
Lucas terbatuk-batuk, darah segar keluar dari mulutnya dan hidungnya. Anders kembali meraih kerah bajunya, menatap tajam pada Lucas.
"Gara-gara dirimu, aku kehilangan adikku! Apa aku juga harus menghilangkan nyawamu?"
"Tuan Anders, ku mohon maafkan aku. Aku khilaf saat itu." Ucap Lucas dengan nafas tersengal-sengal.
"Khilaf? Maaf? Apa kata maafmu bisa mengembalikkan nyawa adikku?" Anders kembali menghempaskan tubuh Lucas ke lantai.
"Tuan, ku mohon maafkan aku." Lucas memohon di bawah kaki Anders.
"Menyingkir kau!" Anders menyentak tubuh Lucas, masih menatap lelaki itu penuh emosi. Ingin sekali rasanya menghabisi nyawa Lucas. Namun Anders menahan dirinya, Ia teringat pada Emily. Dia tidak ingin putri kecilnya itu di cap sebagai anak seorang pembunuh.
Kedua tangan Anders terkepal erat, dadanya bergemuruh dan matanya memerah. Ia memandang Lucas sejenak sebelum akhirnya melangkah pergi dari sana.
"Bawa dia ke kantor polisi." Titahnya pada ketiga orang yang masih menunggunya di luar.
"Baik, Tuan." Jawab ketiga pria itu serentak.
_
_
_
Mansion Willians
Ellia tengah menemani putrinya menggambar di ruang tengah, gadis kecil itu nampak serius dengan buku gambar dan juga pensil warnanya.
"Mama, lihat!" Emily menunjukkan gambar yang baru selesai dibuatnya.
"Wah cantik sekali." Puji Ellia, ada gambar seorang putri cantik di kertas itu.
"Benarkah, Mama?" Manik hazel itu berbinar mendengar pujian dari Mamanya.
"Tentu, sayang."
Suara dering telepon mengalihkan perhatian ibu dan anak itu. Ellia segera bangun dari duduknya dan mengangkat panggilan itu.
"Selamat siang. Apa Tuan Anders ada?" Tanya suara di balik telepon.
"Sekretaris Jeff?" Tanya Ellia yang mengenali suara itu.
"Iya. Apa ini Nyonya Ellia?" Jeff balik bertanya.
"Iya, ini aku Ellia. Ada apa Jeff?" Tanya Ellia.
"Nyonya, bagaimana keadaan Tuan Anders? Apa sudah sembuh? Jika sudah sembuh bisakah Tuan Anders datang ke kantor? Ada klien penting yang mau bertemu dengannya." Ucap Jeff. Ellia mengerutkan keningnya. Bukannya dari pagi tadi Anders sudah berangkat ke kantor?
"Tidak, Nyonya. Bukannya Tuan Anders ada di mansion?" Jeff balik bertanya.
"Tidak, Jeff. Anders sudah berangkat ke kantor sejak pagi tadi." Jawab Ellia.
"Tapi Tuan Anders tidak ada di kantor, Nyonya. Aku sudah menghubungi ponselnya, tapi tidak aktif. Makanya aku menelepon ke mansion." Terang Jeff. Ellia jadi semakin bingung. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu dengan suaminya?
"Jeff, bisa aku minta nomor ponsel Anders?" Tanya Ellia membuat Jeff menautkan kedua alisnya. Apa suami istri itu tidak tahu nomor ponsel pasangannya.?
"Jeff!" Suara Ellia menyadarkan Jeff.
"Iya, Nyonya." Jeff lalu menyebutkan nomor ponsel Anders, sedangkan Ellia langsung mencatatnya di ponselnya.
Setelahnya mereka mengakhiri panggilan itu.
"Suami istri tapi tidak tahu nomor ponsel pasangannya? Hah, aneh sekali." Celetuk Jeff sambil memandang layar ponselnya yang telah mati.
"Tapi pergi ke mana Tuan Anders?" Jeff bertanya-tanya sendiri.
Sedangkan Ellia mencoba menghubungi nomor Anders yang baru saja ia dapatkan dari Jeff. Dan benar, nomor itu tidak aktif.
"Ke mana Anders? Apa terjadi sesuatu dengan dirinya?"
_
_
_
Jemari itu mengusap nisan makam di depannya.
"Alice, Kakak sudah berhasil menemukan orang yang sudah menghancurkan hidupmu." Lirihnya.
"Kakak juga sudah membalas rasa sakitmu, walau itu tidak seberapa. Sebenarnya Kakak ingin sekali membunuhnya, tapi Kakak tidak mau nanti Emily di cap sebagai anak seorang pembunuh." Anders membersihkan beberapa daun kering yang ada di atas makam Alice.
"Apa kau sudah tenang sekarang, Alice?" Lirihnya.
Sepasang netra hazel itu terlihat menerawang. Teringat di saat dirinya menerima kabar buruk itu.
......................
Kita mulai flashback....
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊