Ellia Im Sorry

Ellia Im Sorry
CHAPTER 42.TAKUT PULANG



"Dan asal kau tahu, seandainya bisa aku ingin mempertahankan pernikahan ini. Tapi Ellia sudah terlanjur membenciku, sangat membenciku!" Anders menekankan kata di akhir kalimatnya.


"Dan seharusnya Tuan bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat Nyonya Ellia menghilangkan rasa bencinya pada Tuan." Timpal Jeff.


"Bicara itu mudah Jeff, tapi tidak dengan kenyataannya." Balas Anders. Jeff menghela nafas panjang. Ya Anders benar, bicara memang mudah. Tapi apa salahnya mencoba bukan?


"Sudahlah Jeff jangan bahas itu dulu. Kau minta para staf untuk ke ruang rapat setelah makan siang. Aku akan melanjutkan rapat bulanan yang tadi tertunda." Ujar Anders, Jeff langsung tercengang.


"Ya? Bagaimana Tuan?" Pria itu mengerjapkan matanya.


"Apa perlu ku ulangi perkataanku, Jeff?" Anders balik bertanya. Jeff hanya bisa menggeleng. Meminta para staf untuk berkumpul bukanlah hal yang mudah.


_


_


_


Mansion Willians


Tangan itu membelai lembut rambut panjang gadis kecil yang selama ini menjadi teman hidupnya.


"Mama, kapan Daddy akan pulang?" Tanya Emily yang berada dalam dekapan Ellia. Netra di balik kacamata itu melirik ke arah jam yang berada di dinding. Sudah pukul lima sore.


"Mama tidak tahu, Emily. Mungkin sebentar lagi." Jawab Ellia yang memang tidak tahu kapan suaminya itu akan pulang. Anders juga tidak mengabarinya. Tunggu, dirinya bahkan tidak punya nomor telepon Anders. Hah, suami istri macam apa ini?


Ketika beberapa waktu lalu masih dekat dengan Anders pun mereka tak saling bertukar nomor ponsel, karena Anders selalu datang setiap hari.


"Mama, aku suka kamar ini. Apa kita akan selamanya tinggal di sini?" Tanya Emily lagi. Keduanya memang sedang berada di kamar Emily, Ellia tidak ingin berada di kamar Anders karena pemiliknya sedang tidak ada. Tadi ia hanya ke kamar itu saat pelayan menunjukkannya, kemudian kembali ke kamar Emily.


Ellia tersenyum kecut. Tidak mungkin dirinya dan Emily tinggal selamanya di sana, jika ia cepat hamil mungkin hanya satu tahun mereka tinggal di sana.


"Semoga saja ya sayang." Jawab Ellia sambil melabuhkan kecupan hangat di kening putrinya.


"Maafkan Mama, sayang. Kita tidak mungkin selamanya tinggal di sini. Setelah kau sembuh kita akan langsung pulang ke rumah kita yang lama." Batin Ellia.


Sementara itu di kantor.


Jeff sudah merapikan mejanya dan bersiap-siap untuk pulang, sedangkan Anders masih duduk melamun di kursinya.


"Tuan? Tuan!" Panggilnya membuat Anders tersadar dari lamunannya.


"Kenapa malah melamun? Apa Tuan tidak ingin pulang?" Tanya Jeff yang sudah berdiri di depan mejanya.


"Pulang?" Anders melihat arloji yang melingkar di tangannya, sudah jam pulang kantor memang.


"Apa tidak sebaiknya kita lembur saja?" Tanya Anders.


"Lembur? Aku lelah Tuan, aku ingin pulang dan beristirahat. Hari ini sangat melelahkan untukku. Lagipula semua pekerjaan hari ini sudah selesai." Sahut Jeff. Anders membuang nafas berat, sekretarisnya itu selalu tidak bisa di ajak kerjasama ternyata.


"Lagipula ini malam pengantin Tuan, apa Tuan tak ingin segera pulang?" Sambungnya membuat Anders langsung mendelik ke arahnya.


"Jeff!"


"Tuan bilang, Nyonya Ellia ingin cepat punya anak lagi. Seharusnya Tuan juga cepat pulang sekarang agar Nona Emily segera punya adik." Celetuk Jeff. Anders seketika menganga mendengarnya.


"Kau ini tahu apa soal malam pengantin? Menikah saja belum." Timpal Anders.


"Dan Tuan sudah tahu tentang malam pengantin lebih dulu padahal waktu itu Tuan belum menikah bahkan Tuan masih sekolah." Balas Jeff tak mau kalah. Anders langsung menatap Jeff dengan tatapan membunuhnya.


"Jeff, kau benar-benar menyebalkan!" Seru Anders sambil bangkit dari duduknya.


"Sebaiknya Tuan cepat pulang, mungkin saja Nyonya Ellia sudah menunggu kedatangan Tuan dengan pakaian seksinya." Celetuk Jeff yang kemudian beranjak keluar dari ruangan itu meninggalkan Anders yang menganga di tempatnya.


"Awas kau Jeff!" Geramnya.


_


_


_


Mobil sport itu melaju melintasi jalan raya. Jemari itu mengetuk-ngetuk stir mobilnya, jalanan tidak terlalu padat sore ini. Itu artinya dirinya akan sampai mansion lebih cepat.


"Kenapa tidak macet seperti biasanya?" Anders menggerutu, padahal dirinya selalu kesal jika jalanan macet dan marah-marah sendiri selama perjalanan. Anders memang menyetir mobil sendiri, dan Jeff hanya menjadi supirnya jika ada pertemuan di luar selama jam kerja saja. Tapi jika keluar kota Anders selalu membawa Jeff bersamanya.


"Kenapa aku jadi takut pulang ke rumahku sendiri? Apa karena ada Ellia di sana? Tapi Ellia kan tidak memakanku, paling hanya memakiku saja. Hah, tapi ucapan Ellia selalu menyakiti hatiku, menghujam jantungku, dan menyesakkan paru-paruku." Anders mengacak-ngacak rambut tebalnya.


......................


JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊