
"Apa kau menyesal? Bukannya ini keputusan yang sudah kau ambil?" Anders bertanya, menatap dalam pada Ellia.
"Menyesal? Hah! Ya, aku sangat menyesal karena telah mengenal seorang Anders Calvert! Dan aku harus selalu terlibat dengannya!" Jawab Ellia penuh penekanan.
"Kau tahu Anders? Aku benar-benar membencimu, tapi aku harus mencoba bertahan demi putriku!" Lanjutnya.
"Apa tidak ada kesempatan untukku memperbaiki kesalahanku?" Lirih Anders. Ellia menggeleng cepat.
"Tidak akan pernah ada kesempatan untukmu!" Jawabnya begitu ketus, terlihat sorot penuh kebencian di matanya.
"Dan ingat Anders, setelah Emily sembuh nanti kau harus langsung menceraikan aku." Sambungnya.
"Aku akan lakukan apapun yang kau pinta." Jawab Anders yang terdengar putus asa.
"Tapi tak bisakah kita jalani pernikahan ini dengan semestinya? Untuk sementara, ku mohon kesampingkan dulu kebencianmu padaku, hanya selama kita menikah..." Pinta Anders memelas. Ellia mengerjapkan matanya.
"Entahlah, setiap melihat wajahmu aku teringat ketika ibuku meregang nyawa dan wajahmu juga selalu mengingatkanku bagaimana orang-orang di luar sana menghinaku." Ellia mengusap kasar air matanya yang masih mengalir, kemudian beranjak dari tempat tidur. Mengambil kembali pakaiannya yang berserakan di lantai, dengan selimut yang membungkus tubuh polosnya Ellia berlalu ke kamar mandi. Anders hanya bisa menatapnya nanar.
Tubuh polos itu luruh dan terduduk di lantai kamar mandi, membiarkan air hangat yang turun dari shower membasahinya.
"Tuhan, kenapa takdirmu begitu kejam padaku. Di saat aku sudah melupakan masa laluku yang pahit, lelaki itu malah datang kembali. Dan di saat aku ingin memulai hidup baru, menikah dengan laki-laki yang mencintaiku, aku malah harus terlibat pernikahan dengannya..." Lirihnya.
Ellia membersihkan tubuhnya, menggosoknya dengan kencang seolah ingin menghilangkan bekas sentuhan Anders di tubuhnya.
Sedangkan Anders masih berada di tempat tidurnya, pemuda itu tak bergeming. Pandangannya terlihat kosong, ketika kilasan masa lalu kembali terlintas di benak Anders. Di mana saat itu dirinya meninggalkan Ellia begitu saja. Ternyata itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Seandainya pagi itu dirinya tidak meninggalkan Ellia dan mempertanggungjawabkan perbuatannya, tentu semuanya tidak akan kacau balau seperti ini. Ellia mungkin saja membencinya, tapi tidak separah ini. Dan mungkin Alice, adik perempuannya masih hidup sampai saat ini. Andaikan saja waktu bisa di ulang.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka. Ellia sudah kembali berpakaian, dilihatnya tempat tidur yang nampak kosong. Ke mana suaminya? Apa lelaki itu pergi begitu saja sama seperti tujuh tahun yang lalu? Dan, sepertinya iya!
Ellia tertawa miris, nyatanya seorang Anders tidak berubah. Selalu pergi setelah berhasil memiliki tubuhnya. Lalu untuk apa tadi lelaki itu memohon padanya untuk menjalani pernikahan ini dengan semestinya?
_
_
_
Seorang gadis belia tengah tersenyum manis dengan seorang pria yang berdiri di sampingnya, keduanya nampak sangat dekat.
"Alice..." Anders meraba bingkai fotonya dengan adik perempuannya.
"Kakak merindukanmu, maafkan Kakak. Kau yang harus menanggung akibat dari perbuatan Kakak." Anders memeluk bingkai foto itu dan membaringkan tubuhnya di sofa ruang kerjanya. Lebih baik malam ini beristirahat di sana saja, daripada harus satu ranjang dengan istrinya yang selalu emosi bila melihatnya. Padahal mereka baru saja melakukan malam pengantin.
Selama melakukan kegiatan tadi, tak ada satupun kata-kata manis terucap dari keduanya. Ellia hanya menutup matanya, dan berharap kegiatan itu cepat selesai. Ellia juga begitu kaku layaknya patung manekin. Dan Anders hanya melakukan apa yang seharusnya ia lakukan, agar istrinya bisa cepat hamil. Tidak ada kenikmatan yang di rasakan keduanya, malam pengantin yang sama sekali tidak berkesan.
Manik hazel itu melirik ke arah jam yang berada di meja kerja, sudah tengah malam. Perlahan mata Anders pun terpejam.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊