Ellia Im Sorry

Ellia Im Sorry
CHAPTER 77. BERTEMU FREDY



Waktu terus berlalu, pernikahan Anders dan Ellia sudah berjalan selama dua bulan.


Hubungan mereka semakin membaik, keduanya sudah seperti pasangan suami istri sungguhan. Sikap Ellia pada Anders pun sudah berubah drastis, tidak lagi mengatakan benci pada suaminya itu. Rasa bencinya pada Anders perlahan terkikis karena perlakuan manis Anders padanya.


Malam ini Anders nampak sibuk dengan laptopnya, sedangkan Ellia sedang menyisir rambut hitamnya di depan meja rias. Suara dering ponsel mengalihkan perhatian Ellia, ada nama Fredy terpampang di layar ponselnya.


"Halo Freddy." Sapa Ellia begitu mengangkat teleponnya. Sepasang mata hazel itu langsung meliriknya.


"Ellia, bagaimana kabarmu dan Emily?" Tanya Fredy di balik ponselnya.


"Aku dan Emily baik-baik saja, Fredy. Bagaimana kabarmu dan Tante Frida?"


"Kami juga baik, Ellia. Emm, bagaimana? Apa kau sudah ada tanda-tanda hamil?"


"Belum, Fredy. Entahlah, ini sudah dua bulan tapi belum ada tanda apapun."


"Bersabarlah Ellia, dan jangan lupa untuk terus berusaha bersama suamimu." Ucap Fredy diiringi tawanya.


"Ck, kau ini." Ellia berdecak. Sebenarnya hampir tiap malam ia dan Anders melakukannya, tapi tak kunjung jadi. Sedangkan dulu hanya sekali tapi langsung terbentuk Emily.


"Oh ya Ellia, aku sedang ada pekerjaan di kotamu. Apa kita bisa bertemu?"


"Kau ada di kota ini?"


"Ya, Ellia. Aku baru saja sampai sore tadi."


"Baiklah, kapan kita bertemu?"


"Besok pagi saja. Karena siangnya aku harus bekerja. Aku tunggu di taman kota, ajaklah Emily dan suamimu."


"Okey. Sampai bertemu besok."


Mereka menutup panggilannya. Ellia menyimpan kembali ponselnya dan berjalan menuju tempat tidur.


"Anders." Panggilnya.


"Hm..."


"Anders, kau tahu? Fredy ada di kota ini." Ucapnya pada Anders yang masih sibuk dengan laptopnya.


"Oh ya?" Sahut Anders pura-pura tidak tahu, padahal sedari tadi ia menyimak percakapan Ellia dan Fredy.


"Ya, Fredy mengajak kita bertemu." Kata Ellia yang membaringkan tubuhnya di samping Anders.


"Em... Sepertinya Aau tidak bisa, Ellia. Aku kan harus bekerja. Kau dan Emily saja yang menemuinya." Tolak Anders.


"Fredy mengajak bertemu pagi hari, karena siang dia harus bekerja. Kau bisa menemuinya sebelum berangkat ke kantor."


Anders terlihat berfikir.


"Sudah jangan banyak berfikir, Anders. Kau antarkan aku dan Emily ke taman dan temui Fredy sebentar." Tukas Ellia.


"Iya, baiklah." Sahut Anders pasrah. Ia beranjak dari tempat tidur dan menyimpan kembali laptopnya.


"Apalagi yang tadi kalian bicarakan?" Tanya Anders sambil berbaring di samping istrinya.


"Fredy hanya bertanya, aku sudah hamil atau belum." Jawab Ellia apa adanya.


"Kenapa? Aku benar kan?" Tanya Anders yang melihat tatapan tak biasa dari istrinya. Ellia tak menjawab, ia mengalihkan pandangannya pada langit-langit kamar. Entah mengapa ada perasaan tak suka dalam hatinya ketika Anders mengatakan itu.


Tangan Anders merengkuh pinggang ramping istrinya.


"Sebaiknya kita berusaha lagi agar kau cepat hamil. Supaya Fredy tidak terlalu lama menunggumu." Bisik Anders, ia hendak mencium pipi Ellia, namun Ellia mendorong pelan dadanya.


"Anders, aku sedang tidak ingin." Ucapnya pelan dengan membuang wajah. Terlihat kekecewaan di mata Anders, ini pertama kali Ellia menolaknya setelah hubungan mereka membaik.


"Baiklah." Sahut Anders pasrah, ia tidak mungkin memaksa Ellia. Anders mengangkat tangannya yang semula berada di pinggang Ellia, ia juga menggeser tubuhnya menjauh sedikit.


"Selamat malam Ellia." Mata hazel itu terpejam.


"Baru saja menerima telepon dari Fredy, kau sudah menolakku. Kau pasti merasa bersalah pada Fredy." Batin Anders.


"Kenapa hatiku merasa tak rela saat Anders berkata seperti itu?" Ellia menoleh pada suaminya yang sudah memejamkan matanya. Ia menatap lekat wajah itu, ada ketakutan tersendiri dalam hatinya.


_


_


_


Keesokan harinya.


Anders, Ellia dan Emily sudah sampai di taman kota.


"Di mana Paman Fredy, Mama?" Tanya Emily antusias, gadis kecil itu sudah merindukan Fredy karena sudah cukup lama mereka tidak bertemu. Dan tadi dirinya begitu senang saat Ellia mengatakan kalau mereka akan bertemu dengan Fredy.


"Entahlah, biar Mama telepon dulu." Baru saja Ellia hendak menghubungi Fredy, sebuah suara menghentikannya.


"Emily!"


Ketiga orang itu menoleh bersamaan.


"Paman Fredy!" Fredy berlari kecil menghampiri ketiga orang itu. Ia langsung membawa Emily ke dalam gendongannya.


"I miss you, princess." Satu kecupan mendarat di pipi chubby Emily.


"I miss you too, Paman." Emily memeluk leher kokoh Fredy.


"Hai Ellia, hai Anders." Sapa Fredy.


"Hai Fredy." Balas suami istri itu bersamaan.


"Bagaimana kabarmu, Anders?" Tanya Fredy sambil mengulurkan sebelah tangannya.


"Baik. Bagaimana dengan dirimu?" Anders menyambut uluran tangan Fredy dengan senyum di wajahnya.


"Aku juga baik. Kebetulan aku ada pekerjaan di kota ini, jadi aku meminta untuk bertemu pada Ellia. Aku sangat merindukan Emily. Tidak apa kan?" Tanyanya sedikit sungkan.


"Tentu saja, mana mungkin aku keberatan." Sahut Anders yang masih memasang senyum.


......................


JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊