Ellia Im Sorry

Ellia Im Sorry
CHAPTER 81



Fredy melangkah keluar rumah sakit, ia berhenti sejenak di koridor dan menyandarkan punggungnya di dinding.


"Ellia hamil, dan Emily akan mendapat pendonor untuknya. Dan semoga saja, pernikahan mereka akan terus berjalan tidak hanya sampai Emily sembuh. Aku sangat berharap, Ellia tidak mengakhiri pernikahannya dengan Anders. Aku sudah merelakannya. Karena yang Emily butuhkan adalah Anders, bukan diriku. Dan aku juga bisa melihat, sorot mata Ellia ketika menatap Anders. Tidak lagi penuh dengan kebencian seperti dulu, sorot matanya sudah berubah."


Fredy mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya, saat ia akan kembali melanjutkan langkahnya. Seseorang memanggilnya.


"Tuan Fredy!" Fredy menoleh, seorang wanita mengenakan jas dokter menghampirinya.


"Ada apa Dokter Meitha?" Tanyanya.


"Tuan mau ke mana?" Tanya Dokter cantik tersebut.


"Aku harus pergi, aku harus bekerja." Jawab Fredy.


"Ada yang ingin ku bicarakan. Bisa minta waktunya sebentar?"


Kening Fredy mengerut , apa yang mau Meitha bicarakan dengannya? Rasanya mereka baru bertemu pagi ini.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanyanya.


"Sebenarnya ada yang ingin ku tanyakan padamu, Tuan." Sahut Dokter Meitha.


"Tentang apa?" Tanya Fredy penasaran.


"Bukan aku ingin ikut campur, aku hanya ingin tahu saja." Jawabnya.


Fredy menatap serius wanita yang berdiri di hadapannya.


"Apa yang ingin kau tahu?" Tanyanya tambah penasaran.


"Apa Tuan memiliki hubungan dengan Nyonya Ellia?" Tanya Dokter Meitha dengan wajah serius.


"Kenapa kau ingin tahu?" Fredy balik bertanya.


"Karena Tuan Anders sahabatku, dan aku tidak ingin rumah tangganya menjadi berantakan karena adanya orang ketiga." Jawab Dokter Meitha tegas.


Anders adalah sahabatnya, dan ia juga sudah tahu tentang apa yang terjadi antara Ellia dan Anders selama ini. Dan kini hubungan mereka sudah membaik, jadi dia tidak akan membiarkan siapa pun merusak hubungan Anders dan Ellia.


Fredy menautkan kedua alisnya, kemudian ia mengangguk, paham apa maksud dari dokter cantik itu.


"Oh, jadi kau fikir aku akan menjadi orang ketiga di antara mereka?" Tanya Fredy.


"Itu bukan sesuatu yang tidak mungkin kan?" Dokter Meitha balik bertanya.


"Asal kau tahu Dokter Meitha Annelize, sebelum Anders menikahi Ellia, aku sudah hampir menikah dengan Ellia. Mungkin hanya hitungan menit kami akan menjadi suami istri, tapi tiba-tiba saja Emily pingsan saat itu." Jelas Fredy, ia tidak ingin Dokter Meitha salah paham dengannya.


Dokter cantik itu tercengang mendengar penjelasan Fredy.


"Setelah Emily diperiksa, ternyata Emily sakit parah, dan satu-satunya cara menyembuhkannya adalah mendapat pendonor untuknya. Jadi Anders lah yang akhirnya menikah dengan Ellia. Kalau kau tidak percaya, kau bisa tanyakan hal ini pada Anders dan Ellia." Lanjutnya.


"Oh, ya. Satu hal lagi, aku sudah merelakan jika Ellia bersama Anders. Karena yang dibutuhkan Emily adalah ayah kandungnya, bukan diriku." Tandas Fredy.


Dokter Meitha mengerjap-ngerjapkan matanya kemudian menunduk, dia merasa tak enak sudah salah sangka terhadap Fredy.


"Maaf, kalau perkataanku tadi ada yang menyinggung perasaan Tuan." Ucapnya sungkan.


"Tidak apa, aku bisa mengerti. Kalau begitu aku permisi dulu." Fredy hendak beranjak dari sana, tapi baru satu langkah ia berhenti dan kembali menoleh pada wanita cantik itu.


"Apa kau sudah menikah?" Tanya Fredy pada Dokter Meitha yang masih berdiri di sana.


"Belum." Jawab Dokter Meitha sambil menggeleng.


"Kalau kau masih tidak percaya padaku, bagaimana kalau kita menikah saja? Jadi kau tidak perlu takut aku mengganggu rumah tangga sahabatmu itu." Ucap Fredy membuat Dokter Meitha mematung di tempatnya berdiri.


"Saat kita bertemu lagi, ku harap kau sudah punya jawaban." Lanjutnya yang kemudian beranjak dari sana.


Dokter wanita itu mengerjap-ngerjapkan matanya, apa lelaki itu sedang dalam pengaruh alkohol? Tiba-tiba saja mengajaknya menikah?


_


_


_


Keluarga kecil Anders kini dalam perjalanan pulang. Anders tidak kembali lagi ke kantor karena ingin menemani istrinya dan juga Emily.


Lampu merah menyala, Anders menginjak pedal rem hingga mobilnya berhenti.


"Ellia, apa kau menginginkan sesuatu?" Tanyanya pada Ellia yang duduk di sampingnya bersama Emily.


Ellia berfikir sejenak kemudian menggeleng.


"Tidak." Jawabnya.


"Bukannya biasanya wanita hamil itu menginginkan sesuatu? Makanan tertentu misalnya?" Tanya Anders lagi.


"Tidak Anders, aku tidak menginginkan apa-apa." Jawab Ellia.


"Baiklah kalau begitu. Tapi kalau kau menginginkan sesuatu, kau harus langsung katakan padaku."


"Iya, Anders." Ellia menyandarkan punggungnya, sementara Emily tertidur di sampingnya. Sepertinya putri kecilnya itu kelelahan setelah dari taman tadi apalagi tadi Emily menangis cukup lama karena mengkhawatirkan Ellia.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, mereka akhirnya sampai di mansion. Anders menggendong tubuh putri kecilnya sampai ke kamar tanpa membangunkannya.


Di kamarnya, Ellia berdiri di sisi jendela. Menatap hampa pada pemandangan di luar sana.


"Akhirnya aku hamil, Emily akan segera sembuh." Tangannya mengusap perutnya yang masih rata.


"Itu artinya pernikahan ini akan segera berakhir. Tapi kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh dalam hatiku? Seperti perasaan tidak rela..."


Sepasang tangan melingkar di pinggang rampingnya, membuat Ellia sedikit terkejut. Anders memeluknya dari belakang.


"Kenapa melamun?" Tanya Anders setengah berbisik. Ellia hanya menggeleng.


"Kau tidak senang dengan kabar kehamilanmu?" Andres bertanya lagi, ia bisa merasakan Ellia berubah sejak pulang dari rumah sakit.


"Mana mungkin aku tidak senang." Jawab Ellia yang masih dengan posisinya.


"Ellia..." Anders melepas pelukannya dan membalikkan tubuh istrinya hingga mereka saling berhadapan.


"Kau pasti teringat saat kehamilan pertamamu dulu. Di mana hanya ada kenangan pahit yang kau rasakan." Tangan Anders menangkup wajah istrinya, menatap lekat netra di balik kacamata itu.


"Tapi sekarang aku di sini, Ellia. Aku akan menjagamu dan juga calon anak kita. Tidak akan ada orang yang menghina dan merendahkanmu lagi." Ucapnya. Netra Ellia berkaca-kaca, ia menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Anders.


"Maaf, aku hanya bisa memberikan kenangan buruk untukmu." Anders menghujani puncak kepala Ellia dengan kecupan sayang.


"Bukan itu Anders yang ku rasakan. Bukan..."


......................


Assalamuala'ikum....


Aku minta maaf untuk para readers, cerita ini terpaksa aku tamatkan karena aku ada kesibukan di dunia nyata, aku sedang kehabisan ide, dan tidak ada waktu untuk menulis selama beberapa bulan ke depan. Jadi harap maklum. Sekali lagi maaf, sampai jumpa di ceritaku yang lainnnya.


Wassalam...


...----adeana----...