
Arumi mencoba menghubungi papanya untuk memastikan kebenaran berita yang mereka baca. Namun sayang, ponsel papa begitu sibuk.
"Nomor papa sibuk," Arumi memberitahu Arini, menggenggam ponselnya erat didepan dada.
Arini mencoba tenang, "Aku berharap ada keajaiban Kak, dan ini hanya hilang kontak sementara." Arini mengambil tangan Arumi, matanya sudah mengembun dan tubuhnya tiba-tiba terasa panas dingin, seperti meriang.
"Semoga, Abian pasti bisa membawa pesawat mendarat dengan selamat." Arumi menunduk, airmatanya lolos tak bisa dicegah.
"Aku khawatir sama mama, mama udah tau belum ya berita ini?" Ujar Arini, Arumi menggeleng, dia tak dapat berkata apa-apa lagi.
Mereka selama memang jarang bertemu Abian, hubungan mereka tidak semanis seperti saudara pada umumnya, sering meledek Abian, sering membully adik laki-laki semata wayangnya itu, rasanya belum bisa menerima, jika Abian pergi secepat ini.
"Jangan kasih tau mama dulu Rin, Kakak berharap ada keajaiban."
"Tapi Abian udah kasih kado ke baby kan mba?"
"Rin." Arini menringis karena pukulan Arumi dipundaknnya, kebiasaan membully Abian rasanya tak bisa hilang, namun dia kemudian menggendong anak Arumi yang baru lahir, untuk mengalihkan perasaannya.
* * *
Didalam pesawat, hujan semakin deras, jarak pandang Abian semakin tak terlihat, wiper terus bergerak tak henti, Abian dan Captain Rendy terus mengusahakan agar mereka bisa keluar dari gulungan awan hitam ini.
"Pesawat kita masih berfungsi dengan baik Capt, bahan bakar masih memadai, aku yakin kita bisa keluar dari sini. Ayo Capt, kita pasti bisa." Abian menyemangati.
"Kita bisa, aku juga yakin itu Captain" Captain Ridwan ikut semangat seperti Abian, "cek-cek, Airlanngga Airlines 756 on." Tetap mere
Diruang penumpang, kepanikan memang tak bisa dihindari, guncangan besar, semua penumpang sudah pasrah atas nyawa mereka, gelap, hujan, dan cahaya petir terasa begitu dekat dan mengenai kaca pesawat, spontan mereka berteriak.
"Subhanallah...."
"Allahuakbar...."
"Lailaahaillallah...."
"Tuhan, berkati kami semua."
Delia dan Cecilia saling berpegangan, mereka berharap bisa selamat, mereka memikirkan keluarga penumpang yang sudah menunggu kedatangan mereka.
Dan dibandara tujuan pesawat yang dikendalikan Abian mendarat, berita tentang keterlambatan kedatangan pesawat sudah diumumkan, dan tentang kabar hilangnya kontak pesawat tersebut telah tersebar
Sontak saja, tangis dari keluarga penumpang pecah, khawatir serta rasa was-was menyelimuti seluruh keluarga yang sudah menunggu. Mereka semua berdoa semoga ada keajaiban yang datang.
"Anakku, anakku loro-lorone ning pesawat iku, wes limang taun durong bali, duhh gusti, parange selamet neng anakku." (Anakku, anakku dua-duanya didalam pesawat itu, sudah lima tahun tidak pulang, ya Allah, selamatkan anakku." tangis seorang ibu pecah begitu saja, tubuhnya limbung, dia langsung dipegangi kerabatnya lalu diajak duduk dikursi tunggu yang sudah disiapkan pihak bandara.
"Awak dewe gor iso ndungokke mbak yu, mugo-mugo do diparingi selamat." Kerabat yang juga seorang wanita itu mencoba menguatkan.
Begitu juga yang lain, mereka begitu khawatir, ada yang sudah pesimis, sebab, pesawat jika sudah hilang kontak, sudah kecil harapan untuk ada keajaiban.
Kembali lagi ke pesawat, diruang kokpit, Abian dan Captain Ridwan berjibaku, mereka sangat optimis bisa melewati awan gelap ini, hingga tak lama, cahaya terlihat dari gulungan itu, Abian semakin semangat, dan akhirnya mereka keluar dari awan gelap itu. Abian dan Captain Ridwan bernafas lega. Begitupun para penumpang, melihat cahaya serasa mimpi untuk mereka, padahal, baru hitungan menit mereka dalam kegelapan yang menakutkan dan menenangkan, rasanya seperti sudah sangat lama mereka didalam sana.
Keluarnya pesawat dari awan hitam, membuat pesawat mereka kembali terdeteksi di ruang kontrol, semua yang ada disana mengucap syukur, sungguh keajaiban yang mungkin saja tidak akan terjadi, namun kali ini, keajaiban dan keberuntungan berada dipihak pesawat Abian.
Mereka segera menyiapkan bandara terdekat untuk pendaratan darurat, namun sungguh sayang, kemampuan dan pengalaman Abian serta Captain Ridwan sepertinya sedang diuji, bandara terdekat juga sedang mengalami cuaca buruk, pesawat yang akan melakukan board pun dibatalkan dibandara tersebut, pilihan yang sulit, jalur yang akan dilewati pesawat mengalami angin kencang, begitulah cuaca di Indonesia, tak bisa diperiksi.
Jika Abian harus landing, kemungkinan buruk juga terjadi, namun jika harus meneruskan perjalanan, keadaan pesawat sudah tak memungkinkan.
Abian berkoordinasi pada petugas ATC bandara saat ini, untuk izin menurunkan ketinggian, petugas ATC mengizinkan, sementara menunggu bantuan petugas pemadam kebakaran datang, seluruh petugas yang ada dibandara saat ini dikerahkan, baik itu dari militer yang sudah standby, petugas marshaller (juru parkir pesawat) bergegas membersihkan landasan dari genangan air agar pesawat bisa melakukan butter landing (pendaratan halus).
Namun Abian tak dapat menurunkan ketinggian dengan semestinya, cuaca sangat tidak mendukung, dia memilih berputar-putar di area yang aman menurutnya, menunggu cuaca membaik. Abian terus mengontrol ketersediaan bahan bakar, dan ketersediaan bahan bakar kian menipis.
"Sial Capt, bahan bakar menipis, kita sepertinya harus segera landing,"
"Oke, kita akan meminta izin menurunkan ketinggian."
Sebisa mungkin, para pilot melakukan komunikasi baik dengan pihak ATC, agar tidak terjadi miskomunikasi.
Abian kembali meminta izin untuk menurunkan ketinggian, cuaca sudah mulai membaik, dan Abian bersiap untuk melakukan pendaratan, namun angin kencang tiba-tiba mendorong bagian atas pesawat, membuat pesawat menukik, dan alaram kokpit berbunyi, menimbulkan kepanikan pada penumpang. Abian langsung melakukan go around (penundaan pendaratan) karena hal ini berisiko tinggi.
"Kenapa kita tidak jadi mendarat Capt?" Tanya salah satu penumpang wanita pada Rendy.
"Cuaca diluar buruk Bu, ibu tenang saja, Captain kita sudah melakukan tindakan yang tepat." Rendy menenangkan.
Seruan akan pendaratan diumumkan oleh Dewi, dan penumpang diminta untuk tetap menggunakan sabuk pengaman hingga pendaratan sempurna, namun mereka bukan berada pada bandara tujuan awal mereka, melainkan bandara terdekat.
Abian kembali mencoba melakukan pendaratan, namun kembali gagal, dan pesawat kembali naik. Penumpang sudah ada yang kasak kusuk tak sabar, rasanya mereka ingin melompat saja, untuk melakukan pendaratan saja sangat sulit.
Para petugas yang membersihkan air yang menggenang menepi, memberi ruang aman untuk pesawat, hujan masih turun, namun tidak terlalu deras, untuk percobaan pendaratan yang ketiga, akhirnya Abian berhasil, walaupun harus melakukan landing keras agar ban tidak mengena pada genangan air yang mengakibatkan selip ban yang beresiko tergelincirnya pesawat.
Papa Abian langsung menangis haru, anaknya telah berhasil menyelamatkan banyak nyawa penumpang, bangga, kagum, Abian menjadi pilot handal yang sudah melengkapi pengalamannya didunia penerbangan.
Delia, Cecilia, dan Dewi berpelukan, entah berapa lama mereka berada diatas, namun rasanya seperti berhari-hari. Para penumpang bertepuk tangan, mereka berterima kasih pada crew pesawat yang telah membawa mereka mendarat dengan selamat.
Satu persatu penumpang turun, mereka bersalaman dengan para awak cabin, Delia melihat ada penumpang yang sepertinya sedang mengeluarkan isi perutnya, Delia segera menghampiri wanita tersebut, membantu memijatt belakang lehernya, kemudian, setelah wanita itu merasa lebih baik. Delia menuntunya turun pesawat.
Ketika Delia sudah berada dibawah pesawat, dia mendongak, melihat Abian dan Captain Ridwan keluar, bersama Capt Rendy mereka menyapa penumpang yang menunggu.
Delia menangis haru, dia memiliki suami seorang pilot hebat. Ingin sekali rasanya Delia berlari, berhambur memeluk suaminya, mengucapkan terimakasih dan hebat kepada suaminya. Namun sepertinya, suaminya sedang menjadi pahlawan, para penumpang masih menungguinya untuk mengucapkan terima kasih.
"Ya Allah, pilotnya masih muda, ganteng, semoga dia masih jomblo." Teriak wanita muda cantik itu tanpa rasa malu, membuat Delia mendengus.
Cecilia yang berdiri disamping Delia terkekeh "Sabar ya Del, resiko jadi pilot ganteng ya begitu."
Spontan Delia memanggil petugas kesehatan, Delia meminta untuk dibawa menggunakan tandu.
"Del kamu nggak papa?" Cecilia berubah cemas.
"Fisikku nggak papa, tapi luka hatiku buat aku nggak bisa jalan." Delia menjawab asal.
Abian yang masih menerima ucapan terima kasih penumpang, dari atas bisa melihat jelas Delia yang dibawa tandu.
"Apa Delia ada yang terluka?" tanyanya dalam hati. Abian tak bisa untuk menahan diri, dia segera turun, dan meminta maaf kepada penumpang yang sudah menunggunya, dan cukup diwakilkan Captain Ridwan. Dia harus segera tahu keadaan istrinya.