
"Dia laki-laki yang sudah melakukan hal itu padaku, dia yang menghancurkan hidupku..." Ellia menatap kosong ke depan. Fredy kembali terkesiap.
"Kau sudah tahu?" Tanyanya, lelaki itu kemudian mendudukkan tubuhnya di lantai. Sama seperti Ellia.
"Apa maksudmu? Jangan bilang kalau kau sudah tahu tentang ini sebelumnya." Ellia menatap tajam pada Fredy.
"Ya, kau memang sudah mengetahui hal ini." Fredy menghembukan nafas berat.
"Kapan kau tahu tentang hal ini? Kenapa kau tak memberi tahuku?" Cecar Ellia.
"Aku menyadari itu saat Anders pertama kali datang kemari. Wajah dan matanya terlihat tidak asing bagiku. Dan kemudian aku menyadari kalau dia mirip dengan Emily. Melihat perlakuannya pada Emily, membuat aku semakin yakin. Dan ternyata dugaanku benar. Aku sudah menanayakan hal ini sendiri pada Anders, dan dia sama sekali tidak mengelak. Aku tak ingin memberitahumu, karena aku ingin kau menyadari sendiri hal itu." Fredy menerangkan. Ellia kembali menatap kosong ke depan.
"Kenapa aku begitu bodoh hingga tidak bisa melihat itu semua?" Lirihnya.
"Ellia, tenanglah..." Ujarnya sambil mengusap lembut punggung wanita itu.
"Aku membencinya Fredy, aku benar-benar membencinya." Ucap Ellia dengan suara tertahan.
"Tenanglah. Semua akan baik-baik saja."
Fredy menyandarkan kepala Ellia di bahunya dan mengusap lembut rambut Ellia. Setidaknya itu bisa membuat Ellia lebih tenang sekarang.
_
_
_
Anders berdiri melamun di samping mobilnya, memikirkan apa yang harus di lakukannya sekarang. Ellia sudah mengetahui siapa dirinya, dan sekarang Ellia sangat membencinya.
Melihat Ellia menangis seperti tadi, rasanya hati Anders benar-benar sakit. Apalagi semua itu akibat dari perbuatan dirinya.
"Apa yang harus ku lakukan? Aku tak ingin kehilangan Ellia dan juga Emily, karena mereka lah duniaku saat ini..." Tanya Anders dalam hati.
"Daddy...!" Teriak Emily begitu melihat Anders, menyadarkan Anders dari lamunannya.
Gadis kecil itu berlari menghampiri Anders dengan tas sekolah di punggungnya.
"Apa Daddy di sini untuk menjemputku?'' Tanya Emily begitu sudah di hadapan daddynya. Andres memutuskan untuk ke sekolah Emily setelah Ellia mengusirnya tadi.
"Ya sayang, Daddy menjemputmu. Daddy ingin mengantarmu pulang." Anders berjongkok, mensejajari tingginya dengan Emily.
"Di mana Mama? Apa Mama tidak ikut?" Tanya Emily sambil memiringkan kepalanya menatap Anders.
"Mama sedang di ruko, sayang." Jawab Anders sambil menyelipkan beberapa anak rambut Emily yang tertiup angin.
"Daddy, tadi pagi aku menceritakan sesuatu pada Mama." Bibir mungil Emily mulai berceloteh, seperti biasa gadis kecil itu akan menceritakan apapun yang terjadi pada Anders.
"Apa yang kau ceritakan, Emily?" Tanya Anders.
"Tentang kejadian di kedai es krim kemarin." Jawab Emily.
"Kejadian di kedai es krim?" Anders mengerutkan keningnya, mencoba mengingat sesuatu.
"Iya, saat orang-orang di sana bilang kalau aku mirip Daddy. Dan juga selera es krim kita yang sama." Jawab Emily.
Anders mencoba mengingat kembali, saat di kedai es krim memang ada beberapa orang yang mengatakan kalau wajah mereka berdua begitu mirip dan juga memuji dirinya sebagai ayah yang sangat menyayangi putrinya.
Apa karena itu Ellia jadi mengetahui siapa dirinya? Dari cerita Emily?
"Daddy kenapa melamun?" Tanya Emily.
"Ehm, tidak apa-apa." Anders menggeleng pelan.
"Kenapa Mama dan Daddy melamun saat aku menceritakan hal yang sama?" Tanya Emily lagi.
"Mama melamun?" Anders balik bertanya.
"Ya, saat aku bilang kalau aku mirip Daddy..." Sahut gadis kecil itu.
Anders tersenyum pahit, ternyata memang benar Ellia mengetahui itu semua dari cerita Emily.
"Emily..." Panggilan itu membuat kedua orang itu menoleh.
"Iya, Paman di minta tolong oleh Mama mu untuk menjemputmu." Jawab Fredy sambil melirik ke arah Anders. Dilihatnya mata pria itu terlihat memerah seperti habis menangis.
"Tapi sudah ada Daddy Anders yang menjemput Emily." Kata Emily.
"Tapi Mama menyuruh Emily untuk pulang dengan Paman." Terang Fredy. Emily terlihat kebingungan, ia menatap Anders dan Fredy bergantian.
"Lalu Daddy bagaimana?" Tanyanya.
"Daddy Anders akan pulang sendiri." Sahut Fredy.
Anders diam saja, melihat tatapan Fredy yang mengisyaratkan untuk mengiyakan perkataannya. Anders menghembuskan nafas berat. Fredy pasti sudah tau apa yang terjadi.
Ellia juga pasti akan mengusirnya lagi jika melihat dirinya mengantar Emily pulang.
"Emily, kau pulang dengan Paman Fredy saja ya." Ucap Anders kemudian, walaupun dengan nada terpaksa.
"Baiklah, Daddy. Tapi hari ini Daddy mau bermain denganku kan?" Tanya Emily dengan penuh harap. Andres menggeleng pelan sambil tersenyum getir.
"Emily, hari ini tidak bisa. Karena Daddy harus kembali ke restoran, Daddy sedang banyak pekerjaan." Jawabnya. Dan gadis kecil itu seketika terlihat kecewa.
"Biasanya Paman Jeff yang bekerja, dan Daddy bermain denganku." Ucapnya.
"Ehm, Paman Jeff sangat sibuk hari ini, jadi Daddy harus membantunya." Timpal Anders, biasanya ia selalu mengatakan kalau ada Jeff yang mengerjakan pekerjaannya, jadi diriya bisa bermain bersama Emily.
"Lain hari, Daddy akan bermain lagi denganmu." Sambung Anders menghibur Emily.
"Baiklah Daddy..." Emily mengangguk terpaksa.
"Ayo Emily, kita pulang." Ajak Fredy menyudahi percakapan ayah dan anak itu.
"Sampai jumpa, Daddy..." Tangan gadis kecil itu melambai, Anders membalas di tempatnya berdiri. Ia menatap pada Emily yang berjalan menjauh.
Entah kenapa Anders merasa takut, takut ini adalah akhir dari pertemuan mereka. Karena Ellia pasti tidak akan mengizinkannya lagi untuk menemui putrinya itu.
_
_
_
Ruko Ellia tak buka sejak pagi tadi. Setelah Emily pulang sekolah, Ellia langsung meminta Fredy untuk pulang dan kembali menutup rapat rukonya.
Malam ini langit tampak mendung, tak ada satu bintang pun yang menghiasi langit malam itu.
Ellia dan Emily sedang menikmati makan malamnya. Sepasang mata hazel milik Emily tak henti menatap wanita yang telah melahirkannya itu.
"Mama kenapa?" Tanya Emily. Sejak pulang sekolah tadi, Ellia tak banyak bicara dengan putrinya. Hatinya masih kacau balau dengan kenyataan yang baru saja ia terima. Dan Emily pun bisa merasakan jika mamanya itu terlihat berbeda.
Ellia mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk dan hanya mengaduk-ngaduk makanannya saja.
"Mama tidak apa-apa, Sayang." Jawabnya begitu pelan. Suaranya masih terdengar parau karena terlalu lama menangis.
"Mama sakit?" Tanya Emily lagi. Biasanya kalau sedang tidak sehat, Mamanya juga seperti ini. Fikir Emily.
"Mama baik-baik saja. Cepat habiskan makanmu." Perintah Ellia, Emily hanya mengangguk dan mulai kembali menyantap makan malamnya.
Ting tong.
Terdengar bunyi bel dari luar dan mengalihkan perhatian keduanya.
"Mama ada tamu." Kata Emily yang hendak bangkit duduknya.
"Biar Mama saja, kau selesaikan makanmu." Cegah Ellia membuat Emily tak jadi bangun.
Ellia menuruni tangga untuk melihat siapa yang datang, namun mendadak langkahnya terhenti.
Bagaimana kalau lelaki itu yang datang?
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊