
Seketika dunia terasa runtuh bagi Ellia dan Anders. Dada Ellia langsung terasa sesak, dan Anders hanya bisa terdiam di tempat duduknya.
"Apa tidak ada cara lainnya untuk menyembuhkan Emily?" Kini Anders yang bertanya. Dokter Meitha terdiam sejenak.
"Sebenarnya ada satu cara lagi untuk Emily mendapatkan donor sumsum tulang belakang yang cocok." Ucap Dokter Meitha kemudian. Bagai angin segar Anders dan Ellia mendengarnya. Wajah keduanya langsung berbinar.
"Bagaimana caranya Meitha?" Tanya Anders.
"Katakan! Berapa pun biayanya tidak masalah bagiku." Sambung Anders.
"Iya, Dokter. Bagaimana caranya?" Ellia ikut bertanya.
"Dengan pendonor lain." Jawab Dokter Meitha.
"Pendonor lain? Bukannya kau bilang hanya anggota keluarga yang bisa menjadi pendonor?" Tanya Anders heran. Ellia juga nampak mengerutkan keningnya.
"Ya, anggota keluarga yang lainnya. Dan ini bukan masalah tentang biaya Tuan Anders." Jawab Dokter Meitha.
"Tapi aku tidak punya angota keluarga lain, Dokter." Ucap Ellia.
"Atau maksud dokter anggota keluarga Anders bisa menjadi pendonor?" Sambungnya. Anders sedikit mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Ellia. Jika dirinya yang sudah jelas ayah kandung Emily saja tidak bisa menjadi pendonor, mana mungkin anggota keluarganya bisa? Lagipula dirinya juga sudah tidak punya anggota keluarga lagi.
"Bukan Nyonya Ellia." Dokter Meitha menggeleng membuat Anders dan Ellia terlihat bingung.
"Lalu siapa?" Tanya Ellia lagi.
"Begini, Emily menderita kanker leukimia stadium dua. Masih ada waktu untuk Emily bertahan dan menunggu sebelum kankernya benar-benar menyebar." Dokter Meitha kembali menjeda ucapannya. Sementara Anders dan Ellia makin terlihat bingung.
"Menunggu apa maksudmu, Meitha?" Anders bertanya.
"Menunggu hadirnya seorang adik." Jawab Dokter cantik tersebut.
"Adik?" Anders dan Ellia saling memandang.
"Tapi Emily tidak memiliki adik, Dokter." Ujar Ellia. Kedua orang itu sama sekali tidak mengerti kemana arah pembicaraan Dokter Meitha. Dokter muda itu memijat keningnya yang mendadak pusing. Mereka ini polos atau bodoh? Apa mereka tidak tahu maksud dari perkataannya?
"Tuan Anders, Nyonya Ellia. Kalian berdua orang tua kandung Emily kan?" Tanyanya sedikit gemas.
"Ya, kami memang orang tua kandungnya." Sahut Anders.
"Lalu apa salahnya jika Tuan dan Nyonya memberikan seorang adik untuk Emily? Yang nantinya adik Emily lah yang menjadi pendonor." Terangnya. Seketika itu juga dua orang yang duduk di hadapannya langsung membelalakan matanya.
"Apa kau sedang bercanda, Meitha?" Tanya Anders dengan nada terkejut. Memandang Dokter Meitha dengan tatapan tak percaya.
"Apa Tuan fikir aku bisa bercanda dalam keadaan seperti ini?" Dokter Meitha balik bertanya dengan tenangnya.
"Tuan dan Nyonya adalah orang tua kandung Emily, tentu bukan hal yang sulit untuk memberi seorang adik untuk Emily." Lanjutnya. Anders menganga tak percaya mendengarnya, bukannya Dokter Meitha sudah tahu sedikit banyak tentangnya dan juga Ellia? Kenapa malah memberi solusi seperti itu? Sementara Ellia mematung di tempat duduknya. Tidak ada satu kata pun keluar dari mulutnya.
"Dan kita nantinya akan melakukan pengobatan steam cell. Transplantasi sel induk, dan ini bisa di dapatkan dari tali pusar adik pasien." Dokter Meitha menjelaskan.
"Pasti masih ada cara lain kan?" Tanya Anders yang terdengar putus asa. Rasanya tidak mungkin jika memberi adik untuk Emily. Dokter cantik itu menggeleng pelan.
"Sayangnya hanya itu satu-satunya cara agar Emily mendapatkan donor yang cocok." Jawabnya. Anders dan Ellia kembali saling memandang.
"Silakan Tuan dan Nyonya fikirkan dulu. Tapi ingat, walaupun Emily bisa menunggu, tapi Emily tidak bisa menunggu terlalu lama. Oh ya, Emily di izinkan pulang hari ini, tapi tetap Emily harus kontrol tiap satu bulan sekali." Ujar Dokter Meitha. Anders dan Ellia mengangguk.
Dengan langkah gontai Anders dan Ellia keluar ruangan itu. Ellia berjalan lebih dulu.
Adik untuk Emily?
Kata-kata itu terus terngiang di telinganya.
"Ellia..." Panggil Anders, Ellia menghentikan langkahnya namun tidak menoleh.
"Aku akan membawa Emily ke rumah sakit lain. Mungkin..."
"Tidak perlu." Tukas Ellia yang kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan Anders yang terpaku di tempatnya berdiri.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊