
Willians Group
Senyum sedari tadi tidak lepas dari wajah Anders begitu memasuki ruangannya. Jeff yang sudah sampai di sana lebih dulu meliriknya curiga.
"Ehm." Pemuda itu berdehem.
"Ada apa?" Tanya Anders yang mendaratkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
"Sepertinya Nyonya Ellia sudah benar-benar jinak." Celetuk Jeff, ia ingat kemarin saat melihat Ellia yang sedang menyuapi Anders.
"Ya, kau benar. Istriku memang sudah jinak." Sahut Anders.
"Jadi benar? Wah, kau hebat Tuan." Puji Jeff sambil bertepuk tangan.
"Tidak perlu berlebihan, Jeff." Tukas Anders.
"Tapi ini sebuah kemajuan yang pesat. Apa Tuan tidak ingin merayakannya?" Tanya Jeff.
"Merayakan?" Anders balik bertanya.
"Iya, memberiku tiket liburan contohnya." Jawab Jeff penuh harap. Anders langsung menatap tajam pada sekretarisnya itu.
"Kau ingin liburan?" Tanya Anders datar. Jeff mengangguk cepat.
"Tentu saja, Tuan. Aku penat dengan urusan kantor dan ingin menyegarkan fikiranku." Jawabnya.
"Hm... Menyegarkan fikiran ya?" Anders mengetuk-ngetuk jari telunjuknya pada dagunya. Sementara Jeff menatapnya penuh harap.
"Kau tahu, aku hanya butuh ke makam keluargaku untuk menyegarkan fikiranku." Sahut Anders. Wajah Jeff langsung berubah datar.
"Tapi keluargaku masih hidup Tuan. Aku tidak punya makam keluarga." Timpalnya.
"Ya makam siapa saja bisa kau kunjungi. Suasana di pemakaman itu tenang, Jeff. Jadi fikiranmu juga ikut tenang dan setelahnya fikiranmua akan terasa segar." Balas Anders dengan entengnya.
"Menyesal aku meminta libur padamu, Tuan." Jeff menyahut.
"Lagipula kau ini ada-ada saja. Kita sedang banyak pekerjaan, tapi kau malah meminta liburan." Tukas Anders.
"Kita banyak pekerjaan juga gara-gara Tuan pakai acara sakit segala." Balas Jeff tak mau kalah.
"Jeff!" Anders menggeram.
"Ya, Tuan. Ada apa?" Jeff memasang tampang polosnya.
"Kau benar-benar menyebalkan!"
"Kalau aku menyebalkan, Tuan tidak akan betah bekerja denganku."
Mulut Anders menganga mendengarnya. Kenapa sekretarisnya itu selalu saja bisa menjawab perkataannya.
"Oh ya, Tuan kemarin ke mana? Aku menghubungi Tuan tapi tidak aktif, sampai aku harus menelepon ke mansion, tapi ternyata Tuan tidak ada." Tanya Jeff kemudian.
"Tentu saja aku ke pamakaman, kau fikir aku pergi ke mana? Aku ingin menyegarkan fikiranku." Jawab Anders tanpa memberitahu soal Lucas pada sekretarisnya itu.
"Kenapa kau selalu mencariku? Apa kau tidak bisa bekerja sendiri?"
Jeff tercengang mendengar pertanyaan Anders.
Apa katanya tadi? Bekerja sendiri? Memangnya perusahaan itu milik siapa?
_
_
_
Akhir pekan tiba.
Ellia masih betah bergelung di dalam selimutnya, apalagi udara terasa sangat dingin membuatnya enggan beranjak dari kasur.
"Mama, Mama!" Suara menggemaskan itu terdengar di telinganya.
"Hem... Ada apa, sayang?" Tanya Ellia dengan mata yang masih tertutup.
"Ayo bangun, Mama! Daddy bilang, kita akan pergi hari ini." Seru Emily sambil menggerakkan lengan Ellia, berharap ibunya segera bangun.
"Pergi? Pergi ke mana?" Tanya Ellia, matanya mengerjap-ngerjap. Rasanya semalam Anders tak mengatakan apapun pada dirinya. Emily duduk di sampingnya.
"Daddy bilang mau mengajak kita untuk bertemu Grandpa, Grandma dan juga Aunty Alice." Jawab Emily. Wanita muda itu langsung terduduk, masih dengan selimut yang membungkus tubuh polosnya.
Ellia berfikir sejenak, bukannya orang-orang yang disebutkan Emily tadi sudah meninggal?
"Mama kenapa diam? Ayo cepat bersiap." Emily hendak menarik selimut Ellia, tapi dengan sigap Ellia menahannya.
"Eh, iya sayang. Mama mandi dulu ya." Ellia bangkit dari tempat tidur, ia mencari pakaiannya semalam yang tercecer di atas lantai tapi sudah tidak ada. Sepertinya Anders sudah membereskannya.
Sedangkan Emily memandang heran pada Mamanya yang membawa selimut tebal itu ke kamar mandi.
"Kenapa Mama bawa selimut ke kamar mandi? Apa di kamar mandi Mama tidak ada handuk?" Gumamnya sambil menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal.
_
_
_
Emily menuju meja makan, di mana sudah ada Anders yang duduk manis di sana.
"Daddy, Daddy!" Panggilnya.
"Iya, sayang." Anders membawa Emily ke atas pangkuannya.
"Di mana Mama?" Tanyanya.
"Mama sedang mandi. Daddy, apa di kamar mandi Daddy tidak ada handuk?" Emily balik bertanya, sepasang netra hazelnya menatap Anders penuh tanya.
"Tentu saja ada. Kenapa memangnya?" Tanya Anders heran.
"Tapi tadi Mama membawa selimut ke kamar mandi, Emily kira tidak ada handuk di sana." Jawab Emily yang masih saja penasaran tentang handuk dan selimut. Anders tercenung.
Eh, semalam kan mereka habis membuat adik untuk Emily. Dan Ellia belum sempat berpakaian lagi tapi wanita itu sudah tertidur karena kelelahan, Anders memintanya lebih dari sekali. Pakaiannya pun sudah Anders masukkan ke dalam keranjang baju kotor pagi tadi.
"Mungkin Mama kedinginan, jadi Mama mandi pakai selimut." Jawab Anders sekenanya.
Hah?
Emily kembali menggaruk kepalanya, sedangkan netra hazelnya melirik ke atas seperti sedang berfikir.
Mandi pakai selimut?
"Sudah Emily, tidak perlu difikirkan." Tukas Anders. Kalau masih saja di bahas, bisa-bisa Anders keceplosan nantinya.
Tak lama kemudian Ellia ikut bergabung bersama mereka.
"Selamat pagi!" Sapa Ellia.
"Pagi Mama." Balas Emily. Sedangkan Anders hanya tersenyum.
"Oh ya, Anders. Emily bilang kita akan pergi hari ini?" Tanyanya sambil mengambil tempat duduk di samping suaminya.
"Ya, kita akan ke makam keluargaku." Jawab Anders.
"Di mana itu?" Ellia bertanya lagi.
"Di pemakaman kota, tidak jauh dari sini. Selesai sarapan kita akan ke sana." Jawab Anders yang di jawab anggukkan oleh Ellia.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊