Ellia Im Sorry

Ellia Im Sorry
CHAPTER 68. CERITA TENTANG ALICE 2



Hingga enam bulan berlalu, keadaan Alice mulai membaik. Dirinya sudah lebih tenang dan tidak terbangun lagi di tengah malam. Anders juga sudah bisa meninggalkannya untuk ke kantor sejenak, karena bagaimanapun ia punya tanggung jawab terhadap perusahaan keluarganya.


Hari itu, Anders baru ke mansionnya sore hari karena ada meeting di luar kota. Ia langsung menuju kamar Alice. Di depan pintunya ada seorang pelayan yang menunggunya.


"Kenapa kau di luar?" Tanya Anders pada pelayan tersebut, karena ia memerintahkan pelayan itu untuk menemani Alice di dalam kamarnya.


"Nona Alice bilang ingin tidur, dan tidak ingin di temani, Tuan." Jawabnya. Anders kemudian masuk ke kamar Alice tapi adiknya itu tidak ada di atas tempat tidurnya.


"Alice!" Panggil Anders sambil memeriksa setiap sudut kamar itu, tapi ia tak menemukan yang dicarinya.


"Alice! Apa kau di dalam?" Tanyanya sambil mengetuk pintu kamar mandi, namun tak ada jawaban dari Alice. Hanya terdengar suara air yang mengalir di dalam sana.


"Alice!" Anders mencoba membuka pintu kamar mandi itu ternyata terkunci. Tak menyerah, kemudian ia berusaha mendobraknya. Akhirnya pintu itu berhasil dibuka.


Mata hazel itu terbelalak melihat tubuh Alice yang sudah tenggelam di dalam bathup.


"Alice..." Dengan tangan gemetar, Anders meraih tubuh adiknya. Bibir Alice sudah nampak membiru dan kulitnya terasa begitu dingin. Anders mengecek denyut nadinya, masih ada walaupun lemah. Anders langsung melarikan Alice ke rumah sakit.


Keadaan Alice kritis, tak henti-hentinya Anders berdoa agar nyawa adiknya dapat di selamatkan. Setelah tiga hari, kondisi Alice berangsur membaik. Gadis itupun akhirnya sadar.


"Alice, Kakak mohon... Jangan lakukan hal seperti ini lagi. Kau satu-satunya keluarga yang Kakak miliki, Kakak tidak mau kehilanganmu." Lirih Anders sambil menggenggam erat tangan adiknya.


"Maafkan Alice, Kak. Alice janji tidak akan membuat Kakak sedih lagi..." Tangan Alice yang satunya terulur, menghapus air mata yang mengalir di wajah kakak lelakinya.


"Kakak sangat menyayangimu..."


"Alice juga menyayangi Kakak..."


"Istirahatlah, Alice..." Anders mengecup punggung tangan dan juga kening Alice. Perlahan mata gadis itupun terpejam. Anders menatap nanar padanya. Adik perempuannya yang dulu begitu ceria dengan pipi yang chubby kini tak ada lagi. Hanya ada sorot mata sendu di mata Alice, tubuhnya pun sudah tidak berisi lagi karena Alice hanya makan sedikit saja.


"Alice..." Anders membuka pintu ruang rawat Alice. Namun lagi-lagi adiknya itu tidak ada di atas tempat tidurnya. Rasa takut mulai menyergap Anders, takut Alice melakukan hal bodoh itu lagi.


Tidak-tidak Alice sudah berjanji padanya, Anders berusaha menenangkan dirinya.


"Alice, apa kau di dalam?" Anders mengetuk pintu kamar mandi, namun tak ada jawaban. Rasa takut semakin melingkupi hati Anders. Dibukanya kamar mandi tersebut, kosong. Tidak ada Alice di dalam sana.


Anders berjalan menuju pintu, perasaannya sudah gelisah tak karuan. Jangan sampai terjadi sesuatu lagi pada adik perempuannya itu.


"Suster, apa kau melihat adikku?" Tanyanya pada suster yang kebetulan melintas.


"Maaf tuan, saya tidak melihatnya." Jawab suster tersebut.


"Ya Tuhan, ke mana adikku?" Anders masuk kembali ke ruangan Alice. Pandangannya langsung tertuju pada jendela ruangan yang terbuka lebar. Fikiran buruk langsung melintas di fikiran Anders.


"Tidak, Alice tidak akan melakukan itu..." Lirihnya takut sambil melangkah ke arah jendela.


Tubuh Anders langsung lemas tak bertenaga, wajahnya pucat pasi melihat sang adik yang sudah tergeletak di bawah sana dengan bersimbah darah.


"Alice...!!!"


Flashback off


......................


JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊