
"Bi, apa yang terjadi? Kenapa kamu ribut lagi sama dia? Kalian seperti anak SMA saja, suka tawuran," omel Delia saat sudah didalam mobil, persis seperti seorang ibu yang memarahi anaknya yang habis tawuran, sedang Abian hanya diam saat istrinya terus memarahinya, "kalau ada masalah bisa nggak? Enggak usah saling pukul? Malu dilihatin orang."
Delia menangkup wajah Abian, memeriksa wajah Abian yang lebam, Delia menggeleng, lagi-lagi sudut bibir Abian robek, Delia memutar tubuhnya mengambil p3k yang selalu tersedia di laci dashboard mobil.
Abian meringis, saat Delia mulai mengobati lukanya, "pelan-pelan Del, sakit." Abian memegang tangan Delia.
"Tahan sedikit, jangan manja, lagian apa sih sebenarnya yang terjadi? Sampai kalian saling pukul lagi?"
"Dia memang pantas mendapatkan itu, mulutnya tidak bisa dijaga."
"Apa yang dikatakanya? Masalah Denisa?"
Abian menggeleng, dia kemudian mengambil tangan Delia yang sedang mengobati lukanya, Abian menatap dalam mata teduh istrinya, mata bulat jernih yang jika tertawa atau tersenyum terlihat menyipit, bibir tipis yang menjadi tempat berlabuhnya jika dia lelah, lalu memindai setiap sudut wajah cantik itu, wajah putih mulus tanpa noda, Abian menyadari jika wajah Delia adalah wajah idaman sejuta umat, wajar jika laki-laki banyak yang menyukai istrinya itu. "Del, apa aku kurang perkasa?"
Mendengar pertanyaan Abian, Delia tahu, jika Abian mungkin mendapat ejekan dari Daniel, tentang dirinya yang juga belum hamil, sama seperti pertanyaan Abian saat Rendy mengejeknya kurang tokcer waktu itu.
"Apa saat kita bercinta aku kurang memuaskan, Delia? Apa kamu menikmati setiap yang aku lakukan setiap kali kita bercinta? Kenapa kita belum membuahkan hasil dari buah cinta kita." Sambung Abian.
Delia tidak menjawab pertanyaan Abian, melainkan mengecup luka disudut bibir suaminya, "ini pasti cepat sembuh," kemudian Delia tersenyum manis, senyum yang membuat laki-laki yang melihatnya pasti akan jatuh cinta, Delia menyelami mata yang sedang memandangnya penuh cinta itu, Delia tersenyum mengusap luka itu "apa omongan orang tentang belum hamilnya aku sangat mengganggu kamu Bi?" Abian terdiam, tidak mungkin dia mengatakan apa yang Daniel katakan padanya tadi, cukup dia yang tahu "aku sudah bilang kan? Jangan dengerin apa kata orang, jika nanti sudah saatnya kita diberi kepercayaan, kita pasti akan mendapatkannya, kita hanya diuji tentang kesabaran. Aku tidak tahu apa yang mantan suami Denisa katakan padamu, setidaknya kamu lebih beruntung darinya, kita menikah, saling mencintai, jaga rumah tangga kita sampai kapanpun, jangan termakan dengan ocehan orang lain yang akan membuat rumah tangga kita hancur, mantan suami Denisa pasti akan menyesal, karena telah menyia-nyiakan adikku dan juga anaknya." Lanjut Delia.
Abian membenarkan ucapan Delia, benar, Daniel tak seberuntung dirinya yang bisa mendapatkan Delia untuk mendampingi hidupnya.
"Kamu mau kita kedokter Delia? Aku sebenarnya tidak terganggu, hanya saja aku merasa orang-orang meragukan keperkasaanku, sebagai laki-laki tentu saja aku merasa risih jika orang selalu meledek, kurang tokcerlah, kurang inilah-itulah, harga diri aku sebagai laki-laki merasa direndahkan."
Delia menghela nafas, dia tak mau membantah atau memperpanjang lagi masalah ini, ujung-ujungnya Abian akan memintanya berhenti bekerja.
"Oke, aku rasa kita memang perlu melakukan itu, aku berharap kita bisa mendapat kabar baik"
Abian memeluk Delia erat, "setia sama aku ya baby girl, jika aku kurang sehat, tetap disampingku, kita akan berjuang sama-sama." Pinta Abian lirih, dia takut jika hasilnya dia yang kurang sehat, dan Delia akan meningglakanya, mencari pasangan yang lebih tokcer darinya.
"Terus, kalau aku yang kurang sehat gimana? Kamu mau setia nggak? Kebanyakan laki-laki itu egois, kalau istrinya yang nggak sehat, dia malah cari yang lain, kalau itu terjadi sama kamu, aku akan potong milik kamu, Bi. Waktu kamu tidur."
"Ngeri ancamannya," Abian bergidik ngeri membayangkan itu, Delia sangat menyeramkan.
"Makanya, kamu jangan coba-coba buat berpaling dari aku, aku nggak butuh harta kamu, karena aku bisa cari uang sendiri."
* * *
"Semua sehat, dari hasil pemeriksaan saya, Bapak dan Ibunya sehat semua, tidak ada masalah," ucap dokter pada Delia dan Abian, membuat kedua pasangan itu tersenyum lega, dibawah meja, Abian mengambil tangan Delia, dia menggenggam erat tangan istrinya, saking bahagianya, "saya senang jika ada pasangan yang control kesehatan seperti bersama-sama, kebanyakan pasangan, hanya memeriksa kesuburan istrinya saja, seolah menyalahkan, jika istrinya yang bermasalah. Karena biasanya faktor kehamilan itu disebabkan oleh kedua pasangan itu sendiri, bahkan dari pihak laki-laki lah yang bermasalah."
Dokter perempuan berambut cepak itu tersenyum pada keduanya secara bergantian "Karena dari keduanya sehat dan baik, saya berikan obat penyubur untuk Bapak dan Ibunya, diminum secara rutin ya, usahakan jangan terlalu kelelahan dan banyak pikiran, semuanya dibuat los saja, tanpa ada beban, walau saya tidak memungkiri jika terlambatnya kita mendapat momongan memengaruhi pikiran kita, belum lagi, omongan orang-orang terdekat, yang sering menanyakan hal itu, memang sangat sensitif, tapi kita tidak bisa menghindari itu, karena kita makhluk sosial." Ucap sang dokter.
"Dan diusahakan juga, jangan berhubungan badan setiap hari, karena biasanya akan menyebabkan cairan sper ma akan sedikit encer, bagusnya lakukan tiga kali sehari, dan ini satu lagi, saya berikan alat tes kesuburan, namanya Ovulasi tes," dokter itu memberikan sebuah alat seperti alat tes kehamilan pada Delia, "cara penggunaan alat ini sama seperti kita menggunakan alat tes kehamilan pada umumnya, yaitu menggunakan cairan uri ne, waktu yang bagus untuk menggunakannya antara pukul sepuluh pagi, atau sepuluh malam, sebelum menggunakan alat ini, Ibunya jangan minum air putih terlalu banyak, karena akan menyebabkan uri ne ibu encer, dan mengganggu hasil pemeriksaan itu sendiri. Lakukan setiap hari ya Bu, agar bisa mengetahui kapan masa subur Ibunya." Delia mengangguk mengerti apa yang dijelaskan sang dokter.
(Sumber, yt dr. Saddam Ismail)
"Udah lega kan Bi? Sekarang jangan dengerin apa kata orang, bawa dokumen pemeriksaan kita kemana-mana jika kamu mau, tunjukkan pada orang-orang yang meragukan kamu, aku yang tahu kamu perkasa atau tidak? Sekarang kita fokus berdoa dan berusaha. Aku nggak mau perkara ini membuat kita selalu berdebat, apalagi sampai kamu meminta aku untuk keluar kerja, nanti jika sudah waktunya, aku juga akan resign, untuk sekarang, kasih aku waktu dulu," ucap Delia saat mereka sudah berada didalam mobil. Entah apa yang dia lakukan benar atau tidak, Delia hanya ingin mencegah agar mereka tak sering berdebat lagi, apalagi Abian yang memintanya harus berhenti bekerja.
"Iya, aku lega, tapi kata dokter tadi bilang jangan sampai kelelahan, kamu jangan kelelahan."
"Itu sama aja kamu nyalahin aku, Bi? Siapa tahu kamu yang kelelahan, sudah, jangan saling menyalahkan." Dengus Delia tak suka dengan apa yang Abian katakan, tahu arah kelelahan yang disebutkan, tetap mengarah Abian memintanya berhenti bekerja.
Abian terkekeh "Namanya juga usaha sayang, siapa tahu kamu lama-lama luluh, dan mau berhenti bekerja, jika kamu istirahat, hanya dirumah, mungkin akan membuat kita cepat diberi momongan." Delia membuang muka, dia memandang kearah luar jendela, jika sudah mengarah kesini, mereka pasti akan ribut.
Delia jadi memikirkan apa yang Abian katakan, tapi dia juga belum siap meninggalkan dunia pramugari, dunia yang dia impikan. Mengingat kini Denisa yang hamil dan akan menjadi single parent, dia juga harus membantu keuangan mamanya, dan Denisa harus melanjutkan pendidikannya tanpa membebankan orang lain, termasuk Abian. Delia jadi menyalahkan dirinya yang dengan mudah menerima pernikahan ini, seharusnya dia jangan menikah dulu sebelum adik-adiknya lulus sekolah, haruskah dia menyesal? Tapi tidak, Delia takut kehilangan Abian.
* * *
Keesokan harinya, Denisa dan Daniel datang kerumah Delia dan Abian. Denisa berpamitan pada kakaknya untuk pulang kerumah mamanya. Daniel tidak turun dari mobilnya, karena Abian sudah mewanti-wanti pada Denisa, jika Daniel dilarang menginjakkan kakinya dirumah mereka.
"Salam sama mama ya dek, jaga kesehatan kamu, kabari jika sudah lahiran."
"Iya Kak, maaf Denisa sudah merepotkan Kakak, semalam Denisa tidak bisa kesini, karena harus berpamitan pada mama Kak Daniel." Denisa memeluk Delia.
"Apa alasan kamu?" Tanya Delia melepaskan pelukan mereka, memandang wajah adiknya.
"Tidak ada, Denisa cuma bilang, semua karena kesalahan Denisa."
Delia jadi mengharu "Sabar ya sayang, Kakak juga minta maaf, maaf Kakak tidak bisa menjaga kamu, maaf Kakak tidak bisa mengantar pulang, semoga kamu semakin dewasa dengan apa yang terjadi, Kakak yakin, kamu akan menjadi anak yang sukses, jangan berkecil hati, Kakak akan tetap mengusahakan apapun buat kamu."
"Iya Kak, Kakak nggak perlu kerja keras lagi, Kak Daniel sudah banyak memberi uang untuk Denisa."
"Terserah akan kamu gunakan untuk apa uang itu? Itu hak kamu, tetap jaga keponakan Kakak, doakan Kakak segera diberi momongan seperti kamu."
"Amiin Kak, semoga disegerakan."
.
.
.
.