Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Flight Attendant Story



"Hai Capt," sapa Rendy.


"Hai Ren," balas Abian.


"Captain Abian udah selesai?"


"Iya," mereka jalan bersisian, hari ini Rendy dan Abian tidak terbang bersama, namun secara kebetulan mereka selesai di jam yang sama.


"Kamu senyum terus aku perhatiin, muka mu sedikit adem kayak kipas angin kosmos," ejek Abian, padahal Rendy sudah mati-matian menutup rasa senangnya, tapi Abian tetaplah Abian, dia selalu tau suasana hati Rendy.


"Emang keliatan ya Capt?, tapi aku merasa hati ku saat ini bagai di taman bunga puncak, adem melebihi ace daikin," Rendy terkekeh sendiri. "Ngopi dulu yuk Capt, aku yang traktir,"


Abian mengiyakan ajakan Rendy tanpa ada rasa curiga sama sekali. Ia sebenarnya galau, karena hari ini Delia tidak pulang, kekasihnya itu bermalam di luar kota.


Padahal baru tadi pagi dia merasa senang, karena Delia memakaikan seragam untuknya, dan dengan sedikit ngambek, Delia juga mau memakaikan celananya, walau Delia tak menyentuh melihat kearahnya saat melakukan itu. Mudah sekali pikir Abian mengambil hati Delia, dia cukup bertingkah seperti anak kecil, maka Delia akan luluh. Abian kemudian meraba dasinya, Delia tadi pagi juga menyimpulkan dasi itu dilehernya. Ahh apa tiap hari saja dia mengajak Delia untuk menginap di hotel?, pagi tadi mereka layaknya sepasang suami istri yang harmonis, Abian sampai tak berniat membuka seragamnya.


Sudah setengah jam mereka nongkrong di coffee shop yang ada di terminal tiga, hanya di suguhkan segelas kopi, satu buah roti, dan satu porsi kentang goreng, Abian dengan senang hati mendengarkan cerita Rendy, dia sedikit mengalihkan kerinduannya pada Delia.


Gilaa, belum dua puluh empat jam dia tak bertemu Delia, tapi rasa rindunya sudah sangat membuncah, bagaimana nanti kalau mereka sama-sama memiliki jadwal terbang internasional?, Abian sepertinya akan menimang lagi, jika setelah menikah akan mengizinkan Delia tetap bekerja. Akan berapa kali mereka bertemu dalam sebulan?. Tak terasa Abian menghela nafas, kerisauan Delia tentang pernikahan sekarang benar adanya, dia tahu yang wanita itu rasakan, pramugari adalah dunianya, tapi harus berapa lama dia menunggu?.


Perkara meninggalnya ayah Delia ternyata bukanlah masalah berarti, keluarga Delia sudah ikhlas menerima takdir, tapi justru menyakinkan hati Delia lah yang agak sulit.


"Bengong aja Capt? Delia pulang malam lagi?" tanya Rendy.


"Ngapain kamu nanya-nanya dia?, masih ngarep?" Abian mendelik, dia meminum kopinya yang sudah dingin hingga tandas.


"Santai aja kali Capt," jawab Rendy, dia melonggarkan dasinya, aku cuma pengen tahu perkembangan hubungan kalian, bisik Rendy dalam hati.


"Captain mau pulang sekarang nggak?" Rendy sudah berdiri sambil membersihkan mulutnya dengan tissu.


"Sedikit lagi lah Ren, baru juga jam empat," lihat Abian jam ditangannya.


"Tapi gadis yang aku tunggu udah datang Capt, gimana ini?, saya duluan aja kali ya Capt?" Abian melihat arah mata Rendy, dia yang duduk membelakangi koridor bandara seketika memutar tubuhnya untuk melihat gadis yang dimaksud Rendy.


Abian melihat Voni berjalan bersama crew yang baru saja mendarat. "Asem kamu Ren, jadi kamu baik hati mentraktir ini minta ditemani nunggu Voni? Dasar asssu," maki Abian.


"Sekali-kali saya menang dari Captain, ternyata benar. Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan tiboh juga," Rendy tersenyum sombong, rasanya senang sekali bisa membalas Abian.


"Hai little pony, pulang bareng aku ya?" Rendy mensejajarkan jalanya dengan Voni.


Voni yang terkejut dengan kedatangan Rendy, tiba-tiba ingat kejadian Rendy yang mencium pipinya yang semalam. Pipi Voni langsung merona, biasanya dia bisa menjawab Rendy lebih santai, kini dia terlihat kaku, dan gugup.


"Eh Cap-tain Rendy, baru mendarat juga?"


"Iya, bisa bareng gitu ya?"


"Saya naik taksi saja Capt," tolak Voni halus, dia harus menghindar dari keadaan ini.


"Aku mau kayak cowok yang di novel-novel, aku maksa, dan kalau kamu nolak, berarti kamu jadi pacar aku," ucapnya penuh percaya diri. Rendy langsung menyeret tangan Voni menuju mobilnya.


"Hah!!" Voni tak sempat lagi membantah, dia menurut saja saat tangannya di gandeng oleh Rendy.


"Sudah aman kan, little pony?" tanya Rendy saat Voni sudah masuk mobilnya. Voni hanya mengangguk, dan Rendy segera menutup pintu Voni.


"Dan karena kamu sudah naik mobil aku, berarti kamu mau jadi istri aku," lagi, Voni dibuat terkejut oleh ucapan Rendy.


"Ma-maksudnya?"


"Kamu menolak jadi pacar aku, ikut, jadi istri aku. Begitu ilmu yang aku pelajari dari Captain Abian, biar cepat dapat." Rendy menaik turunkan alisnya.


Voni masih tak mengerti maksud ucapan Rendy yang memang kadang tak ia mengerti, dia hanya diam, biasanya dia bisa mencela, tapi lagi-lagi peristiwa malam dimana Rendy mencium pipinya, Voni dibuat mulutnya terkatup, baru pipi yang di bungkam, bagaimana kalau bibirnya yang dibungkam?. Bisa-bisa Voni menjadi tuna wicara.


* * *


Esok Hari.


Pukul lima sore, pesawat yang membawa Delia baru saja mendarat di bandara Soeta, suasana pesawat sudah sepi, para penumpang sudah turun semua, Delia sedang menangis di pelukan seniornya, Dewi.


Tak menyangka jika dia akan mengalami peristiwa seperti ini, padahal dia sudah sangat bersikap sabar dan ramah, tapi masih saja mendapat perlakuan tak menyenangkan. Para temannya berusaha menenangkan Delia, dia masih terisak, rasanya sangat malu sekali, peristiwa ini banyak yang mengetahui.


Apa yang salah dengan seragamnya?, apa yang salah dari caranya melayani penumpang?. Kenapa ini harus terjadi padanya?. Delia masih menenggelamkan wajahnya di pelukan Dewi.


Suasana di parkiran bandara sudah sangat riuh, mencari penumpang yang lari dari perbuatannya.


"Del, kamu masih ingat wajahnya?" tanya Dewi. Delia mengangguk.


"Para security sudah mengejar pelakunya, tapi orangnya sudah lari," Dewi membelai punggung Delia "Kita cek, dia duduk di bangku berapa, kita akan cari sampai ketemu, kejadian ini juga sudah sampai ke telinga manager. Mereka akan melindungi kamu." Kembali Dewi mengusap punggung Delia menenangkan, tapi Delia masih enggan berkata apa-apa.


"Del, kita keluar yuk, sebentar lagi akan ada pergantian penumpang, pesawat juga akan disterilkan."


Kembali Delia tak menjawab, dia hanya mengangguk. Dewi yang memang seorang senior yang sudah berpengalaman, seakan mengerti apa yang harus ia lakukan, dia mengambil scarf untuk menutup wajah Delia untuk dibawa ke lounge pribadi maskapai mereka.


Saat sampai disana, Delia mendengar suara seorang laki-laki yang sedang marah-marah.


"Bagaimana kalian bisa kehilangan jejak penumpang itu?, apa yang kalian lakukan saat ada kejadian seperti ini? aku tidak mau tahu, pokoknya kalian cari orang itu sampai ketemu." Daniel, itu suara Daniel, Delia mengenal suara itu.


"Tenang Pak, kita tinggal menunggu kesiapan Delia untuk menjelaskan, orang itu pasti ketemu." Dewi mencoba membuat situasi membaik, ia juga tak menyangka jika sudah ada wartawan yang meliput kejadian ini. Cepat sekali.