
"Tuhan... Apa salahku? Kenapa aku harus kehilangan ibuku atas kesalahan orang yang bahkan tidak ku kenal? Dan kenapa juga harus aku yang menanggung semua ini?" Isaknya dalam tangis.
Ellia menjatuhkan tubuhnya di pinggir jembatan layang yang nampak sepi.
"Siapapun laki-laki itu, aku benar-benar membencimu! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!"
Tangis Ellia makin menjadi, ingin rasanya ia terjun dari sana mengakhiri hidupnya. Namun ia teringat, ada kehidupan lain di dalam rahimnya. Dan janin kecil itu sama sekali tak bersalah, tidak mungkin ia harus ikut menanggung akibat dari perbuatannya.
"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Ellia putus asa, tangannya mengusap perutnya yang masih rata.
Hari berganti, tak mudah hidup yang harus di jalani Ellia. Apalagi ia harus menjalani hidup seorang diri.
Ellia sudah mendatangi tempat kerjanya, tapi pemilik tempat kerjanya nyatanya sama saja seperti para tetangganya. Menganggap dirinya adalah aib. Begitupun dengan teman kerjanya, tidak ada yang bersedia membantu dirinya.
Mencoba mencari pekerjaan ke tempat lain, tapi tidak ada tempat yang mau menerimanya. Apalagi melihat penampilannya yang tampak lusuh, baru juga menginjakkan kaki Ellia sudah lebih dulu di usir.
"Hei, apa yang kau lakukan di sini? Kau bisa membuat para pelangganku kabur dari sini karena melihat penampilanmu yang kotor itu. Pergi dari sini!" Usir seorang wanita paruh baya saat Ellia mendatangi rumah makannya bermaksud untuk meminta pekerjaan.
"Nyonya, aku kelaparan Nyonya. Berikan aku sedikit makanan. Aku bersedia bekerja apa saja di sini, aku mohon Nyonya." Pinta Ellia memelas sambil melipat tangannya di depan dada.
"Apa kau tidak dengar? Aku bilang pergi dari sini!" Tanpa belas kasihan wanita itu mendorong Ellia hingga hampir terjatuh.
"Pergi sana! Rumah makanku bukan panti sosial!" Serunya sambil berkacak pinggang. Mau tak mau Ellia akhirnya pergi dari sana dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Ya Tuhan, kenapa dunia ini begitu kejam padaku. Aku hanya ingin sedikit makanan agar anakku tidak kelaparan." Lirih Ellia dalam tangisnya.
Sudah beberapa rumah makan dan juga toko ia datangi, tapi orang yang melihatnya kedatangannya menatapnya dengan tatapan jijik dan langsung mengusirnya.
Dengan terpaksa Ellia mengais sisa makanan dari orang-orang yang terkadang meninggalkan makanannya begitu saja, bahkan dari tempat sampah sekalipun. Apa saja ia makan agar anak dalam kandungannya tidak kelaparan.
Sementara itu di tempat lain, di sebuah rumah sakit, Willians Hospital.
Seorang pria paruh baya nampak terbaring dengan berbagai alat medis yang menempel di tubuhnya. Sedangkan seorang wanita begitu setia duduk di samping menemaninya. Wanita itU mengusap air mata yang terus mengalir di wajahnya.
"Mom, jangan menangis terus. Daddy pasti sembuh." Ucap Anders pada Mommynya. Di sampingnya juga berdiri seorang gadis muda berambut cokelat yang merupakan adik perempuannya.
"Bagaimana kalau Daddy kalian tidak dapat bertahan?" Tanya Mommy Anders dengan suara tercekat.
"Mom, jangan bicara seperti itu. Daddy pasti bisa bertahan dan sembuh." Ucap Alice, adik perempuan Anders yang malah ikut-ikutan menangis.
"Mommy hanya takut..." Lirih wanita paruh baya itu.
Alice memeluk sang Mommy dari belakang, begitu juga dengan Anders. Sudah beberapa bulan ini Daddy mereka terbaring koma karena sakit yang di deritanya.
"Daddy pasti sembuh, Mom." Tak henti-hentinya Anders membisikkan kata itu pada Mommy dan juga adik perempuannya. Memberi keyakinan pada dua wanita kesayangannya, walaupun hatinya semndiri rapuh dan perasaannya galau.
"Bagaimana keadaan Ellia sekarang? Apa mungkin dia baik-baik saja setelah apa yang ku lakukan padanya? Ellia, maafkan aku yang belum bisa menemuimu dan mengatakan yang sebenarnya."
Ucap Anders dalam hati. Rasa penyesalan seakan terus menghantui remaja itu. Tapi ia belum memiliki waktu untuk menemui Ellia karena keadaannya yang tidak memungkinkan.
Belakangan ini pemuda itu sering melamun, pikirannya benar-benar bercabang memikirkan kesehatan Daddynya, perusahaan keluarganya, dan juga gadis yang telah ia renggut kesuciannya.
Waktu terus berjalan, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Tanpa terasa tujuh tahun sudah berlalu....
Di sebuah kota kecil yang masih asri. Di sebuah ruko dua lantai.
"Emily, apa kau sudah selesaikan PR mu?" Tanya Ellia pada putri semata wayangnya.
"Sudah Mama, aku sudah selesai kan semuanya." Jawab seorang gadis kecil bermata hazel.
"Mama, apa ada yang bisa ku bantu?" Emily menghampiri ibunya yang sedang merapikan beberapa barang yang berantakan.
"Tidak sayang. Lebih baik kau kembali ke atas saja. Nanti Mama akan memanggilmu saat makan siang."
Di lantai dua ruko itu memang ada sebuah kamar yang menjadi tempat tinggal mereka berdua.
"Tidak Mama, aku ingin di sini." Tolak Emily dengan bibir mengerucut, membuatnya semakin menggemaskan.
"Oh, begitu? Bagaimana jika menjaga meja kasir saja?" Tawar Ellia.
"Okey." Jawab Emily dengan semangat sambil berlari kecil menuju meja kasir, membuat Ellia tersenyum melihat tingkahnya.
Emily Scherie adalah seorang gadis kecil bermata hazel dan berambut panjang berwarna coklat. Selalu terlihat ceria dan suka berceloteh. Emily juga menjadi satu-satunya alasan Ellia untuk bertahan sampai saat ini dan menjalani hidupnya yang tak mudah.
TING
Terdengar bel pintu ruko itu, menandakan ada orang yang masuk.
"Paman Fredy!" Sapa Emily riang. Seorang pria dewasa berusia tiga tahun di atas Ellia memasuki ruko itu.
"Hei princess." Sapa Fredy kembali, ia berdiri di depan meja kasir berhadapan dengan Emily yang sedang duduk di atas kursi.
"Bagaimana sekolahmu hari ini?" Tanya Fredy sembari mencubit pelan pipi chubby Emily.
"Baik-baik saja Paman, dan tadi guru hanya memberi sedikit tugas dan aku sudah menyelesaikannya." Jawab Emily panjang kali lebar.
"Wah, kau hebat sekali. Apa kau mengerjakan PR mu sendiri?" Tanya Fredy lagi.
"Tentu, karena Mama sedang sibuk di sana." Jawab Emily sambil menunjuk ke arah ibunya yang masih sibuk.
"Princess ku ternyata sangat pintar." Puji Fredy.
"Paman ke Mama mu dulu ya, mungkin saja Mama mu butuh bantuan Paman." Fredy mengusap puncak kepala Emily.
"Ok Paman. Aku akan menjaga meja kasir di sini." Sahut Emily.
Selesai merapikan barang yang berantakan, Ellia menata beberapa barang mengisi stok yang kosong. Ruko itu menjual berbagai kebutuhan harian.
"Hai Ellia. Ada yang bisa ku bantu?" Sapa Fredy.
"Hai Fredy." Sapa Ellia kembali.
"Tidak perlu aku sudah hampir selesai." Jawab Ellia, ia kembali fokus pada pekerjaannya.
"Apa kau tak lelah mengurus ruko ini sendiri?" Tanya Fredy yang berdiri di samping Ellia sambil memperhatikan wajah wanita muda itu yang selalu terlihat menarik di matanya.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊