
"Oh ya, di mana Fredy? Rasanya aku tidak pernah melihatnya?" Tanya Anders sambil menyesap kopinya.
"Fredy? Dia sedang ke luar kota karena ada pekerjaan di sana." Jawab Ellia. Anders mengangguk-anggukan kepalanya.
"Apa kau punya hubungan dengan Fredy?" Tanya Anders, tatapannya terlihat menyelidik.
"Hubungan?" Ellia balik bertanya.
"Ya, awalnya ku kira dia suamimu. Namun sekarang ku pikir dia adalah kekasihmu?" Tanya Anders lagi.
"Kekasih? Suami? Kau ini ada-ada saja." Timpal Ellia yang mengelengkan kepalanya.
"Yang pertama kali melihat kalian, pasti akan berfikir seperti itu." Sahut Anders.
"Fredy sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri. Karena dia dan keluarganya yang menolongku saat aku..." Ucapan Ellia terhenti, wajahnya mendadak berubah suram.
"Ada apa Ellia?" Anders memperhatikan raut wajah Ellia yang terlihat berubah. Ellia menggeleng pelan sambil tersenyum getir.
"Kau tahu Anders, sebelum sampai di sini aku mengalami ujian hidup yang sangat berat bagiku..." Lirih Ellia, kilat bening nampak di balik netranya yang terhalang kacamata.
Tanpa sadar tangan Anders menggenggam jemari Ellia, ia bisa merasakan kalau wanita di hadapannya tengah menahan kesedihan.
"Kau bisa berbagi cerita padaku, kalau kau percaya padaku. Tapi kalau kau tak ingin menceritakannya juga tak apa, aku tak akan memaksa." Anders tersenyum lembut, tangannya semakin erat menggenggam tangan Ellia.
Ellia merasa nyaman, ia pikir tak ada salahnya bercerita pada Anders. Lagipula ia sudah mengenal Anders sejak lama, walaupun mereka tak pernah dekat. Tapi ia tahu, Anders adalah laki-laki yang baik. Buktinya Emily mudah sekali akrab dengannya.
Bukankah seorang anak kecil bisa melihat jiwa seseorang? Mereka tahu mana orang yang tulus dan berpura-pura baik.
Sepasang mata coklat yang selalu di hiasi kacamata tebal itu terlihat menerawang. Mengingat kembali kejadian pahit di dalam hidupnya.
"Tujuh tahun yang lalu, tepatnya saat pesta perpisahan sekolah. Kejadian buruk itu menimpaku.... Kesucianku di renggut oleh seseorang yang tidak ku kenal..." Ellia mulai bercerita, Sedangkan Anders menyimaknya dan menjadi pendengar yang baik.
"Hari itu Karen menjemputku dan memintaku untuk ikut ke pesta perpisahan sekolah, pada awalnya aku menolak. Namun Karen terus memaksaku, apalagi sikapnya yang mendadak berubah baik padaku membuatku tak bisa menolak ajakannya.
Tapi siapa sangka, setelah sampai di pesta itu aku malah di paksa mabuk oleh Karen dan teman-temannya. Hingga aku lupa apa yang telah terjadi pada diriku. Pagi harinya saat aku bangun, aku sudah berada di sebuah penginapan.
Dan aku menyadari kalau aku telah kehilangan kesucianku. Aku merasa hidupku hancur saat itu. Aku sempat berfikir untuk mengakhiri hidupku, tapi aku teringat pada ibuku. Hanya ibuku satu-satunya yang keluarga yang ku miiki. Siapa yang akan menjaganya nanti?
Aku memutuskan untuk merahasiakan dan melupakan kejadian itu. Tapi satu bulan kemudian, akhirnya aku baru mengetahui bahwa diriku tengah hamil. Hamil anak dari seseorang yang tidak aku ketahui sampai saat ini..."
Anders menatap intens Ellia, jantungnya berdetak lebih cepat. Ternyata Ellia memang tak mengetahui tentang perbuatannya.
"Lalu?"
"Ibuku terkena serangan jantung dan meninggal saat tahu kalau aku hamil, aku menceritakan kejadian yang sebenarnya pada ibuku dan itu membuat ibuku begitu terpukul dan menyalahkan dirinya sendiri karena telah mengizinkan aku pergi ke pesta malam itu. Padahal itu bukan salahnya." Mata Ellia berkaca-kaca mengingat sang ibu. Sementara sepasang mata hazel Anders terlihat memucat.
"Sepulang dari pemakaman, aku di usir dari rumahku sendiri oleh para tetanggaku. Karena mereka menganggap aku adalah aib, aku hamil tanpa ikatan pernikahan. Dan dengan alasan takut terkena karma, mereka mengusirku.
Bahkan saat itu aku tak punya uang sepeser pun. Dalam keadaan hamil, aku hidup di jalanan dan tak ada yang peduli sedikit pun padaku. Ibuku, satu-satunya anggota keluarga yang ku miliki pergi meninggalkanku. Bahkan aku sampai mengais sisa makanan dari tempat sampah, agar anakku tidak kelaparan." Ellia mencoba menahan sesak di dadanya.
Setitik air mata Anders menetes, ia tak mengira perbuatannya telah menghancurkan hidup Ellia.
"Kenapa kau memilih untuk mempertahankan kandunganmu? Padahal kau tidak tahu anak siapa itu?" Tanya Anders, Ellia tersenyum getir.
"Karena hanya anakku yang ku miliki. Dan anakku tidak bersalah. Aku sempat berfikir untuk bunuh diri yang kedua kalinya, tapi aku tidak ingin menambah dosaku. Aku tak ingin membunuh darah dagingku sendiri. Bagaimanapun dia tak bersalah." Jawab Ellia.
Anders memejamkan matanya, setiap kata yang keluar dari mulut Ellia seakan menghujam jantungnya. Sungguh ia tak menyangka karena perbuatannya Ellia menjalani hidup yang begitu berat. Ia merasa sangat bersalah pada Ellia.
"Ellia, aku benar-benar menyesal. Maafkan aku..." Batinnya.
"Dan saat aku berada dalam titik terendah dalam hidupku, Tuhan mempertemukan ku dengan Fredy dan keluarganya. Saat itu aku sedang berjalan sendiri tanpa tujuan, saat hendak menyebrang jalan tiba-tiba aku pingsan. Dan saat aku sadar, aku sudah berada di rumah Fredy. Sejak saat itu aku tinggal di rumah Fredy. Mereka memperlakukanku dengan begitu baik. Tak pernah melihat status dan keadaanku yang hamil tanpa suami, mereka juga membantuku merawat kehamilanku." Ellia tersenyum, mengingat betapa baiknya keluarga Fredy padanya padahal dirinya bukan siapa-siapa.
"Dan saat usia Emily tiga tahun, keluarga Fredy memberiku kepercayaan untuk mengelola ruko ini." Ucap Ellia sambil mengedarkan pandangannya pada ruko yang sudah sudah tutup itu.
Anders menarik nafasnya perlahan, mencoba menahan sesak di dadanya.
"Ellia, kau tidak sendiri. Kau punya Emily, keluarga Fredy, dan sekarang kau punya aku." Anders tersenyum lembut, tangannya masih menggenggam tangan Ellia.
"Kalau kau butuh sesuatu, katakan padaku. Aku akan selalu siap untuk membantumu. Kau wanita yang kuat, kau mampu menjalani semua ini." Ucapnya.
Sebenarnya Anders ingin terus terang pada Ellia tentang apa yang sudah dilakukannya dulu. Tapi ia takut, Ellia malah membencinya nanti. Mengingat apa yang sudah dialami Ellia selama ini, akan sangat mudah untuk membuat Ellia membencinya.
"Terima kasih Anders..." Ellia membalas senyumnya.
"Tak perlu sungkan Ellia, bukankah kita teman?" Tanya Anders, satu alisnya terangkat. Matanya menatap lekat Ellia.
"Teman? Aku tidak ingat kita pernah berteman." Ellia mengerutkan keningnya.
"Ya sudah kalau begitu, kita berteman mulai hari ini." Sahut Anders.
Keduanya tertawa, namun sesaat kemudian mereka tersadar tangan mereka yang masih saling menggenggam.
"Ehm." Anders melepaskan genggamannya. Lelaki itu nampak salah tingkah. Begitu pun dengan Ellia.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊