Ellia Im Sorry

Ellia Im Sorry
CHAPTER 47. MIMPI BURUK



Mata yang tengah tertutup itu terlihat bergerak gelisah. Keringat mulai membasahi keningnya. Kilasan-kilasan memori masa lalu terlintas kembali.


"Alice... Alice... Kau di mana? Lihat Kakak punya sesuatu untukmu." Panggil Anders sambil melangkah masuk ke kamar Alice, tapi tidak nampak sosok yang di carinya.


Grep. Tiba-tiba saja seseorang menutup matanya dari belakang.


"Tebak siapa." Suara itu terdengar di telinga Anders.


"Tentu saja gadis kecilku." Jawab Anders yang kemudian berbalik dan memegang tangan itu. Dilihatnya seorang gadis belia tengah cemberut sambil menatapnya.


"Aku bukan gadis kecil, Kakak. Aku sudah dewasa." Protesnya, bibirnya nampak maju beberapa centi membuat Anders tergelak.


"Iya, gadis kecil Kakak yang sekarang sudah beranjak dewasa." Anders mencubit pipi chubby Alice, membuat adiknya itu makin cemberut. Usia Alice tiga tahun di bawah Anders.


"Kakak!"


"Jangan marah. Oh ya, Kakak punya sesuatu untukmu." Anders melepaskan tas ransel yang di pakai sekolahnya tadi.


"Pasti coklat!" Seru Alice. Anders tertawa kecil, tahu saja adiknya itu jika dirinya membawa coklat.


"Ini." Lima batang coklat di serahkannya pada Alice.


"Banyak sekali, aku bisa makin gemuk kalau begini. Coklat yang kemarin Kakak berikan belum sempat ku habiskan." Ujar Alice sambil menerima coklat tersebut. Coklat adalah cemilan kesukaan Alice.


"Tidak apa, kau bisa memakannya nanti." Sahut Anders.


"Aku jadi penasaran, sebanyak apa gadis yang menyukai Kakakku ini? Hampir tiap hari ada saja yang menyumbang coklat." Celetuk Alice. Anders langsung tertawa mendengarnya, memang para gadis di sekolahnya selalu memberi hadiah untuknya hampir setiap hari, dan paling banyak mereka memberikan coklat. Anders tidak pernah menolak hadiah yang mereka berikan, mau dia suka atau tidak suka. Karena ia menghargai pemberian mereka, tapi bukan berarti Anders menyukai gadis-gadis itu.


"Sudah, kau tinggal nikmati saja. Besok-besok pasti ada yang menyumbang coklat lagi pada Kakak." Sahut Anders.


"Tentu saja, dengan senang hati." Jawab Alice sumringah.


_


_


_


Suara dering ponsel terdengar begitu nyaring membuat Ellia terpaksa membuka matanya. Wanita itu mengucek matanya, dan memakai kembali kacamatanya.


"Sudah pagi?" Gumam Ellia ketika melihat cahaya matahari yang sudah menebus tirai jendela. Ponsel itu kembali berdering, Ellia mencari ke sumber suara. Ternyata ponsel milik Anders yang sedari tadi berdering, ada nama sekretaris Jeff di sana.


Ellia mengedarkan pandangannya mencari Anders. Tapi sepertinya suaminya itu tidak ada di kamar, atau mungkin tidak kembali sejak semalam? Karena ponsel itu terus berdering, Ellia terpaksa mengangkatnya.


"Halo Tuan. Tuan di mana? Sebentar lagi kita ada pertemuan penting." Ucap Jeff begitu panggilannya terhubung.


"Jeff, ini aku Ellia." Sahut Ellia.


"Nyonya Ellia? Maaf Nyonya kalau aku mengganggu." Ucap Jeff merasa tidak enak.


"Aku hanya ingin mengingatkan Tuan Anders kalau sebentar lagi ada pertemuan penting di kantor, Nyonya. Apa Tuan Anders ada?"


"Em... Anders masih tidur. Kau telepon saja nanti." Jawab Ellia yang langsung memutuskan panggilan itu. Jeff yang hendak bicara, jadi tidak jadi. Ellia merapikan pakaiannya dan berjalan keluar kamarnya.


"Maaf, apa kau melihat Anders?" Tanya Ellia pada salah satu pelayan yang kebetulan ada di sana.


"Tuan Anders? Sepertinya Tuan Anders ada di ruang kerjanya, Nyonya." Jawab pelayan itu.


"Ruang kerja? Di mana itu?" Tanya Ellia lagi yang memang belum mengetahui seluk beluk di mansion itu.


"Di sana, Nyonya." Pelayan itu menunjuk sebuah pintu yang bersebrangan dengan kamar Anders.


"Terima kasih." Jawab Ellia, pelayan itu mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


_


_


_


Mata yang masih terpejam itu makin bergerak gelisah, pun dengan keringat yang sudah membasahi tubuhnya. Padahal ada pendingin ruangan di sana, tapi tetap saja peluh itu mengalir deras.


"Alice, kau di mana?" Anders mencari di setiap sudut ruangan, tapi tak ada adiknya di sana.


"Alice!" Anders mulai khawatir karena tak menemukan sosok yang dicarinya.


Apa Alice keluar ruangannya?


Anders berjalan menuju pintu, perasaannya sudah gelisah. Jangan sampai terjadi sesuatu lagi pada adik perempuannya itu.


"Suster, apa kau melihat adikku?" Tanyanya pada suster yang kebetulan melintas.


"Maaf Tuan, saya tidak melihatnya." Jawab suster tersebut.


"Ya Tuhan, ke mana adikku?" Anders masuk kembali ke ruangan Alice. Pandangannya langsung tertuju pada jendela ruangan yang terbuka lebar. Fikiran buruk langsung melintas di fikiran Anders.


"Tidak, Alice tidak akan melakukan itu..." Lirihnya takut sambil melangkah ke arah jendela.


Tubuh Anders langsung lemas tak bertenaga, wajahnya pucat pasi melihat sang adik yang sudah tergeletak di bawah sana dengan bersimbah darah.


"Alice...!!!"


......................


JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊