
"Kenapa aku jadi takut pulang ke rumahku sendiri? Apa karena ada Ellia di sana? Tapi Ellia kan tidak memakanku, paling hanya memakiku saja. Hah, tapi ucapan Ellia selalu menyakiti hatiku, menghujam jantungku, dan menyesakkan paru-paruku." Anders mengacak-ngacak rambut tebalnya. Ia galau sendiri.
Dulu dirinya meminta Ellia menikah dengannya karena Ellia belum tahu siapa dirinya yang sebenarnya, tapi sekarang mereka menikah dan Ellia sudah tahu semuanya.
"Tenang Anders, Ellia tidak akan membunuh suaminya sendiri. Apalagi adik Emily belum hadir, kalau adik Emily sudah ada mungkin akan lain ceritanya." Gumamnya dalam hati. Anders berfikir sejenak, ia tidak ingin sampai di mansion dulu.
"Apa sebaiknya aku ke pemakaman dulu? Ya, aku belum bilang pada Daddy dan Mommy kalau aku sudah menikah."
Anders kemudian membelokkan mobilnya ke arah pemakaman keluarganya. Setelah beberapa menit akhirnya ia sampai di tempat yang di tuju.
Seperti biasanya, Anders duduk di sisi makam ibunya.
"Hai, Mom, Dad, Alice, aku datang..." Sapanya. Anders mengusap lembut nisan makam ibunya.
"Mom, Dad, apa kalian tahu? Hari ini aku sudah menikah. Aku menikah dengan Ellia. Ya, Ellia. Gadis yang dulu ku rusak masa depannya ketika dia mabuk." Anders menjeda ucapannya, sepasang netra hazelnya menerawang.
"Kami menikah demi untuk menyelamatkan nyawa putri kami. Emily menderita kanker darah dan butuh pendonor yang cocok dengannya." Sambungnya.
"Mom, Dad, Alice. Doakan agar aku bisa menjadi suami yang baik untuk Ellia walaupun pernikahan kami hanya sementara. Dan menjadi ayah yang terbaik untuk anak-anakku kelak." Pintanya sambil memandangi makam itu bergantian.
"Ini sudah sore, aku pamit pulang. Lain kali aku akan mengajak istri dan putriku untuk mengunjungi kalian." Anders bangun dari duduknya dan membersihkan celananya dari beberapa daun kering yang menempel.
Dengan langkah enggan Anders melangkah meninggalkan area pemakaman yang sepi itu, mungkin hanya ada beberapa orang di sana.
BRUK!
Tiba-tiba saja ada orang yang menabraknya dari belakang membuatnya hampir terjatuh.
"Hei, hati-hati kalau berjalan!" Seru Anders yang terkejut, kemudian berbalik.
"Maaf, Tuan. Aku tak..." Ucapan orang yang tadi menabraknya terhenti, melihat siapa yang di tabraknya.
"Hei, lihat siapa yang ada di sini. Tuan Anders Calvert Willians!" Serunya sambil menatap tajam pada Anders.
"Ricko?" Anders mengerutkan keningnya.
"Kau masih ingat aku, Tuan Anders?" Tanya pria yang bernama Ricko itu.
"Tentu saja aku ingat. Ah, sudahlah. Aku malas berurusan denganmu."
"Tunggu!" Serunya.
"Lepaskan! Mau apa kau?!" Anders menyentak tangan Ricko.
"Urusan kita belum selesai Tuan Anders."
"Urusan apa? Urusan kita sudah selesai saat kau dan temanmu itu berbuat curang di perusahaanku!" Bentak Anders.
"Dan gara-gara kau memecatku, aku jadi kehilangan ayahku!" Bentak Ricko tak mau kalah. Anders malah mengerutkan keningnya.
"Apa maksudmu? Kenapa kau jadi menyalahkan aku?" Tanyanya heran.
"Ya karena kau memecatku, jadi aku tidak bisa lagi membiayai pengobatan ayahku!" Seru Ricko. Anders tercengang, kenapa jadi dirinya yang di salahkan?
"Kalau kau tidak berbuat curang, aku tidak mungkin memecatmu! Itu salahmu sendiri!" Timpal Anders.
"Aku melakukan itu agar mendapatkan uang lebih untuk biaya pengobatan ayahku!" Ricko mendorong tubuh Anders hingga mundur beberapa langkah. Anders mencoba menahan emosinya, jangan sampai ia dan Ricko membuat keributan di pemakaman. Kalau tidak, mereka berdua yang akan di kubur hidup-hidup di sana.
"Kalau kau butuh biaya pengobatan untuk ayahmu, kau bisa meminjam uang ke perusahaan! Bukan mencuri uang perusahaan!''
Ucapan telak Anders membuat Ricko terdiam. Memang dirinya yang salah sudah termakan godaan dari temannya untuk berbuat curang.
"Memang aku salah, tapi bukan berarti kau bisa memecatku seenaknya! Kau bahkan memperlakukanku seperti seorang penjahat." Ucap Ricko setelah beberapa saat terdiam.
"Aku hanya mengusirmu dari perusahaanku. Kau masih beruntung tidak ku laporkan pada pihak berwajib." Jawab Anders, terlihat senyum miring di wajahnya.
"Dan tidak ada kata maaf untuk seorang pengkhianat di perusahaanku." Lanjut Anders penuh penekanan. Pria itu kemudian berlalu dari sana, sedangkan Ricko menatapnya penuh amarah.
"Urusan kita belum selesai, Anders Calvert. Kau harus menebus kematian ayahku." Geramnya.
Ricko adalah salah satu pegawai di Willians Group. Beberapa waktu lalu ia dan temannya, Beni ketahuan menggandakan pengeluaran di perusahaan tersebut. Anders yang yang saat itu berada di tempat Ellia akhirnya terpaksa kembali ke kotanya untuk mengurus masalah di perusahaannya.
"Niatku ke pemakaman untuk menenangkan sejenak fikiranku, tapi kenapa aku malah bertemu Ricko? Ck, kepalaku makin pusing rasanya." Anders menggerutu dan mengacak-ngacak rambutnya, kemudian menghidupkan kembali mobilnya meninggalkan area pemakaman itu.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊