
Ellia memandang heran pada Anders yang sedari tadi menggigau dan menyebut-nyebut nama Alice. Nafas suaminya itu juga terdengar memburu, pun dengan peluh yang terus mengalir di dahinya. Apa suaminya itu sedang bermimpi buruk?
"Anders, bangun." Ellia mengguncang tubuh Anders, karena sedari tadi Anders tak kunjung membuka matanya padahal sudah berkali-kali Ellia memanggilnya.
"Anders bangun!" Ellia mengguncang tubuh Anders lebih keras.
"Alice!"
Akhirnya mata Anders terbuka, pandangan keduanya bertemu tapi sepertinya Anders masih mengumpulkan kesadarannya.
"Ellia?" Anders baru sadar sepenuhnya, dan dirinya begitu terkejut saat menyadari tangannya yang tengah memegang erat tangan wanita yang berdiri di hadapannya itu. Anders langsung melepaskannya, dan beranjak duduk. Dilihatnya Ellia yang tengah menatap datar padanya.
"Ada apa?" Tanya Anders sambil memjiat keningnya. Mimpi buruk itu datang kembali, membuat kepalanya sedikit berdenyut.
"Kau baik-baik saja?" Ellia balik bertanya, namun masih dengan mode datarnya.
"Aku tidak apa-apa. Ada apa kau kemari?"
"Sekretaris Jeff daritadi meneleponmu."
Ellia menyerahkan sebuah ponsel pada suaminya, dan Anders menerimanya.
"Jeff? Jam berapa sekarang?" Tanya Anders sambil mengecek ponselnya.
"Jam delapan." Jawab Ellia, Anders langsung tersentak mendengarnya.
"Jam delapan? Astaga! aku ada pertemuan penting pagi ini." Dengan langkah tergesa Anders meninggalkan ruang kerjanya dan juga Ellia yang masih berada di sana.
Perhatian Ellia beralih pada sesuatu yang tergeletak di lantai, diraihnya benda itu. Sebuah bingkai foto. Ada dua orang berfoto di sana mengenakan seragam sekolah. Seorang pria mengenakan seragam SMA dan seorang gadis mengenakan seragam SMP.
"Siapa gadis ini? Apa hubungannya dengan Anders?''
Ellia memperhatikan foto wajah gadis yang berada di sebelah suaminya.
"Wajahnya mirip dengan Anders dan... Emily. Apa dia yang bernama Alice, yang sedari tadi Anders sebut-sebut namanya?"
Klek, pintu ruangan itu terbuka. Anders masuk kembali ke ruang kerjanya, pria itu sudah terlihat rapi dengan setelan kerjanya. Cepat sekali pria itu mandi. Dilihatnya bingkai foto itu di tangan Ellia.
"Bisa kau berikan itu padaku?" Pinta Anders sambil mengadahkan tangannya. Ellia memberikannya.
"Siapa gadis di foto itu?" Tanya Ellia.
"Lalu di mana keluargamu? Rasanya dari kemarin aku tak melihat siapapun di mansion ini selain para pelayan?" Tanya Ellia lagi.
"Itu tidak penting untukmu." Sahut Anders, Ellia menautkan kedua alisnya.
"Aku harus ke kantor sekarang. Nanti kau dan Emily sarapan berdua saja." Ucap Anders kemudian. Ellia hanya bisa menatap heran pada suaminya yang langsung berlalu dari sana.
"Kenapa jawaban Anders seperti itu? Apa karena pernikahan ini hanya sementara jadi Anders tidak mau mengenalkan keluarganya padaku?" Batin Ellia bertanya-tanya.
_
_
_
Willians Group
Pertemuan itu berjalan lancar, perusahaan Anders kembali menjalin kerja sama dengan perusahaan besar lainnya. Membuat Willians Group semakin melebarkan sayapnya di dunia bisnis, Willians Group semakin sukses di tangan Anders. Padahal dulu perusahaan itu nyaris bangkrut karena kehilangannya pemimpinnya yang merupakan Ayah dari Anders, tapi untungnya Anders berhasil menyelamatkannya dan perusahaan itu berdiri kembali dan semakin berkembang pesat.
Anders dan sekretarisnya kini sudah kembali ke ruangannya. Jeff melirik ke arah bos nya yang tengah sibuk dengan beberapa berkas. Sebuah senyum usil terbit di bibirnya.
"Bagaimana semalam, Tuan?" Tanya Jeff, Anders langsung menoleh ke arahnya.
"Apanya?" Anders balik bertanya.
"Malam pengantin, Tuan. Pasti sangat seru dan menyenangkan kan? Mengingat setelah tujuh tahun kalian baru melakukannya lagi." Ucap Jeff dengan nada meledek. Tatapan membunuh langsung Anders layangkan pada sekretarisnya.
"Jeff! Kau benar-benar menyebalkan!" Serunya. Bukannya takut, sekretarisnya itu malah tertawa lepas.
"Tapi aku benar kan Tuan? Buktinya tadi pagi waktu aku menelepon, Nyonya Ellia bilang kalau Tuan masih tidur. Tuan pasti kelelahan semalam." Ledek Jeff di tengah tawanya.
"Jeff, rasanya aku ingin memecatmu sekarang." Geram Anders. Kelelahan apanya? Yang ada dirinya malah terpaksa mengungsi tidur di ruang kerjanya karena takut pada Ellia.
"Tuan tidak mungkin memecatku, karena Tuan tidak bisa bekerja kalau tidak ada diriku." Timpal Jeff dengan santainya. Anders menganga di buatnya.
"Cih, percaya diri sekali." Anders mengerutu, walaupun memang begitu kenyataannya.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊