sudah diwakilkan oleh Daniel dan pimpinan Direksi yang Papa tunjuk," Papa ikut bergabung, "ada perwakilan dari kementerian luar negeri dan kedutaan besar kita untuk Tokyo, bentuk wujud mempererat hubungan bilateral sekalian, bukan hanya dari maskapai kita, tapi juga maskapai lain."


Abian mengerutkan keningnya "Maksud Papa berarti sekarang si kuda nil yang melakukan perjalanan bisnis ke Tokyo?"


"Iya," jawab Papa mantap.


"Ini nggak mungkin cuma kebetulan," gumam Abian namun dapat ditangkap oleh Amanda dan Papa. Keduanya heran, namun Amanda menangkap jika hubungan Abian dan Daniel tidaklah baik.


Abian, menghubungi temannya yang berada dibagian Flight Operation Officer (FOO).


"Tolong, aku ingin tau jadwal istriku hari ini sebenarnya, aku tunggu secepatnya," matikan Abian panggilanya, dia berjalan menaiki anak tangga.


"Jangan menganggu pekerjaan orang Abian, ada apa?" teriak papa mengingatkan.


"Tidak apa-apa, Pa." Jawab Abian juga beteriak.


"Apa hubungan mereka tidak baik Pa?" tanya Amanda.


"Papa rasa memang begitu, dulu Papa pernah melihat kekhawatiran Daniel saat Delia mengalami pelecehan, entah, Papa rasa Papa salah menilai kekhawatiran Daniel."


"Maksudnya Daniel juga suka sama Delia?"


"Papa kurang tahu Ma, Papa harap cuma salah mengartikan saja."


Setelah mengenakan pakaian rapi, ponsel Abian berdering, panggilan dari temannya "Delia seharusnya hari ini jadwal penerbangan ke Manado, namun Pak Daniel menggantinya ke Tokyo, Abian, ini rahasia, sebab Daniel sudah menyuap orang untuk mengganti jadwal Delia jika jadwalnya sama denganmu, ini saja aku sedikit lama karena bersembunyi-sembunyi. Kekuatan Daniel cukup kuat."


"Kenapa kamu baru menyampaikannya sekarang."


"Aku bergerak sendiri Abian⁰, dan aku baru mendapatkan bukti yang cukup kuat, aku berhasil merekam percakapan mereka. Rencananya aku akan melaporkan pada Pak Philips, namun aku harus mencari bukti dulu, aku segan pada pak Danuarta."


"Baik, soal papaku dan papa Daniel, aku yang urus, jam berapa keberangkatan pesawat istriku?"


"Baru saja terbang sepuluh menit yang lalu."


"Sialan, carikan aku penerbangan ke Tokyo, sekarang." Abian meremas ponselnya, dia menuruni anak tangga dengan buru-buru.


"Ma, Pa, Abian akan menyusul Delia ke Tokyo, salam sama Kak Arumi, semoga lahiranya lancar."


"Ada masalah apa Bi?" Amanda jadi panik.


Beruntung Abian mendapat penerbangan ke Tokyo walau harus dari maskapai lain, yang terpenting dia bisa segera sampai Tokyo tidak lama dari istrinya, Abian merasakan firasat tak enak mengenai Daniel.


* * *


Delia panik, dia memandang sekeliling kamar Daniel yang sudah berantakan, botol minuman alkohol berserakan dimana-mana. Delia semakin panik saat melihat Daniel yang semakin mendekat. Tatapan Daniel tertuju pada paha putih mulus Delia Delia melalui belahan rok seragamnya yang tersingkap.


"Daniel stop, jangan mendekat." pinta Delia sambil merapikan roknya yang tersingkap.


"Kamu harus membayar semua yang sudah diperbuat adik mu Delia, dia sudah menghancurkan hidupku, seharusnya dia tak perlu masuk kadalam hidupku dan membuat masalah, kamu lihat Delia?" Daniel berjalan perlahan, meminta Delia melihat kekacauan dirinya "Aku hancur, aku hancur sendiri, tak ada yang mempedulikan kehancuranku, semua hanya perduli pada keadaan adikmu, tapi tak ada yang menanyakan, APA AKU BAIK-BAIK SAJA SETELAH MALAM LAKNAT ITU?" Wajah Daniel memerah, bahkan urat-urat leher dan keningnya terlihat.


"Daniel, tenangkan dirimu, kita bicarakan baik-baik." Delia mengangkat tanganya kedepan, dia terus mundur agar bisa lari dari Daniel.


"Aku tadi sudah memintamu baik-baik bukan? Tapi kamu menolaknya. Apa sebegitu menjijikan aku dimata kalian? Sampai menyebut namaku saja kamu tidak mau, Delia? Aku manusia biasa, aku juga punya perasaan Delia. Kamu harus tau, aku memilih menceraikan adikmu karena aku tidak memiliki perasaan padanya, apa tanggung jawabku dengan menikahinya masih kurang?" Lutut Daniel sudah menyentuh tempat tidur, perlahan merangkak naik semakin mendekati Delia, membuat Delia beringsut mundur.


"Daniel stop, jangan mendekat, aku bisa membunuhmu."


"Lakukan, kita mati sama-sama Delia, mungkin memang takdir kita untuk bersama diakhir hayat." Tangan Daniel sudah membuka kancingnya satu persatu, membuat Delia memalingkan wajahnya.


"Astaga Daniel, sadar, aku tahu kamu lelaki baik-baik, maaf jika aku dan Denisa menyakiti perasaan mu. Denisa sebentar lagi akan melahirkan anak kalian, ingat anakmu Daniel," ucap Delia tanpa melihat Daniel.


"Aku ingin memiliki anak dari mu Delia, anak darimu, bukan dari wanita lain termasuk adikmu, Abian tidak bisa membuatmu hamil bukan? Ayo kita lakukan sekarang Delia, Abian tidak akan tahu jika itu anakku, jangan katakan padanya, ini rahasia kita, lahirkan anakku Delia. Aku bisa memuaskanmu." Daniel menyeringai, dia menanggalkan kemejanya.


"Jangan gila Daniel, aku tidak mau." Delia gemetar, dia mencoba tenang, namun wajah takutnya tidak bisa disembunyikan.


"Jangan takut Delia, rileks saja, aku bisa menyumpal mulut para crew yang melihat kita tadi, tidak akan ada yang mengadu pada Abian."


Daniel mencengkram dagu Delia "Lihat aku Delia, lihat aku dari dekat karena aku lebih tampan dari Abian," Delia menepis tangan Daniel, membuat Daniel semakin terluka.


"Jangan menolakku Delia," Daniel kembali mencengkeram dagu Delia.


Bruakkkk


Abian menendang Daniel dari belakang, membuat Daniel terjatuh.


"Abian," mata Delia terbelalak, dia sangat terkejut dengan keberadaan Abian yang tiba-tiba, namun ada rasa lega karena Abian datang.


"Bajingann," Abian mengabaikan Delia, walau ekor matanya melirik Delia yang ketakutan, namun dia tak bisa melepaskan Daniel begitu saja, Abian menarik tangan Daniel dengan posisi tubuh terpelungkup dilantai, memelintir tangan itu berharap tangan Daniel tak berfungsi lagi, "tangan mana kamu gunakan untuk menyentuh istriku?"


Ahhhhhhh


Daniel berteriak kesakitan saat Abian semakin menarik tangannya, melipat tangannya kemudian memelintirnya.


"Abian sudah, lepaskan Bi," pinta Delia takut, bagaimanapun dia tak tega pada Daniel. Airmata Delia luruh, terbesit wajah Denisa dengan perut besarnya, menanti seorang suami yang akan menemaninya diruang persalinan.


Dan disana, Denisa seolah tahu apa yang terjadi dengan ayah dari anak yang dikandungnya, Denisa yang sedang merapikan pakaian bayi yang baru dikirimkan oleh mama Daniel, dia meringis merasakan kontraksi kecil diperutnya.


"Lupakan kak Daniel Denisa, dia tidak mencintaimu, relakan dia hidup bahagia," Denisa bicara pada dirinya sendiri, ia kembali meringis, saat kontraksi itu kembali terjadi.