
Selesai merapikan barang yang berantakan, Ellia menata beberapa barang mengisi stok yang kosong. Ruko itu menjual berbagai kebutuhan harian.
"Hai Ellia. Ada yang bisa ku bantu?" Sapa Fredy.
"Hai Fredy." Sapa Ellia kembali.
"Tidak perlu aku sudah hampir selesai." Jawab Ellia, ia kembali fokus pada pekerjaannya.
"Apa kau tak lelah mengurus ruko ini sendiri?" Tanya Fredy yang berdiri di samping Ellia sambil memperhatikan wanita muda itu yang selalu terlihat menarik di matanya.
"Rasa lelah tentu ada, tapi Emily selalu membuatku bersemangat." Jawab Ellia sambil tersenyum mengingat putri semata wayangnya.
"Keluargamu sudah memberiku kepercayaan untuk mengurus ruko ini. Aku tak ingin mengecewakan keluargamu." Lanjut Ellia masih dengan senyumnya.
"Ya, ternyata bukan keputusan yang salah mempercayakan toko ini padamu." Sahut Fredy. Fredy menatap dalam mata cokelat Ellia yang terhalang kacamata.
"Apa kau sudah bisa memberi jawaban atas permintaanku?" Tanya Fredy yang berubah serius. Seketika Ellia terdiam mendengar pertanyaan Fredy tentang permintaannya yang selalu sama.
"Ehm, bisakah kau memberiku waktu lagi?" Ragu-ragu Ellia bertanya. Wanita yang kini berusia dua puluh lima tahun itu terlihat menundukkan wajahnya.
"Apa kau masih memerlukan waktu? Bukankah kita sudah cukup lama saling mengenal?" Fredy balik bertanya. Mereka sudah saling mengenal cukup lama. Dan sudah sering ia meminta pada Ellia, tapi Ellia tak pernah memberikan jawaban yang pasti.
"Fred, ku rasa kau bisa mengerti kenapa aku seperti ini..." Lirihnya. Terdengar helaan nafas panjang dari Fredy.
"Maaf, kalau aku seperti memaksa. Aku akan menunggumu, sampai kau siap." Lelaki itu tersenyum simpul.
"Maaf..." Gumam Ellia pelan.
"Tidak perlu meminta maaf. Oh iya, bagaimana kalau kita makan siang di luar? Sudah hampir waktunya makan siang bukan?" Fredy mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ku dengar ada restoran yang baru buka, dan mereka memberikan diskon yang cukup besar selama seminggu ini." Sambung Fredy membuat Ellia tertawa kecil.
"Tentu. Karena ada diskon jadi biarkan aku yang membayar. Aku selesaikan ini dulu, tinggal sedikit lagi. Kau tunggulah di depan dengan Emily." Sahut Ellia.
"Baiklah." Jawab Fredy sambil melangkah pergi. Ellia menatap punggung Fredy yang menjauh.
"Fredy pria yang baik. Dan aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri. Tapi ia selalu memintaku untuk menjadi pendampingnya. Dan aku selalu takut untuk mencoba memulai hubungan dengan seorang pria. Walaupun ia menyayangi Emily, tapi tetap saja ada ketakutan tersendiri dalam hatiku." Batin Ellia.
Fredy Luxer, pria yang lumayan tampan dan juga sangat baik. Fredy dan keluarganya lah yang sudah menolong Ellia selama ini saat Ellia berada di titik terendah dalam hidupnya. Pria itu sudah menyukai Ellia sejak lama, tapi Ellia selalu takut untuk mengambil keputusan.
_
_
_
AC Resto
Di sebuah rumah makan yang terbilang cukup mewah, seorang pria nampak berdiri menghadap jendela. Di belakangnya ada seorang sekretaris yang selama beberapa tahun ini begitu setia menemaninya.
"Bagaimana Tuan? Apakah tempat ini sudah sesuai dengan keinginan anda?" Tanya sekretaris yang bernama Jeff itu pada Tuannya.
"Ya, sepertinya begitu." Sahutnya.
Pria itu melepas kacamata hitamnya. Mata hazel itu memandang ke arah luar jendela. Tampak pemandangan sebuah kota yang masih nampak asri. Masih bnayak pepohonan ynag tumbuh lebat di sana. Tidak seperti pusat kota tempat tinggalnya yang sudah gersang dan penuh dengan gedung bertingkat.
Anders baru saja tiba di kota kecil itu untuk melihat tempat usaha yang baru saja didirikannya.
"Bagaimana dengan antusiasme warga sekitar sini? Apa mereka tertarik dengan promosi yang kita tawarkan?" Tanya Anders, pandangan masih menatap keluar.
"Bagus kalau begitu. Ingat berikan diskon 90% selama seminggu ini. Setelah itu gunakan harga normal namun tak mencekik konsumen." Ucap Anders, senyum puas nampak di wajah tampannya.
"Baik Tuan, sesuai perintah anda. Apa Tuan ingin turun ke bawah untuk menyapa beberapa konsumen pertama kita?" Tanya Jeff.
"Tentu. Untuk apa aku jauh-jauh kesini kalau bukan untuk melihat wajah puas dari para konsumen." Jawabnya.
Anders Calvert Willians, kini menjelma sebagai seorang pengusaha muda yang sukses. Dan dia baru saja membuka usaha barunya. Jika selama ini ia hanya di sibukkan oleh masalah perusahaan dan saham, kali ini ia ingin mencoba sesuatu yang berbeda.
Mendirikan restoran dan cafe di sebuah kota kecil rasanya bukan ide yang buruk. Apalagi kota kecil itu masih sangat asri, pasti orang-orang dari kota besar akan banyak yang berkunjung untuk melepas penat.
Dan ia juga membangun sebuah hotel di sana, pembangunannya sudah berjalan beberapa waktu lalu. Untungnya penduduk di kota itu tidak keberatan, malah mereka menyambutnya dengan ramah. Dengan catatan kalau pembangunan restoran dan hotel itu tidak akan merusak keasrian kota kecil itu. Lagipula semua itu bisa membuka lapangan kerja baru bagi penduduk sekitar.
_
_
_
Mobil yang di kendarai Fredy memasuki halaman parkir sebuah rumah makan. Beberapa mobil sudah berjejer rapi di sana.
"Wow... Mama, restorannya besar sekali." Seru Emily begitu keluar dari mobil. Gadis kecil bermata hazel itu tak bisa menyembunyikan kekagumannya melihat bangun restoran dan kafe di hadapannya. Ini adalah restoran termewah yang pernah dilihatnya.
Ada papan nama AC RESTO and CAFE yang terpampang jelas di sana.
"Iya sayang, restorannya bagus." Jawab Ellia, tapi terlihat sedikit kekhawatiran di wajahnya.
"Fred, harga makanan di sini tidak mahal kan?" Bisiknya pada Fredy yang berdiri di sampingnya.
"Kau tenang saja, restoran ini mengadakan diskon promosi 90% selama seminggu." Jawab Fredy dengan berbisik juga. Terdengar helaan nafas lega dari Ellia. Ia takut dompetnya tidak bisa menganggung biaya makannya nanti.
"Kalau uangmu tidak cukup, biar aku saja yang bayar." Lanjut Fredy yang tahu isi hati Ellia, masih dengan berbisik.
"Hah... Aku masih mampu mentraktirmu makan Fred, kalau diskonnya 90%". Ujar Ellia sambil mengerucutkan bibirnya. Fredy tertawa kecil melihatnya.
"Mama, kapan kita akan masuk?" Pertanyaan Emily menyadarkan mereka dari acara bisik-bisik. Gadis kecil itu sudah tak sabar untuk masuk ke dalam sana, perutnya pun sudah keroncongan minta diisi.
"Oh my princess, kau pasti sudah lapar. Ayo kita masuk." Ajak Fred. Mereka bertiga memasuki restoran mewah itu.
_
_
_
"Lumayan." Satu kata terlontar dari bibir Anders ketika melihat para pengunjung restorannya nampak sangat antusias menikmati beraneka macam makanan yang terhidang di sana.
"Jeff, pastikan setiap pengunjung mendapatkan pelayanan yang terbaik." Ucap Anders yang berdiri di bawah tangga sambil memperhatikan para pengunjung di sana.
"Baik Tuan." Jeff mengangguk.
Anders mengedarkan pandangannya melihat para pengunjung restorannya, tapi mendadak pandangannya berhenti di salah satu meja yang berada di sudut ruangan.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊