
"Kenapa kau kembali lagi setelah dulu meninggalkannya? Ke mana dirimu tujuh tahun yang lalu di saat hidup Ellia benar-benar hancur?" Cecar Fredy, ia bangkit dari duduknya.
"Fred." Anders memegang lengan Fredy, tapi Fredy langsung menepisnya.
"Aku yakin, Ellia sudah menceritakan padamu apa yang sudah terjadi padanya selama tujuh tahun ini. Berusahalah untuk menutupi kenyataan ini dari Ellia. Aku juga tak akan mengatakan ini padanya. Tapi aku yakin, cepat atau lambat Ellia pasti akan menyadarinya." Fredy tersenyum miring sebelum pergi menginggalkan ruangan itu. Meninggalkan Anders yang mematung di tempatnya.
Anders terduduk lemas di kursinya, menatap ke depan dengan pandangan kosong. Bayang-bayang Ellia dan Emily seakan memenuhi pikirannya. Bagaimana kalau Ellia sampai mengetahui perbuatannya? Bagaimana kalau Emily tahu kalau dia sebenarnya adalah ayah kandungnya? Apa kedua orang itu akan membencinya?
Tidak, Anders tak bisa membayangkan itu semua. Saat ini dirinya hanya ingin dekat dengan Ellia dan Emily, dan berusaha untuk menebus kesalahannya di masa lalu.
"Apa yang harus aku lakukan?" Gumamnya pada diri sendiri.
"Tuan, Tuan?" Suara Jeff menyadarkan Anders dari lamunan. Tanpa sadar ia sudah melamun cukup lama. Entah sejak kapan sekretarisnya itu berada di sana.
"Ada apa, Tuan?" Tanya Jeff yang sudah berdiri di sampingnya.
"Tidak apa-apa." Anders pergi begitu saja meninggalkan Jeff yang memandang heran padanya.
_
_
_
Malam harinya
Anders menatap pantulan dirinya di depan cermin, ia sudah nampak rapi dengan sweater turtle neck berwarna maroon. Rambutnya sudah tersisir rapi, menambah kadar ketampanannya. Hari ini ia sudah memutuskan untuk melamar Ellia. Seharian ia sudah berfikir tentang apa yang harus ia lakukan.
Seperti kata Fredy, sebelum Ellia menyadari siapa dirinya. Lebih baik ia menikahi wanita itu lebih dulu. Dan ia akan berusaha untuk sedikit memaksa Ellia agar mau menerimannya. Baru setelah itu semuanya akan Anders pasrahkan semuanya pada takdir. Mau sebenci apapun Ellia padanya setelah mengetahui fakta yang sebenarnya, setidaknya dirinya dan Ellia sudah terikat dalam pernikahan.
Sebenarnya Anders sudah berniat untuk menikahi Ellia. Tapi ia menunggu waktu yang tepat. Tidak mungkin juga tiba-tiba mengajak wanita itu menikah apalagi mereka baru bertemu dan dulu juga tak pernah dekat. Tapi keadaannya sekarang sudah seperti ini dan sebaiknya ia segera mengambil langkah cepat.
"Tuan mau ke mana?" Tanya Jeff ketika Anders melintas di depannya. Ia masih saja sibuk dengan laptopnya.
"Aku ada urusan, Jeff." Sahut Anders.
"Malam-malam begini? Apa Tuan mau pergi ke tempat Nona Ellia?" Tanya Jeff heran sambil memandang penampilan Tuannya yang terlihat sedikit berbeda.
"Ya. Aku pergi dulu." Jawab Anders sambil melangkah pergi dari sana.
"Hati-hati menyetirnya, Tuan." Pesan Jeff setengah berteriak karena Anders sudah menjauh.
"Tak perlu kau beritahu." Timpal Anders.
Sepanjang perjalanan Anders memikirkan kata-kata apa saja yang akan di ucapkannya nanti. Jangan sampai membuat Ellia curiga karena ia melamarnya tiba-tiba.
Anders memakirkan mobilnya di depan ruko yang sudah hampir tutup itu, terlihat di sana Ellia sedang merapikan beberapa barang.
"Hai Ellia!" Panggil Anders membuat Ellia menoleh.
"Anders? Kau kemari?" Tanya Ellia, melihat jam yang terpasang di dinding. Sudah pukul 9 malam.
"Apa kau ada waktu?" Tanya Anders yang sudah berdiri di hadapan Ellia.
"Waktu?" Ellia balik bertanya.
"Ada yang ingin aku katakan padamu." Kata Anders.
"Apa yang ingin kau katakan?" Tanya Ellia.
"Em... Di mana Emily?" Mata Anders berkeliling mencari sosok kecil itu.
"Emily sudah tidur di atas." Jawab Ellia.
"Apa yang ingin kau katakan?" Ellia mengulang kembali pertanyaannya.
"Kau selesaikan saja pekerjaanmu dulu. Baru kita bicara. Biar ku bantu." Jawab Anders.
"Baiklah."
"Apa yang ingin kau katakan? Apa begitu penting hingga kau datang malam-malam begini?" Tanya Ellia seraya mendaratkan tubuhnya di kursi sudut ruko.
"Aku..." Mendadak Anders menjadi gugup, kata-kata yang sudah ia susun sejak dalam perjalanan tadi menguap begitu saja. Maklum saja, ia belum pernah melamar wanita manapun sebelumnya.
"Aku apa?"
"Ehm, Ellia aku ingin..." Ucapan Anders terputus, lidahnya kelu.
"Kau ingin apa, Anders?" Tanya Ellia penasaran.
"Kenapa kau gugup seperti itu?" Lanjutnya.
Anders menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Mencoba menetralkan detak jantungnya.
Ternyata melamar wanita berbeda dengan hanya sekedar meminta menjadi pacar saja. Dulu dia begitu mudahnya menyatakan perasaan dengan gadis manapun, tapi sekarang? Keahliannya dalam merangkai kata rayuan seakan tidak ada lagi.
"Ellia..." Anders menegakkan posisi duduknya. Ellia masih memandangnya penuh tanya.
"Maukah kau menikah denganku?" Tanya Anders dalam satu tarikan nafas, akhirnya ia dapat mengatakannya.
Sementara Ellia menatapnya tak percaya, kemudian wanita itu malah tertawa.
"Kau sedang bercanda, Anders?'' Tanya Ellia di sela tawanya.
Ada-ada saja, fikirnya. Kenapa juga Anders datang malam-malam begini hanya untuk mengatakan hal konyol seperti itu.
"Aku tidak bercanda, Ellia. Aku serius." Andres menggenggam jemari Ellia, membuat tawanya seketika terhenti.
"Ini tidak lucu." Ellia menarik tangannya, namun Andres tak membiarkannya. Ia menggenggam jemari itu semakin erat.
"Ellia, aku ingin menikah denganmu." Ucap Anders menatap dalam mata cokelat wanita itu yang terhalang kacamata.
"Kenapa? Kenapa kau ingin menikah denganku?" Tanya Ellia.
"Karena aku..."
"Kenapa? Kau kasihan melihat keadaanku yang sudah memiliki anak tapi tak punya suami? Atau kau kasihan padaku setelah aku menceritakan masa laluku padamu?'' Ellia lebih dulu memotong perkataan Anders.
"Jangan menikahiku atas alasan semua itu. Karena aku tak butuh belas kasihanmu." Tegas Ellia. Ia menepis tangan Anders dan hendak bangun dari duduknya, namun Anders mencegahnya.
"Bukan, Ellia. Bukan karena itu aku mau menikahimu." Jawab Anders.
"Aku tak pernah merasa kasihan padamu. Aku, aku menyayangi Emily, dan aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri. Bukankah Emily juga memanggilku dengan sebutan 'Daddy' ?" Anders menjeda ucapannya.
"Jadi apa salahnya kalau aku menikah denganmu dan menjadi Daddy yang sebenarnya untuk Emily?" Sambungnya.
Ellia terdiam di tempatnya, ia menatap Anders. Tak ada kebohongan di sana. Hanya sorot mata ketulusan di mata hazel pria itu.
"Pulanglah Anders." Ucap Ellia pelan.
"Kau belum menjawab pertanyaanku." Tangan Anders kembali menggenggam erat jemari Ellia.
"Anders pulanglah, ini sudah malam." Ujar Ellia lagi.
"Ellia..." Anders menatap Ellia dengan sorot mata memohon.
"Aku akan menjawabnya nanti..."
"Kapan?" Desaknya.
"Entahlah..." Ellia melepaskan genggaman Anders.
Anders menghela nafas panjang. Sepertinya bukan hal yang mudah untuk mendapatkan Ellia. Tapi ia akan berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkan wanita di hadapannya itu.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊