
Terlihat senyum lebar di wajah mungil itu, tangannya tengah memainkan boneka beruang berwarna pink pemberian Anders semalam.
"Apa Nona menyukai bonekanya?" Tanya Jeff yang sedang menemani Emily. Tadi Jeff di minta oleh Anders untuk menemani Emily sebelum ke kantor sementara dirinya dan Ellia ke ruangan Dokter Meitha.
"Sangat suka, Paman. Bonekanya sangat cantik dan juga sangat lembut." Emily mengusak boneka itu di wajahnya. Jeff tersenyum kecil melihat tingkahnya anak Tuannya.
"Apa Mama dan Daddy masih lama, Paman?" Tanya Emily.
"Paman tidak tahu, Nona." Jawab Jeff.
"Paman, boleh Emily tanya sesuatu?" Emily kembali bertanya.
"Apa yang ingin Nona tanyakan?" Jeff sedikit penasaran.
"Apa Paman tidak pegal berdiri saja?" Emily memandang Jeff dengan serius yang memang sedari tadi berdiri di sampingnya. Walaupun ada sofa dan juga kursi di sana, pemuda itu sama sekali tidak berniat untuk duduk. Jeff ingin tergelak mendengar pertanyaan gadis kecil itu, di kiranya apa yang akan ditanyakan dengan wajah serius begitu.
"Paman lebih suka berdiri, Nona." Jawab Jeff seadanya.
"Tapi nanti kaki Paman pegal, lebih baik Paman duduk saja." Ujar Emily.
"Duduk di sini, Paman." Emily menunjuk kursi yang ada di sampingnya.
"Em... Paman..." Jeff merasa sungkan, walaupun Emily hanya anak kecil, tapi bagaimanapun Emily adalah putri dari atasannya.
Klek, pintu ruangan itu terbuka. Ellia masuk ke dalam sana. Wanita itu memandang Jeff sejenak, pemuda itu masih tetap berada di posisinya sebelum ia keluar dari sana. Hah, sungguh pegawai yang sangat patuh pada perintah Tuannya.
"Jeff, kau pergilah." Ucap Ellia. Jeff mengangguk.
"Baik, Nona." Pemuda itu patuh dan keluar dari sana. Baginya perintah Ellia dan Anders sama saja. Jadi tidak perlu menunggu perintah Anders untuk dirinya pergi dari sana.
"Mama sudah kembali? Apa yang dokter katakan? Apa Emily boleh pulang hari ini?" Tanya Emily beruntun. Ellia duduk di sampingnya.
"Ya, sayang. Dokter bilang kau boleh pulang hari ini." Jawab Emily sambil tersenyum tipis.
"Hore! Apa kita akan pulang ke rumah Daddy?" Tanyanya lagi.
"Kita..."
Klek, pintu ruangan itu kembali terbuka. Menghentikan Ellia yang baru akan menjawab pertanyaan Emily.
"Daddy!" Seru Emily yang melihat kedatangan Anders.
"Hai, sayang." Anders membelai lembut rambut coklat putrinya.
"Di mana Paman Jeff?" Tanya Anders yang tidak melihat sekretarisnya ada di sana.
"Mama sudah menyuruh Paman jeff untuk pergi, Daddy." Jawab Emily.
"Oh." Anders hanya bisa ber oh ria saja.
"Daddy, Mama bilang aku sudah boleh pulang. Apa kita jadi ke rumah Daddy?" Tanya Emily, sepasang mata hazelnya berkedip-kedip. Sungguh sangat menggemaskan. Anders melirik ke arah Ellia sejenak. Dilihatnya wajah datar wanita itu. Anders seperti mengerti arti dari ekspresi wajah Ellia, terdengar dirinya menghela nafas kasar.
"Emily, sepertinya kita tidak jadi..."
"Kita akan pulang ke rumah Daddy." Sambar Ellia membuat perkataan Anders menggantung. Pandangannya beralih kembali pada Ellia.
"Ellia..."
"Ada apa Mama?" Tanya Emily, gadis kecil itu sepertinya penasaran. Ellia melirik sejenak ke arah Anders lalu kembali menatap putrinya. Jemarinya menangkup wajah mungil itu.
"Mama akan menikah dengan Daddy Anders hari ini." Ucapnya. Kedua sudut bibir Emily terangkat, senyum lebar tercetak di wajahnya. Dan Anders, sepasang netranya terbelalak mendengar perkataan Ellia barusan.
"Mama akan menikah dengan Daddy?" Tanya Emily dengan binar di wajahnya. Ellia mengangguk.
"Apa itu artinya Daddy Anders akan menjadi Daddy sungguhan untukku?" Tanya Emily lagi.
"Iya, sayang. Apa Emily senang?" Ellia balik bertanya.
"Aku sangat senang, Mama." Ellia meraih Emily ke dalam pelukannya.
"Daddy, kemarilah. Kita berpelukan." Emily melambaikan tangannya menyadarkan Anders yang tengah mematung.
Anders melangkah mendekati kedua orang itu.
"Emily, Daddy pinjam Mama sebentar ya." Ujarnya tanpa mengindahkan permintaan Emily tadi. Ellia dan Emily mengurai pelukannya.
"Daddy mau bawa Mama ke mana?" Tanya Emily.
"Keluar sebentar." Jawab Anders.
"Ellia, ayo kita bicara di luar." Pintanya sambil melangkah keluar.
_
_
_
Keduanya berdiri saling berhadapan. Terlihat wajah Anders penuh tanya, sedangkan Ellia hanya memasang wajah dingin.
"Kenapa kau berkata seperti itu pada Emily?" Anders bertanya. Ellia membuang pandangannya.
"Apa kau fikir aku menginginkan ini?" Ellia balik bertanya.
"Ellia, kau..."
"Asal kau tahu Anders, aku sangat membencimu. Seandainya kau laki-laki terakhir di muka bumi ini, aku tetap tidak akan sudi untuk menikah denganmu." Ucap Ellia penuh penekanan. Terdengar Anders membuang nafas berat. Ucapan Ellia selalu saja menyakiti hatinya.
"Kalau kau membenciku, kenapa kau berkata pada Emily kalau kita akan menikah?" Tanya Anders tak habis fikir. Ellia tersenyum miris.
"Apa kau fikir aku memiliki pilihan lain untuk menyelamatkan nyawa putriku?" Ellia balik bertanya.
"Ellia, kita masih bisa membawa Emily ke rumah sakit lain."
"Dan jawaban yang sama akan ku terima. Bukannya ini rumah sakit terbaik di kota ini? Rumah sakit milik keluargamu? Apa kau masih meragukan hasil tesnya?" Cecar Ellia.
"Tapi tidak dengan kita menikah, aku tidak ingin..."
"Lalu apa? Kau ingin membuatku mabuk dan melakukan hal itu lagi? Membuatku kembali menjadi bahan hinaan orang-orang yang hamil tanpa suami?!"
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊