Ellia Im Sorry

Ellia Im Sorry
CHAPTER 22. KEJADIAN APA?



"Karena perusahaan ini milik Tuan. Jadi Tuan yang harus menyelesaikan masalah yang terjadi di sini." Jawab Jeff dengan datarnya. Anders seketika berbalik, tatapan tajam ia hunuskan pada sekretarisnya itu.


"Jeff, kau benar-benar menyebalkan." Geramnya.


"Tapi aku benarkan, Tuan? Perusahaan ini memang milik Tuan dan sudah menjadi tanggung jawab Tuan. Kecuali kalau perusahaan ini milikku. Aku yang akan menyelesaikan sendiri masalah ini." Sahut Jeff dengan entengnya.


"Kalau kau mau ambil saja perusahaan ini, Jeff." Timpal Anders, sambil menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya.


"Benarkah? Kalau aku jadi pemilik perusahaan ini, Tuan adalah orang pertama yang ku pecat." Celetuk Jeff yang kembali ke mejanya.


"Jeff!" Seru Anders, sekretarisnya itu benar-benar membuatnya emosi.


"Untuk apa aku memperkerjakan orang yang tidak memiliki semangat dalam bekerja sama sekali." Jawab Jeff masih dengan mode datarnya.


"Aku bukannya tidak semangat, tapi..." Ucapan Anders menggantung, bayangan Ellia dan Emily kembali memenuhi fikirannya.


"Tapi apa, Tuan?" Tanya Jeff dengan tatapan mengintimidasinya.


"Kau tidak akan mengerti." Tukas Anders, mengibaskan tangannya.


"Karena Tuan tidak mengatakan apapun padaku." Timpal Jeff. Anders memang tidak pernah cerita tentang apa yang sudah terjadi antara dirinya dan juga Ellia kepada siapa pun, termasuk pada keluarganya dulu.


"Sudahlah, Jeff. Setelah ini kau antar aku pemakaman." Anders memijat keningnya yang terasa pusing, Jeff hanya bisa menghela nafas panjang dan tidak bertanya lagi. Tuannya terlihat berbeda sejak kejadian malam itu. Entah apa yang sudah terjadi dengan mereka, Jeff tidak berani untuk bertanya lebih jauh.


_


_


_


Area pemakaman kota. Sebuah tempat yang begitu tenang dan sangat hijau.


Mobil mewah itu berhenti di depan pintu gerbang pemakaman. Dua orang pria turun dari sana.


"Kenapa kau ikut turun? Sebaiknya kau di mobil saja." Titah Anders yang melihat sekretarisnya ikut turun dari mobil.


"Maksudmu kejadian apa?" Tanya Anders yang tak mengerti.


"Apa Tuan lupa? Setiap Tuan kemari Tuan pasti menangis histeris dan..."


"Diam, Jeff!" Anders menyela lebih dulu sebelum Jeff menyelesaikan ucapannya.


"Kenapa Tuan? Aku benar kan?" Tanya Jeff sambil memasang tampang yang sangat menyebalkan bagi Anders. Memang setiap pergi ke sana Anders selalu berakhir dengan menangis dan Jeff lah yang akhirnya memapahnya sampai ke mobil. Tak jarang, banyak orang yang memperhatikan keduanya. Tapi Anders sama sekali tidak mempedulikan tatapan aneh dari orang-orang itu.


"Terserah kau saja. Tapi kau jangan menggangguku nanti." Tukas Anders.


"Aku tidak pernah mengganggumu, Tuan." Sahutnya. Seperti pemuda itu tidak sadar kalau sering mengganggu lamunan Tuannya itu. Anders hanya melayangkan tatapan tajamnya sebelum akhirnya beranjak dari sana dan memasuki area pemakaman itu. Deretan makam dan pepohonan hijau menghiasai jalan yang mereka lewati.


Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya mereka tiba di tempat yang di tuju. Makam keluarga Willians, ada tiga makam yang terhampar di sana.


"Dad, Mom, Alice... Aku datang..." Sapa Anders yang langsung duduk di sisi makam yang paling ujung yang merupakan makam ibunya. Sementara Jeff begitu setia berdiri di belakangnya tanpa bersuara sama sekali, sesuai dengan perintah bosnya itu.


"Bagaimana kabar kalian? Kalian pasti bahagia bisa berkumpul di sana. Sedangkan aku sendirian di sini..." Lirih Anders sambil membersihkan beberapa daun kering di atas makam tersebut. Anders selalu meluangkan waktu untuk berbagi cerita dengan keluarganya di sana.


"Mom... Apa Mommy tahu? Aku bertemu kembali dengan Ellia." Nampak senyum getir di bibir Anders.


"Ellia... Dia adalah teman satu sekolahku dulu. Dan dia adalah gadis yang ku hancurkan masa depannya karena kesalahan bodoh yang aku lakukan..." Sepasang netra hazel Anders terlihat menerawang dan Jeff nampak mengerutkan keningnya.


"Apa maksud dari perkataan Tuan Anders?" Batin Jeff bertanya-tanya.


"Mom, dulu aku berniat menolong Ellia saat dia mabuk karena di paksa minum oleh teman sekolahnya. Tapi aku malah terlena melihat kecantikannya. Hingga akhirnya aku... Aku merenggut kesuciannya..."


Jeff membelalakan matanya, apa dirinya tidak salah dengar?


"Aku bodoh, Mom. Hari itu aku malah meninggalkannya seorang diri. Dan setelah tujuh tahun kami baru bertemu kembali, satu hal yang tidak pernah ku tahu... Ternyata perbuatanku dulu telah menghadirkan kehidupan baru dalam rahim Ellia. Karena itu juga masa depan Ellia hancur, karena perbuatanku. Ellia mengalami hidup yang menderita dia harus kehilangan orang tuanya dan teriusir dari rumahnya sendiri. Sekarang Ellia sudah tahu semuanya, tentang diriku. Ellia sangat membenciku. Apa yang harus aku lakukan, Mom?"


......................


JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊