
Ellia menarik Anders ke dalam pelukannya. Bisa di rasakan tubuh pria itu bergetar dengan isak tangis yang pilu.
"Kematian Alice benar-benar membuatku merasa sangat bersalah. Adikku yang harus menanggung akibat dari perbuatanku..." Lirih Anders. Ellia makin mengeratkan pelukannya.
Ia bisa mengerti rasa sakit yang Anders rasakan. Dirinya kehilangan Ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki dan Anders harus kehilangan tiga anggota keluarganya. Apalagi kematian Alice yang begitu tragis.
"Dan setelah itu perusahaanku mengalami masalah lagi hingga nyaris bangkrut, tapi untungnya masih bisa di selamatkan. Aku benar-benar kacau saat itu Ellia, aku lelah dengan semua yang terjadi dalam hidupku.
Setelah tujuh tahun, semuanya baru membaik. Dan ternyata takdir mempertemukan kita kembali. Aku tidak pernah tahu tentang Emily, itu membuatku semakin bersalah padamu. Aku ingin menebus semua kesalahanku. Demi Tuhan, aku tidak pernah sedikitpun berfikir untuk merebut Emily darimu. Aku hanya ingin memperbaiki kesalahanku, mengganti penderitaan yang selama ini kalian alami karena perbuatanku..."
Tangan Ellia masih setia mengusap-usap punggung Anders. Nyatanya bukan hanya dirinya, tapi pria itu juga telah melewati banyak masalah selama tujuh tahun ini.
Klek, pintu kamar terbuka tiba-tiba.
"Daddy? Daddy sudah pulang?" Suara itu membuyarkan pelukan Ellia dan Anders. Gadis kecil itu melangkah mendekat.
"Daddy, kenapa?" Tanya Emily yang melihat Daddynya sibuk menghapus air matanya.
"Daddy menangis?" Jemari kecil itu menangkup wajah Anders.
"Tidak, Emily. Daddy tidak menangis." Dustanya dengan wajah memasang senyum.
"Daddy jangan bohong, itu mata Daddy basah." Ucap Emily melihat mata Anders yang memang basah.
"Apa Daddy menangis karena dimarahi Mama?" Tanya Emily lagi membuat Anders dan Ellia tercengang.
"Tidak, Emily. Mama tidak memarahi Daddy. Ehm, ini sudah hampir malam, Daddy mau mandi dulu. Kalian tunggulah di meja makan." Anders mengalihkan pembicaraan dan beranjak ke kamar mandi. Emily beralih menata Ellia.
"Benar Mama tidak marahi Daddy?" Mata hazel itu menatap curiga pada Ellia. Wanita itu menggeleng cepat.
"Tidak, sayang. Mama tidak melakukan itu." Jawabnya. Bukan tanpa alasan Emily bertanya seperti itu, gadis kecil itu masih ingat kejadian tadi pagi di mana Ellia memarahi Anders karena menggendong dirinya dan menuruni tangga. Padahal kondisi Anders belum benar-benar pulih.
"Emily kira Mama memarahi Daddy karena masalah tadi pagi." Celetuknya.
_
_
_
"Aku sudah menceritakannya semua pada Ellia. Kini semua terserah Ellia mau menganggapku seperti apa, yang jelas aku sudah jujur padanya."
Anders bangkit kembali dari tidurnya dan keluar kamar. Ia masuk ke ruang kerjanya, dan mengambil sesuatu di laci meja. Foto dirinya bersama Alice.
"My little girl..." Anders mengusap wajah Alice yang berada di foto.
"Im sorry..." Dipeluknya foto itu. Seseorang membuka pintu ruang kerjanya, Ellia yang melihat Anders ada di sana langsung menghampirinya.
"Anders, kau di sini?" Tanya Ellia yang sudah berdiri di belakang Anders. Wanita itu tadi sudah ke kamar namun tak ada Anders di sana dan akhirnya mencarinya di ruang kerjanya.
Anders menyimpan kembali foto itu di laci mejanya.
"Kau merindukannya?" Tanya Ellia. Anders berbalik menatapnya.
"Sangat..." Jawab Anders lirih.
"Jangan sedih lagi. Alice juga pasti sedih jika melihatmu seperti ini." Ucap Ellia, tangannya terangkat menyentuh wajah suaminya.
"Andai waktu bisa di ulang. Ingin ku perbaiki semuanya, semua kesalahan yang seharusnya tidak ku lakukan." Anders memejamkan matanya, merasakan sentuhan hangat di wajahnya.
"Kita bisa memulainya semua dari awal." Netra hazel itu kembali terbuka mendengar perkataan Ellia.
Keduanya saling menatap lekat.
"Kau mau memulai semuanya dari awal?" Tanya Anders. Ellia mengangguk.
"Tentu. Kita jalani pernikahan ini sebagaimana mestinya." Jawab Ellia. Kedua sudut bibir Anders terangkat membentuk senyuman. Senyuman yang dulu mampu menaklukan hati Ellia.
"Aku berjanji, sampai Emily sembuh nanti aku akan menjadi suami dan ayah yang terbaik untuk kalian. Agar pernikahan sementara ini, meninggalkan kenangan yang indah untuk kita." Anders menggenggam tangan Ellia, meskipun saat mengatakannya terselip rasa sakit di hatinya Anders tetap tersenyum. Karena bagaimanapun kesepakatan tetaplah kesepakatan.
"Dan aku akan menjadi istri yang terbaik untukmu." Ellia tersenyum simpul. Wajah keduanya mendekat. Entah siapa yang memulai, kedua bibir itu akhirnya menyatu, mata keduanya terpejam. Ellia bisa merasakan bibir Anders yang menyapu bibirnya begitu lembut dan hangat. Anders menahan tengkuk Ellia, memberi gigitan kecil di bibir itu hingga terbuka. Anders memperdalam ciumannya. Sementara tangan Ellia meraba dada bidang Anders sambil sesekali mencengkramnya saat Anders memperdalam ciumannya.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊