Ellia Im Sorry

Ellia Im Sorry
CHAPTER 19. DIA BUKAN DADDYMU!



Ting tong.


Terdengar bunyi bel dari luar dan mengalihkan perhatian keduanya.


"Mama ada tamu." Kata Emily yang hendak bangkit duduknya.


"Biar Mama saja, kau selesaikan makanmu." Cegah Ellia membuat Emily tak jadi bangun.


Ellia menuruni tangga untuk melihat siapa yang datang, namun mendadak langkahnya terhenti.


Bagaimana kalau lelaki itu yang datang?


Tidak, Ellia tidak ingin lagi bertemu dengannya.


Dengan langkah ragu Ellia mendekati kaca jendela mengintip dari dalam siapa yang sudah datang malam-malam begini. Dan benar saja, nampak tubuh tegap Anders berdiri di sana.


Mau apa lagi lelaki itu? Belum cukupkah rasa sakit yang ia berikan pada dirinya?


Ellia hendak melangkah pergi, tapi suara Anders menghentikannya.


"Ellia!" Teriak Anders yang melihat bayangan dari kaca jendela. Ellia terdiam di tempatnya berdiri.


"Ellia, ku mohon buka pintunya. Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu." Pinta Anders memohon. Ellia berbalik, menatap tajam pada lelaki itu.


"Pergi! Aku tidak ingin lagi melihatmu!" Serunya.


"Ellia, ku mohon..." Anders melipat kedua tangannya di depan dada, wajahnya memelas. Ia ingin mengatakan yang sebenarnya terjadi pada Ellia.


Di balik kaca jendela, tatapan tajam terus Ellia hunuskan. Tanpa peduli dengan ucapan Anders, Ellia kembali berbalik dan hendak pergi dari sana.


"Daddy..." Suara itu menghentikan langkahnya. Entah sejak kapan gadis kecilnya sudah berada di sana.


"Mama, kenapa Daddy di luar? Kenapa tidak masuk?" Tanya Emily. Ellia tak menjawab, dan hanya bisa menatap putrinya.


"Ma, kasihan Daddy di luar." Kata Emily lagi.


"Dia bukan Daddy mu, Emily." Ucap Ellia penuh penekanan. Emily memandang heran pada sang Mama.


"Mama, Daddy Anders adalah Daddy ku." Ujar Emily.


"Dia bukan Daddy mu, Emily!" Bentak Ellia tanpa sadar, membuat Emily terjingkat kaget. Ini pertama kalinya Ellia membentaknya. Sepasang manik hazel itu langsung berkaca-kaca.


"Kenapa Mama marah pada Emily?" Tanyanya dengan suara bergetar. Ellia seketika tersadar, ia sama sekali tak berniat untuk membentak putrinya itu.


"Emily..." Panggilnya. Namun Emily memilih untuk pergi dari sana. Gadis kecil itu tak mengerti kenapa tiba-tiba mamanya malah marah kepada dirinya.


Ellia kembali menatap pada Anders yang sedari tadi memperhatikan keduanya. Anders dan Ellia saling menatap dengan terhalang kaca jendela tanpa berkata apapun.


"Kenapa kau melampiaskan amarahmu pada Emily?" Tanya Anders dalam hati sambil menatap sendu pada Ellia. Sedangkan Ellia masih menatap tajam padanya. Dan tanpa mengatakan apapun, Ellia pergi dari sana meninggalkan Anders sendiri.


Sepasang kaki itu terasa lemas, dan terduduk di lantai teras ruko. Anders menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Rasa sesak itu kembali menjalar di hatinya. Andai saja Ellia bisa memberinya kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Rintik hujan mulai turun, namun Anders tak mempedulikannya. Ia membiarkan dirinya basah terkena air hujan. Seseorang berjalan menghampirinya.


"Tuan, kenapa hujan-hujanan seperti ini?" Tanya Jeff sambil memayungi Anders.


Jeff tadi memutuskan untuk mengikuti mobil Anders karena khawatir terjadi sesuatu. Sejak siang tadi ia melihat Anders melamun dengan pandangan hampa, tak seperti biasanya. Tuannya itu seperti sedang ada masalah berat.


"Tuan baik-baik saja?" Tanya Jeff lagi karena Anders sama sekali tak bergeming.


Anders mengangkat wajahnya, matanya nampak memerah.


"Tuan tidak apa-apa?" Jeff terlihat panik.


"Tuan?"


"Aku kehilangan semuanya, Jeff. Ellia sudah tahu semuanya, dan sekarang dia sangat membenciku..."


"Tuan, sebaiknya kita pulang." Ajak Jeff yang terlihat bingung. Ia tidak tahu apa yang sudah terjadi antara Tuannya itu dengan Ellia. Jeff membantu Anders untuk berdiri, dan membawanya pergi dari sana. Sepanjang perjalanan pulang, hanya tatapan kosong yang terlihat di mata hazel pria itu.


"Tuan, kita harus kembali." Ucap Jeff memecah keheningan di dalam mobil itu.


"Kembali ke mana?" Tanya Anders yang terdengar begitu pelan.


"Sedang ada masalah di perusahaan, Tuan." Jawab Jeff membuat Anders menoleh ke arahnya.


"Masalah apa?" Tanyanya. Kenapa juga harus ada masalah di perusahaannya di saat seperti ini?


"Masalahnya cukup penting, Tuan. Hanya Tuan yang bisa mengurusnya." Jawab Jeff.


"Terserah kau saja, Jeff." Anders membuang nafas berat, ia masih ingin di sini dan menjelaskan semuanya pada Ellia. Tapi sepertinya perusahaannya juga membutuhkan dirinya.


_


_


_


Suara isakan kecil itu terdengar dari balik bantal. Ellia menghembuskan nafas berat sebelum mendekati putrinya yang nampak tidur tengkurap sambil menenggelamkan wajahnya pada bantal.


"Emily..." Panggilnya.


"Emily, maafkan Mama. Mama tak bermaksud untuk membentakmu." Ucapnya sambil duduk di sisi tempat tidur. Emily berbalik, menatap wajah Ellia dengan mata yang basah.


"Emily salah apa?" Tanyanya.


"Tidak, sayang. Emily, tidak salah." Jawab Ellia.


"Tapi kenapa Mama membentak Emily?" Tanya Emily lagi.


"Sayang..." Ellia meraih putrinya ke dalam pelukannya.


"Maafkan Mama..." Lirihnya. Keduanya larut dalam pelukan, Ellia kembali menangis.


"Kenapa Mama menangis? Apa Mama marah pada Daddy?" Tanya Emily begitu pelukan Ellia terlepas.


"Apa Daddy nakal? Apa Daddy menyakiti Mama?" Tanya Emily beruntun sambil mengusap air mata ibunya.


Ellia hanya bisa tersenyum getir. Emily masih terlalu kecil untuk mengetahui ini semua. Dan bagaimana reaksi gadis kecil itu saat tahu kalau Anders adalah ayah kandungnya?


Apa Emily akan lebih memilih Anders di banding dirinya?


Tidak. Jangan sampai hal itu terjadi. Dulu pria itu sudah menghancurkan hidupnya, dan jangan sampai dia melakukannya untuk yang ke dua kali.


"Da... Daddy Anders sudah jahat pada Mama, sayang. Jadi Mama minta, Emily jangan dekat lagi dengannya." Ucap Ellia sambil menangkup wajah mungil putrinya. Dirinya terpaksa berucap seperti itu agar ia tidak kehilangan putrinya.


"Daddy Anders jahat?" Tanya Emily dengan tatapan polosnya.


"Iya, sayang. Maka dari itu Emily jangan dekat lagi dengannya. Nanti Mama akan menangis jika Emily dekat dengannya." Ujar Ellia sambil kembali membawa Emily ke dalam pelukannya. Walaupun bingung Emily tetap mengangguk.


"Iya, Mama. Emily tidak akan dekat lagi dengan Daddy Anders. Emily tidak ingin melihat Mama menangis."


......................


JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊