
"Tak perlu sungkan Ellia, bukankah kita teman?" Tanya Anders, satu alisnya terangkat. Matanya menatap lekat Ellia.
"Teman? Aku tidak ingat kita pernah berteman." Ellia mengerutkan keningnya.
"Ya sudah kalau begitu, kita berteman mulai hari ini." Sahut Anders.
Keduanya tertawa, namun sesaat kemudian mereka tersadar tangan mereka yang masih saling menggenggam.
"Ehm." Anders melepaskan genggamannya. Lelaki itu nampak salah tingkah. Begitu pun dengan Ellia.
"Sudah malam, sebaiknya aku pulang." Anders hendak bangkit dari duduknya.
"Habiskan dulu kopinya." Cegah Ellia.
"Akh, ya. Aku lupa." Anders menegak habis kopi yang sudah tidak panas itu. Kemudian beranjak dari duduknya.
"Apa kau akan lama menetap di kota ini?" Tanya Ellia, ia ikut bangun dari duduknya.
"Entahlah, aku juga memiliki perusahaan di kota lain yang tak mungkin terus aku tinggalkan." Jawab Anders. Ellia hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Jangan sedih, aku akan selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungimu." Suara Anders terdengar seperti meledek. Ellia menautkan kedua alisnya.
"Hei, aku tidak sedih. Kau mau kembali ke kota asalmu sekarang pun tak masalah bagiku." Elaknya.
"Benarkah?" Anders menatap dalam mata cokelat itu, membuat Ellia seakan terhanyut. Keduanya terdiam. Dan perlahan wajah Anders mendekat. Ellia masih terdiam saat wajah Anders kian dekat.
Namun kemudian Ellia tersadar, saat jarak di antara keduanya hanya tersisa dua centi saja.
"Dasar playboy!" Seru Ellia. Ia mundur beberapa langkah. Sedangkan Anders malah tertawa.
"Hei, aku bukan playboy." Protes Anders.
"Masih saja menyangkal, sebaiknya kau segera pulang. Kalau tidak, nanti sekretaris Jeff akan menyusulmu." Ellia mengibaskan tangannya.
"Baiklah, aku pulang."
"Hati-hati di jalan. Jangan sampai kau melamun lagi, dan berakhir di klinik." Ledek Ellia.
"Hei, kejadian itu sudah lewat. Lagipula kau pasti akan menolongku lagi." Sahut Anders.
"Percaya diri sekali." Timpal Ellia.
Dan keduanya pun kembali tertawa. Anders kemudian pamit dari sana karena malam semakin larut.
_
_
_
Keesokan harinya.
"Mama... Mama... Lihatlah..." Emily menunjukkan sesuatu pada Ellia, gadis kecil itu baru saja pulang sekolah.
"Wow, kau dapat nilai sempurna?" Ellia melihat kertas tugas Emily, yang di sana nampak mendapat nilai seratus.
"Iya, Mama. Apa Mama tahu, hanya aku di kelas yang mendapat nilai seratus?" Ujar Emily dengan bangga.
"Benarkah?"
"Ya, Mama. Apa tak ada hadiah untukku?" Tanya Emily. Mata hazel itu berbinar, mengharapkan sebuah hadiah.
"My little angel, kau ingin hadiah apa?" Tanya Ellia sambil mengusap lembut rambut panjang putrinya.
"Daddy!" Jawab Emily dengan semangat.
"Daddy?" Ellia mengerutkan keningnya.
"Iya Ma, Emily ingin Daddy. Daddy Anders." Jawab Emily lagi.
"Daddy Anders?" Ellia semakin tak mengerti maksud dari putrinya.
"Emily ingin memanggil Paman Anders dengan sebutan Daddy, supaya Emily punya Daddy..." Jawab Emily.
"Semua teman Emily punya Daddy, hanya Emily yang tidak punya..." Sambung Emily, mengingat para teman sekolah yang selalu bercerita dengan bangga tentang Ayah mereka, sedangkan dirinya tidak pernah bisa cerita apapun jika tentang ayah. Ellia tersenyum tipis, mencoba menahan sesak di hatinya.
Emily juga pernah bertanya di mana ayahnya, tapi Ellia hanya menjawab kalau ayahnya sudah pergi ke tempat yang sangat jauh. Dan sejak saat itu Emily tidak pernah bertanya lagi tentang Ayahnya.
"Tapi kenapa harus Paman Anders, sayang?" Tanya Ellia menatap mata hazel itu. Wajah Emily kembali berubah, binar nampak di matanya.
"Karena Paman Anders baik, Paman Anders selalu membawakan mainan dan makanan untukku. Dan Paman Anders juga selalu mengajakku bermain." Jawab Emily. Ellia terlihat berfikir, kalau hanya makanan dan mainan bukan hanya Anders, Fredy dan beberapa pria yang lainnya juga sering membelikannya untuk Emily. Tapi kenapa Emily tak pernah meminta untuk memanggil mereka dengan sebutan Daddy?
"Ehm, Emily tapi..."
TING.
Ucapan Ellia terhenti karena suara bel.
"Daddy...!" Sorak Emily sambil berlari menghampiri Anders yang berdiri di ambang pintu. Langkahnya tiba-tiba terhenti karena mendengar panggilan Emily.
"Daddy...?" Emily mengedip-ngedipkan mata hazelnya menatap Anders, tangan kecilnya memeluk kaki pria itu.
"Ehm, Emily... Kau memanggilku apa?" Anders nampak baru tersadar.
"Daddy. Bolehkan?" Tanya Emily.
"Daddy?" Ulang Anders.
"Iya, Daddy. Hari ini aku mendapat nilai sempurna di kelasku. Dan aku ingin hadiah, hadiahnya adalah memanggil Paman Anders Daddy." Emily mencoba menjelaskan dengan suaranya yang terdengar begitu menggemaskan. Anders terdiam sejenak, kemudian perasaan hangat perlahan mengalir di hatinya. Apalagi melihat tatapan polos Emily. Anders mengangguk.
"Tentu, kau boleh mendapatkan hadiahmu, kau boleh memanggilku Daddy." Jawab Anders. Anders kemudian meraih Emily ke dalam pelukannya. Menggendongnya dan mendekapnya dengan erat.
"Andai kau tahu Emily, aku memang Daddy mu. Aku Daddy kandungmu. Ingin sekali aku mengatakan itu, tapi aku belum mempunyai keberanian lebih." Ucap Anders dalam hati. Anders memejamkan matanya, perasaan itu membuat dadanya terasa sesak.
Sedangkan Ellia hanya terdiam di tempatnya, melihat dua orang yang saling memeluk itu.
"Ada apa dengan mereka berdua? Mereka mudah sekali akrab, dan sekarang Emily memanggil Anders dengan sebutan 'Daddy'?" Tanya Ellia dalam hati.
_
_
_
Es krim berbagai warna nampak terpajang di etalase. Mata Emily berbinar melihat deretan es krim itu.
"Daddy, aku ingin itu." Emily menunjuk es krim berwarna putih yang terpajang di sana.
"Apapun untukmu." Anders mengecup pipi chubby itu. Mereka berdua sedang berada di kedai es krim, tadi Anders yang mengajaknya. Awalnya ia mengajak Ellia juga, namun Ellia menolaknya karena ia sedang menjaga ruko yang lumayan ramai pengunjung.
Keduanya menikmati es krim vanila yang di hiasi saus coklat dan kacang almond di atasnya. Ternyata selera mereka berdua sama.
"Daddy, ini lezat sekali." Seru Emily di antara makannya.
"Kalau lezat, habiskan. Nanti kita bisa tambah lagi." Kata Anders.
"No, Daddy. Mama bilang jangan terlalu banyak makan es krim, nanti aku batuk." Sahut Emily
"Oh begitu?" Emily mengangguk, bibir nampak sisa-sisa es krim. Anders mengambil tisu dan mengelapnya, membuat gadis kecil itu tersenyum. Sesekali Emily tertawa karena candaan yang di lontarkan Anders, dan itu membuat keduanya tak lepas dari perhatian para pengunjung di kedai itu. Mereka sudah seperti ayah dan anak sungguhan. Dan tak sedikit yang menganggap Anders adalah ayah yang sangat menyayangi putrinya.
Sementara di ruko.
"Terima kasih atas kunjungannya." Ucap Ellia pada pelanggan yang baru saja selesai berbelanja.
"Hai Ellia." Suara seorang pria membuat Ellia menoleh. Fredy sudah berdiri di hadapannya hanya terhalang meja kasir.
"Hai Fredy." Sapa Ellia kembali
"Kau sudah kembali dari luar kota?" Tanyanya.
"Aku baru saja pulang, di mana Emily? Aku membawakan sesuatu untuknya." Tanya Fredy, ia menunjukkan paper bag yang di bawanya. Seperti biasa, jika dari luar kota Fredy selalu membawakan oleh-oleh untuk Emily.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊