
Mansion Willians
"Sudah selesai."
Emily menatap pantulan dirinya di cermin, gadis kecil itu nampak cantik dengan rambutnya yang di kuncir dua. Ellia baru saja selesai mendandaninya.
"Mama, apa Daddy akan pulang malam lagi? Tadi pagi aku belum sempat bertemu dengan Daddy. Daddy langsung berangkat bekerja." Tanya sambil menoleh pada Ellia yang masih berdiri di belakangnya. Tadi pagi Emily merasa sedih karena tidak bisa sarapan bersama dengan Daddy nya.
"Mama tidak tahu, sayang." Jawab Ellia sambil tersenyum lembut. Putrinya kini sangat bergantung pada Anders, bagaimana jika mereka berpisah nanti? Emily pasti akan sangat sedih seperti dulu.
"Mama, aku ingin puding. Bisa tolong Mama buatkan untukku?" Pinta gadis kecil itu sambil mengedip-ngedipkan mata hazelnya.
"Puding? Ya sudah, Mama akan buatkan untukmu." Ellia mengangguk, kemudian berjalan keluar.
"Mama, aku ikut." Emily menyusul langkah ibunya. Keduanya berjalan keluar dan menuruni tangga.
"Mama, kenapa rumah Daddy besar sekali?" Tanya Emily sambil mengedarkan pandangannya melihat setiap sudut mansion.
"Emily, perhatikan langkahmu jika sedang berada di tangga." Nasihat Ellia.
"Nanti Emily tanya saja pada Daddy ya kenapa rumahnya besar." Lanjutnya. Ada-ada saja yang ditanyakan putrinya itu.
Keduanya akhirnya sampai di dapur. Ada Bu Nora di sana, Bu Nora langsung menghampiri ibu dan anak itu.
"Nyonya Ellia, Nona Emily? Ada apa? Kenapa kemari? Kalau Nyonya dan Nona butuh sesuatu tinggal panggil pelayan saja." Tanyanya dengan sopan.
"Em, putriku ingin dibuatkan puding coklat." Jawab Ellia sedikit canggung.
"Puding coklat? Biar saya minta pelayan untuk membuatkannya." Ujar Bu Nora.
"Tidak perlu, Bu Nora. Aku ingin membuatnya sendiri. Tapi tolong Bu Nora tunjukkan di mana bahan-bahannya karena aku tidak tahu di mana letaknya." Sergah Ellia. Dulu ia terbiasa melakukannya sendiri, kini ada banyak pelayan yang siap melayaninya dan Ellia merasa kurang nyaman jika apa-apa harus di layani.
"Baiklah, Nyonya." Bu Nora mengangguk, kemudian menyiapkan bahan untuk membuat puding.
"Terima kasih, Bu Nora." Ucap Ellia begitu semua bahan itu siap.
Ellia terlihat berfikir sejenak.
"Sepertinya tidak. Tapi apa boleh aku tanya sesuatu?" Tanyanya kemudian.
"Silakan Nyonya."
"Di mana pemilik mansion ini, maksudku keluarga Anders? Rasanya dari kemarin aku tidak melihatnya?" Tanya Ellia penasaran, apalagi dengan jawaban Anders tadi pagi.
"Tentang keluarga Tuan Anders, maaf saya tidak bisa menjawabnya, Nyonya." Jawab wanita paruh baya itu.
"Kenapa?" Ellia terlihat bingung.
"Karena para pekerja di sini di larang tahu apa saja tentang keluarga Willians. Kami para pekerja menutup mata dan telinga kami dengan apapun yang terjadi di mansion ini. Karena itu adalah peraturan mutlak di sini. Jika kami melanggar, kami akan mendapatkan hukuman." Jelas Bu Nora. Ellia hanya bisa ternganga mendengarnya. Apa semua orang kaya punya peraturan yang sama seperti di mansion ini?
"Apa ada lagi yang ingin Nyonya tanya kan?" Tanya Bu Nora kemudian.
"Tidak bu Nora, terima kasih." Jawab Ellia sambil tersenyum tipis.
"Baiklah kalau begitu ,saya permisi. Kalau Nyonya butuh sesuatu Nyonya panggil saya atau pelayan saja." Lanjutnya.
"Iya, Bu Nora. Terima kasih."
"Ada apa sebenarnya dengan keluarga Anders? Baik Bu Nora maupun Anders tidak ada yang menjawab saat aku bertanya." Batin Ellia bertanya-tanya.
"Mama, apa kita jadi membuat pudingnya?" Emily menarik ujung baju yang Ellia kenakan, membuatnya sadar dari lamunan.
"Eh, iya sayang. Tentu jadi. Ayo kita buat pudingnya."
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊