
Akhirnya keluarga kecil Anders tiba di pemakaman. Udara sejuk dan juga suasana tenang menyambut kedatangan mereka.
Tiga buah makam berjejer rapi dengan batu nisan bertuliskan nama masing-masing.
"David Willians, Alina Calvert, Alice Davine Willians." Emily membaca satu-satu nama yang tertera di sana.
"Daddy, siapa nama-nama yang ada di sana?" Tanya Emily pada Anders yang berdiri di sampingnya.
"David Willians itu Ayah Daddy, Grandpa Emily, Alina Calvert itu Mommy Daddy, Grandma Emily. Dan Alice itu adik Daddy, Aunty Emily." Jawab Anders sambil mengusap rambut panjang putrinya, gadis kecil itu mengangguk-aanggukkan kepalanya.
"Halo Grandpa David, Gradma Alina, dan Aunty Alice, namaku Emily." Sapa Emily memperkenalkan dirinya.
"Emily adalah putriku, dan ini Elliana, istriku. Mereka adalah keluargaku sekarang." Tambah Anders yang merangkul bahu Ellia. Ellia meliriknya sejenak ke arahnya, dan kembali menatap pada deretan makam di sana.
Beberapa saat berlalu, keheningan menyelimuti mereka.
"Suasana di sini sangat tenang." Ucap Ellia sambil mengedarkan pandangannya. Mereka baru saja selesai berdoa untuk keluarga Anders, dan juga Ibu Ellia.
"Ya, karena itu aku sering menghabiskan waktu di sini." Sahut Anders.
"Kau sering kemari?" Tanya Ellia.
"Tentu, apalagi saat aku sedang ada masalah." Jawab Anders.
"Apa waktu itu juga kau kemari saat pulang tengah malam dalam keadaan basah kuyup?" Tanya Ellia lagi.
"Ya, aku menghabiskan waktu di sini. Sebenarnya kalau bisa aku ingin bermalam di sini saat itu, tapi penjaga makam menyuruhku untuk pulang." Anders terkekeh pelan, kemudian melanjutkan ucapannya.
"Selama ini aku kesepian, aku sudah kehilangan semua anggota keluargaku. Hidupku benar-benar hampa, tidak ada yang bisa ku ajak untuk berbagi cerita. Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain. Aku bertemu denganmu dan juga Emily. Sekarang aku punya kalian, walau hanya sementara waktu... Dan aku ingin, pernikahan singkat ini menjadi kenangan yang terindah dalam hidupku."
Ellia mengalihkan pandangannya pada Emily yang terlihat seperti tengah mengobrol dengan makam Alice.
"Daddy! Daddy!" Gadis kecil itu menghampiri Anders.
"Ada apa, sayang?"
"Tadi aku baru saja bicara dengan Aunty Alice. Aunty Alice bilang, Daddy tidak boleh sedih lagi karena sudah ada Emily di sini." Ucap Emily. Anders dan Ellia langsung mengerutkan keningnya mendengar ucapan Emily. Bicara dengan Alice? Kenapa jadi terkesan horor?
"Oh ya? Aunty Alice bilang seperti itu?" Tanya Anders sambil berjongkok mensejajari tingginya dengan Emily. Gadis kecil itu mengangguk.
"Iya, Daddy. Aunty Alice juga bilang, kalau wajah kami mirip hanya warna matanya saja yang berbeda." Celoteh Emily. Anders mengerjap-mengerjapkan matanya, rasanya ia belum menunjukkan foto Alice pada Emily. Tapi kenapa Emily tahu kalau wajah mereka mirip?
"Ehm Anders, ayo kita pulang. Ini sudah siang." Ajak Ellia membuyarkan lamunan suaminya.
"Ya, kau benar." Anders membawa putrinya ke dalam gendongannya.
"Daddy, Mommy, Alice, kami pamit pulang dulu. Lain waktu kami akan berkunjung kembali kemari." Pamit Anders di iringi dengan Ellia.
Mereka berdua melangkah menuju pintu keluar, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan dari jauh.
"Siapa perempuan dan anak kecil itu? Kenapa bisa bersama Anders? Apa mungkin istri dan anaknya? Tapi bukannya Tuan Muda Willians itu belum menikah?" Batinnya bertanya-tanya sambil terus memperhatikan Anders dan Ellia yang semakin menjauh dari pandangannya.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊