
"Lalu apa? Kau ingin membuatku mabuk dan melakukan hal itu lagi? Membuatku kembali menjadi bahan hinaan orang-orang yang hamil tanpa suami?" Sela Ellia, suaranya terdengar bergetar.
"Bukan seperti itu, Ellia." Lirih Anders mengelak.
"Dengar Anders, kita akan menikah. Kita akan memberikan adik untuk Emily, setelah Emily sembuh kita langsung bercerai. Dan hak asuh anak harus ada padaku." Ucap Ellia dengan penekanan di setiap katanya. Anders membeku, lidahnya terasa kelu mendengar perkataan Ellia.
"Kau siapkan semuanya. Aku ingin kita menikah hari ini. Aku ingin putriku cepat sembuh dan tidak lagi berurusan denganmu!" Tambah Ellia, lalu beranjak dari sana. Anders hanya bisa menatap nanar punggung yang menghilang di balik pintu.
Anders terduduk lemas di kursi besi. Mengusap kasar wajahnya dan memijat keningnya yang mendadak terasa pusing. Ia tidak menyangka jika Ellia akan mengambil keputusan seperti itu.
Seharusnya dirinya senang karena Ellia mau menikah dengannya. Tapi mendengar alasan Ellia tadi, itu hanya membuat hatinya sakit walaupun semua Ellia lakukan hanya demi putrinya.
"Bagaimana Tuan Anders? Apa Tuan dan Nyonya Ellia sudah mengambil keputusan?" Tanya seseorang yang tiba-tiba saja ada berdiri di hadapan Anders. Pria itu mengadahkan wajahnya.
"Ya, Ellia ingin kami menikah hari ini juga." Jawab Anders.
"Wah, aku tidak menyangka kalau Nyonya Ellia akan mengambil keputusan secepat itu." Timpal Dokter Meitha dengan nada tak percaya.
"Ya, aku juga." Sahut Anders dengan wajah sendunya.
"Kenapa Tuan sedih? Seharusnya Tuan senang karena Emily akan mendapatkan donor yang cocok nantinya." Tanya Dokter Meitha heran.
"Dan seharusnya Tuan senang karena keluarga Tuan bisa utuh kembali." Tambahnya.
"Entahlah, Meitha. Kau tidak tahu apa yang ku rasakan." Anders mengacak-acak rambut tebalnya, sepertinya masalahnya dengan Ellia akan semakin kusut saja.
"Tuan Anders, aku memang tidak tahu apa yang Tuan rasakan. Tapi Tuan mantan seorang playboy kan? Seharusnya bukan hal yang sulit untukmu menaklukan Nyonya Ellia." Ujarnya begitu tenang. Anders menatap ke arahnya. Tidak tahu saja dia betapa Ellia membenci Anders.
"Apa kau yakin tidak ada cara lain untuk menyembuhkan Emily?" Tanya Anders yang masih berharap. Dokter Meitha menggeleng cepat.
Diambilnya ponsel yang berada di saku celananya. Anders terlihat menghubungi seseorang.
_
_
_
Janji suci telah terucap. Hari itu juga Anders dan Ellia telah resmi menjadi sepasang suami istri. Sebuah pernikahan sangat sederhana telah di gelar, hanya ada Jeff yang menjadi saksi di acara sakral itu.
Pernikahan sederhana namun romantis dan penuh cinta yang selama ini Ellia idamkan sepertinya tidak akan pernah terwujud.
Begitu selesai menikah, mereka langsung menjemput Emily dan pulang ke mansion Willians. Tempat tinggal keluarga Anders dulu. Perjalanan pulang mereka hanya di isi dengan celotehan Emily. Sementara Anders dan Ellia hanya sesekali menanggapi celotehan putrinya.
"Hah, lihat itu. Setelah memberi perintah mendadak kepadaku, mereka berdua malah seperti musuh saja. Wajah dingin dan datar, tidak ada sedikitpun senyum di sana. Padahal mereka baru saja menikah. Hanya Nona Kecil yang terus bicara."Jeff menggerutu dalam hati sambil mencuri-curi pandang lewat kaca spion dalam.
"Menyetir yang benar, Jeff. Kalau kita kecelakan, kita bisa mati bersama. Bukannya kau pernah bilang, tidak ingin mati sebelum menikah?" Celetuk Anders yang nyatanya tahu Jeff memperhatikannya.
"Ehm, aku hanya heran saja Tuan. Kenapa Tuan dan Nyonya Ellia tiba-tiba menikah." Sahut Jeff.
"Karena Daddy dan Mama saling mencintai." Suara gadis kecil itu menjawab.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊