Ellia Im Sorry

Ellia Im Sorry
CHAPTER 62. MAMA MENANGIS?



"Kau keterlaluan, Jeff." Anders menggerutu, tapi matanya masih membaca dengan teliti berkas yang diberikan Jeff padanya.


"Keterlaluan apanya, Tuan?" Tanya Jeff sambil memasang tampang polos tanpa dosa.


"Aku sedang sakit begini, kau malah menyuruhku membaca tulisan yang kecil seperti ini. Kepalaku makin pusing rasanya." Anders meletakkan berkas itu di atas meja dan memijat keningnya.


"Tuan yang keterlaluan, aku sibuk di kantor sendiri, Tuan malah suap-suapan dengan istri Tuan." Timpal Jeff, Anders langsung menatap tajam pada sekretarisnya.


"Ya sudah, kau saja yang sakit. Biar aku yang menyuapimu!" Seru Anders, namun suaranya terdengar lemah.


"Tuan juga sakit karena salah Tuan sendiri. Kemarin aku sudah memaksa Tuan untuk makan, tapi Tuan tidak mau. Nona Emily juga bilang semalam Tuan pulang larut, padahal cuaca sedang hujan deras. Tuan kemarin ke mana?" Cecar Jeff. Anders tercengang, ia sudah seperti introgasi oleh sekretarisnya sendiri.


"Kau pasti tahu aku ke mana." Jawabnya kemudian.


"Kau tidak akan paham apa yang ku rasakan. Aku hanya ingin menebus kesalahanku pada Ellia, aku ingin mengganti penderitaan yang selama ini ia alami. Tapi aku tidak pernah punya kesempatan sedikitpun." Anders mengusap wajahnya.


"Selama tujuh tahun ini rasa penyesalan selalu menghantuiku, apalagi saat aku bertemu dengan Ellia kembali dan tahu tentang Emily. Rasa penyesalanku semakin besar. Aku ingin sekali memperbaiki semuanya, tapi hanya kebencian yang ku dapat dari Ellia." Ucapnya dengan nada getir. Sedangkan Jeff hanya menjadi pendengar, Anders sedang mengungkapkan beban di hatinya


"Aku selalu terlihat buruk di matanya, tak pernah sedikitpun ia berfikir baik padaku..." Lirih Anders.


"Padahal setelah kejadian malam itu, aku sudah tidak pernah dekat lagi dengan wanita manapun. Karena aku sangat merasa bersalah padanya."


"Tuan..." Jeff tidak bisa memberi solusi apa-apa, karena ini adalah masalah rumah tangga atasannya. Ia hanya bisa memberi rasa simpati.


Anders kembali memijat keningnya, kepalanya rasanya semakin sakit. Ia kemudian mengambil pena dan menandatangani berkas yang di berikan Jeff.


"Nanti tolong kau periksa kembali." Anders memberikan berkas itu kembali pada Jeff.


"Baiklah, Tuan. Aku permisi." Jeff mohon diri.


Pemuda itu keluar dari ruang kerja Anders.


"Nyonya Ellia?" Jeff terkejut melihat Ellia yang berdiri tak jauh dari sana.


"Kau sudah selesai, Jeff?" Tanya Ellia.


"Iya, Nyonya. Aku permisi dulu." Pamit Jeff.


Ellia terpaku di tempatnya berdiri. Manik cokelat di balik kacamata itu bergerak gelisah mendengar semua tadi perkataan Anders pada sekretarisnya. Ia kemudian melangkah menuruni tangga dan menyembunyikan dirinya di bawah sana.


"Apa yang harus ku lakukan, Anders..."


Tanpa Ellia sadari ada sepasang netra hazel yang memperhatikannya dengan wajah polosnya.


_


_


_


Malam harinya.


"Daddy, bagaimana keadaan Daddy? Apa Daddy sudah sembuh?" Tanya Emily yang baru saja masuk ke kamar Anders dan langsung duduk di sampingnya.


"Daddy harus cepat sembuh, supaya Mama tidak sedih." Ujar Emily, Anders menautkan kedua alisnya.


"Mama sedih?" Tanyanya.


"Iya, Daddy. Tadi Emily lihat Mama menangis, Mama juga menyebut nama Daddy." Emily mengadu.


"Di mana Emily lihat Mama menangis?" Tanya Anders penasaran.


"Di bawah tangga, Daddy." Jawab Emily.


Anders terpaku, ada apa dengan istrinya? Apa ia sudah membuat kesalahan lagi?


"Daddy." Panggil Emliy menyadarkan Anders dari lamunannya.


"Ya?"


"I love you." Emily merangsek memeluk Anders.


"I love you too, princess." Anders menghujani pucuk kepala Emily dengan kecupan sayang.


"Cepat sembuh, Daddy."


Anders mengusap-usap punggung Emily, ia bisa merasakan jika Emily begitu menyayangi dirinya. Dirinya pun sama. Emily begitu perhatian padanya, padahal ini hanyalah sakit biasa, sedangkan Emily menderita sakit yang lebih parah.


"Ini sudah malam, sebaiknya Emily pergi tidur." Ucap Anders begitu pelukannya terlepas.


"Iy, Daddy. Emily tidur dulu." Emily mengecup pipi Anders.


"Selamat malam, Daddy."


"Selamat malam, sayang."


Emily kembali ke kamarnya. Ada Ellia di sana.


"Sudah ucapkan selamat malam pada Daddy nya?" Tanya Ellia.


"Sudah Mama." Emily membaringkan badannya.


Tadi ketika hendak tidur, Emily ingin mengucapkan selamat malam dulu pada Anders. Dan Ellia menunggunya di kamar.


"Ya sudah, sekarang Emily tidur ya. Mama akan temani."


"Iya, Mama."


Ellia memberi usapan lembut di kepala Emily dan tak lama putrinya itupun terpejam.


......................


...JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊...