
Sementara itu di mansion Willians.
"Mama kenapa Daddy belum pulang? Di luar hujannya sangat deras." Tanya Emily yang melihat ke arah luar lewat jendela kamarnya, gadis kecil itu sedari tadi menunggu kepulangan Daddynya, tapi Anders tak kunjung datang.
"Mungkin Daddy lembur, sayang. Jadi Daddy pulang malam." Jawab Ellia yang sebenarnya juga sedikit mengkhawatirkan Anders.
"Bisa kita telepon Daddy?" Tanya Emily lagi.
"Em... Sedang hujan apalagi ada petir seperti ini kita tidak boleh menelepon, Emily." Jawab Ellia yang sebenarnya memang tidak punya nomor telepon Anders.
Gadis kecil itu terlihat kecewa, ia kembali melihat ke arah luar, nampak suara petir saling bersahutan dan hujan yang turun semakin deras.
"Semoga Daddy baik-baik saja, dan cepat pulang." Doanya dalam hati.
_
_
_
Sudah pukul sebelas malam, mobil Anders baru tiba di mansion. Sedangkan hujan masih menyisakan gerimis kecil.
Dengan menyeret langkahnya, Anders memasuki mansion mewahnya. Sebenarnya ia tak ingin pulang dan bermalam di samping makam keluarganya saja, tapi petugas pemakaman melarangnya dan menyuruhnya untuk pulang.
Mansion sudah nampak gelap, hanya ada beberapa lampu yang menyala. Sepertinya seluruh penghuninya sudah tidur.
Anders menaiki tangga sambil memijat keningnya. Rasanya kepalanya sakit sekali, mungkin karena terlalu lama kehujanan tadi. Matanya pun sudah tidak fokus.
Pandangan Anders terasa semakin mengabur, baru saja ia membuka pintu kamarnya tubuhnya langsung limbung dan terjatuh.
Ellia yang hendak terlelap, langsung terbangun karena mendengar suara. Ia beranjak dari tempat tidurnya, mata di balik kacamata itu membulat melihat Anders yang tergeletak di lantai.
"Anders, kau kenapa?!" Ellia meraih tubuh suaminya, wanita itu terkejut mendapati pakaian Anders yang begitu basah.
"Kenapa basah begini?"
Dengan susah payah Ellia memapah Anders ke sofa yang letaknya tidak begitu jauh. Ia langsung mengambil handuk dengan baju ganti dan melepaskan semua pakaian yang melekat pada tubuh Anders dan langsung menggantinya. Setelah selesai Ellia memapah kembali suaminya ke tempat tidur dan membaringkannya di sana.
Dilihatnya wajah Anders yang nampak pucat, diperiksanya suhu badannya. Ternyata Anders demam. Ellia kemudian mengambil air hangat dari kamar mandi dan sebuah handuk kecil, ia mulai mengompres suaminya.
"Mommy..." Terdengar Anders mengigau begitu lirih.
"Anders..." Ellia mencoba membangunkannya, mengguncang pelan tubuh Anders.
"Anders, sadarlah." Ellia kembali mengguncang tubuh Anders, tapi mata Anders masih terpejam.
"Alice.... Alice maafkan Kakak. Semua salah Kakak..." Racau Anders, lelaki itu terlihat gelisah.
"Daddy, Mommy, Alice... jangan tinggalkan aku sendiri...." Tangan Anders bergerak seolah ingin menggapai sesuatu.
"Anders!" Ellia menggenggam tangan itu.
"Anders, sadarlah..."
"Alice... Alice maafkan Kakak..." Kali ini suara Anders terdengar pilu, air mata mengalir di sudut matanya. Ellia kembali menyeka kening Anders dan juga menghapus air matanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga Anders? Kenapa Anders sampai mengigau sambil menangis seperti ini?" Ellia bertanya-tanya dalam hati. Tak bisa di pungkiri, tangisan Anders begitu terdengar menyayat hatinya.
_
_
_
Pagi harinya.
Sepasang netra hazel itu mengerjap, Anders menyipitkan matanya menyesuaikan cahaya yang ada di kamar itu.
"Kepalaku sakit sekali." Anders hendak memijat keningnya, namun mendapati sebuah handuk kecil di sana.
"Apa ini? Handuk?" Batinnya bertanya sambil memandangi handuk itu. Pria itu beranjak duduk, tempat sebelahnya nampak kosong.
"Kenapa aku ada di tempat tidur?" Anders memandangi dirinya, merasa heran pakaiannya sudah berganti.
"Siapa yang mengganti pakaianku? Apa mungkin Ellia? Dan Ellia juga memindahkanku dan mengompresku?" Anders menerka-nerka.
"Ternyata dia bisa baik juga padaku." Gumamnya. Anders perlahan bangun dari tempat tidurnya, tubuhnya terasa lemas sekali. Kalau saja panggilan alam tak memaksanya untuk ke kamar mandi, mungkin ia akan memilih untuk berbaring lagi.
Sementara Ellia sedang sibuk di dapur, ia membuat bubur untuk suaminya. Walaupun tadi beberapa pelayan menawarkan untuk membantunya, tapi Ellia menolak. Karena bagaimanapun ini adalah tugasnya sebagai istri untuk merawat suaminya yang sedang sakit.
Semangkuk bubur lezat sudah tersaji, Ellia segera membawanya ke kamar. Baru saja hendak menaiki tangga, sebuah suara menghentikannya.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊