Ellia Im Sorry

Ellia Im Sorry
CHAPTER 9. GADIS KECIL



Tadi ketika hendak menutup ruko Ellia tak sengaja melihat sebuah mobil yang mendadak oleng dan berhenti tak jauh dari tempatnya. Bermaksud menolong dan memastikan pengemudi itu baik-baik saja, Ellia menghampirinya.


Namun tiba-tiba saja pengemudi mobil itu pingsan saat melihat dirinya, membuat Ellia panik dan langsung menghubungi Fredy. Meminta bantuan Fredy untuk menolongnya dan membawa pria itu ke klinik terdekat.


"Lebih baik kau pulang saja, biar aku yang menunggunya di sini. Lagipula kasihan Emily, dia pasti menunggumu." Ucap Fredy.


Ellia mengangguk, sebelum ke klinik tadi Emily di titipkan pada Tante Frida, ibu dari Fredy yang datang bersama Fredy.


"Aku pamit pulang, kalau ada apa-apa kabari aku." Ujarnya.


Belum sempat Ellia melangkah, tiba-tiba sebuah ponsel terdengar berdering. Karena posisinya lebih dekat, Ellia meraih ponsel tersebut. Tertera nama Sekretaris Jeff di sana. Ellia menatap Fredy sejenak sebelum mengangkat panggilan itu.


"Halo Tuan? Tuan di mana? Ini sudah malam kenapa Tuan belum kembali?" Tanya Jeff beruntun begitu panggilannya tersambung.


"Ehm, maaf sebelumnya..." Belum sempat Ellia bicara, Jeff sudah lebih dulu memotongnya.


"Siapa kau? Kenapa ponsel Tuan Anders ada padamu?" Sambar Jeff.


"Anders?" Ellia terpaku mendengar nama yang tak asing baginya.


"Ya, Tuan Anders Calvert Willians. Di mana dia?" Tanya Jeff dengan nada mengintimidasi. Ellia membulatkan matanya, mengalihkan pandangan kepada sosok pria yang sedang terbaring di depannya.


"Em.. Anders tadi mengalami sedikit kecelakaan, sekarang sedang ada di klinik." Jawab Ellia.


"Apa? Klinik mana?" Suara Jeff terdengar panik.


"Klinik Healty." Jawab Ellia. Panggilan itu langsung terputus, sepertinya Jeff  langsung berangkat menuju ke sana.


"Ellia siapa yang menelepon?" Tanya Fredy setelah Ellia menutup panggilannya.


"Entahlah, namanya Sekretaris Jeff." Jawab Ellia sambil menatap layar ponsel yang sudah mati itu.


"Sekretaris? Sepertinya dia bukan orang biasa." Ujar Fredy mengalihkan pandangannya pada Anders yang masih terbaring.


Ellia mengangguk pelan, ia sudah ingat sekarang siapa pria itu. Anders Calvert Willians, teman satu sekolahnya dulu. Sang palyboy yang selalu berganti-ganti pacar, tapi dia satu-satunya siswa di sekolah yang tak pernah mengganggunya. Tak di sangka, kalau ia akan bertemu kembali dengan lelaki itu.


"Fred, aku pamit pulang. mungkin sebentar lagi Sekretaris Jeff akan datang kemari." Ujar Ellia yang meletakan kembali ponsel Anders di tempatnya semula.


"Baiklah, kau hati-hati di jalan." Sahut Fredy.


"Tentu." Ellia tersenyum simpul sebelum melangkah meninggalkan klinik itu.


Beberapa menit kemudian, Jeff sudah tiba di sana.


"Permisi." Jeff mengetuk pintu ruangan itu sebelum masuk. Fredy menghampirinya.


"Ya, apa anda Tuan Jeff?" Tanya Fredy.


"Ya, di mana Tuan Anders?" Tanya Jeff.


"Itu di sana." Fred menunjuk ke arah brankar. Jeff segera menghampiri Tuannya. Anders nampak masih belum sadarkan diri.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada Tuan Anders?" Tanya Jeff. Ia melihat dahi Anders yang di balut perban.


Fredy kemudian menceritakan kejadian yang di alami Anders. Jeff mendengarkannya dengan seksama.


"Jadi seperti itu kejadiannya? Lalu di mana Nona Ellia?" Tanya Jeff begitu Fredy selesai dengan ceritanya.


"Ellia sudah pulang lebih dulu." Jawab Fredy.


"Dan karena sudah ada Tuan Jeff di sini aku juga pamit pulang. Tuan tenang saja, tadi dokter mengatakan kalau Tuan Anders baik-baik saja, ia hanya mengalami luka kecil dan juga syok." Jelas Fredy.


"Baiklah, terima kasih sudah menolong Tuan Anders." Ucap Jeff.


"Ya, sama-sama." Jawab Fredy sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.


Tak berselang lama Anders terlihat mengerjapkan matanya. Mata hazel itu menyipit, menyesuaikan cahaya di ruangan itu.


"Tuan sudah sadar?" Tanya Jeff. Anders menoleh pelan ke arahnya.


"Tuan ada di klinik, tadi Tuan mengalami kecelakaan." Jawab Jeff.


"Kecelakaan?" Anders mencoba mengingat apa yang sudah terjadi pada dirinya. Sedetik kemudian, ia tersadar.


"Ellia?" Gumamnya pelan. Ia ingat, tadi Ellia mengetuk kaca jendela mobilnya tapi ia malah pingsan karena terkejut melihat wanita itu.


"Tuan kenapa? Apa ada yang sakit?" Tanya Jeff yang terlihat khawatir.


"Jeff, siapa yang membawaku kemari?" Anders balik bertanya.


"Seorang pria bernama Fredy dan juga seorang wanita bernama Ellia." Jawabnya.


"Di mana mereka?" Tanya Anders lagi, matanya mengedar tapi tak ada siapapun lagi di ruangan itu selain sang sekretaris.


"Mereka sudah pulang, Tuan." Sahut Jeff.


"Apa kita bisa menemui mereka sekarang?" Anders hendak bangkit dari tidurnya.


"Tuan, sekarang sudah malam. Lebih baik kita pulang saja, kita bisa menemui mereka besok. Tuan juga harus istirahat." Cegah Jeff.


"Baiklah.'' Anders menghembuskan nafas berat, benar juga yang di bilang sekretarisnya itu.


Malam itu juga Anders kembali ke restoran, dokter memberi izin pulang karena kondisi Anders sudah membaik. Sepanjang perjalanan pulang Anders diam saja. Fikirannya kembali melayang mengingat Ellia.


"Ellia mau menolongku, apa itu artinya Ellia tak tahu perbuatanku dulu? Karena kalau ia tahu, ia pasti akan membenciku dan tak bersedia menolongku." Batin Anders bertanya-tanya.


Sementara itu Jeff yang menyetir, tak hentinya memperhatikan Andres dari kaca spion dalam.


"Tuan, Tuan?" Panggil Jeff untuk kesekian kalinya. Sedari tadi Jeff memanggilnya, tapi Anders begitu larut dalam lamunannya.


"Ya." Sahut Anders yang kembali tersadar.


"Tuan kenapa? Apa ada yang sakit? Kita bisa putar arah untuk kembali ke klinik." Kata Jeff.


"Aku baik-baik saja, Jeff. Menyetir saja yang benar." Tukas Anders.


"Tapi Tuan melamun terus. Aku takut Tuan kenapa-kenapa."


"Jeff, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir begitu." Tukas Anders lagi. Lelaki itu menyandarkan punggungnya di kursi mobil, dan memejamkan matanya. Jeff hanya bisa membuang nafas berat.


"Ada apa dengan Tuan Anders? Apa dia sedang ada masalah? Sejak siang tadi jadi banyak melamun. Bahkan sampai kecelakaan seperti ini." Batin Jeff bertanya-tanya sambil sesekali melirik Anders yang duduk di kursi penumpang.


_


_


_


Keesokan harinya.


Anders sudah berdiri di depan sebuah ruko, bangunan itu terdiri dari dua lantai.


"Apa benar ini tempatnya?" Tanya Anders pada Jeff.


"Iya Tuan, semalam Tuan Fredy sendiri yang mengatakannya." Jawab Jeff.


Anders menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Berusaha mengurangi rasa gugup yang tiba-tiba saja datang menyerbu di hatinya. Pria itu melangkah masuk, diikuti Jeff di belakangnya.


TING.


Bel pintu ruko itu berbunyi, menandakan seseorang yang masuk.


"Selamat datang." Suara gadis kecil itu menyapa. Sementara Anders terpaku di tempatnya berdiri. Memandang seorang gadis kecil yang sedang duduk di depan meja kasir.


"Tuan?" Suara Jeff menyadarkannya.


"Ehm." Anders kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam ruko tersebut, mendekati meja kasir.