Ellia Im Sorry

Ellia Im Sorry
CHAPTER 71. MEMBERI KESEMPATAN



Detik selanjutnya tubuh Ellia serasa melayang, karena Anders menggendongnya. Tanpa melepas tautan bibir mereka Anders membawa Ellia kembali ke kamar. Tanpa peduli dengan tatapan terkejut para pelayan yang kebetulan melintas di sana.


Ciuman mereka terhenti sejenak ketika tangan Ellia membuka pintu kamar. Anders mengunci kembali pintu itu.


"Kenapa di kunci?" Tanya Ellia.


"Aku takut Emily merobos masuk." Jawab Anders yang kembali menyatukan bibir mereka.


Diletakkannya tubuh itu perlahan di atas tempat tidur. Anders melepas ciumannya. Ia kemudian melepaskan kacamata yang begitu setia menempel di wajah Ellia.


Sepasang mata hazel itu menatap dalam wajah yang kini di bawah kuasanya. Wajah yang dulu berhasil membuatnya terlena untuk pertama kalinya. Dibelainya wajah itu. Satu kecupan mendarat di kening Ellia lalu di ke dua pipinya.


Anders kembali menyatukan bibir mereka dengan tangan yang mulai menjelajah. Meraba apapun yang ia inginkan. Tangannya mulai nakal dan menyusup masuk ke dalam pakaian yang Ellia kenakan. Menyentuh secara langsung dua aset berharga milik Ellia. Ciumannya beranjak turun, bibir Anders memberi kecupan-kecupan kecil pada leher putih mulus itu. Satu lenguhan lolos dari mulut Ellia membuat Anders semakin bersemangat menyentuh istrinya.


Hingga akhirnya seluruh pakaian mereka terlepas dan berserakan di lantai, Anders menarik selimut untuk menutup tubuh polos keduanya dan Anders menghujaninya tubuh di bawahnya dengan kecupan lembut. Ellia benar-benar terbuai dengan perlakuan Anders.


Tangan nakal itu kembali bermain di daerah atas, melakukan apapun sesuka hatinya. Pun dengan bibir Anders yang banyak meninggalkan jejak di sana. Tak ada yang mampu Ellia lakukan selain meremat sprei, menyalurkan kenikmatan yang tengah ia rasakan.


Anders membuka kedua kaki Ellia dan mulai memposisikan dirinya, sedangkan Ellia memejamkan matanya saat merasakan suaminya memulai penyatuannya. Dua tangan itu saling bertaut dengan Anders yang mulai menggerakkan tubuhnya.


"Anders..." Suara Ellia terdengar mendayu-dayu di telinga Anders membuatnya semakin bersemangat dan mempercepat gerakannya.


"Nikmati saja, Ellia..." Bisik Anders.


Kedua kaki Ellia melingkar di pinggang Anders saat merasakan pelepasan itu akan segera datang. Ellia membenamkan wajahnya di ceruk leher Anders, sedangkan Anders memeluk erat punggung Ellia.


"Anders, aku..."


"Sebentar lagi, Ellia..."


Satu lenguhan panjang keluar dari mulut keduanya saat pelepasan itu datang bersamaan. Nafas keduanya terdengar memburu, Anders terdiam sejenak mengatur nafas. Ia melabuhkan satu kecupan singkat di bibir Ellia sebelum bangkit dari tubuhnya.


Lelaki itu berbaring di samping Ellia dan menarik Ellia ke dalam pelukannya. Menyandarkan kepala Ellia di dadanya yang masih basah dengan peluh. Ellia bisa merasakan jantung yang berdetak cepat sama seperti miliknya.


Ternyata seperti ini rasanya jika bercinta tanpa paksaan, dan Ellia baru merasakannya setelah tiga kali melakukannya. Rasanya sungguh memabukkan. Ellia benar-benar terlena, apalagi Anders memperlakukannya dengan sangat lembut seolah dirinya adalah sesuatu yang begitu berharga.


Setelah mendengar cerita Anders tentang alasannya menghilang selama tujuh tahun ini, rasanya tidak adil jika tidak memberi pria itu kesempatan. Akhirnya Ellia memutuskan memberi kesempatan pada Anders untuk menjalani pernikahan mereka seperti pernikahan pada umumnya. Bukan hanya Anders, ia juga akan memperbaiki sikapnya terhadap suaminya itu.


_


_


_


Sinar mentari sudah mengintip di balik celah tirai. Anders sudah terjaga sejak tadi. Yang dilakukannya hanya memandangi wajah Ellia yang terlihat begitu damai dalam tidurnya. Rasanya bagai mimpi, wanita yang membencinya setengah mati kini berada dalam dekapannya.


Jemari pria itu mulai menyentuh sesekali mencubit hidung wanita yang sedang terlelap dalam pelukannya. Ellia bergerak pelan, mungkin merasa terganggu.


"Anders, hentikan..." Suara Ellia terdengar parau.


"Aku masih mengantuk." Sambungnya dengan mata yang masih tertutup.


"Ini sudah pagi, istriku." Ucap Anders yang kembali mencubit hidung mancung milik Ellia. Ellia membuka sebelah matanya, mengintip jam yang terpasang di dinding.


"Baru jam enam, Anders." Timpal Ellia yang kembali menutup mata.


"Sudah jam enam. Ayo bangun, Elliana Scherie!"


"Aku masih mengantuk Anders Calvert Willians!"


Anders terkekeh pelan mendengarnya. Sebuah senyum usil terbit di wajah tampannya. Ia membuka selimut yang membalut tubuh polos mereka.


......................


JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊